Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 9 - Berkeliling Dengan Motor Bersama Dennis


__ADS_3

Dengan berboncengan keduanya pergi ke sebuah taman tak jauh dari kediaman Harsya.


Sesampainya mereka mencari bangku, duduk berdekatan tanpa pembicaraan.


Hana memilih fokus memainkan ponselnya daripada mengajak mengobrol.


Dennis hanya mengitari pandangannya ke beberapa orang yang melintas.


"Mau sampai kapan kita di sini, Nona?"


"Terserah kamu."


Dennis diam.


Hana yang bosan, memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Cari minum, aku haus!"


"Baiklah, Nona!" Dennis beranjak berdiri.


"Ini uangnya!" Hana menyerahkan selembar uang bertulis angka 100.


"Pakai uang saya saja, Nona!" Dennis tersenyum tipis dan berlalu.


Tak lama kemudian Dennis membawa 4 botol minuman dan makanan ringan.


"Kenapa banyak sekali?"


"Saya tidak tahu minuman kesukaan Nona."


Hana meraih minuman berisi teh.


Dennis hanya menenggak air mineral.


"Kamu tidak makan ini!" Hana menunjuk snack kentang.


"Tidak, Nona."


"Lalu kenapa kamu membelinya?"


"Saya pernah melihat Nona belanja banyak jajanan seperti itu."


Hana tertawa kecil mendengarnya.


"Aku belanja sebanyak itu untuk diberikan kepada anak-anak panti."


"Saya tidak pernah mengantarkan Nona ke panti," Dennis menatap gadis di sampingnya.


"Karena ada temanku yang mengambilnya."


"Oh."


Hana menikmati jajanan dan minuman dengan pandangan lurus.


"Nona.."


"Ya."


"Apa sekarang Nona sudah bahagia?" tanya Dennis.


"Iya."


Dennis tak bertanya lagi.


"Aku tuh sangat membencimu, entah kenapa melihatmu hatiku cemburu ingin marah dan kesal."


"Apa yang Nona cemburu 'kan dari saya?"


"Perhatian orang-orang disekililingku yang menyayangimu. Seharusnya aku yang berada di posisimu."


"Saya tidak merasa merebut perhatian mereka dari Nona."


"Itu menurutmu tapi tidak dengan aku!"


Setelah dari taman, keduanya lanjut pergi ke kafe. Sama seperti tadi ketika hendak pergi, Dennis memakaikan Hana helm.


Dennis melajukan motornya dengan pelan karena Hana takut jika dibawa ngebut.


"Dennis!"


"Iya, Nona."


"Kamu sering melewati jalan ini?"


Dennis mencoba menahan tawa.


"Kamu mau tertawa?"


"Iya, Nona."


"Memang salah pertanyaanku?"


"Kalau jalan yang biasa kita lalui macet. Kita lewati jalanan ini, Nona."


"Hah."


"Nona 'sih kebanyakan main ponsel jadi tak hapal jalan," ujar Dennis.


Pipi Hana memerah karena malu.


Dennis ingin tertawa lepas tapi ia tahan.


Belum sampai tujuan, Dennis mengerem mendadak sehingga tubuh Hana menubruknya dari belakang. Dengan cepat wanita itu memeluknya.


Jantung Hana berdegup kencang karena kaget. Namun, ia segera menenangkannya.


"Maaf, Nona." Dennis melanjutkan perjalanannya.


"Kamu sengaja, ya!" Hana melepaskan pelukannya.


"Tadi ada motor di depan kita menyeberang," jelas Dennis.


"Itu alasan kamu agar aku memelukmu!"

__ADS_1


"Saya tidak berbohong, Nona."


"Awas saja jika seperti tadi!"


"Iya, Nona. Saya akan lebih berhati-hati lagi."


...


Di kafe Melodi..


Dennis hendak membuka helm yang dikenakan Hana, tanpa sengaja kedua mata mereka saling memandang dan terdiam.


Hana yang salah tingkah segera membuang wajahnya.


Dennis pun dengan cepat melepaskan tali pengait helmnya Hana.


Dennis lebih dahulu berjalan memasuki kafe disusul Hana di belakangnya.


Pelayan kafe datang dan menyodorkan menu makanan.


"Jus jeruk saja," ucap Hana.


"Saya air mineral dan salad sayur."


"Baik, Tuan, Nona. Mohon ditunggu sebentar, pesanan anda akan saya antar!"


"Terima kasih, Mba." Dennis melemparkan senyuman.


"Kamu makan salad sayur, sejak kapan?"


"Dari kecil, Nona."


"Oh."


"Nona tidak pesan makanan?"


"Tidak."


"Mau saya pesankan?"


"Tidak."


"Saya akan pilih makanan yang tidak ada kacangnya."


"Tidak, Dennis. Terima kasih."


Dennis pun diam.


Pesanan keduanya pun sampai, Dennis menyantapnya. "Nona ingin coba?"


Hana menggelengkan kepalanya.


Dennis memakannya sampai tak tersisa.


Hana beranjak berdiri.


"Mau ke mana?"


"Mau saya antar?"


"Tidak, aku bukan anak kecil yang perlu di temani."


"Oh, baiklah."


Dennis menunggu Hana seraya memainkan ponselnya.


"Hai!"


Dennis mendongakkan kepalanya.


"Masih ingat denganku?"


Dennis mengerutkan keningnya.


"Aku Winny."


"Astaga, maaf. Aku benar-benar tidak ingat," Dennis tertawa kecil.


"Kamu di sini dengan siapa?" tanya Winny.


"Dengan atasanku."


"Oh."


Dennis tersenyum singkat.


"Apa aku boleh minta nomor ponselmu?"


"Buat?"


"Aku ingin mengobrol saja denganmu. Siapa tahu kita bisa berteman," jawab Winny.


Dennis memberikan ponselnya.


Winny menekan nomornya lalu menghubunginya dan ponselnya berdering.


Winny mengembalikan ponsel Dennis, "Terima kasih."


"Sama-sama."


Hana pun datang dan sempat melemparkan senyuman kepada Winny.


"Dennis, aku duluan. Sampai jumpa!" Winny pun berlalu.


"Siapa kamu?"


"Teman."


"Cantik!" puji Hana.


"Ya."

__ADS_1


"Baru kenal atau sudah lama?"


"Baru saja."


"Kamu menggodanya?"


"Tidak.


"Ayo kita pulang!"


Dennis mengiyakan


_


Menuju pulang ke rumah, langit mulai gelap. Perlahan air menetes dari atas.


"Bagaimana ini?" Hana mulai khawatir, takut kehujanan.


Dennis lalu meminggirkan motornya di sebuah ruko yang tutup.


"Nona, hujannya hanya gerimis. Apa kita lanjut jalan?"


"Aku tidak mau tiba-tiba hujan turun deras. Tunggu matahari kelihatan baru kita lanjut."


"Baiklah."


Hujan akhirnya turun dengan deras.


"Lihatlah, hujannya deras. Andai tadi ayah menyuruh naik mobil pasti tidak akan seperti ini."


"Padahal air hujan banyak manfaatnya, Nona."


"Aku tidak mau flu."


"Waktu kecil saya selalu mandi hujan jika hari belum sore."


"Itu 'kan kamu, jangan samakan dengan aku!"


"Maaf, Nona."


Ponsel Dennis berdering, ia bergegas menjawabnya.


"Masih dijalan dan terjebak hujan, jika sampai di rumah aku akan menghubungimu." Dennis menutup ponselnya.


Hana yang dari tadi mendengar begitu penasaran lantas bertanya, "Siapa?"


"Winny."


"Siapa dia?"


"Wanita tadi."


"Oh."


Hana tak bertanya lagi.


Dennis yang berdiri di belakang Hana melihat wanita itu terus mengusap telapak tangan dan lengan.


Dennis membuka jaket yang dipakainya lalu disematkan di tubuh Hana. "Pakailah, Nona. Agar tidak kedinginan."


Hana tak mengucapkan terima kasih.


Hampir 15 menit berteduh hujan belum juga reda.


"Sampai kapan kita di sini?" tanya Hana.


"Tidak tahu, Nona."


"Bagaimana jika sampai malam?"


"Terserah Nona mau tetap di sini atau kita pulang dengan hujan-hujanan."


Hana lalu berpikir dan menelepon ayahnya.


"Ayah, aku dan Dennis terjebak hujan. Bisakah menjemputku?"


"Ayah lagi di kantor, Nak."


"Ayah bisa suruh sopir atau siapa saja," ucap Hana.


"Sayang, selama Dennis bersamamu. Ayah yakin takkan terjadi apa-apa denganmu."


"Ayah mau sampai kapan aku terjebak di sini?"


"Tenanglah, sayang. Itu hanya air hujan, sebentar lagi juga reda. Kamu boleh mandi hujan, ayah tak melarangmu."


"Ayah...."


Hana mendengus kesal, panggilan teleponnya ditutup ayahnya.


"Nona, duduklah di sini!" Dennis menepuk bangku motornya.


"Aku tidak mau!"


"Nona mau berdiri sampai hujan berhenti?"


"Iya."


"Apa kita lanjut saja?"


Hana berpikir lalu mengangguk.


"Benar? Saya tidak mau disalahkan jika Nona sakit."


"Iya."


"Ya sudah, ayo!"


Dennis memakaikan helm di kepalanya dan Hana, mereka melanjutkan perjalanan pulang.


Hana memeluk erat tubuh Dennis dan menundukkan kepalanya agar wajahnya tidak mengenai hujan padahal tertutup kaca helm. Selain itu ia takut jatuh dari motor.

__ADS_1


__ADS_2