
Bab 51 - CSS
Begitu sampai di kafe, Aira mengalungkan tangannya di lengan Alvan hal itu membuat Dayna dan lainnya sejenak terbengong.
Alvan menarik kursi buat Aira dan gadis itu tersenyum manis kepadanya.
Bryan melakukan hal yang sama untuk Alana.
"Perkenalkan namanya Aira," kata Alvan.
Aira mengulurkan tangannya di sambut Dayna, Bryan, Elra dan Ryder.
Dayna lalu melirik Hanan.
Aira tersenyum kepada Hanan dan melambaikan tangannya.
Hanan hanya tersenyum tipis.
Alvan meminta Aira untuk memesan makanan begitu juga dengan adiknya.
Sepanjang obrolan, Alvan sama sekali tidak menggubris Dayna meskipun gadis itu mencoba menyela percakapan.
Aira lantas berpindah posisi dengan Alana tepat di sebelah Hanan.
Aira yang baru kenal, hanya diam dan sesekali menjawab jika bertanya.
Dayna lantas berdiri dan berkata, "Semuanya, aku duluan 'ya!"
"Kenapa buru-buru, Day?" tanya Bryan.
"Ada urusan penting," jawab Dayna beralasan.
Alvan memilih memainkan ponselnya ketika Dayna berpamitan.
"Aku antar pulang!" Hanan menawarkan diri.
"Tidak usah, Han. Aku pulang sendiri saja," ujar Dayna meraih tas lalu pergi.
"Kamu tidak menyusulnya?" tanya Hanan pada Alvan.
Yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya.
Bryan, Hanan, Ryder dan Elra saling pandang.
"Jadi, dia kekasihnya Alvan?" tanya Aira pelan di dekat Hanan.
Hana menoleh ke arah samping lalu menjawab pelan juga, "Panjang ceritanya."
Aira manggut-manggut.
Dayna yang sebenarnya tidak membawa mobil menghubungi kekasihnya, namun tak ada jawaban.
Bryan menepuk keningnya, "Astaga aku lupa!"
Semua mata tertuju pada Bryan.
"Lupa apa?" tanya Ryder.
"Tadi Dayna pergi denganku," jawab Bryan, gegas berdiri dan mengarahkan pandangannya ke arah parkiran kafe.
"Dia naik motor," lanjut Bryan berucap, masih dengan menatap ke arah jalanan.
Alvan lantas berdiri dan mengikuti pandangan Bryan, "Aku akan menyusulnya!"
Alvan dengan langkah cepat mengikuti Dayna.
Begitu sampai di parkiran ternyata telah pergi. Gegas menuju mobilnya dan mengejar motor yang dinaiki Dayna.
Alvan mempercepat laju kendaraannya.
Dayna sempat menoleh, dalam hati bertanya, "Itu 'kan mobil Alvan. Mau kemana dia?"
Alvan berkali-kali mengklakson dan Dayna segera menyuruh pengemudi motor untuk memperlambat laju.
Alvan menyalipnya dan berhenti di depannya. Motor pun seketika berhenti.
Alvan keluar dari mobil dan menghampiri Dayna yang sedang membuka helmnya.
"Ayo turun!" titah Alvan.
"Kenapa turun? Aku mau pulang, Van."
"Biar aku yang mengantar kamu pulang."
"Bagaimana dengan...." ucapan Dayna terhenti.
__ADS_1
Alvan mengeluarkan dompet lalu menyerahkan beberapa lembar uang kepada pengemudi motor.
"Ini kebanyakan, Tuan."
"Ambil saja kembaliannya," kata Alvan sekilas tersenyum.
"Terima kasih, Tuan." Pengemudi begitu senang.
Dayna lantas turun dari motor, Alvan dengan cepat menarik tangannya dan membuka pintu.
Di dalam mobil Dayna lantas bertanya," Kenapa harus repot mengejarku?"
"Kamu belum pernah naik motor, bagaimana jika terjatuh? Aku juga yang akan dicecar papa dan Paman Darrell."
"Aku akan bilang...."
"Berhentilah memberikan alasan kepada mereka jika sesuatu telah terjadi padamu, lebih baik mencegahnya," potong Alvan.
"Kenapa kamu masih baik kepadaku, meskipun aku telah menolakmu?"
"Karena aku mencintaimu."
Dayna terdiam.
Tak lama kemudian Dayna tertawa sinis.
"Gadis itu mau kamu ke mana, kan?"
"Siapa?" tanya Alvan sekilas menoleh.
"Gadis yang begitu mesra menggandeng lenganmu."
"Oh, Aira."
"Iya."
"Kamu cemburu?" tanya Alvan.
Dayna menarik salah satu ujung bibirnya.
"Aku dan Aira rencananya mau dijodohkan, tapi...."
"Kamu tidak menyukainya?" sambung Dayna.
"Iya."
Alvan mengendikkan bahunya.
Dayna menghela napas dan membuang wajahnya ke jendela.
"Bagaimana hubunganmu dengan Rafael?" tanya Alvan.
"Begitulah."
"Kapan dia akan melamarmu?" tanya Alvan lagi.
"Aku tidak tahu."
"Jika dalam satu bulan ini dia tak berani melamarmu, maka aku akan datang menemui kedua orang tuamu."
Dayna menoleh ke arah Alvan dan menatapnya.
"Day, aku serius!" kata Alvan penuh yakin.
"Jika melamarku, apa Aira akan kamu tinggalkan?"
"Iya."
"Kamu jahat sekali!" ceplos Dayna.
"Aku hanya menyukai kamu," kata Alvan.
Dayna terdiam.
-
Sepanjang malam, Dayna memikirkan tantangan dari Alvan yang akan datang melamar jika Rafael tak sanggup melakukannya.
"Bagaimana ini? Mana dia dari tadi pagi sulit dihubungi," gumamnya.
Dayna mencoba menghubungi Rafael lagi, tapi tak di respon meskipun telah tersambung.
Dayna akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan pendapat kedua orang tentang rencana Alvan.
"Papa setuju rencana Alvan," ujar Darrell.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan kekasihnya Alvan?" tanya Aira.
"Mereka belum terikat dalam hal serius, Aira juga ke sini untuk liburan sekaligus mendekatkan diri dengan teman-temannya Alvan," jawab Darrell.
"Mama juga setuju dengan pendapat Papa?" tanya Dayna.
"Iya. Mama rasa Alvan pria sejati yang patut kamu pilih," jawab Nayna.
"Aku hanya..."
"Mama tahu, takkan memaksa kamu memilih Alvan," Nayna memotong pembicaraan.
Dayna kembali ke kamar, lalu menghubungi lagi Rafael. Beberapa detik menunggu akhirnya terdengar suara berkata, "Halo, Day!"
"Kamu ke mana saja? Dari tadi pagi aku menelpon bahkan mengirimkan pesan tapi tak ada jawaban? Kamu ingin menghindari aku?" cecar Dayna yang sedikit kesal.
"Sayang, aku minta maaf. Dari tadi pagi, aku begitu sibuk. Ada beberapa klien yang harus aku temui, jadi maaf tak sempat membalas pesan dan menerima telepon kamu," ujar Rafael.
"Kamu tidak bohong, 'kan?"
"Tidak, sayang."
"Baiklah, besok kita harus bertemu. Ada sesuatu yang penting, jangan tak datang!" ucap Dayna.
"Baiklah, sayang."
"Kafe biasa jam sebelas pagi."
Rafael mengiyakan.
"Semoga saja, Rafael mau melamarku di bulan ini," ujar Dayna.
***
Esok harinya tepat jam 11, Dayna telah tiba di kafe. Selang 10 menit kemudian, Rafael datang dan duduk dihadapannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Rafael.
"Apa kamu serius padaku?" Dayna balik bertanya.
"Iya, aku sangat serius padamu."
"Apa kamu mau melamarku?" tanya Dayna.
Rafael tampak terkejut.
"Aku sangat mencintaimu," ujar Dayna.
"Aku juga, Day. Tentang lamaran, mungkin tunggu beberapa bulan lagi, kita juga baru dekat dan saling kenal," kata Rafael.
"Aku tidak dapat menunggu, El."
"Kenapa?"
"Alvan akan datang melamar, jika dalam sebulan ini kamu tak menemui orang tuaku!"
"Kenapa harus dia yang memaksa?"
"Karena dia mencintaiku dan kedua orang tuaku menyukainya. Tentunya mereka setuju dengan tantangan yang diberikan Alvan," jawab Dayna.
Lagi-lagi Rafael terdiam.
"Jika kamu serius, temui kedua orang tuaku dan kita akan buat acara tunangan segera," ujar Dayna.
Rafael belum memberikan keputusan.
"Jika kamu memang serius dan mencintaiku, tantangan seperti ini takkan sulit," singgung Dayna.
"Day....."
"Mungkin dengan cara ini Alvan akan menjauhiku dan melupakan segalanya tentang aku. Kita dapat membangun perusahaan sendiri bersama-sama," kata Dayna menyakinkannya.
Rafael masih diam.
"Bagaimana, El? Apa kamu bersedia dalam bulan ini kita bertunangan?"
...----------------...
Sambil Menunggu Cerita Hana dan Para Adiknya, Kalian Boleh Singgah atau Lihat Karyaku Yang Lainnya..
- Mengejar Cinta si Tampan
- Jangan Mengejarku, Cantik!
- Cruel Beauty (new)
__ADS_1
Sehat dan Bahagia Selalu ....