Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 20 - Dennis Marah Besar


__ADS_3

Dua minggu berlalu....


Winny yang sedang menyiapkan pakaian kerja suaminya di ranjang mendengar suara dering telepon, bergegas meraih dan melihatnya tertera nama teman kantornya Arya.


Winny menjawab panggilan tersebut dan mengatakan jika suaminya lagi mandi.


Panggilan pun berakhir.


Entah kenapa Winny penasaran dengan isi ponsel suaminya yang tak memiliki password, ia pun memeriksanya tampak tertera beberapa panggilan ke kontak nama bernama Hana dalam satu bulan terakhir ini.


Winny mulai curiga, apalagi durasi setiap panggilan tak lebih dari 1 menit. Masih penasaran, lantas ia melihat bagian pesan.


Matanya membulat ketika membacanya, napasnya naik turun dan rahangnya mengeras.


Begitu kamar mandi terbuka, Winny lantas mengarahkan tatapan tajam dan menyelidik kepada suaminya.


Arya melemparkan senyuman seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Katakan sejujurnya, apa kamu dan dia bekerja sama untuk memisahkan aku dengan Dennis?" Winny tampak marah.


Arya terdiam.


"Katakan!" Winny berkata lantang.


"Winny, aku bisa jelaskan!"


"Cepat jelaskan!" pintanya dengan nada tinggi.


"Aku dan Nona Hana memang merencanakan semuanya, perusahaan membutuhkan modal hanya dia yang dapat membantunya."


"Jadi, karena itu alasan kamu menikahiku?" tanya Winny dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak, Win. Aku mencintaimu saat orang tuaku menunjuk fotomu," jawab Arya.


"Aku tidak percaya!"


"Win, aku memang mencintaimu."


"Tapi, kenapa dengan cara licik seperti ini?" tanyanya lagi sambil terisak.


"Aku minta maaf!" Arya menjawab dengan terbata.


"Kenapa kamu mau mengikuti rencananya?" Winny menangis dan memukul dada suaminya.


Arya memegang tangan istrinya namun ditepis.


"Kalian jahat!" Winny menunduk terisak.


"Win, maafkan aku. Caraku memang salah, tapi jujur ku memang mencintaimu," ujar Arya.


Winny mendongakkan kepalanya dan berkata, "Aku harus memberi tahu Dennis tentang semua ini!"


"Tidak, Win. Kumohon, jangan beritahu Dennis!" Arya memegang lengan istrinya.


Winny menyentak tangan suaminya lalu pergi.


Arya lantas menghubungi nomor Hana namun tak aktif, ia melayangkan pukulan di udara.


Sembari membuka pintu mobil, Winny menghubungi Dennis dan panggilannya tersambung.


"Halo, Win."


"Dennis, kita perlu bicara. Ini sangat penting, kamu harus tahu tentang Nona Hana."


"Maksudnya?"


"Kita bertemu di kafe Melodi sekarang juga!"


"Baiklah," ucap Dennis.


Winny mengendarai mobilnya ke tempat yang ia janjikan.


Selang 20 menit, Dennis tiba di kafe.


Winny tersenyum dengan wajah menyimpan kekesalan.


"Ada apa, Win? Di mana suamimu?" tanya Dennis.


"Mereka licik, Nis!"

__ADS_1


"Mereka siapa?" tanya Dennis.


"Arya dan Nona Hana."


Dennis mengerutkan keningnya.


"Mereka bekerja sama untuk menghancurkan hubungan kita, Nis."


"Win, aku tidak mengerti dengan ucapanmu," ujar Dennis.


"Nona Hana akan memberikan modal di perusahaan Arya jika berhasil merebut aku darimu," ucap Winny.


Dennis sangat terkejut dan tak percaya.


Winny mulai menangis, "Mereka jahat, Nis. Kenapa begitu teganya dengan kita?"


Dennis tak berani menyentuh tangan Winny karena mantan kekasihnya itu sekarang istri orang lain.


"Aku ingin pisah dengan Arya, dia sudah membohongiku," ujar Winny.


"Tidak, Win. Jangan berbicara begitu," ucap Dennis.


"Aku benci mereka, Nis!" Winny menyeka air matanya.


"Iya, aku tahu. Tapi, kamu sekarang sudah menikah dan Arya tidak pernah menyakitimu," ucap Dennis.


"Tapi, dia membohongiku. Caranya itu sangat licik," ungkap Winny.


"Pasti Arya sudah menghubungi Hana," ujar Dennis.


"Pastinya."


"Aku akan menemui Hana, kamu pulanglah. Jangan pernah berpisah dengan Arya."


"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" Winny menatap mantan kekasihnya.


"Semua telah berubah, Win. Kamu sekarang dimiliki orang lain, kalian terikat janji suci pernikahan. Jangan pernah berpikir untuk mengakhirinya!"


"Aku tidak mencintainya, Nis." Winny kembali mengeluarkan air mata.


"Cinta atau tidak, kalian sudah menikah. Mulai sekarang buka hatimu untuknya!"


Malam harinya...


Hana baru saja pulang dari kantor dan hendak menuju rumah dengan mengendarai mobil seorang diri.


Ponselnya berdering tertera nama Dennis. Awalnya ragu karena ia yakin jika Winny telah memberitahu semuanya.


Hana mengatur napas dan menjawab telepon dari Dennis. "Halo!"


"Halo, kamu di mana?"


"Aku lagi di jalan menuju rumah."


"Bisakah kamu datang ke rumahku sekarang?"


"Sekarang? Memangnya ada apa?"


"Hana, aku lagi sakit. Bisakah sebentar kemari?"


"Baiklah, aku akan ke sana." Hana mematikan ponselnya dan memutar arah kemudi kendaraannya menuju kediaman Dennis.


Begitu sampai, Hana bergegas turun dan melangkah cepat memasuki rumah yang tidak tertutup.


"Dennis, kamu di mana?" Hana kini di dalam rumah dan mengedarkan pandangannya.


Pintu tiba-tiba tertutup dan terkunci, Hana terperanjat membalikkan badannya.


Dennis melempar senyum menyeringai dan mendekat.


"Katanya kamu sakit," ujar Hana memundurkan langkahnya.


"Aku berbohong," ucap Dennis dingin.


"Ka... kamu...kenapa?"


"Apa alasan kamu melakukan itu semua?"


"Melakukan apa?" tanya balik Hana dengan gemetar.

__ADS_1


"Kenapa kamu menghancurkan hubungan aku dengan Winny?" tanya Dennis lantang.


"A...aku..."


"Aku, kenapa?" Dennis menaiki alisnya.


Hana semakin bergetar ketakutan melihat pria yang ada dihadapannya tak seperti biasanya.


"Kenapa diam?" tanya Dennis dengan tatapan tajam.


Hana menelan salivanya.


"Hei, aku tanya kenapa kamu melakukan itu?" sentak Dennis.


"A... aku mencintaimu, Dennis." Air mata Hana jatuh karena takut, dia sama sekali tidak pernah dibentak baik oleh orang tuanya atau lainnya.


Dennis tertawa sinis.


"Aku minta maaf!" Hana mengeluarkan suara tangisannya.


"Kamu bilang maaf!" ucap Dennis lantang.


Hana mengangguk.


"Winny harus menikah dengan pria yang tak dicintainya dan aku di sini hanya bisa diam, itu semua karena kamu!" Dennis berkata dengan nada tinggi.


Hana semakin mengencangkan tangisannya.


"Kamu sungguh egois!" Dennis menekankan kata-katanya.


"Aku minta maaf!" isaknya.


"Maaf kamu percuma!" Dennis berteriak di wajah Hana yang menutup mata.


"Aku akan menyuruh Arya menceraikan istrinya," janji Hana.


"Kamu pikir pernikahannya hanya untuk main-main!" bentaknya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Hana dengan suara gemetar.


Dennis menarik lengan Hana secara kasar menuju kamarnya.


"Kamu mau apa?" Hana semakin ketakutan.


Dennis mendorong Hana ke ranjang.


Hana dengan cepat bangkit dan berlari namun tangan Dennis menarik lengannya dan menjatuhkannya ke ranjang.


Dennis mendekat dan mengungkung Hana dengan kedua tangannya. "Kamu bilang mencintaiku, 'kan?"


Hana menggelengkan kepalanya dengan wajah takut.


"Hentikan tangis palsumu!" teriaknya di wajah Hana.


Dennis mengepalkan tangan kanannya dan memukul kasur.


Hana sampai memejamkan matanya.


Dennis berdiri seperti semula dan membalikkan tubuhnya berjalan sedikit menjauh dari ranjang.


Hana bangkit dan duduk.


"Pergilah!" Dennis berkata dingin tanpa menatap.


Tanpa berpikir lama, Hana bergegas pergi meninggalkan rumah Dennis.


Di tengah perjalanan Hana menghentikan mobilnya, ia kembali menangis dan memukul setirnya. "Aarrgh....kenapa jadi seperti ini?" teriaknya.


Lima menit berhenti meluapkan amarahnya, Hana lanjut menyetir. Begitu sampai rumah, melempar tasnya dia bergegas menuju kamar mandi.


Menghidupkan kran shower, Hana mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Dia lalu duduk dan memeluk lutut. Tangisannya kembali pecah, teriakan dan bentakan Dennis terngiang di pikirannya.


"Apa aku salah mencintainya?" tanyanya pada diri sendiri dengan tubuh gemetaran.


Hana diam masih dengan posisi yang sama memegang lutut. Pandangannya kosong, kebersamaan dirinya dan Dennis beberapa waktu lalu menari-nari di kepalanya.


Senyum, tawa serta canda membuat Hana semakin mencintainya. Kini semua berbeda Dennis sangat membencinya. Bahkan pria itu ingin berbuat jahat kepadanya.


Hana memegang kepalanya dan berteriak, "Aku tidak mencintaimu!"

__ADS_1


__ADS_2