
Hana mendengar ucapan adiknya meskipun pelan kemudian ia berkata, "Jangan pikir kalau Kakak tidak mendengar ucapan kamu!"
"Aku tidak berkata apa-apa, Kak." Hanan berkelit.
"Semoga kelak nanti kamu kalau ketemu jodoh, ngidamnya lebih parah dari Kakak," kata Hana.
"Ya ampun, Kak. Doanya kenapa harus buruk, 'sih?" Hanan geleng-geleng kepala.
"Kamu tuh selalu saja iri dengan kemesraan kami," tukas Hana.
"Siapa yang iri Kakak aku yang cantik?"
"Jangan berbohong, Kakak dapat melihat dari matamu," ucap Hana.
Hanan tersenyum menyengir.
"Sayang, sudahlah. Kasihan Hanan selalu saja dimarahi dan disalahin," ujar Dennis.
"Ternyata hanya Kakak ipar yang sangat baik," ucap Hanan.
"Jadi menurutmu Kakak tidak baik?" cerocosnya.
"Kak Hana adalah Kakak yang paling baik!" Hanan ingin memeluk tapi tangan Hana mendorongnya.
"Aku ingin peluk, Kakak." Kata Hanan.
"Calon anakku tak suka dekat dengan pria. Menjauhlah!" ucap Hana.
"Dia belum lahir saja sudah membenciku, bagaimana jika dia sudah mengoceh?" tanya Hanan.
"Pastinya dia takkan menjadi orang yang iri dengan kebahagiaan orang lain," tukas Hana.
"Astaga, kenapa dibahas lagi?" tanya Hanan.
"Sayang, ayo kita tidur saja ini sudah jam sebelas," Dennis mengajak istrinya agar tak berlarut-larut dalam perdebatan dengan Hanan.
"Ayo kita tidur, sayang. Adikku itu sangat parah, heran aku dengannya. Biasanya dia tak secerewet itu, apa mungkin dia jatuh cinta," tutur Hana.
"Ya ampun, Kak Hana. Kenapa sekarang mengatai aku cerewet?" Hanan menepuk keningnya.
"Iya, Kakak heran saja. Biasanya kamu akan diam dan tak banyak bicara, aku curiga sebenarnya kamu lagi patah hati, 'kan?" Hana memperhatikan kedua bola mata adiknya dengan dekat.
"Kak Dennis, tolong bawa Kak Hana tidur. Kepalaku pusing mendengar ocehannya," pinta Hanan.
Dennis memegang kedua lengan istrinya dan menariknya pelan menjauh dari adik iparnya itu.
"Sayang, aku belum puas mengomelinya," kata Hana.
"Sudah cukup, sayang. Ini sudah malam, kasihan para pelayan yang sedang tidur terganggu mendengar suara kalian," ucap Dennis.
Hana manggut-manggut dan melangkah bersama suaminya menuju kamar.
Sementara Hanan, mengacak rambutnya. Dirinya saja heran entah kenapa dia begitu sangat sensitif apalagi melihat kemesraan orang-orang di sekitarnya.
Hanan menarik napas lalu di hembuskannya secara kasar.
Sembari mengepalkan tangannya dan memukul pukul pelan pagar pembatas. Hanan bergumam, "Tak mungkin aku cemburu dengannya. Aku tidak menyukainya!"
****
Seminggu kemudian...
Alvan telah kembali ke kantor, tentunya dalam pengawasan Alpha dan lainnya. Dayna selalu setia menemani kekasihnya itu, sebelum berangkat kerja ia akan mengantarkannya.
__ADS_1
"Sayang, kamu tak perlu repot mengantarkan aku ke kantor," ucap Alvan.
"Aku tidak repot, Van."
"Jangan terlalu lelah, fokus saja pada pekerjaan dan rencana pernikahan kita," kata Alvan.
"Iya, aku akan makan tetap waktu begitu juga dengan tidur."
"Dan kamu tidak perlu harus ikut ke kantor aku juga."
"Kamu tidak suka, ya?"
"Bukan begitu, Day. Aku dapat pergi kerja bersama papa atau Hanan."
"Aku tidak mau dia melayani kamu di kantor dari mulai menyiapkan minuman dan makanan ringan," ujar Dayna.
Dahi Alvan berkerut, "Dia siapa?"
"Itu karyawan baru beberapa bulan yang datang ke rumah menjenguk kamu. Aku tak suka saja dengan dia," jawab Alvan.
"Sita?"
"Aku tidak tahu namanya pastinya karyawan kamu yang sok cantik dan berusaha menggodamu," ucap Dayna.
Ketika Alvan di rawat di rumah sepulangnya dari rumah sakit, karyawan di kantornya datang menjenguk.
Kedatangannya tidak sendiri, melainkan bersama beberapa karyawan yang lainnya. Sita duduk dekat dengan Alvan, mata gadis itu tak lepas dari memandanginya.
Dayna yang kebetulan juga berada di rumah kekasihnya tampak risih dengan pandangan Sita kepada Alvan.
Dayna yang tak suka miliknya diganggu, lantas meminta Alvan untuk pindah tempat duduk.
Alvan tampak bingung dirinya yang duduk di sofa harus pindah ke kursi roda.
Alvan benar-benar dibuat heran dengan kelakuan kekasihnya itu. Biasanya Dayna akan memanggil pelayan atau pengawal pria buat mengantar dan menemaninya ke kamar mandi.
Begitu tiba di ruangan yang tak terlalu besar. Alvan lantas bertanya, "Kamu juga mau menemani aku di dalam?"
Dayna tertawa sinis, "Kita belum menikah, jangan macam-macam!"
"Lalu kenapa kamu harus repot mengantarkan aku ke sini?"
"Aku cuma ingin membantumu saja. Tunggu sebentar di sini, kumau memanggil pelayan," kata Dayna.
Karena hari itu, Dayna semakin rajin menemui Alvan bahkan menemaninya ke kantor meskipun sekedar mengantarnya.
"Aku mau kamu yang melayani asisten pribadimu saja. Biarkan OB yang membuatkan minuman untukmu. Jangan pernah menyuruhnya masuk ke ruangan kerja ini!"
"Sayang..."
"Apapun laporan pekerjaannya, serahkan terlebih dahulu kepada asisten kamu," ucap Dayna.
"Iya, Day."
"Nanti siang aku akan datang kemari membawa makan siang. Jangan sampai dia menawarkan makanan untukmu," kata Dayna lagi.
Alvan manggut-manggut.
"Aku mau ke kantor, sampai jumpa nanti!"
Alvan tersenyum.
Dayna membalikkan badannya hendak melangkah ke pintu.
__ADS_1
"Dayna!"
Gadis itu pun menoleh dan memutar tubuhnya.
"Ada yang ketinggalan," ucap Alvan.
Dahi Dayna mengerut.
Alvan lalu menunjukkan bibirnya.
Seketika Dayna menyipitkan matanya.
Alvan tersenyum nyengir.
"Sebentar lagi kita menikah, jadi tahan keinginan kamu itu!"
"Iya, sayang."
"Ingat yang aku katakan, jangan pernah izinkan dia mendekatimu," ujar Dayna.
Alvan mengangguk.
Dayna membuka pintu, kemudian berlalu.
Alvan hanya dapat mengulum senyum melihat kelakuan calon istrinya yang cemburu.
Siang harinya, tepat jam 12 lewat 15 menit. Dayna datang membawa makanan yang dibelinya di restoran milik Rama.
Jika Dayna membeli di restoran tersebut selalu saja di berikan gratis terkadang bayar separuh itu bukan hanya berlaku padanya. Tapi seluruh keluarga dari sahabatnya Rama.
Dayna melangkah ke ruangan calon kekasihnya tampak Sita hendak masuk ke dalam.
Dayna segera berdehem.
Sita menoleh dan tersenyum.
"Mau apa ke ruangan Tuan Alvan?" tanya Dayna ketus.
"Saya hanya ingin bertanya apakah Tuan Alvan mau dibelikan makan siang atau tidak," jawab Sita.
"Asisten pribadinya 'kan ada, kenapa harus kamu yang melayaninya?"
"Eh, asisten pribadinya Tuan Alvan lagi keluar kantor," Sita memberikan alasan.
"Oh, begitu," ucap Dayna. "Kamu tidak perlu repot untuk menanyakan hal itu, karena saya sudah membawakan makanan untuknya," lanjutnya.
"Baiklah, Nona. Kalau memang Tuan Alvan sudah ada makan siangnya," kata Sita.
Dayna tersenyum singkat.
"Kalau begitu saya permisi, Nona."
"Iya," ucap Dayna.
Sita berjalan melewati Dayna dengan memberikan senyuman dan di balas dengan Dayna.
Tak lama kemudian sebelum memasuki ruangan kerjanya. Dayna memanggil nama Sita.
Gadis itu membalikkan badannya dan berkata, "Iya, Nona."
"Terima kasih sudah perhatian dengan calon suami saya. Lain kali kamu tidak perlu melakukannya, karena saya dan asistennya yang akan melayaninya," ujar Dayna.
Sita tersenyum tipis dan mengangguk.
__ADS_1