Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 65 - S2 - Alvan Ditemukan


__ADS_3

Dennis dan lainnya bergegas menyusuri jalanan yang dilalui anak buahnya Alpha semalam.


Dengan berjalan kaki, mereka tak mengenal lelah untuk menemukan Alvan.


Hanan telah menghubungi Alpha jika mereka menemukan petunjuk tentang keberadaan putranya itu.


Ada 4 pengawal yang menunggu di mobil.


Begitu sampai di titik tempat pengawal menemukan sepatu Alvan, rasa cemas dan khawatir Dennis semakin meningkat.


Bagaimana tidak, tampak bercak darah ada pada sepasang sepatu tersebut.


Langit perlahan mulai terang, mereka berteriak memanggil nama Alvan.


"Van, kamu di mana?" teriak Ryder.


"Alvan, kami di sini!" ucap Hanan berteriak lantang.


Mereka kembali berpencar mencari keberadaan Alvan. Hampir sejam mereka mengelilingi tempat dan terus memanggil namun tak terdengar suara sahutan.


Dennis tampak frustasi karena adik sepupunya belum ditemukan juga.


"Kakak, tenanglah!" Bryan menarik tangan Dennis agar duduk di batuan besar.


Dennis berusaha tegar sembari duduk.


Perlahan matahari mulai menampakkan dirinya, kicauan burung saling bersahutan. Pencarian masih di lanjutkan dengan peralatan seadanya.


Dennis berdiri dan memperhatikan jurang yang tidak terlalu dalam lalu berteriak, "Alvan!"


Dennis bergegas turun hingga dirinya harus terperosot.


"Kak Dennis!" pekik Ryder.


Seluruh mata tertuju pemuda itu.


Di bawah Dennis memeluk tubuh sepupunya yang lemas. "Alvan, ini Kakak. Bangunlah!" dengan suara parau.


"Itu Alvan!" teriak Ryder begitu senang.


Hanan memerintahkan salah satu anak buahnya untuk memanggil tim penyelamat agar dapat menaikkan Alvan ke atas.


Bryan dan Ryder serta 2 orang pengawal turun ke jurang.


Dennis memangku kepala Alvan dan terus menangis.


Alvan tidak merespon sama sekali, wajahnya babak belur.


Bryan mengusap tangan Alvan yang dingin dengan rasa cemas.


Ryder menyelimuti tubuhnya dengan jaket dan berusaha memasukkan air ke dalam mulutnya sahabatnya itu.


"Alvan, bertahanlah. Kami menyayangimu," kata Ryder yang juga sangat khawatir.


Sejam kemudian, tim penyelamat akhirnya datang meskipun medan yang mereka lalui begitu berat.


Selama menunggu tim penyelamat, Dennis tak lepas dari tubuh sepupunya itu. Ia terus memeluknya dari belakang menahan agar tidak ke tanah.


Alvan terpaksa ditandu agar dapat naik ke atas.


Hampir 30 menit, akhirnya Alvan berhasil dinaikkan.


Alpha yang turut hadir menyaksikan penyelamatan putranya tampak menangis apalagi Alvan sebentar lagi akan menikah.


Dennis berjalan di belakang para pengawal yang mengangkut Alvan mencoba menyeka air matanya.

__ADS_1


Bryan berjalan sembari merangkul bahu Hanan.


Dua jam kemudian, Alvan tiba di rumah sakit. Seluruh keluarga Darrell, Alpha, Rama, Biom, Harsya dan Randy berkumpul di sana.


Dayna tak hentinya menangis ketika mendengar kabar dari Hanan jika Alvan ditemukan tak berdaya dengan wajah lebam.


Astrid bahkan sampai jatuh pingsan ketika melihat keadaan putranya.


"Mama!" pekik Alana.


Alpha menggendong tubuh istrinya dan meletakkannya di brankar. Tim medis segera memberikan perawatan kepadanya.


Sejam kemudian Astrid sadar dan masih lemas. Selang infus pun terpasang di punggung tangannya.


"Bagaimana dengan Alvan, Al?" tanya Astrid lirih.


Sejak istrinya pingsan, Alpha tak beranjak dari tempat duduknya walaupun sekedar melihat putranya yang terbaring.


Alana yang selalu mondar-mandir ke kamar ibu dan kakaknya karena dia sangat begitu khawatir dengan kondisi 2 orang yang disayanginya itu.


"Alvan belum sadar juga, dokter sedang berusaha. Lebih baik kita berdoa," ujar Alpha.


"Siapa yang tega melakukan ini kepada Alvan, Al?" tanya Astrid dengan mata kembali berair.


"Tuan Harsya dan Biom sedang mencari pelakunya. Sekarang fokus saja dengan kesehatanmu karena Alvan akan marah jika kamu begini," jawab Alpha.


Astrid mengangguk paham.


-


Dua jam berlalu...


Para penjenguk hanya boleh melihat Alvan dari kaca luar ruangan karena belum di izinkan untuk diajak berbicara.


"Day, ayo pulang. Besok pagi lagi kita ke sini, biarkan Bryan dan Alana yang menjaganya," ucap Nayna.


"Aku ingin tetap di sini sampai Alvan sadar, Ma."


"Tidak, Nak. Mama tak mengizinkan kamu berlama-lama di sini. Apalagi kamu dari tadi malam belum makan," kata Nayna.


Dayna kembali meneteskan air matanya.


Nayna lantas memeluknya, ingin menangis namun di coba untuk menahannya.


"Dayna pulanglah, Papa akan menunggu di sini. Elra juga akan datang," ucap Darrell.


"Pa..."


"Day, jangan sampai kamu sakit juga. Bagaimana bisa melihat Alvan sehat jika kamu begini," ujar Nayna.


Dayna akhirnya mau dibujuk untuk dibawa pulang agar dapat beristirahat.


****


Seminggu kemudian....


Dayna mendatangi rumah sakit, meskipun belum sadar tapi Alvan boleh dikunjungi 1-2 orang saja. Itu pun hanya 2 kali selama sehari.


Dayna masuk ke ruang rawat, menarik kursi lalu duduk di sampingnya.


"Hai, Van!" sapa Dayna.


"Hari ini sebenarnya kita akan melangsungkan pernikahan. Tapi, kamu harus terbaring di sini. Kenapa kamu tidak bangun? Bukankah kamu mencintaiku?"


Air mata Dayna jatuh.

__ADS_1


"Kamu yang menginginkan pernikahan ini tapi malah kamu....."


Perkataan Dayna terputus.


Dayna menyentuh telapak tangan kiri Alvan. "Bangunlah, aku sangat merindukanmu. Aku ingin kita berdebat dan bertengkar lagi."


"Kamu tidak menyayangi aku lagi?"


"Ayolah, Van. Jangan tidur saja, katanya kamu ingin melindungi aku!" Dayna berkata dengan sesenggukan.


"Bibi Astrid, harus di rawat di rumah sakit karena kamu. Alana terus menangis dan aku sering melamun, malas ke kantor."


"Van, jika kamu tidak bangun. Bagaimana dengan gaun pengantin aku? Bukankah kamu ingin aku memakainya?"


"Alvan, bangunlah!" isaknya.


Dayna menundukkan kepalanya karena dadanya terasa sesak.


Dayna meletakkan telapak tangan Alvan di pipinya. "Aku menyayangimu, Van."


Dayna keluar dari ruangan karena sudah 30 menit mengajak Alvan mengobrol.


Di luar ruangan Dayna kembali menangis di pelukan Elia.


"Sudahlah, Day. Alvan pasti mampu melewati semua ini."


"Aku takut kehilangannya, Bi."


"Kita berdoa, semoga Alvan berhasil melewati semuanya."


"Terlalu banyak kesalahan yang aku perbuat padanya, Bi." Tangis Dayna kembali pecah.


"Day, tenanglah. Semua akan baik-baik saja," kata Elia.


Dibantu Elra, Elia memapah tubuh Dayna yang tampak lemah.


Begitu diparkiran, Dayna memasuki mobil.


"Elra, tolong antar Kak Dayna pulang," titah Elia.


"Iya, Ma."


Elra dan sopir kemudian berlalu.


Elia bersama suaminya gantian menunggu Alvan dari luar ruangan.


Selang 10 menit kemudian, Elia melihat dari arah jendela jika jari-jari tangan Alvan bergerak.


Elia mendelikkan matanya.


Gegas menghampiri suaminya, "Randy, sepertinya Alvan sudah sadar."


Randy yang sedang memegang ponsel membalas pesan lantas berdiri mendekati kaca jendela. Dirinya juga melihat jika Alvan sedang merespon.


"Panggil dokter, aku akan menghubungi Kak Alpha," ucap Randy.


"Iya!" Elia kemudian berlari memanggil perawat.


Elia kembali bersama beberapa dokter dan perawat.


Jendela kaca itu pun ditutup oleh tirai karena tim medis sedang bekerja.


"Apa kamu sudah menghubungi Kak Alpha?" tanya Elia.


"Sudah, mereka lagi di parkiran," jawab Randy.

__ADS_1


__ADS_2