Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 66 - S2 - Alvan Sadar


__ADS_3

Mendengar kabar Alvan telah sadar. Beberapa keluarga, saudara, kerabat, rekan kerja dan rekan bisnis berbondong-bondong ke rumah sakit untuk menjenguk.


Meskipun belum dapat bertemu dengan Alvan secara langsung tapi mereka begitu senang. Alpha, Astrid dan Rissa menjadi jawaban dari beberapa pertanyaan penjenguk.


Deretan buket bunga dan buah berjejer mengelilingi ruang kamar rawat VVIP. Begitu banyak yang menyayangi Alvan sehingga mereka sangat antusias untuk datang menjenguk.


Dokter membatasi jumlah penjenguk yang ingin mengajak Alvan berbicara karena kondisinya belum terlalu pulih. Wajahnya masih pucat dan tubuhnya sangat lemas.


Kini giliran Dayna yang mengunjunginya di kamar setelah orang tuanya Alvan, Alana, Harsya dan istrinya serta Dennis dan Hanan.


Dayna melempar senyuman kepada calon suaminya itu.


Alvan membalasnya dengan senyuman tipis.


Dayna berdiri di ujung ranjang lalu bertanya, "Apa kamu mengenalku?"


Alvan menggerakkan dagunya pelan.


"Aku senang jika kamu masih mengenaliku," ujar Dayna.


Air mata Alvan perlahan menetes.


Dayna mendekat, menghapus air mata dengan jemarinya. "Kenapa kamu menangis?"


Alvan menatap wajah Dayna ingin berbicara tapi lidahnya tak mampu bergerak.


Dayna duduk di sebelah Alvan dan memeluknya. "Kamu harus sembuh dan sehat, Van. Semua menyayangimu."


Alvan tampak terisak dan tak bisa membalas pelukan calon istrinya itu.


Dayna melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Alvan. "Kamu ingin menikahiku, 'kan?"


Alvan mengangguk.


"Aku akan menunggumu," ucap Dayna kembali memeluk dan menangis.


"Aku mencintaimu, Van. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku. Tetaplah kuat, aku benar-benar takut kehilanganmu," lanjut Dayna.


Perlahan tangan kiri Alvan bergerak meskipun sangat lambat, menepuk pelan punggung Dayna yang tengah memeluknya.


Dayna merasakan tubuhnya di sentuh, melepaskan pelukannya dan memegang tangan Alvan. "Kamu mulai merespon?" Dayna begitu senang.


Alvan mengangguk mengiyakan.


Dayna kembali memeluk Alvan, "Ya Tuhan, aku sangat senang sekali!"


Melepaskan pelukannya, Dayna kembali berkata, "Aku akan memberitahu Dokter."


"Tunggu sebentar!" Dayna lanjut berucap.


Dayna menekan tombol di dinding memanggil tim medis.


Dayna yang tak sabar ingin memanggil secara langsung, namun jarinya di pegang Alvan.


Dayna segera menoleh tangannya lalu mengarahkan pandangannya kepada Alvan. Dayna akhirnya mengurungkan niatnya memanggil tim medis.


"Aku akan tetap di sini, sampai Dokter datang," kata Dayna.


Alvan tersenyum singkat.


Dayna meraih tisu dan mengelap air yang masih menetes di ujung matanya Alvan.


"Sebentar lagi kamu akan keluar dari sini dan kita segera menikah. Semuanya harus di jadwal ulang termasuk undangan dan gedung pernikahan," ujar Dayna.

__ADS_1


Dua orang dokter pria dan 3 orang perawat wanita memasuki ruangan Alvan. Membuat Bryan, Ryder dan Alpha yang menunggu di luar kamar lantas berdiri ingin mendekat namun salah satu perawat menutup pintu dengan cepat.


Dayna ingin keluar dari kamar namun tangan Alvan bergerak seakan menyuruhnya untuk tetap di sampingnya.


"Nona, tetaplah di sini!" kata salah satu dokter.


"Baiklah, Dok!" ucap Dayna.


Alvan pun menjadi tenang karena ada Dayna yang menemaninya ketika diperiksa oleh tim dokter.


Selesai memeriksa, salah satu Dokter lalu berkata, "Tuan Alvan mulai menunjukkan perubahan yang sangat signifikan. Kami berharap, keluarganya terus mendorongnya agar tetap semangat dan sembuh."


Dayna mengangguk mengiyakan.


Tim dokter lalu keluar dari kamarnya Alvan.


Alpha segera mencegatnya, "Apa yang terjadi dengan putra saya, Dok?"


"Tuan Alvan mulai menggerakkan tangan dan kakinya dengan baik," jawab salah satu dokter.


Alpha bernapas lega.


"Permisi, Tuan!" ucap Dokter tersebut diikuti tim lainnya.


"Terima kasih, Dok." Kata Alpha.


Mengerakkan dagunya pelan, mereka pun berlalu.


Alpha masuk ke kamar, melihat Dayna menggenggam jemari putranya.


"Paman..."


"Tetaplah di samping Alvan," ucap Alpha.


Alpha mendekati putranya tepat di hadapan Dayna. Mengecup kening anak pertamanya itu dengan mata berkaca-kaca. "Papa akan mengabari Mama kamu!"


Alvan memegang tangan Alpha dan mengecupnya.


"Kami semua menyayangimu, Nak!" Alpha menghapus air matanya dengan tangan kanannya karena tangan kirinya digenggam putranya.


Alpha melepaskan dengan pelan tangan Alvan. "Papa mau menelepon Mama."


Alvan mengangguk.


Alpha keluar dari ruangan, gegas menghubungi istrinya.


Astrid yang mendapatkan kabar tentang putranya kembali datang bersama Alana dan diantar sopir. Meskipun hari sudah menjelang pukul 8 malam.


Astrid dan Alana tiba di rumah sakit melangkah cepat menuju kamar putranya. Begitu sampai Astrid memeluknya, mengecup kening dan pipi Alvan sangking bahagianya.


"Mama senang kamu menunjukkan kemajuan," kata Astrid tersenyum.


Tampak bahu Alvan bergetar.


Astrid menangkup wajah putranya, "Jangan nangis!"


Alvan mengangguk.


"Kak Dayna mana, Pa?" tanya Alana.


"Baru saja pulang di antar Bryan," jawab Alpha.


Alana manggut-manggut.

__ADS_1


"Bukankah Dayna dari tadi pagi di sini? Kenapa baru pulang?" tanya Astrid.


"Dia sebenarnya ingin menemani Alvan, tapi Papa tak mau dia jatuh sakit apalagi Darrell bilang kalau Dayna makannya sering telat," jawab Alpha. "Jadi, Papa suruh saja pulang," lanjutnya.


"Oh," ucap Astrid singkat.


"Kak Alvan, ayo cepat sehat. Aku ingin Kakak dan Kak Dayna menikah lalu kalian memberikan aku keponakan yang lucu," ujar Alana.


Alpha dan Astrid tersenyum mendengarnya.


Alvan hanya tersenyum pelan.


"Memangnya kamu mau menjaga anaknya?" tanya Alpha.


"Tentunya mau, Pa."


"Kamu 'kan harus sekolah tidak mungkin menjaganya," ucap Astrid.


"Kalau aku libur dan pulang ke rumah, pasti ku 'kan menjaganya dan mengajaknya bermain," janji Alana.


"Iya, Mama percaya jika kamu akan sangat menyayanginya," kata Astrid.


Kini giliran Alana memeluk kakaknya dan berbisik, "Kakak, aku menyukai Kak Bryan. Cepatlah sehat dan marahi aku!"


Alana melepaskan pelukannya dan melihat Alvan mendelikkan matanya.


Alana tersenyum nyengir.


Alvan pernah mendengar jika Alana menyukai Bryan begitu sebaliknya. Tapi, dirinya melarang adiknya itu menjalin kasih karena masih kecil dan masih harus melanjutkan sekolahnya.


"Apa yang kamu bisikan di telinga Kakakmu?" tanya Astrid.


"Tidak ada, Ma," jawab Alana.


"Jangan buat Kakakmu semakin drop!" Astrid mengingatkan putrinya.


"Aku sangat menyayangi Kak Alvan, mana mungkin aku tega melakukannya," kata Alana melirik kakaknya.


Setelah mengantarkan Dayna pulang, Bryan kembali ke rumah sakit menghampiri Ryder yang masih menunggu di kursi tamu di depan pintu kamar rawat.


"Kenapa balik lagi ke sini?" tanya Ryder.


"Aku ingin menemanimu," jawab Bryan.


Ryder menarik ujung bibirnya dan berceletuk, "Bilang saja karena Alana di sini."


Bryan menggaruk tengkuknya.


"Alana tidak akan pulang, lebih baik kita tidur di rumah. Lagian sebentar lagi, Kak Dennis dan Elra kemari. Ada beberapa pengawal yang ikutan menjaga," ucap Ryder.


"Dari mana kamu tahu?"


"Aku hanya menebaknya saja."


"Tunggu sebentar, jika Alana tidak keluar kamar kita pulang," kata Bryan.


"Kalau dia keluar kamar?" tanya Ryder.


"Ya, kita tetap pulang juga tapi mengantarnya terlebih dahulu," jawab Bryan.


"Bagaimana kalau dia tidak mau pulang?"


"Ya, tidak apa-apa juga."

__ADS_1


__ADS_2