
Pagi ini Alvan dengan penuh percaya diri mendatangi kediaman Darrell tentunya karena undangan si pemilik rumah.
"Selamat pagi, Paman, Bibi!" sapa Alvan melempar senyum.
Darrell berdiri dan membalas sapaannya. "Pagi juga, Van!"
Kedua pria itu saling berpelukan.
"Mencurigakan!" batin Dayna.
Alvan menyalim tangan Nayna dengan sedikit menunduk.
Alvan lalu duduk di sebelah Dayna dan tersenyum manis meskipun gadis itu memasak wajah sinis.
"Sudah lama kami tidak mengobrol dengan kamu," ucap Nayna.
"Aku juga, Bibi." Kata Alvan.
"Dayna, Papa meminta Alvan kemari tanpa seizin kamu karena ada yang ingin kami sampaikan," ujar Darrell mengarahkan pandangannya kepada putrinya.
"Aku sudah tebak jika kedatangannya pagi ini pasti memiliki maksud dan tujuan," ucap Dayna.
Alvan tersenyum memperhatikan wajah Dayna yang tak suka.
"Tepat sekali pikiran kamu," cetus Nayna.
"Cepat katakan apa yang ingin Papa dan Mama sampaikan," desak Dayna.
"Kami ingin kamu menikah dengan Alvan," kata Darrell.
"Hah! Menikah?" Dayna tampak syok.
"Iya. Kali ini jangan menolaknya," ucap Darrell.
"Aku belum siap menikah, Pa."
"Oh, jadi kamu masih ingin bersama Rafael?" singgung Darrell.
"Bukan begitu, Pa. Tapi, aku ..."
"Jangan membantah permintaan Papa. Karena kemarin kamu telah gagal memilih," ujar Darrell.
"Bagaimana kalau ini gagal lagi?" tanya Dayna.
"Semoga saja itu tidak terjadi," sahut Alvan yang mendapatkan sorotan tajam dari gadis pujaan hatinya.
"Jangan berpikir buruk, jika belum memulainya," ucap Nayna.
"Kapan aku boleh datang melamarnya, Paman?" tanya Alvan.
"Malam ini," jawab Darrell.
Seketika Dayna melebarkan matanya dan menggelengkan kepalanya. Dirinya tak percaya jika sang papa meminta Alvan untuk melamarnya nanti malam.
"Baiklah, Paman. Aku akan mengabarkannya kepada orang tua, Paman Harsya, Paman Randy, Paman Biom dan Paman Rama," kata Alvan semangat.
Dayna lalu berdiri. "Aku belum setuju, kenapa main lamaran saja?" kesalnya.
Nayna mendekati putrinya, mengelus bahunya dan menyuruhnya duduk.
"Tak secepat itu juga, dia melamarku," ucap Dayna.
"Lebih cepat lebih baik. Agar Papa bisa tenang," ujar Darrell.
Malam harinya...
Keluarga besarnya Alvan datang ke rumah Darrell untuk melamar resmi Dayna menjadi calon istri.
Begitu sampai, dekorasi rumah di sulap begitu cantik dan indah. Acara lamaran telah direncanakan jauh-jauh hari tanpa sepengetahuan Dayna.
Makanya, ketika Alvan selesai sarapan dan berpamitan. Para pekerja dekor datang dan menyiapkan semuanya.
Dayna mencoba tersenyum menyapa para keluarga dan saudara yang datang. Walaupun hatinya belum sepenuhnya siap menerima Alvan menjadi calon suaminya.
Acara pun dimulai, seluruh tamu yang hadir begitu bahagia kecuali Dayna.
Hampir 1 jam, acara lamaran selesai dilaksanakan. Alvan dan Dayna berfoto bersama diapit para sepupu dan teman semasa kecilnya.
__ADS_1
Hanya Ryder yang tak dapat menghadiri acara karena sedang berada di luar negeri.
Tapi, dia sempat melakukan panggilan video untuk memberikan ucapan selamat kepada Alvan dan Dayna.
Jam 10 malam, para tamu telah berpulangan termasuk keluarganya Alvan begitu juga dengan pemuda itu.
Dayna gegas masuk ke kamar dan melangkah cepat. Menghapus riasan wajahnya menatap cermin.
"Kenapa harus Alvan yang menjadi calon suamiku?" gumamnya.
"Alvan pemuda baik, jadi pantas bersamamu," ucap Nayna.
"Dari dulu Alvan menyukaimu, Day." Kata Hanan.
"Percaya pada Kakak, jika Alvan terbaik untukmu. Dia sangat menyayangimu," ujar Dennis.
"Aku senang jika Alvan dan Dayna akan menikah," ucap Rissa.
"Kalian berdua memang cocok," sahut Intan.
Pernyataan para tamu yang turut hadir terngiang di kepala Dayna.
"Kenapa mereka semua memuji Alvan?" lirihnya.
***
Selesai lamaran, Alvan tidak pernah menelepon atau mengirimkan pesan apapun kepada Dayna. Karena ia tahu jika calon istrinya belum sepenuhnya menerima dirinya.
Alvan memilih sibuk dengan pekerjaannya di kantor daripada menggoda Dayna yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
Di kantor Dayna melihat ponselnya. Tak ada satu pesan dari Alvan yang biasanya tiap hari selalu menanyakan kabarnya bahkan mengajaknya makan siang.
"Dulu saja sebelum lamaran, rajin sekali menghubungi aku. Sekarang sudah mengikatku malah menjauh. Mau dia apa sebenarnya, 'sih?" batin Dayna.
Siang harinya, Dayna menikmati makan bersama dengan karyawan papanya di restoran depan kantor.
Dayna lantas menelepon Bryan. "Halo!"
"Halo, Day."
"Kalian bersama Alvan?" tanya Dayna.
"Oh, ya sudah. Terima kasih," Dayna lantas menutup panggilan teleponnya agar sepupunya itu tak banyak pertanyaan.
Selesai makan siang, Dayna kembali ke kantor. Ingin menghubunginya tapi malu dan gengsi.
Alvan memilih makan siang di kantornya, selesai lanjut bekerja meskipun waktu istirahat masih ada 20 menit lagi.
Alpha masuk ke ruang kerja putranya. "Kenapa tidak makan siang bersama Papa?"
"Memangnya Papa tidak pulang ke rumah?" Alvan balik bertanya.
"Tidak. Mama lagi keluar menemui temannya," jawab Alpha.
"Aku benar-benar tidak tahu, Pa. Maaf!"
"Tidak apa-apa. Bagaimana persiapan pernikahan kalian? Apa kamu dan Dayna telah memesan gaun pengantin?"
"Belum, Pa."
"Pernikahan kalian dua Minggu lagi, jadi segera urus semuanya."
"Iya, Pa."
Setelah papanya keluar dari ruangan, Alvan lalu menghubungi calon istrinya.
"Halo, Day."
"Kenapa baru menghubungi aku? Jangan kamu pikir kita sudah lamaran, mulai menjaga jarak denganku. Pasti kamu mengira ku akan mencarimu, 'kan?"
Alvan tertawa mendengarnya.
"Alvan.."
"Iya, Day. Hari ini aku sangat sibuk, apalagi pernikahan kita sebentar lagi. Jadi, aku harus menyelesaikannya tepat waktu, agar bulan madu kita panjang," goda Alvan.
"Ciih, bulan madu. Kamu pikir aku akan menyerahkannya kepadamu," cerocosnya.
__ADS_1
"Aku akan sabar menunggu," kata Alvan dengan santai.
"Ada apa kamu menelepon aku?"
"Nanti sore kita ke butik untuk mencoba pakaian yang akan digunakan ketika pernikahan."
"Oh, baiklah. Kita jumpa di sana saja, berikan alamat tokonya," ucap Dayna.
"Aku akan mengirimkannya. Jika mengendarai mobil jangan ngebut!"
"Baik, Tuan Alvan."
Panggilan pun berakhir.
Alvan kembali melanjutkan pekerjaannya.
-
Sore harinya, Alvan datang terlambat ke butik. Di sana Dayna yang menunggunya tampak cemberut.
"Aku di sini lebih dari lima belas menit. Kenapa lama sekali?" omelnya.
"Aku minta maaf," jawab Alvan.
Dayna mendengus.
"Kamu sudah pilih gaun yang akan dipakai nanti?"
"Kamu saja yang pilih."
"Tidak. Kamu yang harus milih," kata Alvan.
"Pernikahan ini 'kan kamu yang mau bukan aku. Jadi, aku ikut saja."
Alvan menghela napas lalu mengiyakan.
Alvan memilih warna biru muda untuk gaun yang akan digunakan Dayna.
Pegawai toko meminta Dayna untuk mencoba menggunakannya.
Tak lama kemudian, Dayna keluar membuat Alvan yang sedang memakai jas pengantin menoleh. Seketika pandangannya tak lepas dari kecantikan calon istrinya.
"Bagaimana?" tanya Dayna ketus.
Alvan tersenyum dan mengangguk.
Dayna lalu membalikkan badannya dan menuju ruang ganti.
Setelah memilih dan membayar tagihan belanja akhirnya mereka pulang.
Dayna diantar Alvan pulang ke rumah karena tadi ketika ke toko pakaian pengantin. Darrell meminta putrinya itu diantar sopir.
Sepanjang perjalanan, Dayna lebih memilih diam.
"Dayna.."
"Hemm..."
"Aku minta maaf," kata Alvan.
Dahi Dayna mengerut.
Alvan malah tersenyum.
"Dasar aneh!" Dayna menarik ujung bibirnya.
"Aku yakin suatu saat kamu akan mencintaiku," Alvan berkata penuh yakin.
"Jangan berharap!"
"Bagaimana jika suatu waktu aku menghilang? Apa kamu tidak mengkhawatirkan aku?"
"Kamu mau menghilang ke mana?" tanya Dayna.
Alvan mengendikkan bahunya.
"Kamu saja tidak tahu mau ke mana. Lagian, siapa juga yang akan menculikmu," ujar Dayna.
__ADS_1
"Siapa tahu kamu menyuruh orang lain untuk menyingkirkan aku," tukas Alvan.
"Aku tidak serendah dan sejahat itu hanya untuk menyingkirkan kamu!"