
Keluarga Alpha sedang bersiap-siap akan menghadiri acara ulang tahun. Astrid lagi menyiapkan pakaian buat suaminya.
Alpha keluar dari kamar mandi dan bertanya, "Apa anak-anak sudah selesai?"
"Belum, Al."
"Suruh cepat, sejam lagi kita pergi," ucap Alpha.
"Iya." Astrid yang sedang berias mengakhiri kegiatannya.
Beberapa menit kemudian, Astrid kembali duduk menatap cermin.
Alpha memakai pakaian yang telah disediakan sang istri.
"Al.."
"Iya."
"Apa kamu tahu ibunya Dennis?" tanya Astrid.
"Aku lupa, karena kami hanya bertemu sekali itupun ketika Mario menikah."
"Apa kira-kira wajahnya mirip Dennis?"
"Iya, kulitnya putih."
"Apa dia masih hidup?" tanya Astrid lagi.
"Entahlah, memangnya kenapa?" Alpha balik bertanya.
"Kami tadi ke mall dan Alana bilang jika dia melihat Dennis sedang mengobrol dengan seseorang."
"Mungkin rekan bisnis atau teman sekolahnya dulu."
"Wanita itu sebaya aku, Al."
Alpha menoleh ke arah istrinya.
"Kata Alana, kulitnya mirip dengan Dennis serta wajahnya. Apakah sebenarnya dia ibunya?"
"Kamu tidak tanya pada Dennis?"
"Tidak, Al. Sepanjang kami pulang, Dennis tampak diam dan murung."
"Nanti aku coba tanya padanya," ujar Alpha.
Sejam berlalu, Alpha dan keluarganya tiba dikediaman Biom.
Semuanya tampak bahagia dan senang karena dapat bertemu serta berkumpul sembari mengobrol.
Dennis duduk bersama dengan yang lainnya, namun lebih banyak memilih diam. Alpha dan Astrid memperhatikan keponakannya itu.
Alpha menghampiri Dennis yang duduk seorang diri menikmati minuman.
"Apa kamu lagi ada masalah dengan Hana?"
"Tidak, Paman."
"Lalu kenapa kamu murung?"
"Aku tidak murung, Paman."
"Paman ingin berbicara berdua dengan kamu, bagaimana besok sore sepulang dari kantor kita bertemu di kafe?"
Dennis mengiyakan.
"Paman balik ke sana, ya!" Alpha menunjuk ke arah Biom dan istrinya tampak juga Harsya serta Anaya.
Dennis mengangguk.
Ponsel Dennis berdering tertera nama kekasihnya, ia pun segera menjawabnya.
"Halo."
"Apa acara Tante Rissa telah selesai?"
"Belum, sih. Memangnya kenapa?"
"Aku ingin mengobrol denganmu."
Dennis melihat arlojinya, "Kamu tidak istirahat?"
"Sebentar lagi."
"Baiklah, kalau begitu aku akan pamit pulang."
"Iya, aku tunggu."
Dennis pun akhirnya pamit pada sang punya acara.
Tak sampai 1 jam, Dennis telah tiba di rumahnya. Mengganti pakaian dan mencuci wajahnya, ia menaiki ranjang dan menelepon Hana.
Tak menunggu lama panggilan teleponnya pun tersambung, "Halo, Han."
"Bagaimana acaranya tadi?"
"Tidak seru tanpamu."
Hana tertawa di ujung telepon.
__ADS_1
"Kapan kamu kembali ke sini?"
"Mungkin dua tahun lagi."
"Kalau begitu aku akan meminta dipindahkan ke sana juga."
Hana lagi-lagi tertawa.
"Tadi siang aku tak sengaja bertemu lagi wanita yang menyenggol mobilku di mall."
"Apa dia menuntut kamu?"
"Tidak. Hanya dia mengatakan jika aku mirip dengan anak laki-lakinya," jawab Dennis.
"Apa nama anaknya sama denganmu?"
"Iya, dia bahkan bertanya nama belakangku diambil dari siapa."
"Apa dia menyebutkan nama suaminya?"
"Iya."
"Siapa nama suaminya?"
"Namanya sama dengan ayahku."
Hana yang jauh di sana cukup terkejut.
"Tidak mungkin dia ibuku, nenek pernah mengatakan kalau sudah meninggal."
"Apa kamu tahu di mana makamnya?"
Dennis mengatakan tidak.
"Mungkin saja dia ibumu, Nis."
"Tidak mungkin, pasti dia berbohong."
Hana diam dan mengingat perkataan William jika istri pamannya ada mirip dengan Dennis.
"Sejak bertemu dengannya, aku terus berpikir apakah selama ini nenek telah membohongi aku," ujarnya.
"Sayang, kamu harus bertanya kepada orang tuanya Paman Alpha. Siapa tahu mereka mengetahui semuanya."
"Paman Alpha besok sore juga mengajakku bertemu."
"Kebetulan sekali, kamu harus tanyakan padanya," ucap Hana.
Dennis mengiyakan.
Obrolan mereka pun berakhir, Dennis merebahkan tubuh dan memejamkan matanya.
***
Dennis menceritakan sosok wanita paruh baya yang ditemuinya pasca kecelakaan ringan di jalan raya.
Dennis juga cerita tentang pertemuannya kedua, membuat pikirannya tak fokus.
"Paman memang benar-benar tidak tahu, bagaimana wajah ibuku?" tanya Dennis.
Alpha menjawab iya.
"Dia tahu nama ayahku, Paman."
"Kamu tidak pernah bertemu lagi dengannya, 'kan?"
Dennis menggelengkan kepalanya.
"Seandainya dia adalah ibu kandungmu, apa yang akan kamu lakukan?"
Dennis tak menjawab, perasaan rindu dan marah menjadi satu.
"Apa nenekmu pernah menunjukkan foto ibu dan ayahmu semasa muda?"
"Hanya foto ayah, Paman. Aku masih menyimpannya, meskipun tak pernah tahu wujudnya. Apakah dia benar-benar telah meninggal atau belum," ujar Dennis.
"Paman juga bingung harus bertanya kepada siapa. Sebenarnya yang mampu menjelaskannya adalah nenekmu. Tetapi dia telah lebih dulu meninggalkan kita."
"Apa Oma Vivi tahu?"
"Nanti Paman akan tanyakan, kamu tahu sendiri 'kan bagaimana kondisi ingatan Oma Vivi."
Dennis mengangguk paham.
"Paman, akan coba membantumu. Jika memang bertemu lagi dengannya. Jangan menjauh, ajaklah kami menemuinya."
"Iya, Paman."
****
Dua minggu berlalu....
Pintu rumah diketuk, gegas Dennis membuka pintu. Matanya membulat ketika melihat tamu yang datang pagi-pagi ke tempatnya.
"Hana."
Gadis cantik itu melempar senyum.
"Kenapa tidak memberitahu aku jika pulang?"
__ADS_1
"Aku ingin memberikan kejutan kepadamu." Hana memeluk kekasihnya.
Dennis mendorong pelan tubuh Hana. "Apa alasan kamu pulang?"
"Aku ingin membantu mencari ibumu."
"Sepertinya aku berubah pikiran," ucap Dennis. Beberapa hari lalu dia sempat mengutarakan ingin mencari ibunya.
"Aku sudah pulang, kamu malah berubah pikiran," kesal Hana.
"Aku ingin mengubur semuanya," kata Dennis sedih.
Hana menangkup wajah kekasihnya, "Kamu ingin menikah di dampingi orang tua 'kan?"
Dennis mengangguk.
"Maka sekarang kita harus cari dia. Lalu meminta restu, apa kamu tahu di mana kira-kira ayahmu menghilang?"
"Paman pernah bilang, kalau terakhir berkomunikasi dengan ayah beberapa tahun lalu dia berada di Kota C."
"Kita akan telusuri kota itu, kalau perlu bagikan di media sosial milikmu."
"Aku akan coba," ujar Dennis.
"Begitu, dong."
"Tunggu sebentar di sini, jangan pernah pergi ke mana-mana. Aku mau mandi," kata Dennis.
Hana mengiyakan.
Baru beberapa menit menunggu, Hana tertidur di sofa karena kelelahan di perjalanan.
Dennis keluar dari kamar telah berpakaian, matanya tertuju pada gadis sombong yang berhasil ia taklukkan hanya dengan menerima tantangan mengatakan cinta di depan orang-orang di tengah jalan.
Ya, beberapa waktu lalu Hana sempat menolaknya dengan berbagai alasan. Dennis yang tak ingin gadis itu lepas akhirnya menuruti permintaannya.
"Apa yang dapat membuatmu percaya padaku?"
"Pergilah ke tengah jalan dan katakan dengan lantang jika kamu mencintaiku."
"Baiklah!"
Dennis berlari kecil di tengah jalan tepat di depan Hana duduk. "Aku akan mengatakannya sekarang!" teriaknya.
Hana menjawabnya dengan lantang, "Iya."
"Hana Larasati Abraham, apakah kamu mau menikah denganku?"
Hana tampak terkejut dengan pernyataan Dennis yang ingin segera menikah tanpa menjadikan dirinya kekasih.
Seluruh mata beberapa orang yang lalu lalang tertuju padanya.
Hana lantas berdiri dan menganggukkan kepalanya.
Dennis yang senang melompat kegirangan, ia kemudian berlari menghampiri Hana dan memeluknya.
Semua orang pun bertepuk tangan dan memberikan selamat.
"Dennis, lepaskan. Aku sulit bernapas!" bisik Hana.
Dennis melepaskan pelukannya dan tersenyum bahagia.
"Aku belum mau menikah dalam waktu dekat," ucap Hana.
"Kenapa?"
"Pekerjaan aku ini bagaimana? Kamu sendiri yang menyuruhku kemari."
"Kalau aku tahu, kamu menerima hatiku. Kutak mau mengatakan itu," ujar Dennis.
"Kamu harus sabar menungguku beberapa bulan lagi, setelah itu datang melamarku."
"Baiklah, tidak masalah."
"Sekarang aku ingin kamu membuktikannya lagi jika serius," ucap Hana.
"Aku harus melakukan apa?"
"Melompat dari atas bus berjalan."
Dennis diam dan berpikir.
Hana malah tertawa.
"Aku akan melakukannya!"
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Aku tidak mau kehilanganmu!" Hana tersenyum.
Keduanya pun saling berpelukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sembari menunggu update, kalian bisa mampir ke kisah Harsya dan Anaya di judul 'Pria Kejam dan Gadis Jujur'.
Cerita cinta para asistennya Harsya di judul karya 'Cinta Asisten Dingin'.
__ADS_1