
Dayna menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya dan menatap Alvan yang bersedekap dada.
"Aku telah menyelamatkan kamu darinya, hanya ucapan terima kasih dan permintaan maaf saja?" tanya Alvan.
"Ya, lalu aku harus melakukan apa?" Dayna balik bertanya.
"Kamu harus menikah denganku," jawab Alvan.
"Hah."
"Kenapa?"
"A... aku... tidak ingin menikah denganmu."
"Kalau begitu aku tidak terima permintaan maafmu dan akan menuntutmu," kata Alvan santai.
"Kamu mau menuntut aku, memangnya aku melakukan kesalahan apa?" tanya Dayna.
"Pertama kamu mempermainkan perasaanku dan kedua aku harus berbohong untuk melakukan rencana itu."
Dayna tertawa sinis.
"Kamu pikir aku bodoh? Mana mungkin laporan seperti itu diterima," ujar Dayna.
Alvan mencari kata-kata yang tepat untuk menaklukkan hati gadis dihadapannya.
"Sudahlah, aku mau pulang. Nanti siang, temui aku di restoran dekat pantai," ucap Dayna.
"Kamu mengajak makan siang aku?" tanya Alvan.
"Ya, iyalah. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih aku," jawab Dayna.
"Hemm, baiklah. Tapi, kita hanya makan berdua saja, 'kan?" tanya Alvan lagi.
"Tidak, Van. Pengunjung restoran yang lainnya, mau dikemanakan?"
"Maksud aku yang lainnya tidak ikut 'kan?"
"Tidak."
"Baiklah, aku akan datang sebelum jam dua belas siang," ucap Alvan.
Siang harinya, keduanya kini berada di restoran yang menyediakan aneka hidangan seafood.
"Ayo makan, Van. Aku sudah memesankan udang saos Padang kesukaan kamu dan kerang rebus bumbu nenas," kata Dayna.
"Kamu masih ingat saja kesukaan aku," ujar Alvan.
"Kita ini telah berteman dari kecil, tentunya aku hapal makanan kesukaan kamu dan lainnya," kata Dayna.
Alvan mulai menyantap hidangan dengan lahap begitu juga Dayna.
"Aku senang kamu tidak larut dalam kesedihan," kata Alvan.
"Pria seperti itu untuk apa ditangisi apalagi mama dan papa telah menjelaskannya," ucap Dayna.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Alvan.
"Tetap bekerja dan mencari pria yang aku suka."
"Kalau pria yang kamu suka begitu juga, bagaimana?" tanya Alvan lagi.
"Janganlah lagi, bantu berikan doa agar aku menemukan pria yang tepat dan kami saling mencintai," jawab Dayna.
"Bagaimana jika pria yang tepat itu adalah aku?" Alvan menatap gadis dihadapannya.
Dayna terdiam.
Alvan meraih tisu dan mengelap bibir Dayna yang belepotan bumbu saos.
Dayna membiarkan Alvan membersihkan bibir, setelah selesai mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sangat lapar, tapi jika makan perhatikan wajahmu," ucap Alvan.
"Aku terlalu bersemangat dan cukup terkejut dengan perkataan kamu yang terlalu percaya diri mengatakan itu," kata Dayna sedikit menarik ujung bibirnya.
"Aku serius, Day."
"Aku tidak mau jika suatu hari gagal, kita akan menjadi musuh," ucap Dayna.
Alvan terdiam dan mencerna ucapan Dayna jika tak ingin hubungan persahabatan mereka renggang karena masalah hati.
"Aku yakin jika suatu saat kamu akan menemukan wanita yang sangat mencintaimu, Van."
Alvan hanya tersenyum tipis dan manggut-manggut.
Selesai makan siang, keduanya meninggalkan restoran bersama-sama.
"Aku duluan, Day." Kata Alvan.
Dayna mengiyakan.
Alvan hendak membuka pintu, namun ketika matanya bertemu dengan spion sekilas melihat sosok pria yang mencurigakan menatap ke arah mobil Dayna.
Alvan membalikkan badannya lalu menghampiri kendaraan Dayna.
Dan Dayna menurunkan kaca jendelanya lalu bertanya, "Ada apa, Van?"
"Pindah ke mobilku," jawab Alvan.
"Lalu mobil ini?" tanya Dayna.
"Biarkan sopir yang mengambilnya," jawab Alvan lagi.
"Sebenarnya ada apa, Van?" Dayna keluar dari mobilnya lagi lalu menguncinya.
Mengenggam erat tangan Dayna dan menariknya, Alvan membuka pintu lalu berkata tanpa menatap karena fokus memperhatikan pria yang menggunakan masker. "Nanti aku ceritakan, cepatlah masuk!"
Dayna mengikuti perintah Alvan.
Hitungan detik, kini keduanya telah berada di dalam mobil.
Dayna mulai takut dan bolak-balik menoleh ke kanan kiri dan belakang.
Mobil perlahan meninggalkan restoran, di jalanan Alvan menceritakannya kepada Dayna membuat gadis itu menutup mulutnya karena tak menyangka.
"Buat apa dia memperhatikan aku?" tanya Dayna cemas.
"Entahlah," jawab Alvan.
"Jika begini, aku bagaimana nantinya kalau mau ke mana-mana?"
"Pergilah dengan sopir dan pengawal, kamu 'kan belajar beladiri juga."
"Iya, tapi sudah lama tak latihan," kata Dayna.
"Latihan dengan bibi, dia salah satu anak buah papaku yang beladiri-nya lumayan baik."
Dayna tersenyum nyengir.
"Kenapa? Kamu malas?" tanya Alvan.
Dayna mengangguk mengiyakan.
"Ini juga buat kamu," ucap Alvan.
Dayna diam.
Dan benar saja, sebuah motor dengan 2 orang berboncengan menghentikan laju kendaraannya Alvan.
"Mereka siapa, Van?" Dayna mulai takut.
Salah satunya mengetuk kaca jendela dengan kuat.
__ADS_1
"Tetaplah di sini!" kata Alvan.
Dayna mengiyakan.
Alvan membuka pintu secara kasar membuat pria mencurigakan itu terhuyung.
Tanpa sempat bertanya, Alvan mulai di serang. Dengan cepat dirinya menghindar dan membalas pukulan yang hampir mendarat di tubuhnya.
Dua pria itu menyerang Alvan secara bersamaan, salah satu diantaranya menggunakan senjata tajam.
Dayna geram, mengepalkan tangannya ia mencari barang-barang di mobil untuk menjadi alat bantunya.
Akhirnya, Dayna memilih payung dengan gagang panjang. Lalu, keluar dan memukul salah satunya di bagian bahu dengan kuat.
Sontak, pria itu meringis kesakitan. Tanpa, berlama-lama dan Dayna menendang perut pria itu sesuai apa yang dipelajarinya dari sang mama.
Meskipun kakinya terasa sakit, tapi tak dihiraukan Dayna. Memukul kembali payung di tubuh pria penjahat dan berteriak, "Rasakan itu!"
Pria itu tampak kesakitan.
Salah satu pria yang menyerang Alvan, lantas berlari ke arah motor karena sempat tangannya di tekuk ke belakang.
Dan pria yang habis dihajar Dayna bangkit lalu berdiri. Dayna masih kesal kembali memukul payungnya di pundak.
Dengan kesakitan, pria itu berlari menghampiri temannya.
"Aku takkan membiarkan kalian hidup tenang!" ucap Dayna dengan lantang penuh emosi.
Alvan mendekati Dayna, "Day, sudah. Cukup!" berkata dengan napas ngos-ngosan.
Kaki Dayna mulai terasa sakit, dia lantas memegang lututnya.
"Kenapa?" tanya Alvan pandangannya ke arah kaki.
"Sakit, Van." Dayna nyengir.
Alvan lantas berjongkok dan memegang lutut Dayna.
Terkejut, Dayna menarik kakinya. "Biar dipijat di rumah saja."
"Maafin, aku!" Alvan lalu berdiri.
"Buat apa?" tanya Dayna.
"Aku tidak dapat melindungi kamu dengan baik," jawab Alvan.
"Tidak masalah, Van. Aku merasa bersalah jika tak mampu menolongmu. Bagaimana kalau mereka melukaimu?"
Alvan lalu tersenyum, kemudian berkata, "Terima kasih telah memperhatikan aku."
Dayna lantas tersenyum malu.
Sesampainya di kediaman Darrell, Dayna dipapah Alvan memasuki rumah.
Nayna segera mendekati putrinya, "Kamu kenapa?"
Alvan kemudian menceritakan semuanya.
Nayna begitu terkejut.
Dayna dibaringkan di ranjang dan Nayna mulai memijit putrinya. "Karena sudah lama tidak latihan makanya tubuhmu kaku."
"Iya, Ma."
"Kalau begitu, aku pamit, Bi." Kata Alvan.
"Iya, Van. Terima kasih," ucap Nayna.
Alvan mengangguk.
Alvan juga berkata kepada Dayna, "Cepat sehat, Day."
__ADS_1
"Iya, Van. Hati-hati," ucap Dayna.
Alvan manggut dan tersenyum.