
Keesokan harinya...
Hana yang duduk di kursi penumpang belakang berkata, "Kapan kamu akan mengundurkan diri?"
"Hari ini, Nona."
"Baiklah, aku harap semoga kamu memang benar-benar pergi dari perusahaan!"
"Semoga dengan keputusan saya mengundurkan diri membuat Nona Hana senang."
"Tentunya!"
Sesampainya di depan kantor, setelah Dennis membukakan pintu. Hana berjalan dengan wajah tersenyum puas. Dia tak sabar ingin melihat pria itu hengkang dari perusahaan keluarganya.
Sejam berada di ruang kerjanya, Inka mengatakan jika Harsya menyuruh Hana menemuinya.
Hana sudah menebak kalau sang ayah akan memanggil dirinya. Dengan senang hati ia mendatangi ruang kerja pemimpin perusahaan itu.
Hana memasuki ruang kerjanya Harsya, tampak Dennis duduk di salah satu kursi.
Hana duduklah!" perintah Harsya dengan lembut.
Hana pun mengikuti perintah sang ayah.
Harsya duduk dihadapan keduanya. "Dennis ingin mengundurkan diri alasannya kamu yang memintanya. Apa benar?" mengarahkan wajahnya kepada putrinya.
Hana menoleh ke arah Dennis yang wajahnya tertunduk.
"Kenapa kamu menginginkan Dennis mengundurkan diri?" tanya Harsya.
"Aku tidak menyukainya, Yah. Aku sangat membencinya dan kutak mau dia ada di perusahaan kita." Hana menjelaskan dengan melirik Dennis di sampingnya.
"Kenapa kamu membencinya?" tanya Harsya.
"Karena dia perhatian kalian berkurang untukku," jawab Hana.
"Kami tidak mengurangi kasih sayang kepadamu, Hana." Kata Harsya.
"Ayah berkata begitu, tapi sikap dan perbuatan yang kalian perlihatkan jelas-jelas itu menunjukkan bahwa Dennis adalah segalanya!" ungkap Hana.
"Hana...."
Hana berdiri dan berkata tegas, "Ayah mau memecat Dennis atau tidak?"
"Ayah tidak akan memecat Dennis," jawab Harsya.
"Jika ayah tak mau memecatnya. Baiklah kalau begitu, aku akan pergi dari perusahaan ini!" ucap Hana.
Dennis mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah gadis itu.
"Hana, duduklah!" pinta Harsya.
"Ayah tidak pernah menyayangiku!" Hana bergegas keluar dari ruangan.
Dennis hendak mengejar Hana namun Harsya melarangnya.
"Biarkan saja!"
"Tapi, Paman...."
"Percuma, dia juga pasti akan memarahimu."
Hana yang kesal, melangkah ke ruangan kerjanya. Sesampainya, dia mengambil tas dan pergi dari kantornya.
Begitu di parkiran, Dennis membukakan pintu buat sang gadis dan berkata, "Walaupun Nona tidak bekerja di sini tapi saya tetap menjadi sopir Nona."
"Sekarang kamu puas aku menyingkir, 'kan?"
Dennis tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nona. Saya malah bersedih."
"Tidak usah berpura-pura tulus!" Hana masuk ke dalam.
Dennis mengendarai mobil menuju kediaman Harsya. Sepanjang perjalanan hingga sampai rumah tak ada pembicaraan diantara keduanya.
Hana turun dari mobil dan bergegas masuk, ia berpapasan dengan 2 orang sepupunya yang menyapanya.
Hana tersenyum tipis dan melangkah cepat.
Dayna dan Rana menghampiri Dennis, "Kakak!" sapa keduanya.
"Hai!" Dennis membalas sapaan mereka.
"Ada waktu, Kak?" tanya Rana.
"Ada," jawab Dennis.
__ADS_1
"Kami butuh bantuan Kakak," ucap Dayna.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Dennis.
"Kita bicara di taman saja, Kak." Usul Rana.
"Baiklah," Dennis menyanggupinya.
Ketiganya berjalan ke taman, tak lupa Dayna meminta pelayan membuat minuman.
Hana memandangi ketiganya dari atas balkon dengan tangan dilipat. Hatinya sangat jengkel melihat keakraban mereka.
"Bagaimana caranya menyingkirkannya dari kehidupan mereka?" batin Hana.
-
Malam harinya, Hana yang sedang merajuk memilih mendekam di kamar. Mogok makan dan bicara pada orang-orang yang dirumah.
"Tolong kamu bujuk dia, sayang!"
"Siapa yang membuatnya bersedih, harusnya dia membujuknya," ujar Anaya.
"Sayang, Hana itu sulit sekali dibujuk."
"Katakan saja padanya kalau kamu telah memberhentikan Dennis."
"Sama saja aku berbohong," ucap Harsya.
"Suamiku, Dennis bisa dipekerjakan di mana saja. Asal jangan bersama dengan putri kita."
"Bukankah kamu sendiri yang setuju kalau Dennis jadi sopir Hana?" tanya Harsya.
"Aku berubah pikiran, kasihan juga lihat Dennis selalu dimarahi Hana."
"Di perusahaan siapa aku titipkan Dennis, ya?" Harsya meminta solusi.
"Di perusahaan Kak Darrell saja," jawab Anaya.
"Aku akan menghubunginya," Harsya meraih ponsel di atas meja dan menelepon sepupunya itu.
Hampir 10 menit mengobrol, Harsya menutup teleponnya.
Anaya menunggu ucapan keluar dari bibir suaminya.
"Kak Darrell setuju."
Keduanya melangkah ke kamar putrinya, Anaya mengetuk pintu. Tak lama kemudian terbuka.
Hana hanya membuka separuh pintu kamar dan menyembulkan kepalanya. "Ada apa, Bu?"
"Apa kami boleh bicara?" tanya Anaya.
"Mau bicara apa?" Hana balik bertanya.
"Tentang Dennis, Nak." Harsya menyahut.
"Bisa tidak jangan menyebut namanya," pinta Hana.
"Izinkan kami masuk," Anaya berucap lembut.
Hana membuka pintu lebar dan membiarkan kedua orang tuanya masuk.
Anaya dan suaminya duduk di ranjang.
Hana menarik kursi di meja rias dan duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya.
"Ayah tidak mempekerjakan Dennis lagi," ucap Harsya.
"Kenapa?"
"Kamu menginginkannya, kan?" Harsya balik bertanya.
"Iya, tapi bukankah Ayah dan Ibu selalu membelanya?" singgung Hana.
"Kami hanya ingin menuruti permintaan kamu, Nak." Jawab Harsya.
Hana tersenyum lalu memeluk tubuh Harsya, "Terima kasih, Yah."
"Tapi..." Harsya tak melanjutkan ucapannya.
"Tapi, kenapa?" tanya Hana.
"Dennis akan bekerja di perusahaan Paman Darrell," jawab Harsya.
"Kenapa di kirim ke sana?" tanya Hana lagi.
__ADS_1
"Biar Dennis menjadi sopir dan asistennya Paman Darrell sekaligus menemani Dayna kemanapun," jelas Harsya.
"Kenapa harus dia?" Hana tak suka.
"Sayang, Dayna dan Dennis saling kenal. Mereka begitu akrab, apa salahnya jika Paman Darrell memperkerjakannya," ujar Anaya.
"Aku dan dia pasti bakal bertemu, Bu."
"Hana, hilangkan rasa bencimu kepada Dennis," mohon Harsya.
"Tidak, Yah. Aku takkan pernah bisa menerima dia di kehidupan kita!"
-
Di kamar mereka, Anaya dan suaminya membahas lagi sikap putrinya yang masih menganggap Dennis musuh.
"Apa sikap kita tadi salah lagi?" tanya Anaya.
"Besar sekali rasa benci Hana padanya," jawab Harsya.
"Bagaimana caranya agar mereka akur?" tanya Anaya lagi.
"Bagaimana kalau kita nikahkan saja mereka?" usul Harsya.
Hah.
"Menikah? Tentunya Hana akan menolaknya."
"Kita coba saja dulu."
***
Keesokan harinya...
Hana tampak begitu ceria pagi ini, tentunya karena Dennis tidak menjadi sopir pribadinya.
Hana menarik kursi dan mulai menyantap sarapannya.
"Kamu saja yang bicara padanya," bisik Harsya di telinga istrinya.
"Kamu yang punya ide," tolak Anaya.
"Ayah, Ibu, sedang berbicara apa? Kenapa berbisik-bisik?" Hana memperhatikan sikap kedua orang tuanya.
"Tidak apa-apa, Nak." Hana tersenyum.
"Selamat pagi, Paman, Bibi!"
Hana menoleh dan mengarahkan pandangannya ke asal suara.
"Dennis, silahkan duduk!" ucap Harsya.
Dennis pun mengiyakan.
"Kenapa dia masih di sini, Yah?" tanya Hana.
"Hanya hari ini saja, mulai besok dia akan bekerja dengan Paman Darrell," jawab Harsya.
Dennis telah mengetahui rencana pemindahannya dan ia menyetujuinya.
Sikap dan sifat yang dimiliki Dennis itu membuat Harsya berserta keluarga besarnya menyukainya.
"Dennis, ayo sarapan!" ajak Anaya.
"Terima kasih, Bibi." Dennis tersenyum singkat dan menundukkan kepalanya.
Wajah Hana tampak sinis.
"Hana, bersikap baiklah kepada Dennis. Hari ini terakhir dia bekerja," ujar Harsya.
Hana hanya diam.
"Ayah mau kamu hari ini tidak perlu ke kantor," ucap Harsya.
"Memangnya kenapa, Yah?" tanya Hana.
"Temani Dennis berkeliling kota ini. Terserah kalian mau ke mana, anggap saja sebagai perpisahan," jelas Harsya.
"Ayah, aku tidak mau!" Hana menolaknya.
"Sayang, kali ini tolong turuti permintaan kami." Anaya menimpali.
"Baiklah, aku akan menemaninya!" Hana berkata dengan wajah cemberut.
"Tapi, kalian hanya boleh menggunakan motor Dennis," ucap Harsya.
__ADS_1
Hana dan Dennis terhenyak, keduanya saling melempar pandangan.
"Biar kalian bisa berdamai," timpal Anaya.