Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 47 - S2 - Apa Permintaanmu?


__ADS_3

Seminggu berlalu.....


Mulai hari ini Dayna diperbolehkan membawa mobil seorang diri karena Alvan sudah tidak dapat mengantar jemputnya lagi.


Rafael selalu memberikan alasan akan terburu-buru berangkat ke kantor jika menjemput dan mengantar Dayna kerja.


Dayna pun maklum, apalagi jarak kantor mereka cukup jauh. Rafael harus melewati rumah orang tua kekasihnya, menuju kantornya.


Dayna terus memohon kepada Darrell agar diizinkan mengendarai mobil seorang diri.


Dan akhirnya Darrell mengizinkannya.


Pagi ini Dayna mengendarai mobil menuju sebuah restoran untuk menemui seorang klien.


Dayna pergi tanpa ditemani rekan kerja lainnya.


Sejam setelah pertemuan tersebut, Dayna kemudian pulang dan hendak kembali ke kantor.


Ditengah perjalanan, tiba-tiba mobil yang dikendarainya seketika berhenti.


Dayna begitu panik, karena dia tak paham dengan urusan mobil. Dayna lantas menghubungi kekasihnya.


"Halo, sayang!" ucap Dayna.


"Iya, Day. Ada apa?" tanya Rafael dengan suara malas dari kejauhan.


"Kamu di mana? Bisa tolong aku?"


"Aku lagi di luar kota, memangnya apa yang terjadi?" Rafael balik bertanya.


"Mobilku mogok, aku tidak mengerti," jawab Dayna.


"Telepon bengkel dong, sayang!"


"Aku tidak punya nomornya," ucap Dayna.


"Sayang, aku minta maaf tidak dapat menolongmu."


"Ya sudah, tidak apa-apa. Aku akan menelepon papa," kata Dayna kemudian menutup teleponnya.


Sejak Dayna mengatakan kalau Alvan menolak membatalkan kerja sama kepada perusahaan milik ayahnya sikap Rafael berubah. Menjaga jarak dengan dirinya.


Seorang wanita keluar dari toilet kamar lalu bertanya kepada Rafael yang baru saja selesai bertelepon, "Dari siapa, sayang?"


"Bukan siapa-siapa," jawab Rafael, lantas berdiri mendekati wanita itu lalu memeluknya.


"Kamu tidak mengkhianati aku, 'kan?" tanyanya dengan mengelus wajah Rafael.


"Tentunya tidak, sayang." Jawab Rafael tersenyum.


Dayna yang masih panik lalu menghubungi Darrell. Panggilan kedua, akhirnya di respon.


"Papa, tolong aku!" pekiknya dengan suara manja.


"Ada apa, Day? Papa lagi rapat," ujar Darrell.


"Papa mobilku mogok, tolongin aku!" pinta Dayna seperti anak kecil meminta bantuan.


Darrell menghela napas.


"Papa, apa yang harus aku lakukan?" tanya Dayna.


"Tunggu di sana, sebentar lagi Papa akan datang," jawab Darrell.


"Jangan lama-lama,.Pa!" mohonnya.


"Iya, Day." Darrell lalu menutup ponselnya.


"Ada apa dengan Dayna, Paman?" tanya Alvan yang menjadi rekan meeting-nya.


"Mobilnya mogok, jadi dia bingung mengatasinya," jawab Darrell.


"Dayna menyetir sendiri?" tanya Alvan.


"Iya, dia yang meminta."


"Kenapa Paman mengizinkannya?"


"Dia selalu merengek, siapa yang akan mengantar jemputnya? Dennis sudah menikah."

__ADS_1


"Kenapa tidak pakai sopir?" tanya Alvan lagi.


"Dia tak mau, Paman saja pusing dibuatnya." Darrell memijit pelipisnya.


"Aku akan menjemputnya, Paman."


Kening Darrell berkerut.


"Di mana alamatnya?"


"Kamu tidak boleh menemuinya," ucap Darrell.


"Kenapa?"


"Dayna akan berpikir kalau kamu ingin mengejarnya kembali," jelas Darrell.


"Aku tidak peduli, Paman. Penting saat ini Dayna baik-baik saja," kata Alvan.


Darrell menarik napas lalu mengirimkan pesan yang sebelumnya dikirimkan Dayna kepada Alvan.


Gegas, Alvan menemui Dayna.


Setengah jam kemudian, Alvan mengetuk kaca jendela. Tak lama kemudian Dayna menurunkannya.


Dayna tersenyum senang, dengan cepat membuka pintu.


"Biar sopir yang menanganinya, aku akan mengantarmu ke kantor," ujar Alvan.


Dayna mengangguk mengiyakan.


Di dalam mobil, Dayna mengucapkan terima kasih namun hanya di balas dengan gerakan dagu.


"Pasti papa yang menyuruhmu," ujar Dayna.


"Aku yang memintanya," ucap Alvan.


"Kenapa kamu mau membantuku padahal...."


"Aku hanya kasihan saja dengan Paman Darrell yang harus mengurus putri manjanya," Alvan menyela.


"Aku bukan manja, tapi....."


"Kamu kalau tidak ikhlas, tak perlu bantu aku!" Dayna mematahkan omelan Alvan.


"Begini kalau dinasehati malah dia lebih keras. Ini kejadiannya siang hari, bagaimana kalau malam apalagi tempatnya gelap gulita. Mungkin hanya mampu berteriak ketakutan!" Alvan terus mengoceh.


"Kalau malam, aku tidak akan berani keluar sendiri," ucap Dayna dengan nada rendah.


"Semoga saja apa yang kamu ucapkan benar," ujar Alvan.


"Kalau tidak percaya juga tak masalah," kata Dayna santai.


"Kenapa kamu tidak meminta bantuan kekasihmu?"


"Dia lagi diluar kota, bagaimana mungkin dapat menolongku," jawab Dayna.


"Kan, dia bisa meminta bantuan siapa untuk menolongmu," ujar Alvan.


Dayna mulai kesal dan berkata, "Kenapa kamu jadi bahas dia?"


"Aku heran saja, sebenarnya dia mencintaimu atau tidak."


"Tentunya dia mencintaiku," ucap Dayna penuh yakin.


"Semoga keyakinanmu itu tidak meleset," kata Alvan sinis.


Begitu sampai di depan gedung, Dayna turun dengan memanyunkan bibirnya. Dirinya begitu kesal, karena Alvan terus menyepelekan kekasihnya.


Alvan juga turun dan mengikuti langkah kakinya Dayna.


Gadis itu menoleh dan berhenti, "Kenapa mengikuti ku?"


"Aku tidak mengikutimu, ku hanya ingin bertemu dengan Paman Randy."


Dayna melanjutkan langkah kakinya, keduanya sama-sama memasuki lift yang sama.


Alvan berdiri tegak dengan memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


Sementara, Dayna membuang wajahnya masih dengan wajah kesal.

__ADS_1


Ketika lantai tujuan Dayna tiba, pintu lift terbuka. Namun, dengan cepat Alvan menarik lengannya dan menekan tombol penutup.


Dayna terkejut lalu menoleh ke arah Alvan.


"Kamu harus menemani aku ke ruangan Paman Randy!"


"Paman Randy bukan atasanku!"


"Kamu mau Rafael mendapatkan kerja sama itu, 'kan?"


Dayna mendengarnya dengan semangat mengangguk.


"Jadi, turuti permintaan aku jika ingin Rafael mendapatkan kontrak itu!"


"Baiklah, apa permintaanmu?" tanya Dayna.


"Sangat sulit, aku yakin kamu takkan mampu melakukannya," jawab Alvan.


"Katakan saja apa permintaanmu," ucap Dayna.


"Jika kamu melakukannya maka tidak ada kesempatan untuk bertemu dengannya lagi," ujar Alvan.


"Kenapa begitu?"


Pintu lift terbuka Alvan dan Dayna lalu keluar.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Alvan.


"Temani kamu."


"Turunlah, kerjakan tugasmu. Karena pertemuan aku dan Paman Randy tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaanmu," ujar Alvan.


Dayna mengepalkan tangannya, dirinya telah dikerjai Alvan.


"Cepat sana turun, jangan hanya makan gaji buta!"


Dayna mendengus dan bergegas pergi.


Alvan yang melihat ekspresi wajah Dayna lantas tertawa.


"Alvan!"


Seketika tawa Alvan berhenti lalu membalikkan badannya.


"Kamu sedang mentertawakan siapa?" tanya Randy.


"Hmm, itu Paman. Eh, Dayna keasyikan ngobrol dengan aku jadinya kelewatan lantai," jawab Alvan berbohong.


"Oh," ucap Randy singkat.


Alvan tersenyum nyengir.


Hampir 2 jam bertemu dengan Randy, Alvan kemudian pamit pulang. Ketika di pintu masuk dirinya berpapasan dengan Elia.


"Alvan, mau ke mana?"


"Mau balik ke kantor, Bi."


"Kenapa buru-buru? Mari makan siang bersama kami," ajak Elia.


"Terima kasih, Bi. Lain waktu saja," ucap Alvan.


"Baiklah, kalau begitu. Lain waktu kita makan bersama," ujar Elia.


"Iya, Bi."


Alvan kemudian meninggalkan ruangan papanya Elra.


Alvan turun di lantai 5, pemuda itu sengaja mendatangi ruangan kerjanya Dayna.


Dan gadis itu mendongakkan wajahnya ketika melihat Alvan berdiri dihadapannya.


"Masih mau dengan tawaranku?" tanya Alvan.


Dengan cepat Dayna mengangguk.


"Aku rasa lebih baik jangan diambil," ucap Alvan.


"Jangan berbasa-basi lagi, cepat katakan apa permintaanmu?" tanya Dayna.

__ADS_1


"Menikahlah denganku," jawab Alvan.


__ADS_2