
Sebulan berlalu...
Alvan dan Dayna akhirnya resmi menikah setelah sempat gagal karena sebuah musibah yang mengharuskan sang pengantin pria di rawat di rumah sakit dan melakukan terapi.
Sepasang anak manusia itu kini duduk di pelaminan yang di dekorasi begitu cantik dan mewah. Bagaimana tidak? Keduanya adalah anak dari seorang pengusaha terkenal bahkan paman mereka Harsya Abraham orang terkaya nomor 1 di kotanya.
Pernikahan berlangsung sangat meriah, 2 orang penyanyi ibukota bahkan di undang untuk mengisi acara.
Hanan duduk menikmati makanan bersama yang lainnya. Dalam 1 meja ada Bryan, Ryder, Elra, Alana dan dirinya.
"Alana, apa Aira datang?" tanya Elra.
"Datang, Kak. Mereka menginap di hotel tak jauh dari gedung ini," jawab Alana.
"Oh," ucap Elra singkat.
"Aku dengar dia juga akan menikah," kata Ryder.
"Iya, Kak. Bulan depan rencananya, makanya kami jika tak ada halangan akan berangkat ke sana. Kalian mau ikut?" tanya Alana.
"Jika kamu ikut, aku juga," jawab Bryan dengan cepat.
Seketika Ryder dan Hanan berdehem.
"Ada masalah kalau aku ikut?" tanya Bryan.
"Tidak," jawab Ryder dan Hanan serentak.
"Memangnya kita akan diundangnya?" tanya Elra.
"Kemungkinan iya," jawab Alana.
Beberapa menit kemudian, Aira datang bersama kedua orang tuanya tampak juga Aldo di sisi gadis itu sembari berpegangan tangan.
"Itu Kak Aira!" Alana menunjuk ke arahnya.
Semua mata yang berada di meja tersebut kini tertuju gadis dengan gaun selutut berwarna merah muda.
Alana melambaikan tangan ke arah Aira dan keluarganya.
Aira dan Aldo menghampiri keduanya tanpa melepaskan tautan jemarinya.
Hanan yang melihat sepasang kekasih itu lantas memalingkan wajahnya. Entah kenapa perasaannya tak karuan ketika menyaksikan Aira begitu bahagia dengan pria lain.
Alana dan Aira saling menempelkan pipi.
"Apa kabar, Kak?" tanya Alana.
"Kabar Kakak baik, Lan," jawab Aira.
Hanan lantas berdiri dan berkata, "Hmm, aku haus. Kalian duduklah!" tatapannya tak tentu arah.
Aldo dan Aira mengangguk.
Bryan, Ryder dan Elra heran karena gelas di depan Hanan masih berisi setengah.
"Apa dia sudah lupa kalau ini gelas minumannya?" tanya Bryan.
Ryder dan Elra mengendikkan bahunya.
"Silahkan duduk, Kak Ai, Kak Aldo!" Alana lalu berdiri.
"Hm, tidak usah Alana. Kami makan bareng mama dan papa saja," kata Aira.
"Oh, begitu. Ya sudah," ucap Alana.
Aira dan Aldo kemudian pamit pada keempatnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Hanan kembali tanpa membawa apapun.
"Katanya haus, di mana minumanmu?" tanya Ryder.
"Tidak jadi haus," jawab Hanan asal.
Dahi keempatnya mengerut.
"Ini minuman Kak Hanan!" Alana menunjuk gelas berisi es jeruk.
"Iya, aku baru ingat kalau sudah mengambil minuman," kata Hanan berkelit, padahal dirinya ingin menghindari Aira dan calon suaminya.
"Sungguh aneh!" gumam Bryan.
"Kak Hanan sudah tua, makanya sering lupa," celetuk Elra.
"Semoga saja dia tidak lupa kalau masih jomblo," ledek Bryan.
"Hei, memangnya kamu sudah punya kekasih. Belum, 'kan?" Hanan membalas ledekan sepupunya itu.
"Ini lagi usaha," jawab Bryan melirik Alana.
"Rintangan Kak Bryan sangat panjang, tak mudah mendapatkannya," singgung Elra.
Alana yang mendengarnya hanya mengulum senyum.
Tatapan Bryan kini ke arah adik sepupunya itu.
"Ngomong-ngomong kalian lihat Binar tidak?" tanya Ryder.
"Kenapa cari adikku?" tanya Bryan.
"Tidak ada apa-apa, hanya bertanya saja," jawab Ryder..
"Oh, kirain kamu ingin menggodanya," tukas Bryan.
"Siapa yang menggodanya, aku hanya ingin bertanya karena dari tadi tidak melihatnya," ujar Ryder.
Ryder manggut-manggut.
Selang 10 menit kemudian, Ryder bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju tempat yang dikatakan oleh Bryan.
Sesampainya di sana, dirinya tak melihat gadis remaja itu. Ryder lalu bertanya kepada Rana yang merupakan adik kandungnya Elra.
Setelah mendapatkan informasinya, Ryder berjalan mencarinya. Dan benar saja, Binar sedang mengobrol dengan teman-teman sebayanya.
Ryder lantas mendekatinya, "Binar, bisakah Kakak bicara sebentar denganmu?"
Binar mengiyakan.
Ryder dan Binar berjalan keluar dari ruangan acara namun tak beriringan melainkan berjarak karena takut ada yang melihat mereka.
"Ada apa, Kak?" tanya Binar.
"Mana kalung yang Kakak beri?" tanya Ryder.
Binar memegang dadanya.
"Kamu tidak suka?" tanya Ryder lagi.
"Bukan tidak suka, Kak. Tapi...."
"Tapi apa?"
"Bagaimana jika Kak Bryan atau mama bertanya. Aku harus jawab apa," ucap Binar dengan polos.
Ryder pun diam.
__ADS_1
Apa yang dikatakan Binar ada benarnya, pasti jika kalung tersebut dipakai pasti bakal ada banyak pertanyaan. Bukan hanya dari keluarganya Paman Biom tapi teman-temannya juga.
"Kenapa aku baru kepikiran?" batin Ryder.
Binar masih terlalu kecil untuk diajak menikah, usianya saja baru 17 tahun. Perjalanan pendidikannya masih panjang apalagi dia harus meniti karirnya.
"Ya ampun, kenapa aku tidak dapat bersabar menunggunya?" batin Ryder lagi.
Sementara itu, Hanan yang melihat Aira seorang diri berada di meja prasmanan bergegas menghampirinya.
Hanan menarik tangan Aira menjauh dari para tamu yang sedang mengantri mengambil makanan.
"Hanan, ada apa 'sih? Kenapa tarik-tarik aku?" tanya Aira kesal.
"Apa benar kamu akan segera menikah?"
"Iya, bulan depan. Kamu harus datang, ya."
"Kenapa bulan depan?"
"Karena waktu yang tepat bulan depan. Memangnya kenapa?" Aira balik bertanya.
"Apa kamu yakin dia pria yang baik?"
"Iya."
"Kenapa aku ragu, ya.
"Sudah deh, jangan berpikir aneh tentang calon suamiku," ucap Aira.
"Maaf!"
"Aku mau kamu bulan depan datang ke pernikahan kami," kata Aira.
"Aku akan datang bukan sebagai tamu," ucap Hanan.
Aira menautkan alisnya.
"Aku janji akan datang, selamat buat kalian!" Hanan mengulurkan tangannya.
Aira meraihnya dan keduanya saling berjabat tangan.
Hampir 2 jam berada di gedung pernikahan Alvan dan Dayna. Aira, orang tuanya dan Aldo kemudian berpamitan kepada kedua pengantin.
Aira dan Dayna saling berpelukan. "Selamat menempuh hidup baru, Day!"
"Terima kasih, Ai. Semoga pernikahanmu nanti lancar juga, ya." Harap Dayna.
"Semoga, Day. Terima kasih doanya," kata Aira tersenyum.
Setelah saling berjabatan tangan, mereka berfoto bersama tak ketinggalan kedua orang tuanya sepasang pengantin.
Aira dan keluarganya turun dari panggung pelaminan. Aldo yang sangat menyayangi calon istrinya tak ingin melepaskan pegangannya.
Keduanya sempat berpamitan kepada Bryan dan lainnya sebelum kembali ke hotel.
Hanan melemparkan senyum tipisnya kepada sepasang kekasih itu.
"Sepertinya Kak Aldo sangat mencintai Kak Aira, harapan aku mendapatkannya pupus sudah," celoteh Kayla.
Elra yang berdiri tepat di samping Kayla lantas menyenggol bahu dengan lengannya. "Tak usah kecantikan!" menekankan kata-katanya namun dengan suara rendah.
Kayla mendengus.
"Masih bocah, Kak Aldo tak berminat denganmu!" kata Elra pelan.
"Memangnya kamu berminat denganku?" goda Kayla.
__ADS_1
"Seperti tidak ada gadis lain saja," ketus Elra.
"Hei, jangan membohongi perasaanmu!" kata Kayla di telinga Elra kemudian kabur sembari tersenyum lebar.