
Rafael menarik napas panjang lalu dihembuskannya, tak lama kemudian berkata, "Baiklah, aku akan datang melamarmu!"
Dayna tersenyum senang mendengarnya.
"Minggu depan aku akan datang menemui kedua orang tuamu dan kita bertunangan bulan ini juga," janji Rafael.
"Terima kasih, sayang. Aku akan mengatakan hal ini kepada kedua orang tuaku," ujar Dayna.
"Kamu janji 'kan setelah bertunangan kita akan membangun perusahaan bersama?" tanya Rafael.
"Iya, aku janji. Semua modal aku yang akan berikan dan kamu menjadi pemimpinnya," jawab Dayna.
Rafael tersenyum menyeringai.
Selepas dari kafe, Dayna pulang ke rumah. Sesampainya, gegas membersihkan diri. Dan tepat jam 7 lewat 30 menit, Dayna berkumpul dengan kedua orang tuanya di ruang makan.
"Pa, Ma, aku sudah bicara dengan Rafael," ujar Dayna tersenyum.
Darrell dan Nayna saling pandang lalu keduanya kembali menatap putrinya.
"Minggu depan Rafael janji akan datang menemui Mama dan Papa. Bulan ini juga kami akan melangsungkan pertunangan," ucap Dayna.
"Pasti kamu menjanjikan sesuatu makanya dia bersedia bertunangan?" tanya Darrell.
"Aku tidak menjanjikan apa-apa, Pa." Jawab Dayna berbohong.
"Tidak mungkin saja, dia mau bertunangan dengan kamu jika tak memiliki niat yang lain," singgung Darrell.
"Pa, Ma, kenapa kalian tidak yakin dengan Rafael? Dia mencintaiku," ujar Dayna.
"Semoga saja pikiran buruk tentangnya adalah salah," ucap Nayna.
"Kalian ingin aku menikah dengan Alvan, makanya menilai buruk tentangnya," ujar Dayna.
"Tidak, Nak. Kami hanya ingin terbaik untukmu," kata Nayna.
"Rafael akan datang dan bertunangan denganku, maka Papa dan Mama harus menyuruh Alvan menjauhiku," ujar Dayna.
"Baiklah, kami akan memberitahu kepada Alvan tentang rencanamu itu," ucap Darrell.
***
Esok harinya, dikediaman keluarganya Harsya....
Hana masih bergelut manja dengan selimutnya. Suaminya akan bersiap-siap hendak ke kantor.
"Kenapa masih tidur?" tanya Dennis yang baru keluar dari kamar mandi.
"Hari ini aku sangat malas sekali untuk bangkit, rasanya ingin tidur saja."
"Kamu lagi sakit?" tanya Dennis memegang kening istrinya.
"Tidak."
"Padahal kamu semalam tidur lebih awal, kenapa masih mengantuk?" tanya Dennis.
"Aku juga tidak tahu, benar-benar melelahkan," jawab Hana memejamkan matanya.
"Ya sudah, kalau kamu tidak sanggup pergi ke kantor. Tidurlah," ujar Dennis.
"Aku minta maaf juga tidak dapat menemani kamu sarapan," kata Hana.
"Iya, sayang. Tidak apa-apa," ujar Dennis.
Tepat jam 6 lewat 45 menit, Dennis turun ke lantai bawah dan menuju ruang makan.
"Hana mana?" tanya Anaya.
"Di kamar, Bu. Katanya masih mengantuk," jawab Dennis menarik kursi dan duduk di sebelah adik iparnya.
"Tidak biasanya, jam segini Hana masih ngantuk. Padahal kalian dari semalam tak pergi ke mana-mana. Apa dia begadang nonton drama?" tanya Anaya lagi.
"Tidak, Bu. Hana malah semalam tidur jam sembilan," jawab Dennis.
__ADS_1
"Apa dia sedang sakit?" tanya Harsya.
"Suhu tubuhnya normal, Yah."
"Hmm, nanti Ibu naik ke atas dan melihatnya," ujar Anaya.
Dennis mengiyakan.
Setelah suami, menantu dan putranya berangkat ke kantor. Anaya lantas ke kamar putrinya. Mengetuk pintu sebelum masuk.
"Iya, siapa?" teriak Hana dari dalam kamar.
"Ini Ibu, Han."
"Masuklah, Bu!" serunya.
Anaya membuka pintu dan melihat putrinya masih di atas ranjang berbalut selimut. Anaya duduk di sisinya dan memegang keningnya.
"Aku tidak sakit, Bu."
"Tapi, kenapa tidak turun sarapan?" tanya Anaya.
"Lagi malas saja, Bu. Tubuhku sepertinya sangat lemas sekali," jawab Hana.
"Ibu panggilkan dokter, ya?"
"Tidak usah, Bu. Aku hanya ingin istirahat saja."
"Ibu ambilkan makanan, ya!"
Hana mengangguk.
Anaya lalu keluar dari kamar putrinya dan melangkah ke dapur. Menyuruh seorang pelayan membawa makanan ke atas.
Anaya menyusul dari belakang.
"Jika ingin sesuatu, telepon atau panggil saja dari atas. Kami tidak mau dimarahi Tuan Besar karena membiarkan Nyonya bolak-balik menaiki tangga," kata seorang pelayan, setelah meletakkan nampan berisi makanan di nakas kamarnya Hana.
"Nanti saya akan turun menjelang makan siang," ujar Anaya.
"Bu, apa yang dikatakan pelayan benar. Jangan terlalu sering naik turun tangga, nanti ayah mengomel," ujar Hana.
"Iya, Ibu takkan naik turun tangga. Kamu tenang saja. Sekarang makan," ucap Anaya.
"Aku mau cuci muka dan sikat gigi dulu," ujar Hana.
Anaya mengiyakan.
Tak lama Hana duduk di sofa, lalu mulai memakan sarapannya berupa telur ceplok dan paha ayam panggang begitu lahap.
"Bu, boleh tambah lagi?"
Anaya mengerutkan keningnya.
Hana tersenyum nyengir.
"Tumben sekali, biasanya tak pernah tambah," ujar Anaya.
"Lapar sekali, Bu."
"Telepon saja mereka," kata Anaya.
Hana lalu menelepon pelayan bagian dapur. Tak lama kemudian seorang wanita mengantarkannya ke kamar.
Hana kembali memakan roti isi selai strawberry, kentang rebus dengan saos cabai dan tomat.
Anaya lagi-lagi dibuat heran dengan tingkah putrinya.
Hana meraih gelas berisi jus jeruk dan menengguknya.
"Hana, kamu tidak salah sarapan sebanyak ini?"
Hana menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Selepas makan, Hana memilih rebahan di sofa.
"Sayang, habis makan jangan langsung tiduran. Ayo duduk!" kata Anaya.
"Ngantuk, Bu!" Hana memejamkan matanya.
Anaya menarik tangan putrinya membangunkan dirinya.
"Bu, lelah sekali!" ucap Hana malas.
"Kamu ini dari tadi tidur, masih saja mengantuk. Ayo temani, Ibu berkebun!"
"Ya ampun, Bu. Sejak kapan aku suka berkebun?"
"Daripada kamu di kamar dan tidur terus, lebih baik kita ke kebun belakang biar berkeringat hitung-hitung berolahraga," jawab Anaya.
"Pandangan aku gelap banget, Bu." Hana kembali menjatuhkan kepalanya di sofa dengan mata tertutup.
Anaya menepuk pelan pipi putrinya, "Hana, kamu tidak apa-apa, 'kan?"
"Iya, Bu." Jawab Hana lemas.
"Kamu sebenarnya kenapa,'sih?"
"Aku juga tidak tahu, Bu. Pandangan aku gelap sekali," kata Hana dengan mata terpejam.
"Makan kamu banyak, tidur cukup dan suhu tubuh tidak panas. Apa jangan-jangan......"
Hana membuka matanya, "Jangan-jangan apa, Bu?"
"Apa kamu sudah haid bulan ini?" tanya Anaya.
Hana menjawab, "Harusnya tiga hari yang lalu, Bu."
"Kamu harus periksa ke dokter," saran Anaya.
"Nanti saja, Bu. Mungkin besok atau lusa datang bulan," jelas Hana.
"Baiklah, kalau begitu Ibu akan menelepon Dennis dan menyuruhnya pulang," ujar Anaya.
"Jangan, Bu. Nanti dia khawatir, belum lagi jika ayah mendengarnya pasti tambah rumit," cegah Hana.
"Ibu malah bingung menghadapi kamu jika tak ada mereka," ujar Anaya.
"Aku hanya ingin tidur saja, Bu."
"Ya sudah, tidurlah."
"Tapi, Ibu di sini dengan aku. Jangan turun lagi, ntar capek," kata Hana.
"Iya."
Hana tersenyum.
"Kamu di sofa saja?"
"Iya, Bu. Malas mau pindah," jawab Hana.
Anaya keluar dari kamar putrinya dan berjalan mendekati meja yang ada telepon gagang. Segera menghubungi pelayan bagian dapur dan kebersihan untuk membersihkan bekas makan putrinya.
Selepas para pelayan mengerjakan tugasnya, Anaya tidur di ranjang putri dan menantunya.
Tak lama kemudian, Harsya pulang dan bertanya kepada pelayan di mana istrinya.
Harsya menaiki tangga menuju kamarnya dan melihat istrinya sedang tertidur di ranjang sementara putrinya di sofa.
"Kenapa tidur di sini?"
"Tadi Hana memintaku tidur di sini, jadi aku temani."
"Apa dia lagi sakit?"
"Tidak, hanya saja dia bilang kalau sangat lelah," tutur Anaya.
__ADS_1
"Kenapa tidak panggilkan dokter?"
"Dia tak mau, cuma aku yakin jika Hana hamil."