
Kali ini kunjungan Aira menjenguk Alvan yang kedua karena sebelumnya dia datang bersama orang tuanya.
Aira dan Aldo tiba di kotanya Alvan tadi pagi dijemput sopir pribadinya Alpha.
Sesampainya di kediaman Alpha, tampak juga kehadiran Hanan dan Bryan.
Aira dan Aldo melempar senyum kepada pemuda yang sedang duduk di ruang santai keluarga.
Hanan membalas senyuman gadis itu tipis.
"Apa kabar, Van?" tanya Aira.
"Lumayan membaik, meskipun sementara harus di kursi roda."
"Syukurlah kalau kamu mulai membaik," ujar Aira.
Ketika dikabarkan Alvan ditemukan dan di rawat di rumah sakit. Gegas, dirinya dan kedua orang tuanya menuju kemari.
Walaupun hanya menginap 2 malam, kedatangan mereka untuk menghibur hati orang tuanya Alvan.
"Aku ke kamar dulu, ya." Pamit Aira.
Bryan dan Hanan mengangguk mengiyakan, Hanan memilih bermain ponselnya.
"Ayo, Aldo!" Aira mengajak temannya itu.
Aldo sedikit menundukkan kepalanya kepada Alvan dan lainnya.
Dan di balas juga dengan anggukan kecil.
Aldo lalu menyusul Aira.
Hanan yang dari tadi cuek dengan kedatangan Aira lantas berdiri dan berkata, "Aku balik pulang, ya!"
"Kenapa buru-buru?" tanya Alvan.
"Iya, Han. Kita baru sejam di sini biasanya lebih," sahut Bryan.
"Aku sangat lelah, karena semalam begadang jadi ingin melanjutkan tidur," Hanan beralasan.
Alvan dan Bryan saling pandang.
"Aku duluan, ya!" Hanan meraih kunci mobil di meja di depannya.
"Bukan karena kamu cemburu melihat Aira dengan Aldo, 'kan?" singgung Bryan.
Hanan tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau begitu aku juga pamit," Bryan lalu berdiri.
"Kenapa kamu jadi ikutan juga?" tanya Hanan.
"Aku......"
"Jangan bilang kalau kamu tidak betah karena tak ada Alana di sini, 'kan?" Hanan balas menyinggung.
Bryan mendelikkan matanya lalu menjelaskan alasannya, "Nanti siang aku balik ke sini, karena mau mengantarkan Binar ke rumah temannya."
"Biasanya juga Binar di antar sopir," ujar Hanan.
"Sopir lagi libur," ucap Bryan.
"Kalian berdua kalau mau pulang, ya sudah sana. Kenapa harus berdebat? Jika ada waktu kosong kemari lagi. Dayna juga akan datang," Alvan menengahi keduanya.
"Baiklah, kalau begitu kami pulang. Nanti sore kami balik lagi," ujar Bryan.
"Aku tidak bisa berjanji," sahut Hanan.
"Kenapa?" tanya Alvan dan Bryan serentak.
"Ya, tidak apa-apa. Aku duluan," Hanan kemudian berlalu.
Bryan pun menyusul saudara sepupunya.
Tak lama kemudian Aira dan Aldo kembali menemui Alvan di teras belakang.
"Dimana mereka, Van?" tanya Aira.
"Mereka sudah pulang," jawab Alvan.
"Kenapa cepat sekali?" tanya Aira lagi.
"Ada urusan katanya."
"Oh," ucap Aira singkat.
__ADS_1
Ketiganya saling mengobrol, sejam berlalu Dayna datang di antar sopir pribadi karena orang tua dan Alvan tak mengizinkan bepergian tanpa pengawal dan penjaga.
Dayna menyapa kedua tamunya Alvan.
"Hai, apa kabar?" Dayna menyapa sembari tersenyum.
"Baik, Day. Kamu?" Aira balik bertanya.
"Aku juga baik," jawab Dayna.
"Syukurlah," ucap Aira tersenyum.
Keempatnya mengobrol lalu lanjut makan siang bersama dengan kedua orang tuanya Alvan dan Alana.
Selesai makan siang, Aira dan Aldo izin untuk beristirahat. Kini hanya Dayna dan Alvan yang akan melanjutkan obrolannya.
"Besok pagi aku akan menemanimu pergi terapi," janji Dayna.
"Tidak usah, Day."
"Jadwal kantor tidak terlalu padat, Van."
"Aku tidak mau kamu terlalu lelah mengurusku dan kantor," ucap Alvan.
"Aku ingin kamu segera sembuh dan kita secepatnya menikah," ujar Dayna.
"Iya, aku tahu kamu tidak sabar tapi kutak mau kamu jatuh sakit. Pasti Bibi Nayna akan sangat khawatir apalagi aku."
Dayna tersenyum, kedua tangannya di arahkannya ke pipi kekasihnya lalu mencubitnya.
"Day...." Alvan menegur calon istrinya.
Dayna malah tersenyum nyengir.
****
Keesokan paginya....
Ditemani Hanan, Alvan pergi ke tempat terapi. Sudah sebulan ini, mereka sering ke sana untuk perawatan
Selain, Hanan ada juga Aira yang menemani Alvan. Awalnya, Hanan menolak gadis itu ikut dengannya tapi karena Aira terus membujuk Astrid dan Alpha akhirnya Hanan mengiyakannya.
Aldo kembali ke kotanya tadi pagi dengan pesawat jam 7 pagi karena ada urusan perusahaan yang tak dapat di tunda.
Hanan merangkul lengan Alvan dibantu seorang pengawal pribadi.
"Selamat pagi, Tuan."
"Pagi, Catherine.
"Saya senang jika Tuan Hanan selalu mendampingi Tuan Alvan melakukan terapi ini," ucap Catherine.
Hanan hanya tersenyum singkat.
Pandangan Catherine kini ke arah Aira. "Gadis manis ini pasti kekasihnya Tuan Hanan," tebaknya.
"Bukan!" ucap Hanan dengan singkat.
"Lalu?" tanya Catherine.
"Dia teman saya, jauh dari kota ini," sahut Alvan.
"Oh, saya pikir dia kekasihnya Tuan Hanan," ucapnya.
"Saya belum memiliki istri apalagi kekasih," kata Hanan menjelaskan status dirinya.
"Saya senang mendengarnya," ujar Catherine tanpa sadar.
Alvan, Hanan dan Aira mengerutkan dahinya.
"Ayo Tuan Alvan, kita mulai terapinya hari ini," ucap Catherine mengalihkan pembicaraan.
"Baik, Nona."
Selama Alvan di terapi, Hanan dan Aira duduk tak jauh darinya.
Aira menoleh ke arah Hanan yang sedari kemarin tampak cuek.
"Nan..."
Hanan menoleh.
"Kamu sering menemani Alvan kesini?" tanya Aira.
"Ya, hampir sering kadang bergantian dengan Bryan, Ryder, Dayna dan Kak Dennis." Jawab Hanan tanpa menatap gadis di sampingnya.
__ADS_1
"Pantas saja dia sangat begitu akrab denganmu," singgung Aira.
"Dia siapa?" tanya Hanan kembali menoleh.
"Wanita berambut pirang itu," jawab Aira.
"Oh, Catherine."
Aira mengangguk.
"Kami baru bertemu tiga kali," ucap Hanan.
"Sepertinya dia menyukaimu," tukas Aira.
Hanan hanya tersenyum kecil.
"Nan..."
"Hemm..."
"Kenapa setelah liburan itu kamu tidak pernah menghubungi aku?" tanya Aira.
"Memangnya aku punya nomor ponsel kamu?" Hanan balik bertanya.
Aira terdiam.
Hanan pernah mengirimkan pesan kepada Aira ketika pria itu tiba di kota tempat tinggalnya.
Setelah Aira membalas pesan tersebut, Hanan tak pernah menghubunginya lagi.
"Aku terlalu berharap lebih," batin Aira.
Hanan mengalihkan pandangannya kini ke ponselnya.
Aira hanya diam dan melihat Alvan latihan.
Selesai terapi, Alvan mengajak Aira, Hanan dan seorang pengawal untuk makan siang bersama.
"Ai, tiga hari lagi ulang tahunnya Dayna. Kamu ikut 'kan memberikan kejutan untuknya," ucap Alvan.
"Sepertinya tidak, Van." Kata Dayna.
"Kenapa? Kamu mau pulang?" tanya Alvan.
"Iya, rencananya besok pagi aku akan pulang. Maaf, tidak dapat ikut," jawab Aira.
"Bukankah kamu bilang akan seminggu di sini?" tanya Alvan.
"Aku berubah pikiran," jawab Aira lagi.
"Kamu pulang bukan untuk mempercepat acara pertunangan, 'kan?" Alvan kembali bertanya.
Hanan yang tadi sibuk bermain ponsel, lantas mendongakkan wajahnya.
Aira tertawa getir.
"Kamu yakin ingin bertunangan dengan Aldo?"
"Iya, Van. Aku rasa dia memang jodohku."
"Semoga acara pertunangan kalian lancar hingga hari pernikahan," doa Alvan.
"Terima kasih, Van."
"Maaf, aku tidak dapat hadir," ucap Alvan.
"Tidak apa-apa, Van. Kamu sehat saja, aku sudah senang," ujar Aira.
Alvan membalasnya dengan senyuman.
Aira pergi ke toilet, Hanan baru mulai berani bertanya. "Memangnya kapan mereka bertunangan?"
"Aira pernah bilang kalau rencananya dua minggu lagi."
"Memang kamu yakin hubungan mereka serius?" tanya Hanan.
"Semoga saja, Aldo pria pilihan orang tuanya yang terbaik," harap Alvan.
Hanan terdiam.
"Kenapa kamu bertanya hal itu?" tanya Alvan.
"E...hemm... tidak apa-apa, aku hanya ingin memastikannya saja," jawab Hanan terbata.
"Aku kira kamu cemburu karena dia akan bertunangan," celetuk Alvan.
__ADS_1
"Tidak mungkin aku cemburu, memangnya dia siapa aku," Hanan menyangkal.
Pengawal yang berada di meja makan hanya mengulum senyum mendengar obrolan majikannya.