
Elra memperhatikan satu persatu kakak sepupunya lalu bertanya, "Kenapa melihatku seperti itu?"
"Kamu baru kenal dengan Kayla," ujar Dennis.
"Memangnya kenapa? Biarkan kami dekat, dia adik Kak Dennis, 'kan?" tanya Elra.
"Aku curiga denganmu," celetuk Hanan.
"Tak biasanya dia semudah itu dekat dengan gadis lain. Apa lagi baru dikenal," Dayna menimpali.
"Aku dengan Kak Dennis saja, kurasa lebih aman," ucap Kayla.
"Memangnya aku akan menculikmu!" ketus Elra.
"Biar Kayla dengan aku saja, El. Kamu pulanglah dengan Hanan dan Bryan," kata Dennis.
"Kak Dennis dan Kak Dayna satu kantor lalu Kak Alvan dengan Kak Hanan tempat kerja mereka saling berdekatan begitu juga Kak Bryan. Aku belum bekerja jadi waktu luangnya banyak maka biarkan Kayla pulang bersamaku," ujar Elra.
"Aku setuju usulnya," sahut Dayna.
Dennis sejenak berpikir.
"Apa yang dikatakan Elra benar juga? Kantorku dan Alvan searah, memang lebih kami kembali bersama-sama," tutur Hanan.
Kayla hanya menghela napas pasrah.
Kakak-kakaknya Elra telah meninggalkan restoran tinggal dirinya dan Kayla yang masih enggan masuk ke dalam mobil.
"Mau sampai kapan berdiri?" tanya Elra.
Dengan terpaksa membuka pintu dan masuk, memasang safety belt lalu mengunci bibir.
"Di mana alamat rumahmu?"
Kayla menulis alamat rumahnya melalui ponsel lalu menunjukkannya kepada Elra.
"Apa tidak bisa berbicara?"
"Jangan banyak protes, baca saja!" omel Kayla.
"Dasar cerewet!" Elra menggerutu.
Elra menarik ujung bibirnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman orang tuanya Kayla.
Sesampainya, Kayla membuka safety belt begitu juga dengan Elra.
"Mau ke mana?" tanya Kayla.
"Aku ingin turun dan berkenalan dengan orang tuamu."
"Untuk apa?"
"Ingin kenal dan akrab saja, sekalian...."
"Mereka tidak di rumah, lagi bekerja. Jika ku punya uang pasti menggantinya."
"Memangnya kamu akan bekerja?"
"Tidak juga, tapi ku janji akan mengganti kerugianmu."
"Kapan?"
"Begini saja," Kayla melepaskan liontin emas yang melingkar di lehernya. Lalu diberikannya kepada Elra. "Ini jaminannya, jika aku memiliki uang ku akan mengambilnya kembali," lanjutnya berucap.
"Kamu menggadai liontin ini padaku?"
"Iya, tak ada pilihan lagi. Terima saja."
"Baiklah, aku akan simpan."
"Jangan sampai hilang, jika itu terjadi kutakkan membayar ganti rugi dan kamu harus mencari liontin yang sama!"
"Baiklah, aku akan menjaganya. Sekarang cepat keluar dari mobilku!"
"Iya, aku akan keluar malas terus menerus di sini!" Kayla membuka pintu mobil lalu turun.
-
Sepulang kerja William melewati kantornya Hana, tak sengaja ia berpapasan dengan Inka yang sedang menunggu bus.
__ADS_1
"Butuh tumpangan, Nona?" tawarnya.
"Tidak, Tuan. Terima kasih," Inka menolaknya dengan senyuman.
"Ayolah, jangan jual mahal. Mau menunggu sampai kapan di sini?"
"Sampai malam juga tidak masalah, Tuan."
"Baiklah, kalau begitu." William menyalakan mesin mobil lalu melanjutkan perjalanannya.
Sejam berlalu, bus yang ditunggu Inka akhirnya datang. Itupun dirinya harus rela mengalah karena penumpukan penumpang di halte membuat kendaraan besar tersebut tak dapat menampung semuanya.
Inka terpaksa harus menunggu lagi di halte bersama beberapa penumpang lainnya.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 7 malam, di halte tersisa 5 orang penumpang lagi yang belum naik.
Inka mencoba bersabar lagi. Sepuluh menit kemudian, bus ketiga datang. Namun, hanya menerima 4 penumpang saja.
"Nona, saya sebenarnya tidak tega membiarkan anda sendirian di sini. Tapi, istri saya sedang mengandung sembilan bulan," ujar seorang pria.
"Saya akan tunggu bus selanjutnya, silahkan kalau Tuan ingin naik duluan," ucap Inka.
"Terima kasih banyak, Nona." Kata pria itu.
Inka duduk kembali untuk menunggu bus selanjutnya, hampir 2 jam dia berada di halte. Jika berjalan mungkin dia telah tiba di rumah. Namun, mikirin lelahnya dan tak ada dikejarnya jadi ia menikmatinya.
Sebuah mobil hitam yang sama beberapa jam lalu, berhenti di depannya.
"Mau sampai besok pagi menunggu di sini, Nona?"
"Sebentar lagi busnya akan datang."
"Jika penuh, apa kamu dapat masuk?"
Inka terdiam.
"Jangan menolak tawaranku, hanya kamu seorang di sini. Apa tidak takut dengan pria iseng?"
Inka yang juga takut akhirnya menerima tawaran William. Dengan cepat membuka pintu dan duduk di sebelah.
"Jika dari tadi menerima tawaran aku pasti kamu sudah rebahan," singgung William.
Inka hanya diam.
"Apa kamu tidak ingin membayar ganti rugi kepadaku?"
"Ganti rugi apa?" tanya Inka.
William meminggirkan mobilnya.
"Kenapa berhenti?" Inka tampak ketakutan.
"Aku sudah membayar seseorang untuk mendapatkan jasa wanita panggilan tapi kenapa kamu menolakku?"
"Sya tidak menjual diri," jawab Inka tegas.
"Lalu kamu di tempat itu mau apa?"
"Saya hanya diminta teman untuk menunggu di sana, karena dia akan meminjamkan uang."
William menarik ujung bibirnya.
"Saya berkata jujur,Tuan."
"Oh, jangan-jangan kalian bersengkongkol!" William menuding.
"Itu tidak benar, Tuan. Saya berani bersumpah!" Inka berkata penuh yakin.
"Aku tidak percaya, sekarang kamu harus layaniku!" William membuka safety belt.
Inka yang panik gegas membuka safety belt namun tangannya di pegang William. Sangking ketakutannya, ia memejamkan matanya dan membuang wajahnya.
William membuka safety belt Inka dan meniup wajah sekretarisnya Hana itu.
Inka membuka matanya.
"Kamu kenapa?" tanya William.
"Saya mohon, Tuan. Jangan lakukan itu!" jawab Inka mengiba.
"Turun sekarang!" perintah William.
__ADS_1
"Tuan, di sini tak ada kendaraan umum," ujar Inka.
"Cepat keluar!" titah William.
"Tuan...."
"Jangan membantah!" ucapnya.
"Baiklah, Tuan." Inka lantas keluar dari mobil.
William juga melakukan hal yang sama.
"Tuan, saya akan berteriak jika berani macam-macam!" ancam Inka.
"Siapa yang mau macam-macam denganmu? Ikut aku sekarang ke sana!" William menunjuk sebuah restoran yang berada di seberang jalan.
Inka yang telah berpikiran negatif, tampak bersalah. Dengan cepat, ia mengiyakan.
Keduanya menyeberang menuju restoran, William tanpa sadar menggenggam tangan Inka membuatnya menyentaknya.
Sontak, William terkejut atas perlakuan Inka kepadanya.
"Aku hanya ingin membantumu menyeberang!" jelas William.
"Tapi, tak usah pegang-pegang juga, Tuan!" ketusnya.
"Iya, Maaf!"
***
Alvan menjemput Dayna hari ini, dia meminta Dennis untuk tidak datang ke rumah gadis itu.
Dennis lantas mengiyakan, selain menghemat waktu dia tak perlu terburu-buru bangun pagi karena harus menjemput Dayna.
"Kenapa kamu yang menjemputku? Di mana Kak Dennis?" tanya Dayna ketika menemui Alvan di depan rumahnya.
"Sekarang aku yang akan menggantikan posisinya," jawab Alvan.
"Ini tidak benar, kamu tak bisa seenaknya menggantikan Kak Dennis!"
"Kak Dennis sebentar lagi dia akan menikah tak mungkin terus bersamamu," ujar Alvan.
"Tapi, mereka 'kan belum menikah. Kak Hana saja masih di luar negeri."
"Justru itu, mulai sekarang aku mulai melatih menjadi sopir pribadimu."
"Alasan saja!" Dayna melihat arlojinya lalu membuka pintu mobil dan masuk.
Di dalam mobil, Alvan mengambil buket bunga yang ada di belakang bangku penumpang lalu diberikannya kepada Dayna.
"Buat aku?"
"Iya."
"Kenapa kamu harus seromantis ini?"
"Biar kamu menerima aku!"
"Aku akan terima bunga ini, tapi tidak perasaanmu."
"Kenapa?" tanya Alvan.
"Karena aku menyukai pria lain."
"Siapakah dia?" tanya Alvan lagi.
"Rahasia," jawab Dayna menyunggingkan senyumnya.
"Main rahasia sekarang?"
"Dia belum tahu aku menyukainya."
"Jadi, aku tidak memiliki harapan lagi?"
"Ya, begitulah."
Alvan menghela napas pasrah.
"Maafkan aku, Van."
Alvan tersenyum tipis dan manggut-manggut.
__ADS_1
...----------------...
Selamat Membaca 🌹