Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 67 - Mengobrol Dengan Dayna


__ADS_3

Sebulan berlalu, Alvan masih belum beraktivitas seperti biasa. Dirinya harus duduk di kursi roda untuk mempermudahnya.


Alvan memandangi langit sore di taman seorang diri karena memang ia memintanya.


Dayna berjalan menghampiri calon suaminya dengan tersenyum. "Selamat sore!" sapanya.


Alvan menoleh dan mendongakkan wajahnya. "Sore!" lirihnya.


"Apa kamu ingin keliling rumah ini?"


"Tidak, aku sudah bosan."


"Kamu mau kembali ke kantor?"


"Iya."


Dayna berdiri berhadapan dengan Alvan lalu jongkok dan tangannya diletakkannya di paha pemuda itu.


"Jika kamu ingin kembali ke kantor, mari belajar jalan bersamaku," ajak Dayna.


"Aku tidak mau," tolak Alvan.


"Kenapa tidak mau? Kamu tak suka, ya?"


"Aku sangat berat, kamu takkan sanggup merangkulku. Biarkan pengawal atau siapa saja yang penting jangan perempuan dan anak kecil."


Dayna lantas berdiri dan berkata, "Kamu merendahkan aku?"


Alvan tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Sekarang, aku akan membantumu berjalan!" Dayna menarik tangan Alvan.


"Jangan, Day. Nanti kita bisa jatuh!" serunya.


Dayna tak peduli sehingga tubuh Alvan berdiri sigap dirinya segera memeluk dan keduanya saling menatap.


Dayna menarik kedua ujung bibirnya, Alvan dengan cepat memalingkan wajahnya.


"Ayo!" Dayna meletakkan tangan Alvan di bahunya.


Astrid melihat putranya dirangkul Dayna berjalan mendekatinya.


"Dayna..."


"Hai, Bi!" Dayna melempar senyum.


"Hati-hati, Day." Kata Astrid.


"Tenang saja, Bi."


"Jika kamu tidak mampu, panggil Bibi atau pengawal," ucap Astrid.


"Iya, Bi."


Astrid kemudian berlalu.


Alvan melangkah pelan-pelan, sebenarnya dia mampu berjalan namun tulang- tulang kakinya belum kuat untuk berdiri lama.


"Ayo, Van. Kamu harus semangat," ucap Dayna.


Alvan tak berbicara, fokus dengan langkah kakinya.


Dayna terus menuntun kekasih hatinya.


Karena lututnya bergetar, Alvan terjatuh dan menarik tangan Dayna hingga membuat keduanya saling menubruk di tanah.


Alvan jatuh dengan posisi berbaring dan Dayna berada tepat di atasnya sembari memejamkan mata.


"Day.." panggil Alvan lembut.

__ADS_1


Dayna membuka matanya dan melihat wajah Alvan yang hanya beberapa inci.


"Badanmu sangat berat," ucap Alvan.


Dayna gegas bangkit dan berkata, "Maaf, Van!"


Dua orang pengawal mendekat dan membantu Alvan berdiri. Lalu mendudukkannya di kursi roda.


Setelah Alvan mengucapkan terima kasih, kedua pengawal itu pun berlalu.


"Tidak ada luka, Day?" tanya Alvan.


Dayna menggelengkan kepalanya.


"Syukurlah!"


Dayna tersenyum.


Dayna mendorong kursi roda mendekati bangku taman lalu duduk.


"Day, apa kamu sudah tahu siapa dalang penganiaya diriku?"


Dayna sejenak terdiam.


"Day..."


"Iya, Van."


"Kamu ingin menyembunyikannya juga dariku?"


"Kami hanya ingin kamu fokus untuk sembuh. Biarkan para penjahat itu menjadi urusan para orang tua kita."


"Tapi, aku sungguh penasaran," ujar Alvan.


"Kamu janji setelah tahu hal ini harus tetap semangat untuk sehat dan sembuh," kata Dayna.


"Iya, aku janji."


"Hah, apa!" Alvan tampak terkejut.


"Dan dia juga yang pernah menyerang kita sepulangnya dari restoran seafood beberapa bulan lalu."


"Bukankah selama ini dia ditahan?"


"Iya, tapi ada anak buahnya yang membalasnya. Sebenarnya dia adalah seorang mafia. Aku sangat bersyukur jika waktu itu tidak jadi menikah dengannya," jawab Dayna.


Alvan tersenyum haru.


**


Beberapa waktu lalu tepat seminggu dirinya akan melangsungkan pernikahan dengan gadis incarannya.


Di tengah jalan Alvan dicegat 2 mobil. Beberapa orang keluar dari dalam dan menggedor kaca jendela secara paksa.


Alvan berusaha tetap tenang, ia mencoba menghubungi Hanan namun pintu mobil bagian penumpang berhasil di buka.


Alvan belum sempat menghubungi sahabatnya, salah satu pria telah membekap mulutnya.


Alvan berusaha memberontak namun tenaganya sangat lemah karena obat bius yang dihirupnya.


Alvan ditarik mundur ke samping kursi, mobilnya lalu dibawa bersama dirinya ke sebuah jalanan yang sepi.


Di tempat itu, Alvan di tarik paksa keluar. Ponselnya di hancurkan di jalanan.


Alvan masih setengah sadar berusaha melawan. Tapi, kedua tangannya di pegang oleh beberapa orang.


Tubuhnya yang sangat lemah jatuh ke tanah. Tanpa belas kasih, mereka menariknya ke tengah perkebunan yang tak ada rumah penduduk.


Alvan lalu berdiri dan secara membabi-buta mereka menghajarnya dan melemparkannya ke dalam jurang.

__ADS_1


Karena merasa aman dan hari juga telah gelap para penjahat meninggalkan Alvan yang tergeletak tak berdaya.


"Tolong!" lirihnya.


Alvan berusaha menaiki bukit jurang namun kakinya sangat lemah hingga akhirnya dirinya terperosok.


Air matanya telah menetes, dalam hatinya berkata, "Aku harus kuat dan bertahan!"


Karena sangat gelap, Alvan menutup matanya dan berteriak semampunya meminta tolong setelah itu dirinya tak mendengar apapun.


Seminggu pasca penculikan dan penganiayaan, Alvan membuka matanya dirinya telah berada di ruang rawat rumah sakit.


Tubuhnya kaku, lidahnya tak mampu bergerak. Hanya menangis yang dapat dilakukannya.


Selama masa koma, dirinya mendengar suara orang yang dikenalnya. Mereka terus bercerita memberikan semangat kepadanya. Hal itu membuat dirinya menjadi kuat.


Apalagi ketika Mama Astrid tak hentinya menangis, mengecup pipi dan keningnya.


Kekuatan Alvan bertambah ketika gadis disukainya mengungkapkan perasaannya di depan dirinya yang tengah terbaring tak berdaya.


Dayna mengatakan jika sangat menyayanginya apalagi terdengar suara isaknya. Alvan merasa bersalah karena telah membuat pujaan hatinya menangis.


Dayna keluar dari ruangannya, jemarinya perlahan bergerak memberikan respon.


Terdengar suara beberapa orang yang begitu antusias dan semangat membangunkan tubuhnya.


**


Mendengar Dayna mengatakan jika dalangnya adalah mantan kekasih calon istrinya membuat dirinya terkejut.


Bagaimana tidak? Rafael telah ditahan dan dia berpikir jika kejahatan pria itu tak terjadi lagi. Ternyata, dendamnya membuatnya gelap mata.


Dayna mengatakan alasan mengapa mereka mengikuti Alvan karena dirinya tak dikawal pengawal.


Target mereka sebenarnya adalah Dayna namun penjagaannya cukup ketat. Apalagi tahu jika Alvan adalah calon suaminya.


"Van..."


"Ya, Day."


Dayna menggenggam tangan kekasihnya. "Semoga setelah kejadian ini tidak ada lagi orang yang menyakiti kita. Waktu itu aku benar-benar sangat takut."


"Kamu mulai mencintaiku karena aku benar-benar lemah di rumah sakit, 'kan?"


"Iya," jawab Dayna jujur.


"Aku sadar jika aku sangat menyayangimu. Maaf, kalau gengsi yang membuatku menyakiti perasaan kamu."


Alvan tersenyum.


"Aku mau kamu pergi ke manapun dengan sopir atau bersama pengawal," ucap Dayna.


"Jika aku pergi mereka mengikuti aku, bagaimana aku dan kamu berbicara romantis di dalam mobil?" goda Alvan.


"Kamu ini masih begini saja, sudah berani menggodaku. Bagaimana kalau sudah sehat?"


"Aku akan segera menikahimu dan menerkam kamu!"


Dayna tertawa mendengarnya.


"Day, aku senang kamu mau membuka hati meski aku harus....."


"Cukup, Van. Jangan berkata hal itu lagi!" mohon Dayna.


"Hmmm, baiklah. Bagaimana kalau aku tidak dapat pulih seperti semula. Apakah kamu masih menerima dan mencintaiku?"


Dayna terdiam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan Lupa Mampir ke Karyaku Yang Baru Berjudul ...


Membalas Mereka Yang Menyakitiku


__ADS_2