
Sebelum turun dari mobil, Hana menyeka air matanya yang menetes. Gegas membuka pintu dan berlari kecil memasuki rumah.
Anaya dari atas balkon memperhatikan sikap putrinya, apalagi disusul Dennis keluar dari mobil yang sama.
Anaya lantas berbalik dan hendak turun.
"Mau ke mana?" tanya Harsya.
"Aku mau menegur Dennis."
"Biarkan saja mereka menyelesaikan masalah hatinya, Sayang."
"Aku kasihan dengan Hana, dia harus bersedih lagi."
"Sayang, sudahlah. Mereka telah dewasa, bukan anak kecil lagi," ujar Harsya.
"Tapi, aku ingin tahu apa sebenarnya maunya Dennis," kata Anaya lalu melangkah pergi.
Harsya menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
Anaya menghampiri Dennis yang sedang mengobrol dengan Hanan.
Kedua pemuda itu menoleh.
"Dennis, Bibi ingin berbicara padamu," ujar Anaya.
Dennis manggut mengiyakan.
"Hanan, tetap di sini!"
"Iya, Bu."
Dennis mengikuti langkah Anaya ke sebuah taman.
"Tumben, tidak ditemani ayah," gumam Hanan.
Anaya berdiri membelakangi Dennis dengan melipat tangannya.
"Apa yang ingin Bibi bicarakan?"
"Kenapa putriku menangis?" Anaya membalikkan badannya.
Dennis tak dapat menjawab.
"Jika kamu tidak mencintai Hana, jangan membuatnya bersedih!" Anaya berkata tegas.
Dennis masih bergeming.
"Bibi tak habis pikir denganmu, sudah tahu Hana menyukaimu dan kamu menolaknya tapi selalu ingin dekat. Sebenarnya bagaimana perasaanmu?"
"Bibi, saya minta maaf," jawab Dennis lirih.
"Harusnya Hana menerima saja lamaran dari Rafael agar mudah melupakanmu."
Dennis masih berdiri tanpa menyela.
"Hana jatuh sakit dan itu dia jauh dari kami," ucap Anaya.
"Bibi..."
"Hana memang telah melakukan kesalahan padamu, setahun di luar negeri adalah hukuman baginya. Apa belum cukup?" Anaya menatap Dennis.
Dennis tetap mematung namun matanya berkaca-kaca.
"Dia sakit di sana, tapi tak ingin memberitahu kami. Itu karena Hana tidak mau orang tuanya bersedih dan kamu merasa bersalah."
"Ibu...."
Anaya dan Dennis menoleh ke arah suara.
Hana datang karena diberitahu Hanan jika Anaya mengajak Dennis berbicara berdua. Dia lantas menebak, jika ada sesuatu yang serius.
"Hana..." Anaya tampak gelagapan.
"Apa yang Ibu katakan padanya?" tanya Hana.
"Ibu hanya menyuruh Dennis untuk menjauhimu," jawab Anaya.
"Bu, aku dan Dennis baik-baik saja. Tidak ada lagi permasalahan diantara kami berdua, semua telah selesai saat aku tiba di sini," ucap Hana.
__ADS_1
"Tapi, kenapa kamu menangis tadi?" tanya Anaya.
"Di mobil aku tadi menonton drama di ponsel, ceritanya sangat sedih makanya mataku berair," jelas Hana berbohong.
Dennis hanya diam menatap Hana berbicara.
"Bu, jangan memarahi Dennis," Hana mendekati sang ibu dan merangkul lengan. "Dia tidak bersalah, aku saja yang terlalu terbawa emosi saat menonton," lanjutnya.
"Kamu tidak berbohong, kan?" tanya Anaya.
Anaya tertawa rendah, lalu menjawab, "Tentunya tidak."
"Syukurlah, kalau masalah kalian telah selesai. Ibu senang mendengarnya," ucap Anaya.
"Ibu tak perlu khawatir, sekarang kami teman," kata Hana seraya tersenyum ke arah pria di hadapannya.
Dennis pun tersenyum tipis.
"Maafkan Bibi, Dennis. Tadi sempat menuduhmu," ucap Anaya.
"Saya juga salah, Bi." Dennis menundukkan kepalanya.
Anaya kemudian berlalu.
Kini tinggal Dennis dan Hana yang berdiri saling berhadapan.
"Kenapa harus berbohong?"
"Aku tidak mau orang tuaku terlibat dalam masalah hati kita," jawab Hana.
Dennis lagi-lagi terdiam.
"Temui kebahagiaan kamu sendiri begitu juga dengan aku," ujar Hana.
"Kebahagiaan aku telah kamu rusak."
Hana tertawa sinis.
"Kamu harus bertanggung jawab!"
"Apa yang harus aku lakukan lagi agar dapat menebus kesalahanku?"
"Tetaplah tinggal di sini."
Hana menarik napasnya.
"Aku sudah terlanjur nyaman di sana," jelas Hana.
"Apa kamu telah menemukan tambatan hati?"
Hana malah tertawa kecil.
"Benar, 'kan?"
"Aku sangat lelah," Hana berkata kemudian melangkah pergi.
Dengan cepat Dennis menautkan jemarinya Hana, membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan mengarahkan pandangannya ke arah tangan.
Dennis kini menatap wajah Hana yang memerah.
"Lepaskan tanganku!"
"Tidak."
Hana menarik napasnya.
"Kenapa kamu keras kepala sekali?"
Hana mengerutkan keningnya.
"Kamu tuh sudah menghancurkan aku, tapi berani dan tanpa beban pergi begitu saja."
Hana semakin tak mengerti arah pembicaraan Dennis.
"Tetap di sini dan tebus kesalahanmu!"
Hana menyentak tangan Dennis lalu berkata, "Kamu sendiri yang menyuruhku untuk fokus dengan perusahaan di sana. Jadi tunggu saja dua tahun lagi!"
Hana gegas melangkah pergi.
__ADS_1
Dennis menarik ujung bibirnya, dia ingat perkataannya beberapa waktu lalu jika Hana akan tetap kembali ke luar negeri agar menjauh dari Rafael.
***
Dennis memiliki janji bertemu dengan Winny dan Arya di sebuah restoran.
Dennis mengendarai dengan kecepatan sedang, di tikungan perempatan jalan tiba-tiba mobil berwarna silver menyenggol. Sontak, membuatnya terkejut dan mengerem mendadak.
Wanita paruh baya keluar dari mobil menghampiri Dennis yang memeriksa badan kendaraannya.
"Kamu bisa menyetir apa tidak, 'sih?" omelnya.
Dennis berbalik arah.
Wanita itu terdiam ketika melihat wajah Dennis yang mirip seseorang.
"Maaf, sepertinya Tante yang memotong jalan saya," ujar Dennis menjelaskan.
"Oh." Wanita paruh baya itu tampak gelagapan.
"Tante..."
"Kamu itu yang salah," tuduhnya.
"Baiklah, jika memang saya yang salah minta maaf. Apa mobil Tante ada rusak?" tanya Dennis lembut.
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah kalau tidak ada yang rusak," ucap Dennis.
"Kamu harus tetap bertanggung jawab. Berikan kartu namamu!"
Dennis mengambil dompet dari saku celananya dan mengeluarkan kartu namanya lalu memberikannya.
Wanita itu segera membaca kartu nama tersebut, tampak tangannya gemetaran.
"Tante, tidak apa-apa?" tanya Dennis karena melihat wanita paruh baya itu tampak pucat.
"Benar namamu Dennis Lim Kyo?"
"Iya, Tante."
"Siapa nama ayahmu?"
"Untuk apa Tante bertanya?"
Belum menjawab ponsel wanita itu berdering. Gegas ia mengangkatnya dan berbicara, lalu kemudian menutupnya. Tanpa berpamitan, dirinya pun berlalu.
Melihat penabrak mobilnya pergi, Dennis segera melesat ke kafe tujuan.
Begitu sampai, Dennis malah mendapatkan omelan dari Winny. "Kenapa kamu membiarkan Nona Hana jalan dengan lelaki lain?"
Dennis mengernyitkan keningnya.
"Sayang, tenanglah!" Arya mengelus lengan istrinya.
"Katanya Hana sangat mencintai Dennis, tapi kenapa dia tega melakukan itu padanya," cerocosnya.
"Nona Hana ada alasannya memilih pria lain, sayang." Kata Arya.
"Karena dia tak mencintai Nona Hana," jawab Winny dengan sengaja.
Dennis merasa tersudutkan, lantas berkata, "Kalian mengundangku ke sini hanya untuk menyindirku?"
"Tidak," jawab sepasang suami istri tersebut.
"Siapa nama anak kalian?" tanya Dennis mengalihkan pembicaraan.
"Willy," jawab Arya.
"Namanya yang sangat bagus," ucap Dennis.
"Tentunya," sahut Arya bangga.
"Sekarang berikan alasanmu, Nis." Pinta Winny.
"Alasan apa?" Dennis pura-pura tidak paham.
"Besok Nona Hana akan terbang ke luar negeri, apa kita perlu mengantarnya ke bandara?" tanya Arya pada istrinya.
__ADS_1
"Biarkan Nona Hana diantar kekasihnya," jawab Winny.
"Dari mana kalian tahu Nona Hana besok akan berangkat? Lalu siapa kekasihnya?" cecar Dennis.