
Melihat sang istri sedang menyisir rambut setelah membersihkan diri, Dennis memeluknya dari belakang dan menciumi jenjang lehernya yang begitu wangi.
Hana bergeliat ketika lehernya tak hentinya dikecup suaminya.
"Apa kamu siap melakukannya?" bisik Dennis menggoda.
Hana membalikkan badannya dan menjawab, "Harus malam ini?"
Dennis mengangguk.
"Kita 'kan belum mengadakan resepsi pernikahan," ucap Hana.
"Tapi kita sudah sah menjadi suami istri dan itu kamu yang memintanya," ujar Dennis.
Pernikahan dadakan tanpa sepengetahuan Dennis memang rencana Hana karena suaminya itu selalu saja bertanya kapan dirinya pulang dan tak sabar ingin menikah.
Setelah berkonsultasi dengan orang tuanya, orang tua Dennis serta Paman Alpha. Mereka setuju jika diadakan pernikahan meskipun resepsi akan dilaksanakan sebulan lagi.
Selepas menikah, Hana akan mengajak Dennis ke luar negeri menyelesaikan pekerjaannya di sana.
"Tapi...."
Belum selesai berbicara, Dennis dengan cepat menggendong tubuh istrinya.
Hana memekik karena tanpa aba-aba Dennis telah menggendongnya.
"Aku menunggu waktu ini," Dennis tersenyum menyeringai.
Merebahkan tubuh Hana di ranjang lalu mengukungnya.
Hana menelan salivanya menatap wajah suaminya kini berada di atas tubuhnya.
Tanpa menunggu lama, Dennis membenamkan ciuman di bibir sang istri membuat Hana mendelikkan matanya.
Beberapa detik kemudian, Dennis melepaskan tautan bibirnya lalu tertawa kecil menatap wajah Hana yang memerah.
Dennis menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya dengan napas ngos-ngosan.
Hana menoleh ke arah suaminya dan tertawa.
"Aku tidak akan melakukannya, jika kamu belum siap," ujar Dennis menoleh dan menatap istrinya.
"Aku siap, sayang!" Hana kini balik menyerang suaminya dengan ciuman di bibir.
Dennis yang mendapatkan kesempatan tak menyia-nyiakan, dia pun menyeimbangi permainan.
Pertempuran hati dan tubuh dua insan yang baru menikah di atas ranjang kamar hotel pun terjadi. Mereka begitu menikmatinya.
***
Dennis membuka tirai jendela sehingga cahaya matahari menembus kaca kamar.
Hana bergeliat ketika cahaya matahari menerpa wajahnya. Perlahan, dirinya membuka mata.
Dennis duduk di sisi ranjang tepat di sebelah istrinya lalu mengecup keningnya. "Selamat pagi, sayang."
"Kenapa cepat sekali paginya? Aku sangat mengantuk," ucap Hana pelan.
"Kamu ingin kita melakukannya lagi?" bisik Dennis.
"Aku masih lelah, sayang."
"Mandilah, biar seger."
"Tubuhku sulit untuk bangun," ucap Hana manja.
Dennis segera mengangkat tubuh istrinya.
Hana memekik.
"Kita akan mandi bersama!" Dennis melangkah ke kamar mandi.
Keduanya membersihkan tubuhnya bersama-sama di ruangan tersebut.
Sejam berada di kamar mandi, Dennis kembali menggendong tubuh istrinya dan meletakkannya di ranjang.
"Jangan bilang kamu akan memintanya lagi!
Dennis tersenyum.
"Jika mau nanti malam kita lanjutkan, karena aku sangat lelah dan lapar!" kata Hana.
"Aku tidak akan mengganggumu lagi, cepatlah berpakaian. Kita sarapan di bawah!" ujar Dennis.
__ADS_1
Pasca menikah yang terjadi dikediaman Harsya, malam itu juga Hana dan Dennis menginap di hotel yang telah di pesan.
"Makan di sini saja, aku sangat sulit berjalan. Malu jika orang-orang melihatku begini," ujar Hana.
"Baiklah, aku akan menelepon pelayan hotel untuk mengantarkan sarapan untuk kita," ucap Dennis.
Tak menunggu lama, pesanan keduanya pun datang. Dennis dengan sabar, menyuapi istrinya yang hanya bisa rebahan di ranjang.
"Kamu tidak makan?"
"Selesai kamu, aku akan makan."
"Kamu tidak mau makan bekas mulutku?"
Dennis terdiam.
"Udara saja saling bertukaran, apa kamu tidak sudi kita satu sendok?" tanya Hana.
Tanpa menjawab Dennis menyuapkan makanan ke mulutnya.
Hana yang melihatnya tersenyum.
Karena aktivitas semalam menguras cukup banyak tenaga ditambah kegiatan keduanya di kamar mandi lagi. Semua makanan yang dipesan, tak bersisa sedikit pun.
"Kamu ingin jalan-jalan ke luar atau tetap di sini?" tanya Dennis.
"Di sini saja, aku sangat mengantuk dan ingin tidur," jawab Hana.
"Tidurlah, jika waktunya makan siang aku akan membangunkanmu," ujar Dennis.
"Terima kasih, suamiku." Hana memajukan bibirnya ingin mencium.
Gegas Dennis mendekat dan mengecupnya.
Hana yang terkejut lantas menggerutu, "Kenapa dicium, 'sih?"
"Kamu memancingku," jawab Dennis santai.
Hana mendengus.
"Cepat tidur, kalau tidak aku akan melahapmu!" Dennis menaikkan kedua alisnya.
Hana segera berbaring, memunggungi suaminya dan memejamkan matanya.
"Kakak, kenapa tidak ke kantor?"
Dennis tertawa.
"Kakak...."
"Kak Hana lagi tertidur, kamu mau dimarahinya?" Dennis balik bertanya.
"Kakak, siapa yang akan mengantar jemputku ke kantor?" tanya Dayna.
"Ada Alvan atau sopir, Day. Kakak juga akan resign dari kantor Paman Darrell."
"Oh, tidak. Aku tak mau terus bertemu dengannya."
Dennis tertawa lagi.
"Kakak, aku sangat malas bertemu dengan adik sepupumu itu!"
"Apa alasanmu tidak menyukainya?" tanya Dennis.
"Aku tidak mencintainya dan dia katanya menyukaiku."
"Bukankah lebih baik dicintai?" tanya Dennis.
Dayna terdiam.
"Kakak tutup teleponnya," ucap Dennis.
"Kakak mau ke mana?" tanya Dayna.
"Kakak ingin bermesraan dengan Hana," jawab Dennis lalu menutup ponselnya.
Dayna yang kesal menghentakkan kedua kakinya dan mengepal tangannya.
"Day...!"
Dayna mendongakkan wajahnya dan terperanjat.
"Mau makan siang atau tidak?"
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu masuk ke ruanganku?" tanya Dayna.
"Papa kamu!"
"Mau apa kamu ke sini?"
"Mengajakmu makan siang di rumah mama."
"Kenapa tidak di restoran Paman Rama?"
"Sesekali makan di rumahku," jawab Alvan.
"Aku...."
"Yang lainnya juga di sana," potong Alvan.
"Benarkah? Kamu tidak berbohong?"
"Iya."
Dayna akhirnya menerima ajakan makan siang di rumahnya Paman Alpha.
Sesampainya di sana beberapa sepupunya Dayna berdatangan.
"Elra tidak ikut?" tanya Dayna kepada
"Tidak, dia lagi di luar kota dengan papanya," jawab Bryan.
"Oh, begitu."
Tujuan Astrid mengundang para keponakannya karena Alana sedang berulang tahun, jadi dia membuat acara kecil-kecilan sebagai ajang silaturahmi mereka yang mungkin suatu saat takkan mungkin dapat berkumpul lagi seiring berjalannya waktu.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau Alana berulang tahun?" tanya Dayna pelan di samping Alvan.
"Mama tidak memberitahu aku," jawabnya.
"Aku jadi segan tidak membawa kado," ujar Dayna.
"Karena kamu calon menantu di rumah ini, itu tidak menjadi masalah," kata Alvan tersenyum.
Dayna lantas menyipitkan matanya.
"Aku hanya bercanda," bisiknya.
Sementara di hotel, Hana membuka matanya. Mengedarkan pandangannya menatap jam di dinding menunjukkan pukul 1 siang.
Hana lantas bangkit dan duduk, lalu memeluk suaminya dari belakang. Meletakkan dagunya di bahu.
Dennis yang sedang menggunakan laptopnya, melirik istrinya dan berkata, "Maaf, lupa membangunkanmu."
"Lagi apa?" tanya Hana.
"Mengerjakan beberapa pekerjaan kantor."
"Kenapa tidak libur?" tanya Hana lagi.
"Aku harus menyelesaikan ini semua sebelum resign," jawab Dennis lagi.
"Setelah itu kamu mau ke mana?"
"Mengikuti kamu ke mana saja," jawab Dennis menutup laptopnya, lalu mengarahkan wajahnya kepada istrinya.
"Aku yang akan mengikuti kamu!" Hana mengecup pipi suaminya
"Resepsi pernikahan sebulan lagi, lalu aku terbang ke luar negeri membantumu mengurus perusahaan dan setelah itu kita balik kemari."
"Kamu akan menggantikan posisiku di kantor," ujar Hana.
"Lalu kamu?"
"Aku akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk kalian."
Dennis tersenyum sembari menggenggam jemari tangan istrinya lalu mengecup punggungnya.
"Terima kasih, sudah memilih aku menjadi pendampingmu."
"Aku juga, terima kasih telah mencintaiku dan mengejarku meskipun kamu melakukan sesuatu yang sulit dimengerti," ucap Dennis.
"Aku mencintaimu, suamiku!" Hana memeluk Dennis.
"Aku juga, sayang!"
Dan keduanya kembali beradu di atas ranjang.
__ADS_1