
Dua bulan kemudian...
Dennis dan Hana telah kembali ke tanah air karena Anaya meminta sepasang suami istri itu untuk pulang.
Akhirnya, keduanya balik ke tanah air. Di bandara Anaya dan Harsya memeluknya.
"Aku kangen sekali dengan Ibu," kata Hana memeluk erat wanita yang melahirkannya itu.
"Ibu juga, Nak." Anaya membalas pelukan putrinya.
"Kalian terakhir bertemu seminggu lalu, " celetuk Harsya.
"Kamu tuh tidak pernah mengerti perasaan wanita dan seorang ibu," omel Anaya.
"Iya, maaf." Kata Harsya yang salah mengajak debat dengan istrinya.
Dennis hanya mengulum senyum.
"Kamu tidak boleh ke luar negeri lagi, di sini saja jika hamil Ibu tak repot harus mondar-mandir naik pesawat mengunjungimu," ucap Anaya.
"Aku dan Dennis memang memutuskan akan tinggal di sini, karena urusan pekerjaan di sana sudah selesai," kata Hana.
"Kalian tinggal bersama kami, ya." Pinta Anaya.
"Tidak, Bu. Kami akan menempati rumahnya Dennis, kasihan jika harus kosong," jelas Hana.
"Biarkan mereka tinggal terpisah dengan kita, sayang." Kata Harsya. "Mereka masih tinggal di kota yang sama jadi kamu bisa bertemu setiap waktu," lanjutnya.
Anaya manggut-manggut paham.
Sebelum ke rumah Dennis, sepasang suami istri itu pergi menuju kediaman Harsya meskipun barang-barang milik mereka telah dibawa para pengawal dan sopir.
Hana memeluk adik laki-lakinya karena tidak ikut menjemput di bandara. Mereka menikmati sarapan bersama.
Dua jam kemudian, Hana dan suaminya pamit pulang ke rumah.
Di perjalanan, Hana tertidur di bahu suaminya karena sangat begitu lelah.
Tak sampai 30 menit, keduanya tiba di rumah.
Dennis menepuk pelan pipi istrinya. "Sayang, ayo bangun. Kita sudah sampai."
Hana mengerjapkan matanya dan menatap suaminya.
"Lanjut tidur di kamar," ucap Dennis.
"Tapi, jangan mengganggu aku, ya." Kata Hana.
Dennis mengiyakan.
Keduanya keluar dari mobil dan masuk ke rumah. Hana melangkah ke kamar mandi lalu membersihkan diri.
Selepas mandi, naik ke ranjang dan memejamkan matanya.
Giliran Dennis yang membersihkan diri. Setelah itu, ia tak segera ke ranjang karena harus memeriksa laporan kerjaannya.
Walaupun, tidak bekerja lagi di luar negeri tapi ada beberapa laporan yang harus segera dia setor.
Seorang pelayan wanita menyediakan teh hangat di meja.
"Terima kasih," kata Dennis.
"Iya, Tuan." Pelayan wanita itu pun berlalu.
Lagi mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba terdengar suara dari arah luar. Gegas, Dennis menutup laptopnya dan berjalan menuju halaman rumahnya.
Seorang wanita paruh baya tampak kedua tangannya di pegang oleh kedua pengawalnya Harsya.
"Ada apa ini?" tanya Dennis.
"Dia memaksa masuk, Tuan." Jawab salah satu pengawal.
Dennis mendekati wanita itu dan bertanya dengan ramah, "Ibu cari siapa?"
__ADS_1
"Aku ingin bertemu dengan Harsya!"
Dennis terdiam.
"Aku ingin ingin dia mati!" ucapnya dengan lantang.
"Di sini tidak ada yang namanya Harsya, mungkin Ibu salah orang," ujar Dennis.
"Kamu tidak perlu berbohong, aku pernah melihatnya masuk ke rumah ini!" Katanya dengan lantang.
"Saya hanya berdua saja tinggal di sini bersama istri, tidak ada yang bernama Harsya," ucap Dennis.
"Lepaskan aku!" Wanita menarik-narik tangannya.
"Lepaskan dia, biarkan pergi," perintah Dennis.
"Tuan, kami takut dia akan mencelakakan kalian," ujar salah satu pengawal.
"Bawa keluar dia dan tutup pintu gerbangnya," ucap Dennis.
Kedua pengawal mengiyakan.
Dennis masuk kembali ke dalam namun teriakan makian masih terdengar, apalagi dengan suara lantang wanita itu berkata akan menghabisi nyawa ayah mertuanya.
Pintu kamar terbuka, terlihat Hana dengan rambut kusut dan mengucek mata keluar.
"Sayang, sudah bangun?" tanya Dennis mendekati istrinya.
"Kenapa berisik sekali di luar? Ada apa?" Hana balik bertanya.
"Bukan siapa-siapa, hanya tetangga sebelah ada tamu," jawab Dennis berbohong.
"Oh."
"Masuk ke kamar dan kembalilah tidur," ucap Dennis.
"Kamu tidak istirahat?"
"Iya, ini aku mau istirahat. Duluan saja, nanti aku akan menyusul," jawab Dennis.
Membuka pintu kamarnya dan kembali naik ke ranjang lalu tertidur.
Tak lama kemudian, Dennis masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
"Siapa wanita itu? Ada hubungan apa dengan ayah? Tidak mungkin ayah mengkhianati ibu?" batin Dennis bertanya.
Selesai makan malam, Dennis mengajak Hana ke rumah orang tuanya dengan alasan jika ada yang ingin dia sampaikan.
Setibanya di sana tampak beberapa mobil berjejer di halaman.
"Kenapa ramai sekali?" tanya Hana kepada suaminya.
"Aku tidak tahu," jawab Dennis menggenggam tangan istrinya memasuki rumah mertuanya.
Tampak Paman Alpha, Paman Biom, Paman Rama dan Paman Randy duduk di ruang tamu bersama dengan Ayahnya Hana.
"Kamu dengan Ibu, aku ingin bicara pada mereka," ujar Dennis.
Hana mengangguk.
Dennis bergabung bersama pria paruh baya lainnya.
Hana mendekati ibunya dan bertanya, "Kenapa Paman-paman pada berkumpul, Bu?"
"Iya, Bu. Kenapa tiba-tiba mereka berkumpul?" sahut Hanan yang juga heran dengan kedatangan para pamannya secara mendadak. Karena mereka juga tidak mengadakan acara apapun.
"Ibu juga tidak tahu, biarkan itu menjadi urusan mereka. Kalian pergi tidurlah sana," perintah Anaya.
Hana dan adiknya mengikuti perintah sang ibu.
Hana mengajak ibunya mengobrol di kamar orang tuanya sementara Hanan menghabiskan malam di kamar pribadinya.
Harsya mengajak mereka menuju ruang kerja pribadinya. Dia juga menyuruh untuk menutup pintu.
__ADS_1
Sebelum kedatangan mereka, Dennis mendapatkan telepon dari mertuanya karena tahu jika ada seseorang yang mencoba memasuki kediaman menantunya.
Dennis menjelaskan yang terjadi.
Harsya lantas menyuruh Dennis mengajak Hana menginap dirumahnya tanpa memberitahu kejadian tadi siang.
"Dennis, untuk sementara kalian tinggal di sini. Menghindari sesuatu yang tidak diinginkan," ujar Harsya.
"Sebenarnya siapa wanita itu, Ayah? Kenapa dia mengancam?" tanya Dennis.
"Mungkin Alpha atau Biom yang akan menjelaskannya," ucap Harsya.
"Dennis, wanita itu sebenarnya masih ada kaitan keluarga dengan Paman Randy." Jelas Alpha.
Dennis lantas mengarahkan pandangannya kepada Randy.
"Dia adalah adik angkatnya ayahnya Paman Randy," ucap Biom.
"Kenapa dia ingin mengancam ayah?" tanya Dennis.
Alpha menjelaskan masa lalu Harsya dengan wanita itu yang membuatnya sampai sekarang menyimpan dendam.
"Bukan hanya kalian saja, Paman Randy juga mendapatkan ancaman beruntung dia tak mengganggu Elra dan Rana," jelas Harsya.
Dennis tak menyangka jika keluarga Harsya terutama ibunya Hana pernah terancam keselamatannya karena kesalahan yang diperbuat oleh orang lain.
Dennis mengangguk paham mendengar penjelasan ayah mertuanya dan para pamannya.
"Jangan pernah memberitahu hal ini kepada Hana dan adik-adikmu, kami takut mereka tak nyaman dan tidak tenang," harap Harsya.
"Iya, Yah." Kata Dennis.
"Lalu apa yang akan kita lakukan, Kak?" tanya Randy.
"Anak buah kita sudah membawa Cintya ke rumah sakit jiwa," jawab Harsya.
"Apa hukuman yang diberikan tidak membuatnya jera?" tanya Rama.
"Entahlah," jawab Harsya lagi.
"Memang sebaiknya dia berada di sana dan dalam pengawasan ketat, biar tak mengganggu keluarga kita," ujar Biom.
Harsya manggut-manggut setuju.
"Dan sementara ini, jika kemanapun Hana pergi selalu berada di dekatnya. Karena dia tak pernah tahu wajah putrinya Tuan Harsya," ucap Biom.
"Karena target utamanya dia adalah aku dan Kak Harsya," timpal Randy.
Dennis menuju kamarnya setelah pembicaraan serius dengan para orang tua.
Sesampainya di kamar, Dennis gegas mengganti pakaiannya lalu mencuci wajah.
Hana lantas bertanya ketika suaminya telah keluar dari kamar mandi, "Kalian tadi membicarakan apa?"
"Bukan apa-apa," jawab Dennis merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
"Sepertinya sangat serius, kamu tidak ingin menjelaskannya kepadaku?"
"Sayang, pembicaraan kami tidak terlalu penting."
"Jika tidak terlalu penting kenapa ada Paman Alpha dan Paman Rama?"
"Ini hanya percakapan antar pria," jawab Dennis.
"Kenapa Hanan tidak diajak juga?"
"Hanya pria dewasa saja," jawab Dennis lagi.
"Kamu ingin main rahasia denganku?" tanya Hana dengan bibir mengerucut.
Dennis lantas bangkit dan duduk lalu menatap istrinya, mengarahkan telapak tangannya di pipi. "Tidak ada yang kurahasiakan, aku sangat mencintaimu. Tidurlah, aku mengantuk." Tersenyum kemudian merebahkan tubuhnya kembali.
Hana merebahkan tubuhnya dan menatap wajah suaminya yang telah memejamkan matanya.
__ADS_1
Hana sangat penasaran dengan pertemuan suaminya, ayahnya dan para pamannya.
"Pasti mereka menyembunyikan sesuatu dariku," Hana membatin.