
Hana pulang ke rumah setelah berada setahun di luar negeri karena Hanan adiknya telah menyelesaikan pendidikannya.
Menyambut kepulangan putranya, Harsya mengundang keluarga, saudara dan kerabat. Acaranya hanya sekedar makan-makan dan berkumpul saling mengobrol.
Tampak Hana sedang berbincang dengan adik-adiknya.
Dennis datang seorang diri ke acara tersebut tak lupa menyapa Harsya dan Anaya. Dari kejauhan ia melihat gadis yang selalu menghindarinya setahun belakangan ini.
Dennis lantas mendekatinya karena tampak di sana ada Hanan yang sudah lama tidak bertemu.
"Itu Kak Dennis!" ucap Dayna mengarahkan pandangannya kepada pemuda berusia 27 tahun itu.
Hana, Hanan, Bryan dan Elra menoleh.
Dennis melemparkan senyumnya ke arah mereka.
Hana bergeming ketika tatapan mata Dennis tertuju padanya.
Hanan lantas memeluk tubuh Dennis, "Kakak, apa kabar?"
Dennis tertawa dan menjawab, "Aku baik dan sehat."
"Aku senang mendengarnya, Kak. Sudah lama kita tidak mengobrol terakhir video call enam bulan lalu," ujar Hanan.
"Sekarang kita sudah bertemu dan bebas mengobrol," ucap Dennis.
"Aku ke sana, ya!" pamit Hana.
"Mau ke mana, Kak? Di sini saja," ujar Dayna.
"Nanti saja kita lanjut mengobrolnya," kata Hana sedikit tersenyum.
Dayna dan lainnya manggut-manggut. Tetapi tidak dengan Dennis yang berharap jika gadis itu tetap bersamanya mengobrol.
Hana pun berlalu.
Dennis lanjut mengobrol meskipun pandangannya terus mencari keberadaan Hana.
Dennis akhirnya pamit dengan adik-adiknya, karena ingin ke toilet.
Selesai dari toilet, tak sengaja ia melihat Hana sedang mengobrol bersama seorang pria yang ditaksir sebaya dengan gadis itu.
Terlihat raut wajah Hana yang begitu senang, sesekali gadis itu melemparkan tawa.
Dennis lalu meninggalkan keduanya dan kembali kepada Hanan serta lainnya.
Sejam berada di acara tersebut, Dennis melangkah ke meja prasmanan mengambil makanan tanpa sengaja berpapasan dengan Hana.
"Hai!" sapa Dennis tersenyum kaku.
"Hai juga!" Hana menyapa diiringi senyum tipis.
"Apa kabar?"
"Baik," jawab Hana tanpa menatap.
"Apa....."
"Maaf, aku tinggal. Permisi!" Hana bergegas berlalu.
Rindu.. hatinya sangat ingin memeluknya tapi apa daya, janji dirinya kepada Winny untuk menjauh dari Dennis dan pria itu juga tak mencintainya menjadi alasannya menjaga jarak.
Dennis menatap punggung Hana dari kejauhan, entah kenapa hatinya perih ketika dirinya dicuekin.
"Kakak!"
Dennis terperanjat memegang dadanya karena kaget.
Alana hanya menyengir.
"Ada apa?" tanya Dennis.
"Dipanggil papa," jawabnya.
Dennis pun menemui Alpha.
__ADS_1
-
Waktu menunjukkan pukul 4 sore, Dennis dan keluarga Alpha berpamitan pulang kepada Harsya dan Hanan.
"Dari tadi aku tidak melihat Hana, di mana dia?" tanya Astrid.
"Kak Hana lagi mengobrol Rafael, Bi." Jawab Hanan.
"Laki-laki yang pakai kemeja biru garis-garis, Kak?" tebak Alana.
"Iya," jawab Hanan.
"Oh," ucap Alana dan Astrid singkat.
"Dia siapanya Hana?" tanya Dennis.
Pertanyaan Dennis membuat lainnya menoleh ke arahnya.
"Ada yang salah?" tanya Dennis heran.
Mereka menggelengkan kepala.
"Kak Rafael teman sekolah Kak Hana, kebetulan mereka bertemu di luar negeri lagi," jelas Hanan.
"Mereka sangat serasi, ya." Celetuk Astrid.
"Mama..." tegur lembut Alvan.
Astrid hanya nyengir.
"Tuan, kami pamit pulang, ya!" ujar Alpha.
"Iya, terima kasih sudah hadir," ucap Harsya.
Dennis pulang menaiki mobil pribadinya yang dirinya beli sebulan lalu, hasil dari bekerjanya.
Dan keluarganya Alpha menggunakan mobil terpisah dengan Dennis.
Di dalam kendaraan roda empat itu, Alvan berkata, "Ma, jangan bicara apapun tentang Kak Hana di depan Kak Dennis."
"Memangnya apa yang terjadi dengan mereka berdua?" tanya Alana.
"Anak kecil tidak boleh tahu," cetus Alvan.
"Kakak, kenapa selalu bilang anak kecil, sih? Aku sudah delapan belas tahun," ujar Alana.
"Tidak terlalu penting, Na. Fokus saja mikirin sekolahmu," ucap Astrid.
"Kamu jadi lanjutin sekolah ke luar negeri?" tanya Alpha.
"Tidak, Pa. Di sini saja, di sana tak ada teman," jawab Alana.
"Mama pun tidak mau kamu jauh," ujar Astrid.
*
Dennis tiba di rumah, membuka kemeja yang dipakainya dan mencampakkannya di ranjang.
Dennis masih kepikiran dengan Hana yang sedang berduaan bersama seorang pria serta penjelasan Hanan tentang sosoknya.
"Kenapa aku jadi cemburu melihat kedekatan mereka?" gumamnya.
Dennis dengan cepat membuyarkan lamunannya.
Mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi untuk menenangkan pikirannya yang hari sangat mengganggunya.
Dibawah kran shower, Dennis membersihkan seluruh tubuhnya. Terlintas kembali bayangan Hana yang tersenyum kepada Rafael dan sikap gadis itu saat mengobrol dengan adik-adiknya.
Dennis menyibak rambutnya yang basah dibawah guyuran air.
*****
Winny dan suaminya pergi ke restoran untuk menghadiri sebuah undangan sahabat keduanya.
Begitu sampai, mereka menikmati makanan yang terhidang di meja sembari mengobrol dan tertawa.
__ADS_1
Ditengah obrolannya, Winny melihat Hana bersama dengan seorang pria yang tak dikenalnya. Ia lantas menyenggol lengan suaminya.
"Ada apa?" tanya Arya lirih.
"Lihatlah di sana!" Arah mata Winny tertuju pada Hana.
"Nona Hana!" Arya terperangah.
"Dia sudah kembali ke sini, tapi dengan siapa?" tanya Winny.
Arya mengendikkan bahunya.
"Katanya mencintai Dennis, tapi kenapa jalan dengan orang lain?"
"Nanti saja mengobrol lagi, sayang. Segan dengan mereka yang mengundang kita," jawab Arya.
Winny manggut-manggut paham.
Sejam kemudian, Winny kembali membahas Hana bersama dengan pria lain yang bukan Dennis.
"Bukankah kamu sendiri yang melarang Hana untuk tidak dekat dengan Dennis?" singgung Arya.
"Iya, tapi tak semudah itu dong menyerah," ujar Winny.
"Untuk apa lagi berjuang sedangkan pria yang dikejarnya itu tak melihatnya," ucap Arya.
"Aku telah bersalah padanya," Winny menyesali perkataannya setahun lalu, itu Karena dia terlalu sakit hati. Tapi, dendam berhasil terkikis seiring berjalannya waktu. Apalagi Arya menyiram hatinya penuh cinta serta kasih sayang.
"Semua sudah berlalu, jangan disesali. Mungkin Hana tahu jika Dennis tidak mencintainya," tebak Arya.
"Dennis pernah mengatakan tidak akan menjalin hubungan dengan Hana," ujar Winny.
"Berarti Nona Hana telah tahu semuanya?" tanya Arya.
"Entahlah," jawab Winny.
-
Rafael mengantarkan Hana pulang selepas makan siang bersama, tanpa sengaja keduanya berpapasan dengan Dennis yang baru saja keluar dari pintu utama rumah.
Dennis sejenak memperhatikan keduanya lalu pergi begitu saja tanpa sapaan atau senyuman.
"Dia siapa, Han?" tanya Rafael.
"Keponakan Paman Alpha."
"Oh."
"Silahkan masuk!" ajak Hana.
Dennis melihat keduanya dari mobil tampak kesal, gegas ia segera pergi meninggalkan kediaman Harsya.
"Astaga, kenapa dengan diriku? Bukankah itu lebih baik jika dia bersama dengan orang lain," gumamnya.
Sementara itu, Hana duduk bersama dengan kedua orang tuanya dan Rafael di ruang tamu. Namun, pikirannya tertuju pada Dennis.
"Kenapa dia tidak senyum? Apa dia cemburu?" Hana membatin.
"Tidak mungkin dia cemburu, dia 'kan tak mencintaiku. Ini aku pasti salah," gumamnya.
"Siapa yang salah, Han?" tanya Anaya.
"Tidak ada, Bu," jawab Hana cepat.
"Oh," ujar Anaya singkat.
"Saya sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu yang serius, Om, Tante," ucap Rafael.
Hana dan kedua orang tuanya saling pandang.
"Apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Harsya.
"Saya ingin melamar, Hana."
"Apa!!"
__ADS_1