
William mengajak istri pamannya menemui Dennis dan Hana. Dia beralasan kepada wanita itu jika ada temannya penasaran dengan wajahnya.
Wanita paruh baya itu pun percaya, apalagi mendengar kata-kata William jika temannya sangat merindukan sosok seorang ibu.
"Apa mereka masih lama, Wil?" tanyanya menatap arlojinya ketika berada di restoran.
"Mereka lagi di jalan, Bi." Jawab William.
Sementara Hana dan Dennis telah tiba di parkiran restoran.
Hana melepaskan safety belt dan hendak turun, ia pun menoleh ke arah kekasihnya. "Ayo!"
Dennis tetap diam.
"Kenapa?" tanya Hana.
"Aku tidak mau bertemu dengannya," jawab Dennis tanpa menatap.
Hana menghela napas mencoba tenang.
"Aku sangat membencinya, Han!" kata Dennis dingin.
Hana meraih telapak tangan kekasihnya dan menyentuhnya, "Kamu ingin tahu alasan ibumu pergi, 'kan?"
"Tidak!"
"Nis, kesempatan ini sudah di depan mata. Jangan sia-siakan, ayo dong semangat!"
"Aku tidak mau bertemu dengannya, Han. Dia sangat jahat padaku," ucap Dennis.
"Sayang, kamu hanya dengar dari satu pihak saja. Tapi, belum mendengarkan penjelasannya, 'kan?
"Kamu menuduh nenekku berbohong!" tuding Dennis.
Hana menarik napas lalu dihembuskannya.
"Dari aku bayi, nenek yang merawat dan mengurusku. Tidak mungkin dia berbohong," ujar Dennis.
"Iya, aku tahu semuanya. Bahkan, kedua orang tuaku turut andil membesarkanmu!" kata Hana kesal.
Dennis menatap kekasihnya, "Kamu menyalahkan aku?"
"Iya!" ketusnya.
"Aku hanya tidak ingin bertemu dengannya, kenapa kamu yang marah?"
"Aku sudah berusaha membantumu mencarinya, tinggal selangkah lagi untuk menyakinnya. Kamu malah ingin mundur, aku tidak mengerti jalan pikirmu!" omel Hana.
"Baiklah, aku akan menemuinya. Biar kamu puas!" Dennis membuka safety belt lalu keluar dari mobil.
Hal sama juga dilakukan Hana.
Sebelumnya Hana juga telah mengetahui alasan ibunya Dennis pergi dari Bibi Astrid dan Paman Alpha, namun kedua orang itu melarang Hana memberitahu sebenarnya.
Dennis dan Hana memasuki restoran saling berpegangan tangan.
"Itu mereka, Bi!" tunjuk William ke arah Hana dan kekasihnya.
Wanita itu menoleh, mata berkaca-kaca ketika melihat pemuda yang berjalan mendekati mejanya.
Dennis dan wanita paruh baya itu saling bertatapan.
"Perkenalkan, Bi. Mereka berdua temanku," kata William.
Hana melempar senyum kepada wanita di hadapannya.
Dan Hana pun mendapatkan balasan senyuman.
Dennis menatap dingin.
__ADS_1
William dan Hana saling pandang, bingung untuk berbicara karena keadaannya sedang tegang.
"Dennis, apa kabar?" tanya wanita itu terbata.
Bukan menjawab, Dennis malah bertanya, "Kenapa dulu Ibu meninggalkan aku?"
Jenny lantas berdiri dengan cepat mendekati Dennis dan berlutut di kakinya, "Maafkan Ibu, Nak!" isaknya.
Dennis yang terkejut, gegas berdiri dan memundurkan langkahnya.
Aksi yang dilakukan Jenny membuat William dan Hana terperanjat.
Beruntung mereka berada di ruang VVIP restoran.
Hana segera membantu Jenny berdiri, "Bangunlah, Bi." Berkata dengan lembut.
"Dennis, Ibu minta maaf telah meninggalkanmu!" Jenny berkata dengan bahu bergetar.
"Aku membenci Ibu!" teriaknya lantang.
Mendengar teriakkan Dennis yang tak pernah didengar Hana sebelumnya cukup membuatnya tersentak. Kini dirinya mendekat ke arah kekasihnya dan menyentuh dadanya menggunakan telapak tangan kanannya.
"Tolong, dengarkan penjelasan Ibu," kata Jenny sesenggukan.
William mendekati Hana dan berkata lirih, "Biarkan mereka bicara berdua!"
Hana mengangguk.
Keduanya pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Kini tinggal Dennis dan Jenny.
Tangis Dennis pun pecah sampai terduduk di lantai. "Kenapa Ibu tidak datang menemuiku?"
"Nak, bukannya Ibu tak ingin bertemu denganmu. Tapi, ibu dari ayahmu melarangnya. Dia tak membolehkan Ibu membawamu." Jenny melangkah mendekati putranya dan menyentuh bahunya meskipun di tepis.
"Apa alasan Ibu meninggalkan aku dan ayah?" tanya Dennis lirih.
"Nenekmu mengusir Ibu karena dianggap menjadi beban bagi anaknya. Dia menyuruh Ibu bekerja mencari nafkah, padahal waktu itu kamu masih bayi," jelas Jenny sesenggukan di samping putranya.
"Kamu tidak percaya pada Ibu?"
Dennis tak menjawab.
"Baiklah, jika kamu tidak mau memaafkan Ibu. Semua yang Ibu katakan adalah benar, Nak."
Dennis bangkit lalu berdiri. "Ibu pembohong, Ibu pergi karena ayah berpenghasilan kecil, 'kan?"
Jenny menggelengkan kepala pelan.
"Benarkan, Bu?"
"Tidak, Nak." Jawab Jenny sendu.
"Aku tidak percaya!"
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, Ibu hanya berkata jujur."
Dennis melangkah pergi, pintu terbuka namun Hana menghadangnya.
"Aku mau pulang!" Dennis menyeka air matanya.
"Kalian belum selesai bicara!" Hana menarik tangan kekasihnya untuk masuk kembali ke ruangan.
Dan William menutup pintu dari luar.
"Ayo kita pulang, Han!" ajak Dennis.
"Tidak, Nis. Kalian harus selesaikan semua salah paham, hari ini juga!" kata Hana.
"Dia telah berbohong, Han!" Pandangan Dennis ke arah ibunya.
__ADS_1
"Memangnya dia bicara apa?" tanya Hana menatap kekasihnya.
"Dia pergi karena diusir, tidak mungkin nenek seperti itu," jawab Dennis.
"Apa yang dikatakan ibumu memang benar," ujar Hana.
Dennis mengernyitkan dahinya.
"Paman Alpha dan Bibi Astrid telah menceritakan semuanya padaku. Apa alasan yang membuat Bibi Jenny pergi meninggalkanmu," tutur Hana.
"Kenapa mereka tidak mengatakan itu padaku?" tanya Dennis.
"Karena kamu tidak mungkin akan percaya," jawab Hana.
"Apa alasan nenek melakukan itu?" tanya Dennis lagi.
"Suaminya pergi dengan selingkuhannya alasannya karena nenekmu tidak berpenghasilan sementara wanita itu merupakan pekerja kantoran. Jadi, dia memperlakukan hal sama kepada ibumu." Ungkap Hana.
"Semua itu benar, Nak." Sahut Jenny.
"Lalu ayah kenapa ikutan pergi?"
"Dia tak tahan karena terus menyuruhnya menikah lagi," jawab Hana.
"Ayahmu sempat mencari Ibu dan kami bertemu beberapa tahun kemudian. Tapi, Ibu sudah menikah maka kami tak mungkin dapat kembali," sambung Jenny.
Air mata Dennis pun jatuh lagi.
Jenny mendekat dan memeluknya, Dennis membalasnya.
"Maafkan aku, Bu!" Dennis berkata dengan bibir bergetar.
"Ibu juga minta maaf, Nak." Jenny memeluk erat putranya. "Ibu sangat merindukanmu!" ucapnya lagi.
Hana yang menyaksikan pemandangan haru itu juga ikutan menangis.
Jenny melepaskan pelukannya kini berhadapan dengan Hana, gegas memeluknya, "Terima kasih!"
Hana tak menjawab, tubuhnya gemetaran.
"Terima kasih sudah menyayangi, Dennis." Kata Jenny menatap Hana yang menunduk.
Pintu terbuka, dengan cepat ketiganya menyeka air matanya. William mendekat dan tersenyum ke arah Jenny.
"Sudah selesai?" tanya William.
"Terima kasih, sudah membantu Bibi bertemu dengan Dennis," Jenny memeluk keponakannya.
"Sama-sama, Bi." Kata William.
Usai tangis menangis, keempatnya menikmati makan siang bersama.
"Apa Paman Felix tahu jika Bibi Jenny sebelumnya memiliki anak?" tanya William.
"Paman Felix tahu semuanya, dia bahkan menyuruh untuk mencarinya tapi Bibi menolaknya karena takut dengan mantan ibu mertua. Apalagi mendengar kalian telah pindah rumah," jawab Jenny.
"Maafkan Nenek, Bu." Pinta Dennis.
"Ibu sudah memaafkannya, dia mengurusmu dengan sangat baik itu cukup membuat Ibu senang."
"Kapan Bibi akan mengajak Dennis bertemu dengan Paman Felix?" tanya William lagi.
"Secepatnya," jawab Jenny.
...----------------...
Jangan Lupa Mampir ke Karyaku Yang Lainnya...
- Mengejar Cinta si Tampan
__ADS_1
- Jangan Mengejarku, Cantik!