
Hana sebentar lagi akan melahirkan, maka dari itu dirinya dan suami sementara tinggal di kediaman orang tuanya.
Hana duduk di depan televisi menikmati siaran berita sembari mengunyah buah potong yang disediakan sang ibu.
Hanan sedari tadi mondar-mandir di hadapannya sehingga membuat konsentrasi menontonnya terganggu.
"Bisa duduk, Nan?"
Hanan sejenak berhenti lalu menoleh dan kembali berjalan mondar-mandir.
"Hanan, kamu mau Kakak melahirkan sekarang juga, hah!" sentak Hana yang kesal.
Hanan lantas berhenti kemudian duduk di samping kakaknya.
"Kamu ini kenapa? Seperti orang bingung, ada masalah?" tanya Hana.
"Kak, bantu aku," jawab Hanan.
"Bantu apa?" tanya Hana lagi.
"Hmmm.....eh....."
"Hanan cepat!"
"Tidak jadi, Kak!" Hanan lantas berdiri kemudian pergi.
Hana mengerutkan keningnya, "Aneh!" gumamnya.
"Siapa yang aneh, sayang?" tanya Dennis duduk di sebelah istrinya tak lupa mengecup pucuk kepalanya.
"Si Hanan, Nis. Dari tadi mondar-mandir di depan tv. Di tanya masalahnya malah kabur," jawab Hana.
"Nanti aku akan tanyakan, siapa tahu dia mau cerita," ujar Dennis.
Hana mengangguk mengiyakan.
Malam harinya, selepas makan malam. Istri dan kedua mertuanya sudah tidur. Dennis menghampiri Hanan yang sedang berada di balkon.
"Kenapa belum tidur?"
"Belum ngantuk, Kak. Mau ajak Alvan keluar malam dia masih pengantin baru," jawabnya sambil tertawa kecil.
Dennis tersenyum dan bertanya lagi, "Bryan dan Ryder kamu tidak mengajak mereka?"
"Bryan sedang berada di luar kota, Ryder sibuk di restoran," jawab Hanan.
Dennis manggut-manggut.
"Kak Dennis kenapa tidak tidur?"
"Belum mengantuk juga."
"Oh."
"Sepertinya akhir-akhir ini kamu gelisah, apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?" tanya Dennis.
"Tidak ada, Kak."
"Jangan membohongi Kakak, Nan."
Hanan bergeming.
"Jika ada yang ingin kamu ceritakan, kakak siap mendengarkannya," ujar Dennis.
Hanan menghela napas.
"Hmm, baiklah," ucap Hanan.
Dennis diam dan menunggu pemuda di hadapannya itu berbicara.
"Sebenarnya aku menyukai seorang gadis, Kak. Tapi, sebentar lagi dia akan menikah," kata Hanan.
"Apa dia tahu kamu menyukainya?"
Hanan menggelengkan kepalanya.
"Apa dia mencintai calon suaminya?"
"Aku juga tidak tahu, Kak. Tapi ketika di pesta pernikahannya Alvan, pria itu sepertinya sangat menyayanginya," ujar Hanan.
"Jadi menurutmu gadis itu tidak menyayanginya, melainkan calon suaminya begitu mencintainya," tukas Dennis.
"Aku tidak tahu perasaan dia kepada calon suaminya itu, tapi dia pernah mengatakan tidak punya pilihan lain," tutur Hanan.
"Artinya dia terpaksa menerima pria itu?"
Hanan mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Siapa gadis itu?"
Hanan tak menjawab.
"Nan.."
"Apa aku salah menyukai calon istri orang lain, Kak?" tanya Hanan.
"Jika mereka saling mencintai, kamu salah dan lebih baik mundur," jawab Dennis.
"Bagaimana kalau dia tak menyukai pria itu?"
"Tanyakan pada gadis itu apa dia mau melanjutkan perjodohannya atau tidak."
"Aku tidak berani mengatakannya, Kak."
Dennis menarik napasnya lalu dihembuskannya.
"Dia tak berada di kota ini, apa aku harus ke sana?"
"Mengejar cintanya?"
Hanan mengangguk.
"Sebelum kamu berangkat, persiapkan hatimu untuk menerima kenyataannya," ujar Dennis.
Hanan pun menjadi bimbang.
"Coba kamu hubungi saja dia, sekedar berbasa-basi. Siapa tahu kamu akan menerima jawabannya," saran Dennis.
Hanan sejenak diam dan berpikir, lalu berkata, "Baiklah, Kak!"
Dennis tersenyum dan mengangguk.
Di dalam kamar tidurnya, Hanan akhirnya memberanikan diri untuk menghubungi Aira.
"Halo, Nan!" sapa gadis itu dari kejauhan.
"Halo, Ai. Apa kabar?"
"Aku baik, Nan. Kamu?"
"Aku juga baik."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Kamu dapat nomor aku dari siapa?"
"Oh."
"Iya."
"Bukankah kamu bilang waktu itu jika nomor aku tidak terlalu penting?" singgung Aira.
"Aku minta maaf waktu itu."
"Hmm, baiklah. Sekarang mau kamu apa? Sehingga menelepon aku malam-malam."
"Ai.."
"Hm..iya."
"Apa kamu mencintai dia?"
"Dia? Dia siapa?"
"Calon suami kamu?"
"Oh, Aldo."
"Iya.. apa kamu mencintainya?"
"Kamu menelepon malam-malam hanya untuk bertanya itu?" tanya Aira.
"Iya."
"Apa sangat penting jawaban dariku?"
"Iya."
"Baiklah, ku akan mengatakan bagaimana perasaan aku padanya," kata Aira.
Hanan tampak tak sabar mendengarnya.
Aira dengan napas berat akhirnya berkata, "Awalnya aku tidak menyukainya, tapi seiring waktu dia begitu menyayangiku."
"Lalu sekarang kamu menyukainya?" potong Hanan dengan cepat.
"Aku menyukai sifat dan sikapnya, dia sosok pria yang dewasa dan pekerja keras serta bertanggung jawab," jelas Aira.
__ADS_1
"Apa kamu mencintainya?" tanya Hanan lagi.
"Mungkin kalau kami sering bersama rasa itu akan tumbuh," jawab Aira.
"Jadi, saat ini kamu belum memiliki perasaan padanya?"
"Ya, karena kami baru beberapa kali bertemu."
"Oh."
"Kenapa kamu begitu penasaran dengan hatiku, Nan?" tanya Aira.
"Hmm, tidak apa-apa. Aku takut kamu mengalami kejadian serupa seperti Dayna kemarin," jawab Hanan beralasan. Padahal dirinya sangat ingin tahu bagaimana perasaan gadis itu kepada calon suaminya.
"Aku yakin Aldo pria yang tepat pilihan orang tuaku dan aku percaya pada mereka," kata Aira.
"Semoga saja dia memang pria yang tepat untukmu. Selamat buatmu, aku janji akan datang ke acara pernikahanmu," ucap Hanan.
"Iya, Nan. Terima kasih 'ya sudah perhatian denganku," ujar Aira.
"Kamu 'kan temanku juga," kata Hanan.
Aira tersenyum getir di balik ponselnya.
Obrolan keduanya pun berakhir.
Air mata Hanan dan Aira akhirnya tumpah setelah selesai berbicara di telepon.
"Aku mencintaimu, Nan. Tapi, kenapa kamu tidak mengakuinya? Tak mungkin aku harus membatalkan pernikahan yang tinggal dua minggu lagi," kata Aira sendu.
Hanan menjambak rambutnya, "Kenapa dari dulu aku tidak mengatakannya?" sesalnya.
"Jika aku mengakuinya itu sama saja aku menghancurkan kebahagiaan pria lain!" gumamnya.
***
Hanan memutuskan berlapang dada menerima kenyataan bahwa Aira lebih memilih calon suaminya.
Lagian dirinya juga tak berani mengatakan secara tegas mencintai Aira.
Pernikahan gadis itu tinggal beberapa minggu lagi, jika menuruti ego bisa saja merebut Aira namun dirinya memikirkan nama baik keluarga besarnya. Hanya karena cinta, dirinya malah bersikap bodoh.
Hanan mengingat kata Alvan, jika memang dia jodohmu pasti akan datang padamu.
Pagi ini, Hanan menikmati sarapan bersama keluarganya. Menyeruput teh tanpa gula dan memasukkan roti isi selai nanas ke dalam mulutnya dengan pandangan kosong.
"Hanan, apa kamu sedang sakit?" tanya Anaya.
"Tidak, Bu."
"Sepertinya akhir-akhir ini kamu banyak melamun," ucap Anaya.
"Itu hanya perasaan Ibu saja," kata Hanan.
"Dia lagi patah hati, Bu!" celetuk Hana.
"Sayang!" tegur Dennis.
Pandangan Harsya yang tadinya cuek kini ke arah putranya.
Hanan yang kesal dengan mulut bocor kakaknya lantas menatapnya.
Hana hanya tersenyum nyengir.
"Siapa gadis yang sudah berani mematahkan hatimu?" tanya Harsya.
"Siapa yang patah hati, Yah." Hanan berusaha menutupinya.
"Kata Kakak kamu tadi itu apa benar?" tanya Harsya lagi.
"Ya ampun, Yah. Mulut Kak Hana itu tak bisa di percaya, jangan dengarkan dia," Hanan terus mengelak.
"Hei, kamu pikir aku itu tukang bohong!" Hana tersenyum menggoda.
"Benar itu, Nan. Kamu sedang patah hati?" tanya Anaya.
"Ibu, aku tidak patah hati hanya saja pagi ini sangat malas melakukan apapun," jawab Hanan berkelit.
"Jika kamu tidak semangat, beristirahatlah di rumah," ujar Anaya.
"Istriku, jangan biasakan dia untuk malas ke kantor karena alasan yang tak masuk akal begitu," sahut Harsya.
"Tidak masuk akal bagaimana? Dia 'kan sedang malas," ujar Anaya.
"Jika dia terus bicara malas lalu kamu tidak perlu ke kantor, bagaimana dapat mengurus perusahaan kita yang besar?" singgung Harsya.
Anaya pun diam.
__ADS_1
"Ayah, Ibu, aku tidak apa-apa. Dan ku akan ke kantor," Hanan berkata sembari tersenyum meskipun hatinya lagi rapuh.