Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 42 - Pindah Ke Luar Negeri Sementara


__ADS_3

Sebulan berlalu pasca resepsi pernikahan...


Dayna menangis sesenggukan ketika Dennis dan Hana hendak terbang ke luar negeri.


"Siapa yang akan menemani aku kalau kalian berdua pergi?" tanya Dayna terisak.


"Kan, ada aku," jawab Alvan mengalungkan tangannya di bahu Dayna.


Dengan cepat gadis itu menurunkan tangan Alvan.


"Kami di sana hanya enam bulan saja, tidak lebih," ujar Hana.


"Itu terlalu lama," ucap Dayna.


"Itu sangat singkat, apalagi kami ingin berbulan madu di sana," kata Dennis merangkul pinggang istrinya.


"Kalian sungguh tega, bermesraan tapi aku di sini gundah," ujar Dayna.


"Maka segeralah menikah," celetuk Hana.


"Papa belum mengizinkannya, lagian dengan siapa diriku akan menikah," ceplos Dayna.


Alvan hanya mengulum senyum.


Dennis menepuk pelan bahu Dayna, "Kamu itu sudah dewasa, jangan selalu mengikuti kakak. Ada Alvan dan lainnya yang akan menjadi temanmu."


"Dia tak asyik, Kak." Dayna melirik Alvan.


"Lama-lama dia juga akan asyik dan menarik," celetuk Hana lagi.


"Apa yang dikatakan Kak itu benar? Aku akan menjadi pria selalu kamu rindukan." Alvan berkata bangga.


"Kami harus berangkat sekarang, jika kalian ingin ke sana ikut rombongan orang tuaku dan Paman Biom seminggu lagi," ujar Hana.


"Sepertinya aku tidak bisa ikut," kata Dayna.


"Kalau begitu kita akan bertemu jika kami kembali," ucap Hana.


"Oh, aku akan sangat merindukan kalian!" Dayna memeluk erat kakak sepupunya.


Hana dan Dennis meninggalkan Dayna dan Alvan yang mengantarkan mereka ke bandara.


Setelah pesawat Hana dan Dennis berangkat, Dayna dan Alvan lantas pulang.


Di dalam mobil, Dayna hanya diam sesekali menyeka air matanya.


"Mau es krim?" tawarnya.


"Tidak," tolak Dayna.


"Mau bunga?"


"Tidak!"


"Cokelat?"


"Tidak, Alvan!"


"Lalu kamu mau apa?"


"Pergi dan jangan dekati aku!"


Alvan sekilas menoleh dan berkata, "Baiklah!"


Mobil kini berhenti di depan kediaman Darrell, mengucapkan terima kasih Dayna bergegas turun dan Alvan melesat ke rumahnya.


**


Beberapa jam kemudian...


Hana dan Dennis tiba di apartemen miliknya, pelayan beserta pengawal tidak tinggal seatap dengan mereka karena keduanya telah menikah.


Pelayan dan pengawal yang menjaga serta mengawasi Hana tinggal di sebelah mereka.


Meletakkan koper begitu saja, Dennis menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Sedangkan Hana, bergegas membersihkan diri.


Selepas dari kamar mandi, Hana melihat suaminya telah memejamkan matanya. Hana mendekatinya dan mengecup pipinya.


Dennis mengerjapkan matanya dan menatap istrinya.

__ADS_1


"Jangan tidur, ayo mandi. Pelayan sudah menyiapkan makan malam buat kita," ujar Hana.


Dennis mengangguk meskipun mata masih mengantuk.


Beberapa menit kemudian, Dennis dan Hana kini sudah berada di meja makan. Keduanya menikmati makan malam bersama.


"Aku sudah mengabari orang tuaku dan ibumu," ujar Hana.


Dennis manggut-manggut.


Hana memperhatikan suaminya tampak pucat, gegas menempelkan telapak tangan di keningnya. "Suhu tubuhmu tinggi!"


Hana mulai khawatir, ia lantas berdiri namun tangan Dennis menggengam jemarinya.


"Jangan khawatir, Han!"


"Kamu demam," ujar Hana.


"Besok juga sehat," ucap Dennis yakin.


"Minum air yang banyak, Nis." Hana menyodorkan gelas berisi air mineral.


Dennis menengguknya sampai kandas.


"Aku akan buatkan sup ayam," ujar Hana.


"Memangnya kamu bisa?" tanya Dennis.


Hana tersenyum nyengir.


"Jika tidak pandai, jangan mencobanya sekarang. Nanti, kalau aku sudah sehat kamu harus belajar memasaknya," ucap Dennis.


"Kamu takut kalau masakan aku membuat tambah sakit?" tanya Hana.


Dennis tersenyum tipis.


"Aku juga tidak akan memasak, jika kamu tak memintanya," ujar Hana.


"Kamu harus belajar memasak, tapi kutakkan memaksa," ucap Dennis.


"Hm, baiklah. Sekarang kamu habiskan makannya, aku akan menyuruh pengawal membeli obat," Hana mengakhiri makan malamnya.


"Sayang, tidak perlu beli obat," ujar Dennis.


Dennis terpaksa mengiyakan.


Tak berselang lama, Hana kembali duduk mendampingi suaminya.


Selesai makan, obat yang dipesan pun datang. Hana menyiapkan semuanya, awalnya Dennis menolaknya karena tak terbiasa.


Hana terus membujuk suaminya agar mau minum obat.


"Baiklah, aku akan meminumnya. Tapi, cukup sekali saja," ujar Dennis.


"Iya."


Selesai meminum obat, Dennis merebahkan tubuhnya di ranjang.


Hana terus berada di samping suaminya yang tertidur sembari memainkan ponselnya.


Tepat jam 1 dinihari, Dennis terbangun. Menoleh ke samping melihat Hana yang tertidur sambil duduk.


Dennis lantas bangkit, menepuk pelan pipi istrinya, "Sayang."


Hana mengerjapkan matanya.


"Kenapa tidurnya begitu?" tanya Dennis pelan.


"Aku sedang menjagamu," jawab Hana dengan mata masih mengantuk.


"Sayang, aku hanya demam saja. Kamu tidak perlu khawatir," ucap Dennis.


"Jelas aku khawatir, kita jauh dari orang tua dan keluarga lainnya. Hanya ada pelayan dan pengawal berada dekat kita," ujar Hana.


Dennis tersenyum lalu mengecup kening istrinya.


"Dennis..."


"Sekarang waktunya tidur, aku akan sangat bersalah jika kamu sakit," ucap Dennis.

__ADS_1


Hana manggut-manggut.


Dennis merebahkan tubuhnya dan menepuk lengan tangannya.


Hana lantas meletakkan kepalanya di atas lengan tangan suaminya.


"Jangan melamun lagi, ayo tidur!"


Hana membenamkan wajah di dada suaminya yang tidur menghadapnya, tak lama kemudian memejamkan matanya.


***


Suara kicau burung membangunkan keduanya dari tidurnya.


Hana membuka matanya, memperhatikan wajah suaminya yang sedari tadi telah bangun.


"Kamu menungguku turun dari sini?" tanya Hana.


"Dari tadi aku ingin turun, tapi kutak mau mengganggu tidurmu," jawab Dennis, melirik lengan tangannya yang ditimpa kepala istrinya.


Hana yang sadar, gegas meminggirkan kepalanya.


Menarik lengannya, Dennis kemudian bangkit dan duduk.


"Aku akan membuatkan sarapan untukmu," Hana menyibak selimutnya.


"Jangan sampai hangus lagi, sayang!" singgung Dennis.


"Iya, sayang. Aku tidak bisa janji," Hana tersenyum nyengir.


Sepulang dari hotel, Dennis mengajak Hana tinggal di rumah kecil miliknya. Beruntung, istrinya itu tak menolaknya. Ketika sarapan pagi Hana mencoba memasak nasi goreng tapi malah hangus. Alhasil, pelayan dari rumah Harsya dikirim untuk memasak.


Hana mencuci wajah sebelum melangkah ke dapur.


Mengikat rambutnya, Hana menghidupkan kompor dan meletakkan kualinya.


"Mau masak sarapan apa hari ini?" tanya Dennis dari arah belakang.


Hana mengendikkan bahunya.


Dennis lantas segera mematikan kompornya.


"Kenapa dimatikan kompornya, Nis?"


"Kamu saja belum tahu akan masak apa. Daripada itu kuali hangus lebih baik pikirkan dahulu," jawab Dennis.


"Enaknya masak apa, ya?" tanya Hana.


"Aku tidak tahu," jawab Dennis lagi.


"Kasih solusi, sayang." Pinta Hana.


"Buatkan teh dan roti panggang saja!" saran Dennis.


"Baiklah, itu sangat gampang dan mudah," ucap Hana menyunggingkan senyumnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan Lupa Mampir Ke Karyaku Lainnya...


- Jangan Mengejarku, Cantik!


- Mengejar Cinta si Tampan


- Menikahi Putri Konglomerat


- Fall in Love From The Sky


- Ibu Pilihan Aku


- Bertahan Walau Terluka


- Bisnis, Benci dan Cinta


- Marry The Star


- Marsha, Milik Bara


- Salah Jatuh Cinta

__ADS_1


- Calon Istriku Musuhku


Selamat Membaca dan Sehat Selalu 🤗


__ADS_2