Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 37 - Bertemu Dengan Ayah Sambung


__ADS_3

Seminggu kemudian....


Pencarian ayah Dennis telah dilakukan Alpha, Alvan dan Bryan. Selama 2 hari mereka menyusuri tempat itu dan ternyata Mario telah meninggal 15 tahun lalu.


Dennis mendengarnya sedih, beruntung Hana selalu berada di sampingnya dan menguatkannya.


Hari ini Dennis, kekasihnya, Alpha dan istrinya menemui Jenny beserta keluarganya. Tak ketinggalan William sebagai perantara pertemuan mereka.


Sebelum menikah Jenny sudah memberitahu kepada calon suaminya jika dirinya adalah seorang janda memiliki 1 orang putra. Namun, kesempatan untuk bertemu dengan Dennis belum sempat terwujud.


Dennis dan lainnya mendatangi kediaman Felix menggunakan mobil. William terlebih dahulu tiba di sana.


Sang tuan rumah mempersilakan tamunya dengan antusias dan gembira. Tampak wajah Jenny begitu bahagia melihat kedatangan putranya.


Felix memeluk Dennis sangat erat. "Maafin kami yang tidak mencarimu."


Dennis berkata, "Iya, Paman."


"Panggil aku ayah!" Kata Felix.


Dennis mengarahkan pandangannya kepada Jenny dan Hana, kedua wanita itu mengangguk.


"Iya, Ayah." Ujar Dennis ragu.


Semua orang di ruang itu tersenyum senang.


"Ibu, Ayah, ini Paman Alpha dan Bibi Astrid. Mereka yang menggantikan posisi nenek mengurus dan merawatku," ucap Dennis.


Jenny tersenyum lalu memeluk Astrid, "Terima kasih telah menyayangi Dennis seperti anak sendiri."


"Sama-sama, Kak." Kata Astrid.


Di tengah obrolan mereka, putri Jenny dari pernikahannya kedua muncul. Gadis berusia 18 tahun itu, memperhatikan tamu yang datang ke rumahnya.


"Kayla, sini sebentar!" panggil Felix dengan lembut.


"Iya, Pa." Gadis cantik itu mendekat.


"Mama pernah bilang jika kamu memiliki seorang kakak laki-laki, nah dia adalah Kakakmu," Felix memperkenalkan Dennis.


Kayla meraih tangan Dennis yang terulur, "Hai, Kak. Selamat datang!"


Dennis tersenyum canggung.


Kayla menyalim tangan tamu yang lainnya, setelah itu ia pamit meninggalkan ruangan.


"Dia putri kami," kata Jenny.


"Cantik, Bi." Puji Hana.


"Mama-nya saja cantik," sahut Felix.


"Kakaknya juga tampan," Hana mengarahkan pandangannya kepada kekasihnya lalu tersenyum.


Alpha dan Astrid mengulum senyum melihat kelakuan Hana.


Mereka melanjutkan obrolan hingga waktu makan siang bersama.


Dennis mengantarkan Alpha dan Astrid terlebih dahulu pulang lalu kemudian kekasihnya.


"Bagaimana sekarang perasaanmu?" tanya Hana.


"Sangat lega," jawab Dennis.


"Aku senang, kamu sudah menemukan keluargamu," ujar Hana.


Dennis menggenggam tangan kekasihnya lalu mengecup punggungnya, "Terima kasih, ya."


"Iya, sama-sama."


"Kamu jadi balik ke sana?"


"Iya."


"Kenapa harus balik lagi?"


"Pekerjaan aku belum selesai," jawab Hana.


"Aku bekerja di sana apakah boleh?" tanya Dennis.


"Tidak."


"Kenapa? Aku ingin dekat denganmu."


"Konsentrasi aku terganggu jika kamu di sana."

__ADS_1


"Memangnya aku perusuh?"


"Iya, kamu memang perusuh hatiku," jawab Hana tersenyum.


Dennis mengelus rambut kekasihnya. "Aku tidak sabar segera menikahimu."


"Aku juga."


***


Seminggu berlalu..


Hana terpaksa harus kembali ke luar negeri karena pekerjaan yang belum selesai.


Dennis turut mengantarkan gadis itu di bandara, keduanya saling berpelukan. Tampak mata Hana berkaca-kaca ketika kekasihnya melepaskan pelukannya.


"Jaga dirimu di sana, jangan lupa makan. Sebulan sekali ku akan mengunjungimu."


Hana mengangguk mengiyakan.


Tangisan Anaya pecah ketika Hana melangkah pergi, meskipun putrinya di sana tak seorang diri. Tapi rasa khawatirnya sangat besar.


"Sudahlah, sayang. Sebulan sekali kita akan bergantian mengunjunginya," ucap Harsya.


Anaya menyeka air matanya dan manggut-manggut.


Dennis kembali ke kantor, menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda beberapa hari ini.


Ketika istirahat kerja, Dennis menikmati makan siang bersama Jenny, suaminya dan Kayla.


"Hana tidak ikut?" tanya Jenny.


"Tidak, Bu. Dia sudah terbang ke luar negeri."


"Dia bekerja di sana?" tanya Felix.


"Iya, Yah. Dia mengurus perusahaan cabang."


"Oh," ucap Jenny dan Felix.


Selesai makan siang bersama, Dennis kembali ke kantor. Dayna menghampirinya dengan wajah cemberut.


"Kenapa denganmu?"


"Kenapa Kakak pergi makan tidak mengajakku?" protes Dayna.


"Kenapa tidak mengenalkan mereka pada kami?" tanya Dayna.


Dennis tertawa kecil.


"Jangan hanya Kak Dennis sudah bertemu dengan ibu kandung, kami jadi dilupakan!" omelnya.


"Nanti acara ulang tahun Rana, Kakak akan mengundang jika mereka mau datang," janji Dennis.


"Kakak harus paksa dong!"


"Iya, nanti Kakak akan paksa."


Sepulang kerja, Dayna hendak memasuki mobil Dennis namun pria itu menolaknya.


"Papa sudah pulang, lalu aku dengan siapa?" Dayna wajah memelas.


"Alvan sebentar lagi akan datang, tunggu saja!" Dennis tersenyum.


"Memangnya Kakak mau ke mana?"


"Mau ke rumah Paman Harsya."


"Kak...."


"Kakak buru-buru, sampai jumpa besok pagi!" Dennis bergegas memasuki mobilnya dan berlalu.


Tak lama kemudian, Alvan mengendarai mobilnya berhenti tepat di depan Dayna. Membuka kaca jendela dan berkata, "Ayo naik!"


Mau tak mau, Dayna memasuki mobil.


"Kak Dennis memintaku untuk mengantarkanmu pulang," ujar Alvan, menyalakan mesin mobil dan meninggalkan parkiran.


"Kalau kamu tidak ikhlas, tak perlu menjemputku!" ketusnya.


"Aku selalu ikhlas jika itu menyangkut kamu," ucap Alvan.


"Tak usah merayu aku dengan sikapmu itu. Kutak suka!"


"Lama-lama kamu akan menyukai aku, Day."

__ADS_1


"Jika di dunia ini tersisa pria hanya kamu saja, kutakkan menikah."


"Oh, benarkah?"


"Iya."


"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku," ujar Alvan.


Dayna menoleh dan menyipitkan matanya.


"Mau aku belikan es krim?"


"Tidak."


"Kalau begitu aku mau belikan es krim buat Kayla saja."


"Siapa Kayla?"


"Adiknya Kak Dennis."


"Kenapa aku tidak tahu tentangnya?"


"Memangnya kamu siapa?"


"Aku 'kan adiknya Kak Dennis juga."


"Tapi, aku adalah sepupunya Kak Dennis jadi lebih tahu tentangnya."


"Iya, aku tahu kamu lebih dekat dengan Kak Dennis. Tapi, aku juga yang lebih mengerti dia daripada kamu!"


"Karena kamu sepupunya Kak Hana."


"Iya."


Setibanya di toko es krim, Alvan memarkirkan mobilnya dan membuka safety belt.


Alvan keluar dari mobil begitu juga dengan Dayna.


"Kamu mau es krim juga?" tanya Alvan.


Dayna mengangguk.


Alvan menarik ujung bibirnya lalu melangkah ke dalam diikuti gadis itu.


Dayna meminta 2 mangkok es krim.


"Kenapa banyak sekali?" tanya Alvan.


"Satu makan di mobil dan satu lagi buat makan di rumah." Jawab Dayna nyengir.


Alvan menghela napas menggelengkan kepalanya.


Selesai dari toko es krim, Alvan mengendarai mobil menuju rumah Jenny.


Sesampainya di sana, Kayla keluar dengan wajah sumringah menghampiri Alvan.


"Ini titipan dari Kak Dennis," ucap Alvan menyerahkan 2 cup es krim.


"Terima kasih, Kak." Kayla tersenyum senang.


"Iya, sama-sama." Alvan balas senyum.


"Kak Alvan tidak masuk?" Kayla menawarkan diri dengan gaya centilnya.


"Tidak, aku mau mengantarkan calon kekasih pulang," ucap Alvan pelan.


"Kak Alvan punya kekasih? Aku cemburu!" ujar Kayla dengan nada bercanda.


Alvan tertawa kecil mendengarnya.


"Ya sudah pulang sana, sampaikan terima kasih kepada Kak Dennis."


"Iya." Alvan pun melangkah menuju mobilnya.


"Kalian sangat akrab, ya." Singgung Dayna sembari menikmati es krimnya.


Alvan memperhatikan wajah Dayna, matanya tertuju pada bibir gadis itu. Menarik ujung bibirnya, meraih tisu lalu mengelapnya.


Sontak Dayna terkejut dan memundurkan kepalanya.


"Seperti bocah saja!"


Dayna menarik tisu yang dipegang Alvan dan mengelap bibirnya sendiri.


Alvan menghidupkan mesin dan mulai melajukan kendaraannya.

__ADS_1


Dayna tampak salah tingkah dengan sikap Alvan yang berani menyentuh bibirnya.


__ADS_2