Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 44 - Menolak Dijodohkan Dengan Alvan


__ADS_3

Dayna selesai menikmati sarapan pagi bersama kedua orang tuanya.


"Papa tidak ke kantor hari ini, mau ke rumah sakit temani Mama kamu. Pergi dengan siapa?" tanya Darrell.


"Aku naik taksi saja, Pa."


"Alvan tidak datang?" tanya Nayna.


Dayna melihat jam di ponselnya lalu mengendikkan bahunya.


"Bagaimana kalau kita antar Dayna ke kantor terlebih dahulu?" usul Nayna.


"Tidak usah, Ma, Pa. Kalian pergi saja ke rumah sakit, tak perlu mengkhawatirkan aku." Jelas Dayna.


"Pak sopir lagi cuti, jika tidak kamu dengannya saja," ujar Darrell.


"Jika Papa mengizinkan aku mengendarai mobil, aku malah lebih senang," kata Dayna.


"Kamu tidak boleh mengendarai mobil seorang diri," larang Darrell.


"Ya ampun, Pa. Putrimu ini akan memasuki usia dua puluh tiga tahun, masih saja dilarang mengendarai mobil," ujar Dayna.


"Bagi Papa, kamu itu masih putri kecil kami. Jangan membantah perintahnya," ucap Nayna.


"Baiklah," kata Dayna pasrah.


Kedua orang tuanya Dayna lebih dahulu pergi ke rumah sakit, berdiri menunggu taksi online.


Tak lama sebuah mobil berhenti di depan pintu pagar, Dayna bergegas memasukinya.


Dayna memperhatikan ponselnya tak ada pesan atau panggilan dari Alvan.


"Tumben sekali, dia tak datang menjemputku," batin Dayna.


Setengah jam kemudian, Dayna tiba di kantor. Melakukan pekerjaan seperti hari-hari biasanya.


Makan siang, menghubungi Bryan namun sepupunya itu mengatakan sedang ada urusan di luar kantor.


Dayna mencari teman untuk makan siang bersama tetapi semua berhalangan dengan berbagai alasan.


Hanya ada 1 nama yang belum dihubungi olehnya yaitu Alvan.


Dayna mencari kontak pemuda itu, namun diurungkannya. Akhirnya, dia menyuruh OB membelikan makanan untuknya.


Dayna menikmati makan siangnya seorang diri sembari menonton drama di ponselnya.


Selesai mengisi perutnya, Dayna menghubungi ibunya.


"Halo, Ma.


"Halo, sayang."


"Apa kata dokter tentang kesehatan Mama?"


"Mama hanya kelelahan saja, kamu tidak perlu khawatir," jawab Nayna.


"Syukurlah kalau begitu, aku tenang mendengarnya."


"Fokuslah bekerja, sebentar lagi Papa kamu akan ke kantor," ujar Nayna.


"Iya, Ma."


"Sampai jumpa di rumah, sayang."


"Iya, Ma." Dayna menutup teleponnya.


Dayna lanjut mengerjakan tugas-tugasnya, jarum jam menunjukkan pukul 3 sore. Ia lalu meminta izin kepada sekretaris papanya untuk pulang lebih awal.


Pria itu pun mengiyakan.


Dayna tak lantas pulang ke rumah melainkan pergi ke Kafe Melodi.


Seorang diri, Dayna menikmati secangkir kopi hangat. Sembari menikmati alunan musik yang dimainkan beberapa orang.


Seorang pria duduk di depan Dayna melempar senyum.


"Kak Rafael!"


"Sendirian saja?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya, Kak."


"Boleh aku temani?"


Dayna tersenyum lalu mengangguk.


Keduanya pun saling mengobrol.


Hingga 2 jam kemudian, Rafael mengantarkan Dayna pulang ke rumahnya.


Sesampainya, Rafael membantu Dayna membuka safety belt membuat jantung gadis itu berdegup kencang.


"Terima kasih, Kak." Dayna berkata gugup.


Rafael tersenyum mengiyakan.


Selepas mobil Rafael pergi, Dayna membalikkan badannya hendak melangkah memasuki rumah.


"Oh, jadi sekarang dengannya?"


Dayna terperanjat.


"Kenapa tidak menghubungi aku?" tanya Alvan lagi.


"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu," jawab Dayna melewati tubuh putranya Alpha itu.


Alvan mengikuti langkah Dayna, "Kamu tanggung jawabku sekarang!"


Dayna berhenti lalu menoleh. "Memangnya kamu siapa aku? Kekasih bukan, apalagi suami."


"Aku akan segera melamarmu, Day."


Dayna tampak terkejut, dahinya berkerut.


"Mereka sudah menjodohkan kita," ujar Alvan.


"Jangan membuat lelucon!" Dayna berkata sinis.


"Aku serius, Day!"


"Pulanglah, aku tidak ingin diganggu hari ini!"


"Baiklah, aku akan pulang. Permisi!" Alvan bergegas pergi.


"Tidak mungkin Papa menjodohkan aku dengan dia, seperti tak ada pemuda lainnya saja," gumamnya.


Malam harinya selepas makan, Dayna memberanikan diri bertanya kepada kedua orang tuanya yang sedang menikmati waktu santai di ruang televisi.


"Pa, Ma, aku ingin berbicara," ujar Dayna.


"Silahkan!" ucap Darrell.


"Apa benar Papa dan Mama menjodohkan aku dengan Alvan?" tanya Dayna.


"Astaga, kenapa bocah itu tak bisa menjaga lisannya?" celetuk Nayna.


"Benar kalian ingin...."


"Iya, kami memang ingin menjodohkanmu dengan Alvan," potong Darrell.


"Kenapa harus dijodohkan, Pa?" protes Dayna.


"Semua kami serahkan pada kalian, jika tidak berjodoh mau bilang apa," jawab Darrell santai.


"Pa, karena ucapan itu Alvan selalu mengejarku," ujar Dayna.


"Bagus dong, kalau yang pria selalu mengejar si wanita," celetuk Nayna.


"Tapi, aku tidak menyukainya, Ma."


"Mama dan Papa dulu juga tak saling menyukai, seiring berjalannya waktu dan selalu mengobrol akhirnya kami jatuh cinta lanjut menikah. Bukan begitu, suamiku?" Nayna menatap penuh kasih wajah Darrell.


"Oh, tentunya!" Darrell menyentuh pipi istrinya.


"Kami ini berbeda, Pa, Ma."


"Sudah jalani saja dahulu, lagian Alvan itu putra mantan atasan Mama. Disiplin kuat dan bertanggung jawab," kata Nayna.


"Iya, Nak. Alvan itu lelaki baik, pantas kamu dengannya," sambung Darrell.

__ADS_1


"Aku tetap tidak mau, Pa, Ma!"


"Baiklah, kalau begitu. Papa akan bicara kepada Alvan untuk mencari gadis lain saja," ujar Darrell.


"Yang lebih cantik, pintar dan baik hati," Nayna menimpali.


"Terserah Mama dan Papa mencari dia jodoh seperti apa," ujar Dayna kemudian berlalu.


Nayna dan Darrell saling pandang dan tersenyum.


Di dalam kamar, ponselnya Dayna berdering tertera nama Elra. Gegas, ia menjawabnya, "Halo!"


"Kak di mana?"


"Di rumah."


"Tidak keluar malam ini?"


"Tidak, lagi malas."


"Kami ke rumah, ya." Elra meminta izin.


"Mau apa?"


"Ngobrol, Kak!"


"Ya sudah, kemarilah!"


Panggilan telepon pun terputus.


Tak sampai 30 menit beberapa sepupu Dayna datang seperti Elra, Bryan, Ryder dan Hanan.


Mereka duduk dan mengobrol di atas balkon. Tanpa minuman alkohol karena masing-masing orang tuanya tak menyukai anak-anaknya melanggar norma.


"Kak Alvan tidak dikabari?" tanya Elra.


"Alvan tadi masih sibuk," jawab Hanan.


"Sibuk apa?" tanya Ryder.


"Entahlah, aku juga tidak tahu." Jawab Hanan lagi.


"Kita telpon Kak Dennis, yuk!" usul Bryan.


"Sepertinya mereka sudah tidur," ucap Dayna.


"Coba saja, sudah lama tak mengobrol dengannya," kata Bryan.


Elra menghubunginya dengan panggilan video, tak lama kemudian tersambung dan dijawab.


"Ada apa kalian menelepon Kak Dennis?" tanya Hana.


Elra tersenyum nyengir.


"Kami ingin mengobrol dengan Kak Dennis, Kak." Jawab Dayna.


"Kalian mengganggu waktu kami berdua saja!" sahut Dennis dari arah belakang Hana.


"Maaf, Kak. Kami hanya rindu dengan kalian!" ujar Dayna.


"Kemarilah, Kayla sudah sampai di sini!" ucap Dennis.


"Kayla ke sana, kenapa tidak mengabariku?" tanya Elra.


Seluruh mata sepupunya mengarah kepadanya.


Karena di pandang, Elra gegas memberikan alasan, "Maksudnya kalau dia mengabariku, pasti ku akan ikut."


"Mereka datang dadakan karena dihubungi Kakak kalian yang begitu panik dengan kondisiku," ujar Dennis.


"Kak Dennis lagi sakit?" tanya Dayna.


"Iya, beberapa hari lalu," jawab Dennis.


"Oh," ucap Dayna singkat.


"Kapan kalian ke sini?" tanya Hana.


"Nanti kami akan kabari, Kak." Jawab Bryan.

__ADS_1


"Kami tunggu kedatangan kalian kemari!"


"Siap, Kak!" ucap Dayna, Elra dan Bryan serentak.


__ADS_2