Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 57 - S2 - Semuanya Pergi Berlibur


__ADS_3

Hana mengangguk mengiyakan mendengar pertanyaan dari adik kandungnya itu.


"Tapi, Kak Hana lagi hamil?" tanya Hanan.


"Kakak tidak melakukan perjalanan yang jauh, ini hanya rumah kedua ayah dan ibu. Lagian juga Kak Dennis belum pernah ke sana. Tidak masalah juga, 'kan," ucap Hana.


"Aku boleh ikut?"


"Tidak. Kamu di rumah ini saja, kami mau bulan madu di sana. Para pelayan dan pengawal jika malam hari, Kakak akan suruh mereka tidur bukan di rumah utama," ujar Hana.


"Kak, aku sendirian jadinya di sini," rengek Hanan.


"Siapa suruh kamu tidak mau ikut dengan Paman Alpha atau ayah," cetus Hana.


"Kakak tidak seru," Hanan tampak cemberut.


Hana mengarahkan pandangannya pada suaminya yang dari tadi menyimak percakapan dirinya dan Hanan. "Sayang, ayo kita siap-siap ke rumah utama ntar keburu sore!" ajaknya.


"Iya, sayang. Ayo!" Dennis menggenggam tangan istrinya.


Kedua pasangan suami istri pun berlalu.


Hanan dengan langkah malas menuju kamarnya. Alhasil, untuk beberapa hari ke depan dirinya akan menghabiskan waktu di atas ranjang dan berenang di kolam serta bermain badminton atau basket dengan pelayan pria dan pengawal.


Sementara itu, di luar pulau tepatnya di kota kelahirannya Aira KayRin. Rombongan Alpha telah tiba di bandara. Aira dan kedua orang tuanya datang untuk menjemput.


Keluarga Aira menyediakan juga 1 buah mobil rental khusus menemani rombongan tamunya selama liburan karena mereka hanya memiliki 2 mobil saja.


Kayla-mama Aira, memeluk Astrid yang merupakan atasannya di kantor sekaligus rekan kerjanya ketika dirinya masih muda dan belum pindah tempat tinggal.


"Apa kabar, Kay?" tanya Astrid.


"Aku baik, Nona Astrid. Senang sekali kalian mau berkunjung kemari," jawab Kayla.


"Aku juga, apalagi kita hampir tiga tahun tak berjumpa," ucap Astrid tersenyum.


Astrid memperkenalkan teman-teman kedua anaknya.


"Oh, nama kamu sama dengan Tante," kata Kayla memegang pipi adiknya Dennis.


"Dia ini adalah adik iparnya Hana," ucap Astrid.


Kayla manggut-manggut.


Aira memperhatikan rombongan Alpha satu persatu tapi tak menemukan Hanan diantaranya. Namun, dirinya tak berani menanyakan kenapa sosok pemuda itu tak ikut serta.


"Om, Tante, aku lapar!" Alana menyentuh perutnya.


Semua tertawa kecil memperhatikan sikap Alana yang ceplas-ceplos.


"Ayo kita makan di rumah, Tante Kayla sudah masak yang banyak!" ajak Rino.


"Asyik!" Alana tersenyum senang.


"Perjalanan dari sini ke rumah Tante Kayla tidak terlalu jauh hanya butuh waktu dua puluh menit," ujar Astrid.

__ADS_1


Alpha dan temannya tampak lega. Karena mereka sudah sangat lelah dan lapar walaupun perjalanan udara hanya menempuh waktu 2 jam saja. Tapi, menunggu di bandara yang sangat lama hampir 5 jam lebih mulai dari rumah.


Begitu sampai, mereka satu persatu saling membantu menurunkan koper dari mobil.


Mereka tidak menyewa villa atau hotel selama berlibur.


Karena Astrid melarang anak dan para keponakannya itu terpisah takut tak ada yang mengawasi. Mau tak mau, mereka harus tidur di kamar seadanya di kediaman keluarganya Aira.


Keluarga Aira memiliki 2 kamar utama, 3 kamar tamu dan 1 kamar asisten rumah tangga.


Setelah memasukkan koper ke kamar masing-masing, mereka berkumpul di ruang makan yang di mana meja telah menjadi tempat prasmanan.


Beberapa menu makanan telah tersaji di meja, seperti para tamu undangan mereka harus mengantri untuk mengambilnya.


Alvan duduk bersebelahan dengan Dayna yang sedang menikmati makanannya.


Dayna melihat lauk di piringnya Alvan tanpa seizinnya lantas mengambil kerupuknya.


"Kamu mau? Biar aku ambilkan," tawar Alvan.


"Tidak, aku mau sebiji saja," ucap Dayna.


Alvan mulai menikmati makanannya, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Menghentikan makannya sejenak dan membaca isinya.


"Hanan," lirihnya.


Dayna memiringkan kepalanya dan melihat isi pesan dari Hanan di ponsel Alvan.


Alvan lalu membalas pesan Hanan yang menanyakan mereka apa sudah sampai atau belum.


Setelah itu, Hanan tak mengirimkan pesan apapun.


Alvan kembali melanjutkan makannya sesekali memperhatikan Dayna yang begitu asyik.


Jemari Alvan tak segan membersihkan ujung bibir Dayna dan gadis itu tak menolaknya.


Sementara itu, Bryan yang telah menaruh hati dengan Alana namun tak berani mengungkapkannya hanya memperhatikannya dari jauh.


Bryan rela tak ikut ke kampung nenek dari papanya karena ingin dekat dengan Alana.


Selesai makan dan juga hari mulai sore, mereka kembali ke kamar masing-masing membersihkan diri.


Ayahnya Aira mengajak para tamunya menikmati waktu santai di taman tepat di belakang rumahnya.


Tak lupa menyajikan kopi dan teh beserta aneka kue. Di taman belakang itu mereka kembali mengobrol.


"Besok pagi saja kita pergi ke pantai, ya. Kalian juga baru saja sampai dan perlu beristirahat," ujar Rino.


"Iya, Om," kata Alvan dan beberapa lainnya.


-


Malam harinya.....


Selesai makan malam dan sejenak mengobrol, mereka memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat.

__ADS_1


Alana tidur di kamar dan bersama Aira.


Dayna dan Kayla tidur di kamar tamu pertama.


Bryan, Alvan dan Elra tidur di kamar tamu kedua.


"Tadi Kak Hanan menghubungi aku tapi tak sempat di jawab," Elra membuka percakapan sebelum mereka memejamkan matanya.


"Kenapa tidak kamu jawab?" tanya Alvan.


"Ponselku tadi kehabisan daya makanya di cas di kamar, Kak." Jawab Elra.


"Hanan juga mengirimkan pesan, dia menanyakan kita sudah tiba atau belum di sini. Hanya itu saja, " ucap Alvan.


"Kira-kira dia lagi apa di sana, ya?" tanya Bryan.


Elra mengendikkan bahunya.


"Entahlah, padahal Kak Dennis dan Kak Hana tidak di rumah," ujar Alvan.


"Memangnya kemana Kak Hana dan Kak Dennis?" tanya Bryan.


"Ke rumah kedua." Jawab Alvan.


"Oh," ucap Bryan singkat.


"Jangan mengobrol saja, ayo tidur. Nanti kita kesiangan, ditinggal mereka lagi," ucap Alvan.


"Tidak mungkin ditinggal, paling Bibi Astrid akan mengomel dan memarahi kita," tukas Bryan.


"Iya, benar. Semua ibu-ibu kita pasti akan mengomel kalau terlambat sedikit," sahut Elra.


Tak lama kemudian, Elra menepuk jidatnya. "Aku lupa!"


"Kenapa?" Alvan yang merebahkan tubuhnya di samping Elra menoleh.


"Aku belum mengirimkan kabar pada mama," jawab Elra.


"Tante Elia sudah tahu, karena tadi aku menelpon mama dia sedang berada di rumah kami," ujar Bryan.


"Huh, syukurlah." Kata Elra.


Ketiganya kembali memejamkan matanya, selang 5 menit kemudian ponsel Alvan berdering.


"Kak Van, angkat teleponnya. Berisik sekali!" oceh Elra masih dengan mata terpejam.


"Iya, Van. Cepat dijawab," sahut Bryan yang juga matanya telah tertutup rapat.


"Ya ampun, aku malas sekali. Baru saja tertidur," Alvan bangkit tapi mata tampak setengah terbuka dan mulut menguap meskipun di tutupi.


Alvan meraih ponselnya tanpa melihat nama si penelepon.


"Halo, Van!"


Alvan yang mengenal suara si penelepon lantas menjawab, "Ada apa sih' menelepon malam-malam?"

__ADS_1


Tak berapa lama, Alvan membuka matanya lebar. "Hah, apa!"


__ADS_2