
Tiga hari kemudian...
Putri keduanya Alpha dan Astrid berulang tahun ke 17. Pesta kecil-kecilan diadakan di kediaman mereka.
Teman dan saudara yang tinggal di dalam kota hadir termasuk Harsya beserta putrinya juga turut datang.
Dennis malam ini mengajak Winny datang ke acara ulang tahun sepupunya itu tentunya membuat Hana terbakar cemburu.
Dennis menggenggam tangan Winny saat memperkenalkan wanita itu kepada seluruh keluarga besarnya.
Hana memilih menghindari keduanya. Diam-diam ia pergi meninggalkan acara.
Alana menghampiri Anaya yang sedang bersama dengan Dennis dan Winny. "Bibi, ke mana Kak Hana?"
Anaya mengedarkan pandangannya mencari putrinya, "Tadi di sini bersama Bibi, tapi sekarang entah di mana dia."
"Mungkin Kak Hana menyapa keluarga lainnya," ucap Alana.
"Mungkin," Anaya menyetujui ucapan putrinya Astrid.
Hingga acara berakhir, Hana tak menunjukkan batang hidungnya.
"Sayang, di mana Hana?" tanya Harsya pada istrinya.
"Dari tadi aku tidak melihatnya, coba kamu telepon dia," Anaya menyarankan.
Harsya menghubungi putrinya namun tak dijawab.
"Bagaimana?"
"Ponselnya aktif tapi dia tak menjawabnya."
"Coba hubungi lagi," pinta Anaya.
Harsya menghubungi kembali putrinya.
"Halo, Ayah."
"Kamu di mana?" tanya Harsya.
"Aku di rumah, Yah."
"Kenapa di rumah?" tanya Harsya lagi.
"Aku kurang sehat, Yah." Jawab Hana berbohong.
"Kenapa tidak memberitahu kami?"
"Maaf, Yah. Aku tidak mau kalian khawatir," jawab Hana lagi.
"Kami akan segera pulang," ucap Harsya.
"Jangan, Yah. Aku hanya butuh tidur, maklum beberapa hari ini pekerjaan kantor menumpuk," Hana memberi alasan agar orang tuanya tak memeriksa kondisi tubuhnya.
Harsya menghela napas.
"Ayah tenang, putrimu ini akan baik-baik saja," kata Hana.
"Istirahatlah, Nak. Selamat tidur," ucap Harsya.
"Iya, Yah."
Harsya menutup teleponnya.
"Di mana dia?" tanya Anaya.
"Lagi di rumah, tubuhnya tidak sehat."
"Kita pulang sekarang!" ajak Anaya.
"Hana hanya butuh istirahat saja. Kamu tidak perlu khawatir," ujar Harsya.
"Syukurlah."
Dennis berpamitan kepada keluarga Alpha dan lainnya. Tak lupa menghampiri Harsya dan istrinya.
Dennis lalu pergi bersama Winny tanpa bertanya keberadaan Hana.
-
__ADS_1
Di kediaman Harsya....
Hana yang begitu cemburu, berkali-kali menyeka air matanya. "Kenapa sesakit ini, sih?" gumamnya.
"Apa harus aku pergi agar tak melihat kemesraan mereka?" tanyanya lirih.
"Bagaimana aku harus menghilangkan rasa ini?" makinya dalam hati.
Hana lalu menghubungi William.
"Halo, Hana."
"Besok hari libur apa kamu memiliki waktu?"
"Maaf, Hana. Aku besok ada janji dengan seseorang," jawab William.
"Ya sudah, deh."
"Sekali lagi maaf."
"Iya, tidak apa-apa."
Hana menjatuhkan tubuhnya di ranjang menatap langit. "Kenapa hidupku jadi berantakan begini?" mengacak rambutnya.
***
Keesokan paginya, bangun lebih awal. Hana mengisi waktu liburnya dengan berolahraga di sekitar taman rumahnya.
Ponsel yang ia letakkan di bangku taman berdering tertera nama temannya. Pelayan sedari tadi menunggu menghampiri Hana dan memberikan benda tersebut.
"Halo."
"Kamu di rumah?"
"Iya."
"Kebetulan aku di kota ini, bagaimana kalau kita jumpa?"
"Baiklah, jam berapa?"
"Jam sebelas, aku tunggu di kafe Melodi."
Selesai berolahraga dan menikmati sarapan pagi, Hana bergegas membersihkan diri dan berdandan.
Jam 10 lewat 15 menit, Hana berangkat dari rumah menuju kafe yang dituju.
Perjalanan membutuhkan waktu 30 menit, Hana memarkirkan mobilnya tampak Winny berdiri di dekat jalan.
Hana menghampirinya dan mencoba menyapanya, "Hai."
"Nona Hana," Winny tersenyum ramah.
"Lagi nunggu siapa?" tanya Hana berbasa-basi.
"Dennis, Nona."
"Oh."
"Kemarin malam di pesta ulang tahun Alana, kita tidak bertemu," ucap Winny.
"Oh, kebetulan lagi kurang sehat," kata Hana bohong.
"Pantas tidak melihat Nona di sana," ujar Winny.
"Winny, awas!" Hana menarik ke kiri tubuh gadis yang ada dihadapannya.
Keduanya sama-sama terjatuh dan berteriak. Membuat seseorang di sekitar mereka menoleh.
Dennis melihat kekasihnya terjatuh berlari mendekatinya dan membantunya berdiri, "Apa ada yang terluka?" tampak raut wajah khawatir.
Hana berdiri di bantu temannya menatap pemandangan yang membuatnya hatinya hancur.
"Hana..." panggil temannya.
"Aku tidak apa-apa," Hana membersihkan telapak tangannya yang sedikit berpasir.
Winny dan Dennis menoleh ke arah Hana dan temannya.
"Ayo kita masuk!" Hana mengajak temannya.
__ADS_1
Keduanya berjalan memasuki kafe.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu dan Nona Hana terjatuh?" cecar Dennis.
"Tadi ada motor yang melaju kencang hampir menabrakku" jawab Winny.
"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa," ucap Dennis lega.
"Aku belum mengucapkan terima kasih kepada Nona Hana," ujar Winny.
"Nanti kita sama-sama menemuinya, sekarang ayo masuk!" Ajak Dennis.
Saling menggenggam tangan keduanya memasuki kafe. Sebelum mencari tempat duduk, mereka menghampiri Hana.
"Nona Hana!" sapa Winny melepaskan genggamannya.
Hana menoleh ke arah suara seraya menempelkan tisu di pergelangan tangan kirinya.
"Nona terluka?" tanya Winny.
Dennis hanya diam dan memperhatikan luka di tangan Hana.
"Hanya luka kecil saja," jawabnya.
Dennis mengingat semasa kecilnya jika Hana sosok gadis manja, luka kecil di kulitnya mampu menggegerkan seisi rumah.
"Nona, maafkan saya." Kata Winny yang merasa bersalah.
"Maaf, kenapa?" tanya Hana.
"Karena saya, Nona terluka," jawab Winny.
"Kamu tenang saja, ini hanya luka kecil sebentar juga akan sembuh," ujar Hana tersenyum.
"Kalau begitu terima kasih, Nona." Kata Winny.
Dennis juga mengatakan hal sama.
Hana mengiyakan dengan anggukan pelan dagunya.
Dennis dan Winny lalu pergi mencari tempat duduk.
Temannya Hana datang membawa obat dan plester luka duduk di sampingnya. "Sejak kapan kamu sekuat ini menghadapi luka?" tanyanya sembari mengobati luka di tangan Hana.
"Ini hanya luka kecil," jawab Hana.
"Biasanya kamu akan panik melihat darah walau secuil," ujar temannya Hana lagi.
"Luka ini tak terlalu perih, lebih sakit luka di hati," ucapnya dengan tertawa kecil.
"Kamu ini bisa saja," temannya Hana pun juga ikut tertawa.
Dennis dapat mendengar percakapan Hana dan temannya. Beruntung Winny sedang ke toilet.
"Kenapa Nona Hana pura-pura kuat padahal sebenarnya dia sangat lemah," Dennis membatin.
Beberapa temannya Hana yang lainnya mulai berdatangan ke kafe.
"Hana, bukankah itu sopirmu?" tanya salah satu teman wanitanya.
"Ya, tapi sekarang tidak. Dia bekerja di perusahaan Paman Darrell."
"Apa wanita itu kekasihnya?" tanyanya lagi.
"Iya," jawab Hana.
Dennis dan Winny lebih dahulu meninggalkan tempat namun tanpa berpamitan karena Dennis yang menginginkannya.
Hana berpura-pura tak melihat kemesraan keduanya dari mulai makan hingga di parkiran.
Tepat jam 3 sore, Hana pulang ke rumah mengendarai mobilnya seorang diri. Begitu sampai tampak Dennis duduk di teras.
"Ayah dan Ibu tidak lagi di rumah, sejam lalu mereka pergi ke rumah Tante Elia," ucap Hana sebelum Dennis bertanya.
"Saya kemari tidak ingin bertemu dengan Paman dan Bibi."
"Lalu ingin bertemu siapa?" tanya Hana.
"Nona," jawab Dennis cepat.
__ADS_1