
Hanan mendatangi kediaman Nadine bersama seorang sopir untuk meminta maaf. Semua dilakukan karena permintaan ayah dan kakaknya.
Hanan duduk menunggu sopir memberikan informasi apakah sang artis ada di rumahnya atau tidak.
Tak lama kemudian pria itu memasuki mobil dan mengatakan jika Nadine sedang berada di apartemen.
"Lalu ini rumahnya siapa?"
"Ini rumah Nona Nadine juga, Tuan. Di sini para kru, asisten dan keluarga yang datang akan menginap serta tinggal sementara."
"Di apartemen dia tinggal dengan siapa?"
"Kata penjaga keamanan dia tak tahu."
"Coba kamu hubungi Kak Inka, suruh dia menelpon asisten Nadine."
"Baik, Tuan." Pria itu lalu menelepon sekretaris pribadinya Hanan.
Selesai menelepon, sopir mengatakan agar menunggu sebentar.
Hanan meminta sopir melajukan kendaraannya menuju apartemennya Nadine.
Tak lama kemudian ponselnya Hanan berdering, "Halo, Kak!"
"Tuan, sekarang Nona Nadine sedang berada di apartemen."
"Iya, aku tahu. Tapi, dia sama siapa di apartemen?"
"Dia tinggal bersama manajer dan asistennya."
"Oh, baiklah. Aku akan ke sana. Terima kasih, Kak." Hanan kemudian menutup teleponnya.
Mobil pun gegas melaju ke apartemen sesuai perintah Hanan.
Begitu sampai, Hanan mendatangi unit apartemen seorang diri. Menekan tombol berulang kali, seorang wanita dengan memakai handuk kimono membukanya.
Nadine membulatkan matanya ketika mengetahui siapa tamunya. "Tu...tuan.."
Hanan memasang wajah ketus lantas bertanya, "Apa anda memiliki waktu, saya ingin berbicara?"
"Eh, ada Tuan. Tapi, saya....."
"Kelamaan!" Hanan menerobos masuk lalu duduk di kursi tamu sembari memperhatikan sekeliling ruang.
"Tuan, apa bisa menunggu saya mengganti..."
"Cepat duduk, saya tidak bisa berlama-lama di sini!" titahnya.
Nadine yang awalnya tampak sombong, begitu gugup ketika Hanan mendatangi apartemennya.
Nadine duduk dan menundukkan pandangannya, dirinya baru selesai mandi dan rambut masih dibalut handuk.
Hanan melempar bantal sofa ke arah Nadine, "Tutupi paha anda itu!"
Nadine dengan cepat meraih bantal dan menutupi pahanya.
"Saya tidak ingin berbasa-basi lagi. Kedatangan saya ke sini untuk mengajak anda kembali ke perusahaan membicarakan kontrak pekerjaan."
"Maaf, kalau sikap saya tadi pagi membuat anda menghubungi Nona Hana lalu melaporkannya kepada ayah saya. Sehingga terpaksa saya harus kemari menemui dan memohon anda untuk bergabung di perusahaan."
"Saya tidak mau anda menolaknya, karena saya tak suka kakak dan ayah marah."
"Sebenarnya saya tidak suka dengan anda bergabung di perusahaan tapi kakak saya ternyata adalah fans berat anda."
"Jadi, terimalah kontrak bekerja di perusahaan kami."
"Tuan, bolehkah saya bicara?" tanya Nadine. Sedari tadi dia tak dipersilahkan bersuara.
__ADS_1
"Sebaiknya anda tak perlu berbicara, datang saja besok pagi menandatangani kontrak."
"Tapi..."
"Saya rasa penjelasannya cukup jelas," kata Hanan.
"Tuan..."
Hanan lantas berdiri, "Saya harap anda tidak menolak tawaran ini. Jarang sekali ada seorang bos besar datang mengemis kepada artis kelas bawah seperti anda ini!" memperhatikan seluruh tubuh gadis di hadapannya dari atas hingga bawah.
"Tuan jangan...."
"Jangan membantah atau protes, kalau tidak mau karir anda hancur seketika. Saya bisa memutarbalikkan fakta, namun Kak Hana terlanjur menyukai anda. Saya tak habis pikir kenapa dia bisa mengagumi anda!"
Nadine mengepalkan tangannya, rasanya ingin meremas mulut Hanan namun karena dirinya menginginkan kontrak ini juga terpaksa level kesabarannya terus dipompa agar tidak bocor.
Hanan memperbaiki pakaian yang dikenakannya kemudian melangkah keluar.
Nadine kesal hanya mampu mengangkat kedua tangannya yang dikepal. "Aku sangat membencimu Tuan Sombong!"
***
Nadine telah datang 30 menit sebelum Hanan tiba di perusahaan. Menunggu seorang diri dengan perasaan cemas, apalagi sang CEO meminta manajer dan asistennya menunggu di luar.
Permintaan yang sangat aneh, selama 5 tahun bergelut di dunia hiburan baru kali ini 2 orang kepercayaannya tak menyaksikan tanda tangan kontrak kerja.
Hanan masuk ke ruang kerja seorang diri juga kemudian melemparkan berkas perjanjian di atas meja dengan kasar.
Nadine tak terima lantas berdiri, "Tuan...!"
"Anda ingin protes?" Hanan tersenyum sinis.
Nadine menarik napas.
"Cepat tanda tangan!" titahnya.
"Itu sesuai perjanjian awal kakak saya dengan anda!"
"Saya menolak kontrak kerja sama kita!" kata Nadine tegas.
"Kenapa tidak kemarin mengatakannya?" Hanan menatap sembari melipat kedua tangannya.
Nadine tak dapat menjawab.
"Anda kesal 'kan saya tidak sopan," ucap Hanan.
"Saya minta maaf, Tuan." Mata Nadine berkaca-kaca.
"Cihh, dia mulai menunjukkan pekerjaannya," gumam Hanan.
"Kemarin saya memang bersalah, tapi jangan memperlakukan saya seperti ini," kata Nadine menunduk, air matanya jatuh.
"Hei, saya tidak suka anda berakting di sini!" sentak Hanan.
Hati Nadine semakin perih.
"Mau atau tidak menerima kontrak ini?"
Nadine belum menjawab.
"Jika tidak anda harus bicara kepada media dan membayar denda!"
"Denda?"
"Iya, anda sudah membuang waktu kami. Seharusnya perusahaan bisa mencari model secepatnya tak harus merayu gadis angkuh seperti anda!"
"Saya minta maaf, Tuan."
__ADS_1
"Sudahlah, tidak perlu minta maaf. Hapus air mata anda dan tanda tangan kontrak itu!"
Nadine membuka lembaran kontrak kerja tanpa membacanya lalu ditandatanganinya karena sebelumnya ketika Hana menjabat, dia sudah membacanya.
Hanan yang melihat sang artis, tersenyum penuh kemenangan.
Nadine menyerahkan berkas tersebut dengan tangan gemetar.
Hanan lalu mengulurkan tangannya, "Selamat bergabung di perusahaan ini. Anda segera melakukan syuting!"
Keduanya pun berjabat tangan.
Siang harinya, Hanan mendatangi restoran milik Ryder tampak sepasang suami istri dan Bryan.
"Kami pikir kamu tidak akan pernah mau kumpul sejak dia menikah," celetuk Alvan.
"Aku sangat sibuk," kata Hanan ketus.
"Wow, sekarang Hanan Abraham sangat sibuk sekali sehingga tidak memiliki waktu untuk mengobrol," ujar Bryan.
"Aku menggantikan posisi Kak Hana," ucap Hanan.
"Wah, enak dong sering bertemu artis," timpal Dayna.
"Apa yang enak, malah menyebalkan bertemu artis sombong sepertinya!" kata Hanan.
"Masa sih', memang siapa artis yang sombong?" tanya Ryder.
"Aku tidak tahu siapa namanya, tadi dia baru menandatangani kontrak," jawab Hanan.
"Kamu tidak kenal namanya?" tanya Bryan.
"Nadine Riska Putri," sahut Dayna menjawab.
"Apa benar dia?" tanya Ryder.
"Iya," jawab Dayna. "Kak Hana pernah bilang kalau dia akhirnya mendapatkan waktu berbicara kerja sama dengan Nadine," lanjutnya.
"Alana dan Kayla salah satu penggemarnya," Alvan menimpali.
"Pasti mereka sangat senang jika dapat bertemu langsung dengan artis idolanya," ujar Dayna.
"Selama dia terikat kontrak dengan perusahaan milikku. Kalian tidak boleh bertemu dengannya," kata Hanan tegas.
"Memangnya kenapa kalau hanya sekedar datang ke tempat syuting?" tanya Dayna.
"Aku tidak mau mereka membuat kehebohan sehingga syuting jadi terganggu," jawab Hanan.
"Kalau begitu, kita tidak boleh memberitahu mereka," ujar Ryder.
Hanan mengiyakan.
Di rumah Hanan memberitahu keluarganya jika dirinya telah menjalankan perintah yang sesuai mereka inginkan.
Hana senang mendengarnya begitu juga dengan Harsya.
"Ibu yakin pasti produk kita akan laku keras jika dia yang membintangi," kata Anaya.
"Kita lihat saja nanti, Bu. Aku 'sih tidak yakin," ucap Hanan sinis.
"Kamu berharap produk kita gagal di pasaran?" tanya Hana kesal.
"Tidak, Kak. Alangkah lebih baik jika model lain yang membintanginya," jawab Hanan.
"Hanan, cukup. Jangan teruskan perdebatan di meja makan, kasihan Kakak kamu. Dia sedang hamil," ucap Harsya.
Hanan mendengus.
__ADS_1
Hana menarik ujung bibirnya melihat adiknya yang kesal.