
Pagi ini rombongan Alpha akan berangkat ke pantai yang terkenal dengan keindahan lautnya.
Alvan menghampiri Aira yang sedang mengambil sarapan. "Aku boleh minta tolong!"
Aira menoleh dan sejenak terdiam kemudian mengiyakan.
"Hanan sejam lagi tiba di bandara, apa kamu mau menjemputnya?" tanya Alvan.
"Apa? Hanan mau kemari?" Astrid tiba-tiba menyela pembicaraan dengan suara sedikit lantang sehingga yang lainnya mengarahkan pandangannya kepada Alvan dan Aira.
"Iya, Ma. Semalam jam sepuluh, Hanan menelepon aku. Katanya jika dia dalam perjalanan menuju bandara," tutur Alvan.
"Kenapa dia tidak mau ikut rombongan kita kemarin?" tanya Alpha.
Alvan mengendikkan bahunya.
"Ya sudah kalau begitu biar Papa saja yang menjemputnya," jawab Alpha.
"Tidak usah, Al. Biarkan Aira saja," sahut Rino.
"Aku, Pa?" Aira menunjuk dirinya.
"Iya, Nak. Kamu sudah mengenalnya, 'kan?" tanya Rino pada putrinya.
"Memang aku mengenalnya, Pa." Jawab Aira.
"Jadi kamu saja yang menjemputnya, biar Papa dan Mama menemani mereka liburan ke pantai," ujar Rino.
Aira akhirnya mengiyakan permintaan sang ayah.
"Aku tidak terlalu paham jalanan di sini. Maaf, jika memintamu menjemputnya," kata Alvan.
"Tidak apa-apa, Van. Kalian pergilah dan nikmati liburan di sini," ucap Aira.
Alvan mengambil sarapannya dan duduk bergabung dengan Elra, Bryan serta Dayna.
"Kenapa tiba-tiba ingin kemari?" tanya Dayna.
"Mungkin dia bosan di rumah, makanya menyusul kita," Elra yang menjawab.
Dayna manggut-manggut.
Selesai sarapan, kembali ke kamar masing-masing dan menyiapkan beberapa barang yang akan dibawa ke pantai.
Tepat jam 7 lewat 30 menit, rombongan Alpha memenuhi kursi-kursi di dalam mobil.
"Apa Aira sudah pergi?" tanya Astrid kepada Kayla.
"Sudah beberapa menit yang lalu."
"Mobil kita pakai, dia naik apa?" tanya Astrid lagi.
"Naik taksi."
"Oh."
-
Aira tiba di bandara dan menunggu kedatangan Hanan. Tak berapa lama pemuda itu menampakkan batang hidungnya.
Aira melambaikan tangannya ke arah Hanan yang tampak celingak-celinguk.
Hanan menajamkan matanya dari jarak jauh. "Kenapa dia yang datang menjemput?" batinnya.
Aira kembali melambaikan tangannya dan berteriak, "Hanan!"
Hanan menghela napas.
Mendorong kopernya, Hanan mendekati Aira yang terus melambaikan tangannya.
Aira melemparkan senyumnya namun hanya mendapatkan tatapan cuek.
"Di mana Alvan?"
"Mereka pergi ke pantai."
"Hah, apa? Mereka liburan tapi meninggalkan aku," omel Hanan.
"Siapa suruh datang terlambat," kata Aira ketus.
"Hei, sebenarnya aku malas ke kota ini."
"Kalau memang malas, kenapa menyusul ke sini?" tanya Aira.
Hanan terdiam.
"Kamu mau balik ke kota asal atau ikut aku ke rumah?" tanya Aira ketus.
__ADS_1
"Aku sudah jauh-jauh ke sini, tidak mungkin harus balik lagi," jawab Hanan.
"Jangan mengomel saja, cepat bawa kopermu itu! Taksi kita dari tadi sudah menunggu," ucap Aira.
"Iya, ya, dasar cerewet!" cetus Hanan.
Aira membalikkan badannya lalu berkata, "Tadi kamu bilang apa?"
"Tidak ada." Jawab Hanan dengan cepat.
"Ingat, kamu ini di kota orang lain. Jadi, jangan berani macam-macam dengan orang asli sini!"
"Iya."
Aira membalikkan badannya dan melangkah cepat.
Hanan terpaksa memperlebar langkah kakinya menyusul Aira.
Hanan duduk bersama Aira di kursi penumpang belakang.
"Apa nantinya kita akan menyusul mereka ke pantai?" tanya Hanan pada gadis yang pandangannya ke arah jendela.
Aira tanpa menatap menjawab, "Tidak."
"Lalu untuk apa aku kemari?"
Aira menoleh dan menjawabnya lagi. "Besok saja kalau mau jalan-jalan, hari ini aku sangat lelah!"
Hanan mendengus.
Sesampainya, Aira membayar ongkos taksi lalu mengajak Hanan menuju kamar yang ditempati Alvan, Elra dan Bryan.
"Di kamar ini sudah ada tiga orang, jadi nanti malam kamu tidur di lantai memakai alas karpet," ujar Aira.
"Apa tidak ada kamar lagi?"
"Semuanya telah penuh."
"Aku menginap di hotel saja," ucap Hanan.
"Tidak ada mobil di sini lagian juga Tante Astrid akan melarangmu tidur di hotel atau penginapan."
"Tapi, aku tidak bisa tidur di lantai apalagi hanya beralaskan karpet."
"Tuan Hanan Sakti Abraham, ingat 'ya di sini bukan istana mewah milikmu. Jadi, kamu harus ikutin peraturannya," kata Aira.
Aira terdiam.
"Cepat katakan? Bagaimana kamu bisa tahu nama lengkap ku?" desak Hanan.
"A...aku...tahu dari Alvan!"
Hanan melepaskan cengkeramannya.
"Jika kamu mau makan, cari aku di taman belakang atau tanyakan pada pelayan di rumah ini," ucap Aira memegang lengannya.
Hanan mengangguk.
Aira dengan langkah cepat meninggalkan kamar.
Hanan meletakkan koper ke sembarang tempat lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
-
Jarum jam menunjukkan 11 siang, perut Hanan terasa lapar. Keluar kamar dan mencari keberadaan Aira.
Ternyata, gadis itu sedang memainkan ponselnya di ruang santai keluarga.
"Aku lapar," ucap Hanan.
Aira mendongakkan kepalanya lalu berdiri dan melangkah ke arah ruang makan dan Hanan mengikutinya.
"Silahkan duduk dan makan!" kata Aira.
"Kamu tidak makan?" Hanan menarik kursi lalu duduk.
"Aku belum lapar."
"Jadi, aku makan sendiri?"
"Iya."
"Temani aku."
"Tidak bisa."
"Aku di sini tamu," ucap Hanan.
__ADS_1
Dengan malas, akhirnya Aira menarik kursi dan duduk dihadapan Hanan.
Hanan mengambil lauk dan sayur ke dalam piringnya kemudian menyantapnya.
Aira masih fokus dengan ponselnya.
"Kira-kira mereka pulang jam berapa?" tanya Hanan.
"Tidak tahu," jawab Aira tanpa menatap.
"Apa begitu caranya menghargai tamu?" singgung Hanan.
Aira menurunkan ponselnya lalu meletakkannya di meja tepat di sisi sebelah kanannya.
Hanan tersenyum kecil lalu melanjutkan makannya.
Aira memperhatikan Hanan yang sedang makan.
"Aku tahu kamu pasti masih marah padaku," ucap Hanan.
Aira hanya diam.
"Aku minta maaf masalah hari itu," kata Hanan.
"Itu sudah lewat, lupakan saja," ujar Aira.
"Jika memang sudah melupakannya, kenapa wajahmu masih menyimpan dendam?" sindir Hanan.
"Itu perasaan kamu saja," ucap Aira.
Hanan akhirnya memilih diam, karena terus berdebat makan siangnya malah tidak selesai.
Aira meninggalkan meja makan setelah Hanan mengakhiri makan siangnya.
Aira menuju kamarnya begitu juga Hanan yang menghabiskan waktu di kamar.
Hanan menghubungi Alvan, "Halo!"
"Hanan, kamu sudah sampai di rumah?"
"Aku juga sudah kenyang," jawabnya ketus.
Alvan tertawa.
"Kapan kalian pulang? Suntuk sekali di sini, tak ada teman mengobrol," kata Hanan.
"Mungkin jam lima atau enam sore kami tiba di rumah," ucap Alvan.
"Kenapa lama sekali?" tanya Hanan.
"Mumpung sudah jauh ke sini, untuk apa pulang buru-buru," jawab Alvan.
"Iya, juga 'sih."
"Ajak saja Aira mengobrol biar kamu tak suntuk," saran Alvan.
"Iya, aku akan coba mengajaknya berbicara," kata Hanan.
Selesai menelepon Alvan, mata Hanan terasa berat tak lama kemudian terpejam.
Jam 3 sore, Hanan terbangun. Membersihkan tubuhnya lalu beranjak dari kamar.
Hanan menanyakan di mana keberadaan Aira kepada pelayan.
Dan pelayan wanita itu menunjukan ke sebuah kamar.
Hanan lantas mendekati kamar Aira tak lupa mengetuk pintu.
Aira membuka pintu kamar melihat Hanan yang telah berdiri. "Ada apa?"
"Temani aku mengobrol," jawab Hanan.
Aira menghela napas lalu mengangguk, keluar dari kamar dan tak lupa menutup pintu.
Mengajak Hanan ke taman belakang dan keduanya duduk di kursi.
"Silahkan, mau mengobrol apa," ucap Aira.
Hanan menggelengkan kepalanya.
Aira mengerutkan keningnya.
Hanan hanya tersenyum singkat.
Karena Hanan memilih diam, akhirnya Aira memainkan ponselnya lagi.
"Dari tadi siang aku lihat kamu asyik dengan ponsel," Hanan membuka obrolan.
__ADS_1
"Iya, lagi membalas pesan calon jodoh," ucap Aira. asal.