
Selesai sarapan esok paginya, Darrell akhirnya mengajak putrinya untuk berbicara dan memberitahu alasannya.
Dayna duduk di dekat ibunya.
"Kenapa Mama kamu melarang Rafael dekat denganmu? Karena Papa yang menyuruhnya," ujar Darrell.
Dayna masih menyimak penjelasan sang ayah.
"Papa berharap kamu menikah satu atau dua tahun lagi dengan Alvan. Tapi, kamu menolaknya," lanjut Darrell berucap.
"Karena aku tidak menyukainya, Pa." Kata Dayna.
"Iya, Papa tahu dan Alvan juga akan menerima perjodohan dengan gadis lain," ujar Darrell.
"Aku senang mendengarnya, setidaknya Papa akan berhenti menjodohkanku dengannya," ucap Dayna.
"Tentang Rafael, Papa tidak menyukainya," kata Darrell.
"Kami yang menjalankan hubungan, Pa."
"Tapi, Papa yakin jika Rafael bukan terbaik untukmu, Day." Kata Darrell lagi.
"Papa berbicara begitu karena ingin menjodohkan aku dengan Alvan," ucap Dayna.
"Perasaan orang tua itu lebih peka, Nak." Sahut Nayna.
Dayna menoleh ke arah ibunya.
"Mama juga berkeyakinan sama dengan Papa kamu, lebih baik menjauhlah darinya," ujar Nayna.
"Aku sangat mencintai dia, Ma."
"Sayang, kata Hana dia sudah memiliki kekasih," ucap Nayna.
"Itu tidak benar, Rafael sendiri jika tak ada ikatan sama sekali dengan siapapun termasuk kekasih," ungkap Dayna.
"Jadi, kamu pikir Hana berbohong?" tanya Darrell.
"Bukan begitu, Pa."
"Hana dan Rafael teman dekat, bahkan pria itu ingin melamarnya tapi dia memilih Dennis," ujar Nayna.
"Karena Kak Hana menyukai Kak Dennis," kata Dayna.
"Rafael itu menyukai Hana, jadi kamu hanya sebagai pelariannya saja," ucap Nayna.
Dayna tertawa kecil.
"Seharusnya dia tak mencari wanita yang masih ada hubungan saudaranya, Papa curiga pasti Rafael memiliki niat jahat," tuding Darrell.
"Kenapa Papa berpikiran negatif begitu?" tanya Dayna ingin menangis.
"Papa kamu hanya menebak saja," jawab Nayna.
"Tapi, Papa sudah menuduh Rafael," ucap Dayna.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau mendengarkan perkataan kami. Silahkan lanjutkan hubunganmu dengannya," kata Darrell.
Dayna berangkat ke kantor, dijemput oleh Rafael. Sepanjang perjalanan, gadis itu diam.
"Ada masalah?" tanya Rafael.
"Tidak, Kak."
"Jika ada yang ingin kamu ceritakan, aku siap mendengarnya," ujar Rafael.
"Hmm, apa Kak Rafael masih menyukai Kak Hana?" tanya Dayna.
Rafael hanya tersenyum.
"Kak.."
"Kenapa kamu bertanya itu?"
"Siapa tahu saja Kakak dekati aku karena masih menyukai Kak Hana," jawab Dayna.
"Aku dekat denganmu karena kamu itu berbeda," ujar Rafael.
__ADS_1
"Yakin Kak Rafael tidak memiliki kekasih?"
"Iya, Day."
"Wanita itu?"
"Yang pernah kamu tanyakan itu?"
"Iya, Kak."
"Kami pernah menjalin hubungan hanya dua bulan, setelah itu putus."
"Kak Rafael benar menyukai aku?"
"Iya." Jawab Rafael.
Seketika senyum mengembang di bibir Dayna.
"Aku ingin kita menjadi sepasang kekasih. Apa kamu mau?"
Dayna dengan cepat mengangguk.
"Mulai sekarang, kita berpacaran," ujar Rafael.
"Iya, Kak."
Sesampainya di kantor Dayna keluar dari berpapasan dengan Alvan yang menghentikan laju kendaraannya tepat di belakang.
Alvan turun tanpa menyapa Dayna dan melewatinya begitu saja.
Dayna tampak heran dengan sikapnya Alvan.
Mobil Rafael telah berlalu, membalikkan badannya Dayna gegas mengejar langkah Alvan.
"Tunggu, Van!"
Alvan berhenti lalu menoleh.
Dayna melempar senyumannya.
"Ada apa?" tanya Alvan dingin.
"Iya," jawab Alvan membuang wajahnya.
"Aku senang mendengarnya, jadi kita bisa berteman seperti biasanya tanpa harus ada ikatan serius," ujar Dayna.
"Dua bulan lagi kami akan bertemu lalu lanjut dengan pernikahan," kata Alvan.
"Kamu belum bertemu dengan orangnya tapi mantap menikahinya," ucap Dayna tak menyangka.
"Apa yang menjadi pilihan orang tua, aku akan mengikutinya," ujar Alvan kemudian lanjut melangkah.
Alvan memasuki ruangan Randy yang kebetulan satu gedung dengan perusahaannya Darrell.
Dayna masuk ke ruangannya memulai aktivitasnya tak lama kemudian kembali keluar.
Dayna dengan sengaja berdiri di lorong ruangan Paman Randy.
Tak lama kemudian, Alvan keluar seorang diri. Dayna tersenyum senang.
Alvan hanya sekilas melihatnya lalu lanjut melangkah memasuki lift disusul Dayna.
"Bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama?" Dayna membuka pembicaraan.
"Bukankah kita memang selalu makan siang bersama dengan lainnya," jawab Alvan.
"Iya, sih. Tapi, akhir-akhir ini kamu jarang kumpul dengan kami," ucap Dayna.
"Aku sedang sibuk, tapi malam kadang bertemu dengan Hanan dan lainnya meskipun hanya sekedar minum kopi," jelas Alvan tanpa menatap gadis di sampingnya.
"Kenapa tidak mengajak aku?" tanya Dayna.
Pintu lift terbuka, Alvan memilih tak menjawab dan melangkah menuju pintu utama gedung.
Dayna tak mungkin mengekor Alvan lagi karena masih jam kerja.
Sore harinya, Dayna dijemput Rafael. Keduanya tak segera pulang, namun menuju ke sebuah kafe untuk mengisi perut dan mengobrol.
__ADS_1
"Day, perusahaanku ingin sekali bekerja sama dengan perusahaan milikmu. Apa kamu dapat mengaturnya," ujar Rafael.
"Masalah itu tanyakan pada papaku," ucap Dayna.
"Apa kamu tidak bisa membantuku?" tanya Rafael.
"Bagaimana, ya?"
"Jika perusahaan kita saling bekerja sama, pasti papamu akan merestui hubungan ini," ujar Rafael.
"Aku akan bicarakan ini dengan papa," janji Dayna.
"Terima kasih, Day!" Rafael tersenyum senang.
"Iya, sama-sama." Dayna balas memberikan senyuman.
-
Malam harinya, ketika berada di rumah Dayna menyampaikan permintaan Rafael kepada Darrell.
"Papa..."
"Iya, Day."
"Apa Papa membutuhkan beberapa furniture untuk diisi di properti Paman Harsya?"
"Perusahaan kita sudah bekerja sama dengan perusahaan milik Alvan."
"Papa tidak mau memakai produknya perusahaan Rafael?" tanya Dayna.
"Tidak, Nak. Papa sudah terlanjur tanda tangan," jawab Darrell.
"Pa, dibatalkan saja kerja samanya," ucap Dayna.
"Kamu pikir perusahaan kita main-main?" Darrell tampak tak suka.
"Papa memilih perusahaan Alvan karena menyukainya sedangkan Rafael...."
"Day, cukup. Tolong kamu bedakan antara pekerjaan dan cinta," ucap Darrell.
"Berikan kesempatan perusahaan Rafael, Pa."
"Sudah terlanjur, Day. Itu tidak mungkin dapat dibatalkan, pastinya Alvan akan kecewa," ujar Darrell.
--
Dayna yang terus didesak Rafael agar mendapatkan kerja sama tersebut akhirnya terpaksa mengajak Alvan bertemu.
Keduanya bertemu di sebuah kafe, tentunya dengan cara memohon kalau tidak Alvan enggan menemuinya.
"Kenapa memaksa ingin bertemu, ada apa?" tanya Alvan.
"Apa perusahaanmu bekerja sama dengan perusahaan milik Papa dan Paman Harsya?" Dayna balik bertanya.
"Apa kamu dapat membatalkannya?"
Seketika dahi Alvan berkerut.
"Van, bisa tidak kamu memberikan kesempatan kepada perusahaan Kak Rafael?"
"Tidak!" jawab Alvan penuh yakin.
"Van, sekali ini saja. Aku mohon," pinta Dayna.
"Tetap tidak!" Alvan menekankan kata-katanya.
"Van, perusahaan Kak Rafael akan bangkrut. Ada ratusan karyawan yang harus digaji," ujar Dayna.
"Apa kamu pikir aku tidak memiliki karyawan juga?"
Dayna terdiam.
"Kamu malam-malam bertemu dengan aku hanya mau membahas ini saja?"
Dayna tak menjawab.
Alvan lantas bangkit dan berdiri. "Aku mau pulang, sampai jumpa!"
__ADS_1
Dayna mendengus kesal.