
Dennis telah kembali ke tanah air setelah 4 hari berada di sana, terpaksa pulang karena ada urusan pekerjaan mendadak.
Begitu tiba Dennis sibuk dengan pekerjaannya yang membuatnya jarang menghubungi Hana meskipun sebelumnya dia sempat berjanji pada wanita itu.
Pukul 10 malam, ponselnya Dennis berdering tertera nama Hana. Ia pun segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Han."
"Dari kemarin kamu ke mana saja?" omel Hana dari kejauhan.
"Astaga, Han. Maaf, aku lupa. Pekerjaan kantor sangat banyak," jelas Dennis.
"Makanya kemarin itu jangan menyusul aku ke sini, jadi pekerjaan kamu menumpuk, 'kan?"
"Kalau aku tidak ke sana, kamu takkan menerima hatiku," jawab Dennis.
Hana tertawa mendengar jawabannya.
"Sudah malam, tidurlah. Jangan terlalu lelah, aku rindu kamu."
"Aku juga."
Keduanya resmi menjalin hubungan setelah Dennis tak hentinya menyakinkan Hana jika semua perkataannya serius.
Dennis mengungkapkan selama ini dia selalu kepikiran dengan Hana. Entah, kenapa ketika gadis itu terus menjauh membuat hatinya semakin sakit.
Padahal dia jelas-jelas dari awal mengatakan tidak menyukai Hana dan takkan mudah mencari pengganti mantan kekasihnya. Namun, kenyataannya berbeda ketika Hana menangis dan berlutut memohon agar ia memaafkannya.
Hana bahkan siap dikirim ke luar negeri untuk menebus kesalahannya bahkan menukar cintanya kepada Arya.
Sejak itu, ada secuil dihatinya Dennis rasa iba dan menyesal.
Semakin hari rasa rindu dan cintanya kepada Hana membesar apalagi ketika gadis itu bersikap cuek padanya.
Tanpa berpikir lama, setelah komunikasi diantara mereka membaik. Dennis pun memberanikan diri terbang menyusul Hana.
Sebelumnya dia juga sudah mencurahkan isi hatinya kepada Alpha yang menjadi sosok pengganti kedua orang tuanya.
Dan Alpha juga mengatakan kalau Harsya berharap jika Dennis yang akan menjadi menantunya.
Karena alasan itu juga makanya Dennis tanpa ragu mengejar cintanya Hana.
Pukul 12 malam, Dennis pun tertidur. Tak lupa membaca dan membalas pesan kekasihnya.
***
Esok paginya, Dennis pergi ke kantornya bersama dengan Dayna karena gadis itu memintanya menjemputnya.
"Pasti kamu kesiangan lagi?" tanya Dennis.
"Papa yang terlalu cepat perginya," jawabnya.
"Kakak akan memberitahu papamu."
"Jangan, Kak!"
"Kenapa?"
"Iya, aku yang kesiangan bangun."
"Nanti malam Alvan mengajak kita ke rumah Paman Biom, kamu mau ikut?"
"Aku pergi dengan mama dan papa saja."
"Kenapa tidak dengan kami?"
"Malas."
"Jawaban yang cukup singkat dan padat!"
"Benar sekali!" Dayna mengacungkan 2 jempol tangan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, di dalam tampak hening.
"Kak Hana kira-kira kapan pulang kemari?"
"Tidak tahu."
__ADS_1
"Kak Dennis itu kekasihnya, bagaimana bisa tidak tahu?" protesnya.
"Dari mana kamu tahu tentang itu?"
Dayna tersenyum lalu menjawab, "Dari papa."
Dennis menghela napas.
"Papa memang bocor, ya. Tapi, aku senang karena dia memberitahu semuanya tentang Kak Dennis dan Kak Hana."
"Ya ampun, Paman Darrell kenapa tidak bisa jaga rahasia?" gerutunya.
"Karena papa tidak dapat menolak jika putrinya ini memelas," jawab Dayna bangga.
"Kamu itu pandai sekali berakting, entah kenapa Alvan bisa menyukaimu?" cetus Dennis.
"Apa yang Kakak bilang?"
"Tidak ada," jawab Dennis dengan cepat.
"Coba Kakak ulang tadi," pinta Dayna.
"Lupakan saja!" Dennis tersenyum mengejek.
"Kakak..."
Dennis malah semakin tertawa.
-
Sepulang kerja ditemani Astrid dan Alana, Dennis pergi ke sebuah mall untuk membeli kado buat Tante Rissa.
Sesampainya di sana, mereka melangkah ke toko tas. Astrid menyuruh Dennis untuk memilih. Namun, dia menolaknya dengan alasan tidak paham.
Akhirnya Dennis menunggu di sebuah kafe tak jauh dari toko tas dan pakaian. Seorang diri di temani segelas es kopi, ia memainkan ponselnya sembari membalas pesan dari Hana.
Seorang wanita paruh baya menghampiri Dennis dan berkata, "Saya senang dapat bertemu dengan kamu lagi di sini."
Dennis mengangkat sedikit wajahnya dan melihat sosok wanita dihadapannya.
Wanita itu melemparkan senyumnya.
Wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Apa saya boleh mengobrol denganmu?" tanyanya.
"Boleh, Tante. Silahkan duduk!"
Wanita itu pun duduk begitu juga dengan Dennis.
"Kartu namamu hilang, hanya saya penasaran denganmu," ujarnya.
"Apa yang ingin Tante tanyakan?"
"Perkenalkan nama saya Jenny."
"Baiklah, Tante Jenny."
"Kalau boleh saya tahu nama belakangmu diambil dari siapa?"
"Kata nenek dari ibu."
"Siapa nama ibumu?"
"Jenny Lim. Mirip nama depannya dengan Tante."
Tenggorokan Jenny tercekat ketika mendengar nama yang disebutkan pemuda itu.
"Lalu siapa nama ayahmu?"
"Kenapa Tante ingin tahu semua tentang keluarga saya?" Dennis tampak curiga.
"Aku dulu punya bayi laki-laki dan namanya sama denganmu," jelas Jenny.
Dennis tersenyum sinis, "Mungkin hanya kebetulan, nenek pernah bilang kalau ibu kandung saya telah meninggal."
Hati Jenny semakin sakit.
__ADS_1
Dennis menatap wajah wanita yang ada dihadapannya, matanya mirip sekali dengannya.
"Apakah nama ayahmu Mario Kyo?" tanya Jenny terbata.
Dennis lantas terdiam.
"Apa benar?" tanya Jenny lagi.
"Kak Dennis!" panggil Alana.
Dennis dan Jenny segera menoleh.
"Ayo pulang, mama sudah selesai berbelanja," kata Alana seraya memperhatikan wanita paruh baya yang ada dihadapannya.
Dennis mengiyakan.
"Dennis, kamu belum menjawabnya," ucap Jenny.
"Maaf, Tante. Saya harus pergi, permisi!" Dennis sedikit menundukkan kepalanya kemudian berlalu.
Jenny menatap nanar punggung pemuda yang semakin jauh.
Alana tak mau bertanya tentang wanita paruh baya itu, karena melihat ekspresi wajah Dennis sepertinya sedang tak ingin diganggu.
Sepanjang perjalanan menuju pulang, Dennis hanya mengangguk dan mengatakan iya.
Astrid menoleh ke arah putrinya seakan bertanya apa yang terjadi dengan keponakan suaminya itu.
Alana hanya mengendikkan bahunya.
Begitu sampai, sebelum keluar dari mobil Astrid lantas bertanya kepada Dennis. "Kamu lagi sakit?"
"Tidak, Bi."
"Kenapa dari tadi diam saja?" tanya Astrid penasaran.
"Tidak apa-apa, Bi."
"Jika kamu sakit, istirahatlah. Atau ingin makan sesuatu agar kembali semangat? Biar Bibi buatkan."
"Aku sehat-sehat saja, Bi. Jangan khawatir," Dennis terpaksa tersenyum.
Astrid manggut-manggut.
"Terima kasih, Bi. Sudah membantu memilihkan kado buat Tante Rissa."
"Sama-sama, Nis."
Ibu dan anak itu pun turun dari mobil, Dennis kemudian berlalu.
"Ma.."
"Iya, Na."
"Tadi Kak Dennis lagi mengobrol dengan ibu-ibu."
"Ibu-ibu? Mungkin sedang bertanya sesuatu," ujar Astrid.
"Sepertinya tidak, Ma. Karena tiba-tiba wajah Kak Dennis berubah begitu."
"Ibu-ibu itu bagaimana wajahnya?" tanya Astrid.
"Kulitnya mirip Kak Dennis begitu juga dengan matanya," jawab Alana.
Astrid tampak berpikir.
"Apa dia ibunya Kak Dennis?" tanya Alana.
"Mama juga tidak tahu."
"Memangnya Mama tidak pernah tahu orang tuanya Kak Dennis?"
"Mama hanya tahu neneknya saja."
"Oh."
"Ayo masuk, kita harus siap-siap pergi ke rumah Tante Rissa," ujar Astrid.
__ADS_1
Alana pun mengiyakan.