Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 56 - S2 - Liburan Akhir Bulan


__ADS_3

Pagi ini Dayna datang ke kantornya Alvan dengan membawa makanan. Menunggu di ruangan kerja pria itu sembari memperhatikan foto-foto yang terpajang di dinding.


Mata Dayna tertuju pada foto dirinya dan beberapa sepupunya. Tampak jelas Alvan mengarahkan pandangannya kepadanya.


Dayna menarik ujung bibirnya, begitu menyukainya Alvan kepada dirinya.


Pintu ruangan terbuka, Dayna segera menoleh.


Alvan tampak terkejut dengan kehadiran tiba-tiba Dayna ke kantornya.


"Aku sengaja kemari untuk memberikan ini!" Dayna melangkah ke arah meja tamu.


"Hanya untuk memberikan ini atau ingin bertemu dengan aku?" Alvan menggoda.


Dayna tertawa kecil.


"Bagaimana dengan kakimu?" tanya Alvan.


"Sudah membaik."


"Syukurlah," ucap Alvan.


"Aku harus balik ke kantor," kata Alvan.


"Secepat itu?"


"Iya."


"Kamu tidak ingin makan ini bersama?"


"Aku buru-buru, Van."


"Kamu dengan siapa ke sini tadi?" tanya Alvan.


"Sendiri."


"Aku akan mengantarmu ke kantor."


Dayna mengerutkan keningnya.


"Nanti aku akan balik naik taksi."


"Tidak, Van. Kamu tetap di kantor, aku kemari dengan sopir dan pengawal sesuai apa yang kamu pinta kepada papaku."


Alvan tersenyum lalu mengusap rambut Dayna.


"Aku pergi, ya. Jangan lupa dimakan, aku bangun pagi-pagi khusus masak buatmu," ucap Dayna.


"Baiklah, sayang."


Dayna memukul lengan Alvan. "Jangan pakai sayang!"


"Iya, maaf. Aku hanya bercanda," Alvan mengusap lengannya.


Dayna kemudian melangkah meninggalkan ruang kerjanya Alvan.


Di depan pintu masuk gedung Dayna bertemu dengan Hanan.


"Kamu ke sini juga?" tanya Hanan.


"Iya."


"Tidak biasanya kamu ke kantornya Alvan, apa ada urusan pekerjaan?" tebak Hanan.


Dayna hanya menjawabnya dengan senyuman.


"Aku tahu pasti kalian sudah jadian," terka Hanan.


"Mau tahu saja urusan orang, aku duluan, ya!" Dayna gegas melangkah menuju parkiran.


Hanan menaiki lift dan menuju ke ruang kerjanya Alvan.


Begitu sampai, tanpa mengetuk pintu Hanan masuk ke ruangan.


Alvan menoleh dan berkata, "Bisa tidak kalau masuk itu mengetuk pintu?"


"Aku lupa kalau kamu di sini wakil direktur," jawab Hanan.


"Bedakan antara kantor dengan waktunya berkumpul," kesal Alvan.


"Iya, aku minta maaf." Hanan duduk di samping Alvan.


Hanan melihat makanan yang di santap temannya, "Pasti dari Dayna?"


Alvan menoleh lalu melanjutkan makannya lagi, "Dari mana kamu tahu?"

__ADS_1


"Tadi aku bertemu dengannya di pintu."


"Oh."


"Sekarang dia sudah menerima kamu?" tanya Hanan.


"Belum, dia tak mau merusak persahabatan jika suatu waktu kami gagal," jawab Alvan.


"Kamu menerima begitu saja ucapannya?"


"Aku tidak bisa memaksa hatinya, Nan."


"Ini buktinya apa? Kenapa dia sempat-sempatnya mengantarkanmu makanan?"


"Aku juga tidak tahu, tadi katanya dia masak ini pagi-pagi sekali," tutur Alvan.


"Itu artinya dia sebenarnya nyaman denganmu tapi sulit mengucapkannya."


Alvan diam dan berpikir.


"Sudahlah, lanjutkan makanmu. Nanti kita sambung mengobrol lagi," kata Hanan.


Selang 7 menit kemudian, Alvan selesai menikmati spaghetti masakannya Dayna.


Alvan kembali ke meja kerjanya, "Kamu ke sini, tidak dicari Paman Harsya?"


"Aku sudah izin," jawab Hanan.


Alvan manggut-manggut.


"Akhir bulan kira-kira kalian ingin liburan ke mana?" tanya Hanan.


"Ke kotanya Aira."


"Kenapa ke sana?" tanya Hanan lagi.


"Mama mengajak kami liburan ke sana. Bryan, Dayna, Kayla dan Elra juga ikutan."


"Apa tidak ada pilihan tempat yang lain?"


"Mama ingin bertemu dengan mama-nya Aira dan pantai di sana sangat indah dan bersih. Aku jamin kamu pasti betah," kata Alvan.


Hanan tampak diam.


"Aku di rumah sajalah," ucap Hanan.


"Yakin? Akhir bulan liburnya cukup panjang."


"Biarin saja."


"Nanti kamu bosan?"


"Tidak mungkin."


"Mau ngajak ngobrol siapa?"


Hanan terdiam.


"Ayolah, ikut kami. Dijamin seru," ucap Alvan menyakinkan.


"Nanti aku pikirkan lagi," ujar Hanan.


-


Malam harinya di kediaman Harsya......


Hanan menikmati makan malam bersama kedua orang tuanya, kakaknya dan iparnya.


"Akhir bulan ini kamu ikut dengan keluarganya Paman Alpha?" tanya Harsya pada putranya.


"Tidak, Yah."


"Kenapa?" tanya Harsya lagi.


"Malas saja, Yah."


"Padahal pantainya cantik, jika aku diizinkan pergi pasti Kakak akan ke sana," celetuk Hana.


"Ingat kandungan kamu," bisik Dennis.


Hana malah tersenyum ke arah suaminya.


"Aku ingin di rumah saja, Yah."


"Ya sudahlah, kalau kamu tidak mau ikut. Biar Ayah dan Ibu yang akan pergi ke luar negeri," ujar Harsya.

__ADS_1


"Kalau begitu, izinkan aku juga untuk jalan-jalan keliling kota," ucap Hana.


"Tidak, Nak. Kamu di rumah saja, ada Dennis yang akan menemanimu," ujar Harsya.


"Jelas di rumah, Yah. Dennis 'kan suami aku," Hana memanyunkan bibirnya.


"Ayah dan Ibu mau pergi, silahkan. Aku mau di rumah saja," kata Hanan.


"Baiklah, semoga kamu tidak bosan dan suntuk," ledek Harsya.


***


Akhir bulan pun tiba....


Hanan menemani Paman Biom dan Dennis mengantarkan rombongan Paman Alpha ke bandara.


Sebelum berangkat, Alvan kembali bertanya kepada Hanan. "Kamu yakin tidak ingin ikut dengan kami?"


"Tidak, Van."


"Nan, aku yakin kamu akan menyesal jika tidak ikut. Jarang banget, dapat libur panjang nasional seperti saat ini kecuali akhir tahun," ujar Dayna.


"Benar, Nan. Pantai sana sangat indah, bahkan katanya salah satu artis luar negeri akan datang berkunjung," sahut Bryan.


"Kalian mau menawarkan bagaimana pun tentang indahnya pulau tersebut. Aku tetap tidak akan ke sana," ucap Hanan.


"Apa karena Aira makanya kamu menolak tidak ingin ikut?" terka Dayna.


Hanan tertawa kecil.


"Ayolah, Nan. Jika mau, ikut penerbangan nanti malam," ucap Bryan.


"Kalian saja yang pergi dan nikmati waktu di sana sebaik mungkin," kata Hanan.


Karena waktu penerbangan segera tiba, akhirnya mereka menyudahi percakapan. Saling berpelukan dan melambaikan tangan.


"Paman, Bibi, kabari jika sampai di sana," ucap Dennis pada kedua orang tuanya Alvan.


"Iya, Nis. Kami akan mengabarimu setibanya di bandara," janji Alpha.


Tatapan Dennis kini ke arah adiknya, "Jangan membuat ulah di sana, dengarkan nasehat Paman Alpha dan Bibi Astrid. Jika ingin jalan-jalan tetap bersama dengan lainnya."


"Siap, Kakakku." Kayla mengacungkan jempol kedua tangannya.


Rombongan Alpha akhirnya meninggalkan Dennis, Hanan dan Biom.


"Ayo, Hanan. Kita pulang!" ajak Dennis.


"Iya, Kak." Hanan membalikkan badannya.


"Kamu yakin tidak menyusul mereka?" tanya Biom pada Hanan


"Tidak, Paman."


Sesampainya di rumah, Hanan melihat para pelayan memasukkan 2 koper berukuran besar ke dalam mobil.


"Ayah dan Ibu mau ke mana?" tanya Hanan ketika berpapasan dengan kedua orang tuanya di teras rumah.


"Kami mau ke kampungnya Oma Madya," jawab Harsya.


"Bukankah Ayah bilang akan berangkat dua hari lagi?" tanya Hanan.


"Ibumu berubah pikiran, apalagi katanya dia tak sabar ingin melihat gemericik air yang mengalir dari pegunungan," jawab Harsya.


"Selama kamu di rumah, jangan pergi ke mana-mana sampai larut malam. Ibu harap kamu rebahan di kamar, main tenis meja, berenang dan lainnya asal di sini," ujar Anaya.


"Iya, Bu. Akan di dalam kamar, jika lapar baru keluar," ucap Hanan manyun.


"Kalau begitu, kami berangkat. Jaga dirimu, kemungkinan tiga atau empat hari lagi kami pulang," kata Harsya.


"Iya, Yah. Hati-hati," Hanan mengecup tangan kedua orang tuanya bahkan memeluknya.


Hana dan Dennis juga melakukan hal yang sama.


"Kalian kapan mau ke rumah kedua kita?" tanya Harsya pada menantunya.


"Besok, Yah." Hana menjawabnya.


"Ya, sudah. Kami berangkat," pamit Harsya.


Anak dan menantunya Harsya mengangguk pelan.


Harsya dan istrinya memasuki mobil tak lupa melambaikan tangan, perlahan meninggalkan tempat.


"Kak Hana dan Kak Dennis mau liburan juga?" tanya Hanan.

__ADS_1


__ADS_2