
"Kamu punya kekasih?" tanya Hanan.
"Tidak."
"Lalu kenapa kamu bilang calon jodoh?" tanya Hanan lagi.
"Tidak semua yang namanya kekasih akan menjadi jodoh kita. Dia ini pria yang dikenalkan kepadaku, siapa tahu 'kan menjadi pasangan kelak."
"Oh."
Aira tersenyum singkat lalu lanjut memainkan ponselnya.
"Berapa lama perjalanan dari sini ke pantai?" tanya Hanan.
"Jika tidak macet sekitar satu jam."
"Selain pantai, tempat wisata mana lagi yang bagus?" tanya Hanan lagi.
"Pemandian kolam renang, dari sini hanya tiga puluh menit."
"Jika tempat nongkrong anak-anak muda?"
"Pinggir pantai."
"Sejauh itu?"
"Iya."
"Sulit sekali di sini mencari tempat hiburan," keluh Hanan.
Aira menoleh lalu berkata, "Di kotamu saja yang begitu banyak tempat wisata bahkan mall terbesar kamu tetap merasa bosan. Apa lagi di sini, sebenarnya yang salah kotanya atau dirimu?"
"Ya, aku tidak suka menjelajahi tempat yang itu-itu saja."
Aira menarik ujung bibirnya.
"Kenapa kamu betah di kota ini?"
"Aku lahir dan besar di sini. Kamu itu yang terlalu ribet. Bagaimana jika memiliki istri pasti dengan mudahnya berkata bosan," sindir Aira.
"Hei, aku tidak seperti itu. Aku ini pria yang setia," ucap Hanan.
"Benarkah? Tapi kenapa sekarang kamu belum memiliki kekasih?"
"Itu karena aku...."
"Karena apa? Terlalu memilih?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku hanya belum mengenal sosok gadis yang menurutku nyaman."
Aira tertawa sinis.
"Aku serius."
"Iya, aku tahu. Lagian juga kamu tuh lebih sering bersama Alvan dan Bryan. Kapan mau cari kekasihnya?"
"Kenapa kita jadi bahas ini?" Hanan lantas berdiri.
"Kamu lebih dahulu memulainya," jawab Aira.
Hanan menarik tangan Aira.
"Hei, mau dibawa kemana aku?"
Hanan menarik tangan Aira hingga ke pintu masuk rumah.
"Mau apa?"
"Temani aku ke taman kota."
"Buat apa?"
"Aku ingin menikmati suasana kota ini di sore hari."
"Aku tidak mau."
"Ayo, cepat!" Hanan memegang tangan Aira lagi.
"Tunggu sebentar, aku mau mengambil tas," kata Aira.
"Cepatlah!"
"Kamu hanya pakai celana pendek begini?"
"Iya."
"Ya ampun, Nan. Ganti sana!" perintah Aira.
__ADS_1
"Pakai begini saja lebih nyaman," ucap Hanan.
"Tapi....."
"Jangan banyak tanya, cepat telepon taksi!"
"Iya, aku akan menelepon taksi tapi sekarang ganti celana dan banyak dompetmu!"
"Iya, cerewet!" Hanan lalu pergi ke kamarnya.
Tak lama kemudian, dia menghampiri Aira yang sedang menelepon seseorang.
Hanan berdiri di dekatnya.
"Lima menit lagi, taksinya datang. Kamu tidak lupa bawa uang, 'kan?"
"Iya, ongkos taksi dan minum kita di sana. Aku yang bayarin," ujar Hanan.
"Aku senang mendengarnya," Aira tersenyum.
"Aku tahu kamu tidak memiliki uang lagi untuk mentraktirku."
"Bukan begitu, aku gajian seminggu lagi. Jadi harap maklum," Aira nyengir.
"Iya, aku paham."
Taksi yang dipesan pun tiba, Aira dan Hanan bergegas menaiki.
Taksi melesat ke tempat tujuan.
Begitu sampai, Hanan menggenggam tangan Aira sehingga membuat gadis itu gegas menoleh.
"Aku takut nyasar dan kamu meninggalkan ku sendiri di sini," Hanan memberikan alasan.
Aira melepaskan tautan tangannya kemudian berkata, "Aku tidak mungkin setega itu melakukannya."
"Syukurlah!"
"Kita duduk di sana saja!" Aira menunjuk bangku yang menghadap kolam air mancur.
Hanan mengangguk mengiyakan.
Keduanya duduk di bangku yang sama.
"Tunggu di sini, aku akan membeli makanan dan minuman," kata Aira, gegas berdiri dan berjalan.
Selang 10 menit kemudian, Aira membawa 2 cup es jeruk dan bakso bakar. Lalu kembali duduk sembari menikmati minuman dan makanan yang dibelinya.
Hanan hendak mengambil dompetnya untuk membayar belanjaan.
"Terima kasih," ucap Hanan seraya menyedot es jeruk.
"Kamu sering ke sini?" tanya Hanan.
"Setahun belakangan ini jarang sekali, bahkan dapat dihitung dengan jari," jawab Aira.
"Kenapa? Padahal sangat dekat dengan rumahmu," kata Hanan. Jarak taman kota dan kediaman orang tuanya Aira hanya membutuhkan waktu 15 menit menggunakan kendaraan.
"Sejak aku putus dengan dia, jarang kemari. Jikapun ke sini kalau ada teman yang mengajak," ungkap Aira.
"Oh, jadi ini tempat kencan favorit kalian," celetuk Hanan.
Aira tertawa kecil dan manggut-manggut.
"Kenapa putus dengannya?"
"Dia mencintai wanita lain."
"Oh."
"Padahal dia selalu cemburu jika aku dekat dengan pria lain eh ternyata dia sendiri yang mengkhianati hubungan kami."
"Sungguh malang!" ceplos Hanan.
Aira malah tertawa.
"Nasib cintaku memang sungguh malang. Menyukai seorang pemuda tapi bertepuk sebelah tangan," Aira berkata dengan menatap wajah Hanan.
"Mantan kekasihmu itu?"
"Bukan, dia tinggal di sini. Melainkan di kota lain."
"Sudah mengungkapkannya?"
"Tidak berani."
"Memangnya dia sangat seram?"
"Tidak juga, dia begitu tampan tapi tak pernah peka."
"Oh, jadi kamu menyukainya tapi dia tak sadar," ucap Hanan.
__ADS_1
Aira mengangguk mengiyakan.
"Apa kamu masih menyimpan perasaannya kepadanya?"
"Berusaha melupakannya, tapi dia malah muncul."
"Kamu bertemu dengannya?"
"Iya."
"Kenapa kamu tidak mengatakannya saja, mumpung dia di kota ini?"
"Malas."
Hanan mengernyitkan keningnya.
"Nanti dia malah makin besar kepala jika mengatakan perasaan ini."
"Siapa tahu dia memiliki perasaan padamu," ucap Hanan.
Aira malah tertawa dan berkata, "Itu tak mungkin."
"Kan, belum mencoba," ujar Hanan.
"Ah, sudahlah. Jangan bahas dia," kata Aira.
Tampak hening...
"Aira...."
"Hemm.." Aira yang sedang memainkan ponselnya menoleh.
"Calon jodohmu itu apakah tinggal di sini?"
"Iya."
"Apa kalian segera menikah?"
"Jika kami saling mencintai, kemungkinan iya."
"Itu artinya Alvan dan keluarganya akan datang kemari lagi?"
"Mungkin."
"Apa kamu akan mengundangku juga?"
Aira menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Nanti kamu akan terluka jika melihat aku menikah dengan orang lain."
Hanan terdiam.
Sontak, Aira terkekeh memperhatikan ekspresi wajah.
Dahi Hanan berkerut.
"Kamu tentunya akan ku undang juga," ujar Aira.
"Aku berharap calon jodohmu itu orang yang tepat," ucap Hanan.
"Semoga saja. Karena aku sangat lelah, jika harus berpetualang tapi bukan jodoh," kata Aira.
Hanan memperhatikan arlojinya telah menunjukkan pukul 5 lewat 30 menit.
"Mau pulang?" tanya Aira.
"Iya, pasti mereka sudah tiba di rumah," jawab Hanan.
"Ya sudah, ayo kita pulang!" Aira hendak berdiri namun kakinya terasa lemah dan hampir terjatuh.
Sigap, Hanan menahan tubuh sehingga keduanya setengah memeluk.
Aira mendongakkan wajahnya menatap Hanan.
"Kamu tidak apa-apa, 'kan?"
"Kakiku sedikit sakit."
Hanan lantas jongkok dan menyentuh pergelangan kaki Aira. "Ini yang sakit?" tanyanya mendongakkan kepalanya.
Aira mengiyakan, lalu kembali duduk.
Hanan memijit pergelangan kaki Aira.
"Terima kasih, Nan." Aira menarik kakinya yang di sentuh.
Hanan lalu berdiri, "Apa perlu aku gendong?"
"Aku sangat berat, kamu tidak akan kuat menggendongku," kata Aira tersenyum.
__ADS_1
"Tapi, kamu dapat berjalan 'kan?"
Aira mengiyakan.