Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 45 -S2 - Mengunjungi Hana Dan Dennis


__ADS_3

Pengenalan Tokoh Bagian Kedua....


1. Hana Larasati Abraham dan Hanan Sakti Abraham (Harsya dan Anaya)


Bryan Satrio Aynan dan Binar Satrio Aynan ( Biom- asisten pribadinya Harsya dan Rissa - sepupunya Harsya sekaligus adiknya Darrell)


Dayna Aynan Putri ( Darrell- sepupunya Harsya sekaligus kakak kandungnya Rissa dan Nayna- bawahan Alpha serta pengawal pribadi ibunya Harsya)


Elra Niel Sudirja dan Rana Niel Sudirja (Randy dan Elia- adik kandungnya Harsya)


*** 2. Ryder Artaza dan Ryan Artaza (Rama - juru masak Harsya dan Intan)***


*** 3. Alvan Bimo dan Alana Bimo (Alpha- pengawal pribadi Harsya dan Astrid***)


######


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebulan kemudian....


Dayna, Elra, Bryan dan Hanan terbang ke negara tempatnya Dennis dan Hana. Keempatnya mengunjungi kakaknya karena begitu merindukan keduanya.


Dennis dan seorang pengawal menjemput adik-adiknya di bandara.


"Kak Hana tidak ikut menjemput?" tanya Dayna.


"Kakakmu lagi menyiapkan makan malam buat kalian," jawab Dennis.


"Memangnya Kak Hana bisa memasak?"


"Pastinya," jawab Dennis bangga.


"Aku tidak percaya jika Kak Hana bisa memasak," ujar Dayna.


"Kalian harus rasakan masakannya, aku jamin pasti akan suka," kata Dennis.


Mereka pun menuju apartemennya Hana, sesampainya di sana langsung ditawari makan.


Di meja tampak beberapa menu telah tersaji.


"Ini semua Kak Hana yang masak?" tanya Bryan.


"Tidak, masih dibantu pelayan," jawab Hana.


"Oh, aku pikir Kak Hana yang memasaknya," celetuk Dayna.


"Tidak sanggup masak menu banyak untuk sepuluh orang," ujar Hana tersenyum.


"Sepertinya Ryder harus beri penilaian untuk masakan Kak Hana apakah pantas mendapatkan nilai," ucap Bryan.


"Lebih baik jangan lakukan itu, pasti aku akan disuruh belajar masak dengan Paman Rama," canda Hana.


Semuanya tertawa.


Mereka duduk bersama menikmati makan malam.


"Bagaimana rasanya?" tanya Hana begitu penasaran dengan penilaian para adiknya tentang masakannya.


"Ryder beri penilaian!" pinta Dayna.


"Nilainya delapan," ujar Ryder.


"Benarkah? Masakan sederhana seperti ini delapan?" tanya Hana.


"Ini karena Ryder kasihan, Kak. Coba Paman Rama yang menilai, siap-siap dikritik tajam," ungkap Dayna.


"Benar, sih." Kata Hana.


"Dari tadi aku lupa bertanya pada kalian, Alpha dan Hanan kenapa tidak ikut?" tanya Dennis.


"Hanan kemari nanti dengan Paman Harsya dan Bibi Anaya. Kalau Kak Alvan alasannya tidak tahu," jelas Elra.


"Kenapa kalian tak tahu? Memangnya tidak diajak?" tanya Dennis.


"Kami sudah mengajaknya tapi dia menolaknya," jawab Ryder.

__ADS_1


"Mungkin dia kemari bersama kedua orang tuanya, Kak!" sahut Dayna.


"Mungkin saja," kata Dennis mengangguk.


Selesai makan malam, Bryan, Elra dan Ryder pindah ke apartemen yang telah disewa tepatnya di atas berbeda 2 lantai dengan unit milik Hana dan para pekerjanya.


Dayna tidur di apartemennya Hana.


***


Esok paginya, Hana menyiapkan sarapan buat para sepupunya dan Dayna memperhatikannya.


Dennis yang baru saja bangun tidur, menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang tak memperdulikan Dayna di dekat mereka.


"Bisa tidak kalian jangan bermesraan di depan anak kecil seperti aku," sindir Dayna.


Dennis menoleh lalu tersenyum. "Aku lupa jika ada tamu di rumah ini."


Hana hanya mengulum senyum.


Dayna lantas mengerucutkan bibirnya.


"Makanya segera terima dia," celetuk Dennis.


"Terima siapa, Kak?" tanya Bryan yang muncul dari arah belakang Dennis.


"Tidak ada," jawab Dayna.


"Aku bertanya pada Kak Dennis kenapa yang menjawab dia," ucap Bryan.


"Sudah lupakan saja yang tadi, sekarang kita sarapan," ajak Dennis.


Menikmati sarapan bersama, Bryan melakukan panggilan video dengan Hanan.


"Lagi di mana?" tanya Ryder.


"Lagi di kafe menunggu Alvan datang," jawab Hanan.


"Oh," ucap Ryder.


"Aku nanti dengan ayah dan ibu, Kak." Jawab Hanan.


"Itu Alvan!" tunjuk Bryan ke arah pemuda yang berjalan ke arah Hanan.


Alvan yang tahu jika Hanan sedang melakukan panggilan telepon duduk di depannya.


"Nan, arahkan kamera pada Alvan!" ucap Hana.


Hanan mengikuti perintah kakaknya.


Dayna memilih meninggalkan meja makan dan beralasan ke kamar mandi.


"Van.." panggil Dennis.


Hanan menyerahkan ponselnya kepada Alvan.


Mengambil ponsel dan memindahkan kameranya, "Ada apa, Kak?" tanya Alvan.


"Kenapa tidak ikut?" tanya Dennis balik.


"Aku sibuk, Kak. Kalian beberapa bulan lagi juga akan pulang," jawab Alvan.


"Kurang lengkap tanpa kalian berdua," ujar Dennis.


"Nanti kita kumpul jika Kak Dennis kembali ke sini," ucap Alvan.


"Itu tentu pasti, jika kalian di sini bisa liburan bareng," ujar Bryan.


"Lain waktu nanti kita liburan bersama," ucap Alvan.


Sepuluh menit kemudian, panggilan telepon pun berakhir. Dayna memilih diam dan tak bertanya. Karena dirinya malu kepada Alvan, sebenarnya bukan begitu 'sih hanya saja kata-kata perjodohan membuat keduanya menjaga jarak.


**


Seminggu berlalu....


Rombongan Dayna dan lainnya tiba di tanah air. Para sopir menjemput mereka di bandara, hanya Dayna dijemput Rafael. Karena gadis itu yang memintanya.

__ADS_1


Darrell mau tak mau mengizinkan putrinya dijemput pemuda lain.


Keduanya kini di dalam mobil, Dayna duduk di samping Rafael yang menyetir.


"Bagaimana liburannya? Apakah sangat menyenangkan?"


"Sangat menyenangkan sekali!" jawab Dayna begitu semangat.


"Pasti sangat seru?"


Dayna mengangguk.


Sangking asyiknya mengobrol, keduanya akhirnya tiba di rumah Dayna.


Rafael dibantu penjaga keamanan rumah menurunkan barang-barang milik Dayna.


Sebagai seorang ibu, Nayna mengucapkan terima kasih kepada Rafael karena telah menjemput putrinya.


"Sama-sama, Tante. Saya senang membantunya," ujar Rafael.


Dayna hendak menyuruh Rafael untuk masuk namun Nayna segera berkata, "Dia baru melakukan perjalanan jauh jadi maaf sekali Nak Rafael, izinkan putri kami buat istirahat."


"Oh, iya Tante. Memang seharusnya Dayna beristirahat apalagi perjalanan yang cukup jauh," ujar Rafael.


"Nah itu, sekali lagi terima kasih dan maaf," kata Nayna sembari tersenyum.


"Kalau begitu, saya permisi," pamit Rafael.


Nayna mengangguk mengiyakan.


"Kenapa Mama tidak mengizinkan Rafael?" tanya Dayna selepas mobil pemuda itu pergi.


"Nanti kamu tanyakan alasannya kepada papa," jawab Nayna.


"Kenapa harus tanya papa 'sih, Ma?"


"Karena dia yang akan menjelaskannya, Mama hanya mengikuti perintahnya."


"Mama dan Papa pasti kecewa karena aku menolak dijodohkan dengan Alvan, 'kan?"


"Tidak, Nak. Lagian Alvan sekarang akan dijodohkan dengan anak temannya Tante Astrid."


"Benarkah? Aku senang mendengarnya," ujar Dayna.


"Jangan pernah menyesal menyia-nyiakan pemuda sepertinya," ucap Nayna.


"Aku tidak akan pernah menyesal, Ma!" Dayna melangkah menuju kamarnya.


Nayna menghela napas.


...----------------...


Jangan Lupa Mampir ke Karyaku Lainnya....


******1. Salah Jatuh Cinta


******2. Penculik Hati


******3. Dijodohkan Dengan Musuh


******4. Melupakan Sang Mantan


******5. Calon Istriku Musuhku


******6. Mengejar Cinta si Tampan


******7. Jangan Mengejarku, Cantik!


******8. Marsha, Milik Bara


******9. Marry The Star


******10. Fall in Love From The Sky


******11. Pesona Ayahku


******12. Dikejar Cinta Putri Atasan

__ADS_1


__ADS_2