Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 73 - S2 - Hanan Datang Ke Pernikahan Aira


__ADS_3

Alpha, istri dan putrinya lebih dahulu pergi ke kotanya Aira untuk menghadiri acara pernikahan.


Sehari sebelum acara sakral tersebut, Alvan, istrinya, Hanan, Bryan dan Ryder datang menyusul.


Hanan tampak sangat lesu ketika menginjak kakinya di kota Aira. Dia hanya tersenyum tipis saat para sahabatnya mengajaknya bercanda.


Alvan merangkul bahu Hanan dan tersenyum, menguatkan sahabatnya itu agar tetap semangat.


Mereka memilih menginap di hotel di kota itu karena rumahnya Aira telah di penuhi sanak saudaranya yang datang.


Hanan berdiri memandangi kota dari jendela kamar hotel. Pandangannya tampak sayu, besok pagi dirinya harus menyaksikan gadis yang disukainya itu menikah dengan orang lain.


Bryan mendekatinya lalu berkata, "Semua sudah terlambat, ikhlaskan saja dia. Doakan terbaik untuknya."


Hanan tersenyum getir.


"Dari kejadian kamu, aku belajar banyak agar tidak terlalu berlama-lama mengatakan perasaan ini," ucap Ryder.


"Meskipun dirimu sudah mengatakannya, aku belum merestuinya," sahut Bryan di sisi kanan Hanan.


"Calon kakak ipar, tolong restui aku. Tak masalah harus menunggunya empat atau lima tahun lagi," kata Ryder.


"Kalau kamu tidak bosan, tak masalah. Itupun jika Binar masih setia menunggumu," kata Bryan sinis.


"Ya ampun, calon kakak ipar. Bantu satukan aku dengan adikmu yang manis," puji Ryder.


"Kalian berdua bisa diam, tidak!" hardik Hanan.


Ryder dan Bryan pun diam.


"Aku mau tidur, kalau kalian ingin keluar. Silahkan!" Hanan merebahkan tubuhnya di ranjang lalu menarik selimut.


"Hanan, ini waktunya kita makan siang," kata Ryder.


"Bawakan saja ke kamar untukku!" ucap Hanan memejamkan matanya.


"Baiklah," ujar Ryder.


Bryan dan Ryder kemudian berlalu.


Di restoran, Alvan dan istrinya sudah menunggu keduanya.


"Di mana Hanan?" tanya Dayna.


"Tidur," jawab Bryan.


"Apa dia masih patah hati?" tanya Dayna lagi.


Bryan dan Ryder menaiki bahu.


"Nanti lama-lama dia akan terbiasa," kata Alvan.


"Apa waktu itu kamu begitu juga saat aku bertunangan dengannya?" tanya Dayna pada suaminya.


"Awalnya iya, tapi karena aku tahu dia curang. Maka, diriku gagal patah hati," jawab Alvan.


"Jika itu terjadi, apa perasaanmu kepadaku tetap sama?" tanya Dayna lagi.


"Kalian berdua, jangan membuat aku iri. Aku harus bersabar menunggu restu darinya," Ryder lantas memotong pembicaraan sepasang suami istri itu sembari melirik Bryan.


"Kalian berdua itu incarannya gadis di bawah umur. Jelaslah akan menunggu lama," celetuk Alvan.


"Alana lebih tua dari Binar," sahut Bryan.


"Iya, hanya setahun," ucap Alvan.

__ADS_1


"Kamu menyetujui hubungan aku dan Alana 'kan, Van?" tanya Bryan.


"Lihat saja nanti, biarkan Alana fokus dengan pendidikannya," jawab Alvan.


Bryan mengangguk paham.


***


Keesokan paginya, Bryan dan Ryder telah selesai mandi namun Hanan masih betah berselimut.


"Nan, ayo bangun!" panggil Ryder.


"Kalian saja yang pergi," kata Hanan masih dengan mata terpejam.


"Jangan tunjukkan jika dirimu patah hati!" sindir Bryan.


Hanan dengan terpaksa bangkit dari tidurnya dan beranjak ke kamar mandi.


Selang 1 jam, ponsel Bryan berdering tertera nama Alvan. Ia lalu mengangkat dan berkata, "Sebentar lagi kami turun, Hanan masih berpakaian."


Alvan berucap, "Jangan lama-lama, sebentar lagi acaranya akan di mulai!"


"Iya, Van."


Ketiganya akhirnya bertemu dengan Alvan dan istrinya di lobi hotel. Setelah itu mereka berangkat ke gedung resepsi pernikahan.


Sesampainya dan mereka duduk di tempat yang telah di sediakan dari kejauhan Hanan melihat Aira tersenyum begitu indah ketika bertemu dengan suaminya.


"Aku harus kuat," batin Hanan.


"Aira sangat cantik, ya!" puji Dayna.


"Semoga pernikahan mereka selalu diberikan kebahagiaan," sahut Ryder.


Hanan lantas menoleh ke arah sepupunya.


Dayna malah tersenyum.


"Kami menyayangimu, Nan. Meskipun dia bukan jodohmu, pasti ada wanita lain yang mencintaimu," kata Alvan.


"Kalau sudah menemukannya, jangan lupa segera mengatakannya sebelum diambil orang," sindir Ryder.


"Aku tidak seperti yang kalian pikirkan," ucap Hanan.


"Wajahmu mengatakannya," celetuk Bryan.


"Kalian tenanglah, aku akan baik-baik saja," ujar Hanan penuh yakin.


"Iya, memang seharusnya kamu baik-baik saja," sahut Dayna.


Mereka berjalan beriringan menaiki panggung pelaminan, Hanan mencoba tersenyum kepada kedua mempelai, dirinya berusaha kuat menghadapi semuanya.


Aira menunjukkan senyum indahnya walaupun dirinya berharap Hanan yang ada di sampingnya. Tapi, rasa sayang Aldo mampu menyakinkannya.


Hanan mengucapkan selamat kepada sang pengantin pria, keduanya saling berpelukan.


Hanan juga menitipkan pesan agar pria itu menjaga dan menyayangi Aira sepenuh hati.


Setelah dari Aldo, kini Hanan berhadapan dengan Aira.


"Selamat 'ya, Aira!" Hanan mengulurkan tangannya.


"Terima kasih, Nan!" Aira menyambut uluran tangannya.


Hanan dan lainnya kemudian turun dari atas panggung pelaminan lalu kembali ke meja tempat orang tuanya kumpul.

__ADS_1


Aira yang berada di atas pelaminan, mencuri pandang memperhatikan Hanan tampak lebih diam dan dingin.


"Ai..."


Aira membuyarkan lamunannya dan menoleh ke arah suaminya.


"Ada apa Al?" tanya


"Kamu lihatin siapa?" tanya Aldo balik.


"Tidak ada, Al."


Aldo pun percaya saja.


Dua jam berada di gedung resepsi pernikahan, Alpha dan rombongan berpamitan kepada orang tuanya Aira.


Hanan yang masih patah hati, hanya tersenyum tipis ketika diajak bercanda dengan lainnya.


***


Esok paginya, rombongan Alpha tiba di bandara kotanya karena mereka memutuskan berada di kota tempat tinggalnya Aira hanya 2 hari saja.


Dennis menjemput adik iparnya di bandara. Di dalam mobil lantas bertanya, "Apa sekarang perasaanmu sudah lega?"


Hanan menggelengkan kepalanya.


"Kamu belum mengatakannya?"


"Aku tidak mau menghancurkan kebahagiaan suaminya, Kak."


"Kamu sangat hebat, Kakak bangga denganmu. Walaupun, hatimu terluka tapi berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyakiti pria lain dan menggagalkan pernikahan orang lain."


"Iya, Kak. Bagiku Aira sudah bahagia itu lebih dari cukup," ujar Hanan.


Dennis tersenyum bangga.


Sebelum berangkat ke kota Aira, Hanan mengungkapkan perasaannya dan mengatakan gadis yang selama ini meluluhlantakkan hatinya.


Dennis juga pernah bertanya apakah adik iparnya itu mantap untuk datang dan hadir di acara pernikahan Aira.


Hanan mengatakan iya.


-


Malam harinya....


Hanan menikmati kopi seorang diri di Kafe Melodi tempat biasa dirinya dan lainnya duduk.


Hanan meraih cangkir kopi dan menyesapnya, ketika hendak meletakkan wadah minuman itu tangannya tersenggol seseorang sehingga sebagian isinya tumpah.


Sontak, Hanan lantas berdiri dan berkata, "Oh, sial!"


"Ma.. maaf, Tuan!" ucap seorang gadis dengan memakai topi dan kacamata hitam.


"Apa kamu tidak dapat melihat, hah?" tanya Hanan kesal.


Gadis itu gegas pergi tak memperdulikan Hanan yang sangat kesal dan ingin marah.


Beberapa orang memegang kamera dan mikrofon tampak berlari mengejarnya.


Hanan mengerutkan dahinya.


Gadis misterius itu tampak memasuki sebuah mobil mewah dengan cepat kendaraan tersebut meninggalkan kafe.


Hanan yang tak berselera lagi menikmati kopinya, mengelap tangannya dengan tisu kemudian pergi.

__ADS_1


__ADS_2