
Meskipun Hana menolak di panggilkan dokter tetapi Harsya tak peduli. Wanita itu kini telah diperiksa di kamar pribadinya.
Dennis berdiri di sisi ranjang sembari memperhatikan dokter wanita memeriksa istrinya.
Dokter wanita mengulas senyum. Lalu arah pandangnya kepada Dennis kemudian berkata, "Sepertinya istri Tuan sedang hamil."
Hana dan suaminya saling pandang mendengarnya.
Anaya menarik kedua ujung bibirnya.
"Saya tidak tahu pasti usia kandungannya, lebih baik periksa kepada dokter ahlinya," ujar sang dokter wanita.
Dennis manggut-manggut.
Selepas dokter tersebut pergi dan memberikan saran, Harsya masuk ke kamar putri dan menantunya lalu memeluknya serta mengecup keningnya.
"Ayah..." lirih Hana.
"Ayah akan menjadi seorang kakek," kata Harsya tersenyum.
Hana membalas senyumannya.
"Tiga bulan ke depan kalian tetap di sini," ucap Anaya.
Hana dan Dennis mengiyakan.
Dua jam berlalu, akhirnya Hana dan suaminya beserta kedua orang tuanya menuju rumah sakit untuk memeriksa kandungan.
Dokter mengatakan jika usia kandungan Hana memasuki usia 5 minggu. Hana juga disarankan untuk tidak terlalu lelah dan menghentikan sementara pekerjaannya.
Selama hamil, Hana dilarang untuk turun tangga karena kamarnya di lantai atas. Akan ada beberapa pelayan yang mengantarkan makanan. Meskipun Hana terkadang bosan selalu di kamar, namun dirinya tetap menuruti apa kata sang ayah.
Kabar kebahagiaan Hana tersebar kepada keluarga adik-adiknya serta kerabat dan saudara. Mereka begitu antusias mendengarnya karena sebentar lagi akan memiliki keponakan.
Dennis diminta untuk pulang kerja lebih awal, hal itu agar Hana memiliki teman mengobrol.
Hanan yang sore itu sedang menunggu Alvan di kafe Melodi, tiba-tiba matanya ditutup oleh seseorang.
Hanan menyentuh tangan tersebut.
Dan gadis itu memindahkan posisinya di hadapan Hanan.
"Kamu."
Aira tersenyum, "Maaf, membuatmu terkejut."
"Di mana Alvan?"
"Mengantarkan Alana ke rumah temannya, aku di sini di suruh untuk menemani kamu."
Hanan manggut-manggut.
"Aku dengar sebentar lagi kamu akan punya keponakan."
"Iya , Kak Hana baru saja dinyatakan hamil oleh dokter," kata Hanan.
"Kalau begitu, selamat!" Aira mengulurkan tangannya.
Hanan meraihnya kemudian berkata, "Terima kasih."
Keduanya tampak diam dan suasana hening.
Beberapa menit kemudian, Aira kembali bertanya untuk mencairkan suasana, "Kira-kira kamu ingin menikah di usia berapa?"
Hanan sejenak menatap lalu memalingkan wajahnya.
Aira nyengir, "Maaf."
__ADS_1
"Hemm.." Hanan kembali fokus dengan ponselnya.
Aira berkali-kali mengarahkan pandangannya ke pintu masuk kafe.
Hanan tetap masih diam.
"Hanan, tiga hari lagi aku akan pulang," ujar Aira.
"Hemm."
Kembali hening.
"Alvan lama sekali, 'sih?" gumamnya.
"Dia takkan datang," jawab Hanan yang mendengar.
"Hah."
"Setelah mengantarkan Hana, Tante Astrid menyuruhnya pulang," ujar Hanan.
"Lalu aku pulang dengan siapa?" tanya Aira.
Hanan mengendikkan bahunya.
Aira yang tak tahu jalan di kota ini, menjadi bingung. Pria di hadapannya enggan mengantarkannya. Menghabiskan minuman yang telah tersaji di depannya, Aira lantas berdiri.
Hanan hanya sejenak memperhatikannya tanpa mengatakan apapun.
"Aku mau pulang, permisi!" Aira melangkah keluar dari kafe.
Di jalanan depan kafe, Aira mengambil ponselnya ingin menghubungi Alvan tetapi benda tersebut malah mati.
Aira hanya mampu menghela napas pasrah.
Aira akhirnya menyetop taksi dan segera menaikinya. Dirinya sempat melihat ke arah kafe, Hanan masih berada di tempat duduknya dan tak berkedip menatap ponselnya.
Sejam berlalu, Hanan mengendarai mobilnya menuju rumahnya. Di tengah perjalanan ponselnya berdering tertera nama Alvan.
"Halo, Van!"
"Hanan, apa Aira bersamamu?" tanya Alvan.
"Tidak, dia sudah pulang sejam lalu."
"Dengan siapa?" tanya Alvan lagi.
"Sendirian naik taksi."
"Kenapa sampai sekarang belum sampai? Ponselnya juga tidak aktif."
"Aku juga tidak tahu," ujar Hanan.
"Ya sudah, terima kasih." Alvan menutup ponselnya.
Hanan yang merasa bersalah karena membiarkan Aira pulang sendirian, mencoba mengelilingi jalanan sekitar kafe dan tempat tinggalnya Alvan.
Hampir 30 menit memutari jalanan, Hanan memilih singgah ke rumah Alvan. Berharap Aira telah sampai.
Hanan tiba di rumah dan melihat Alvan berdiri di depan pagarnya.
Tak lama setelah kedatangannya, mobil Dayna tampak berhenti tak jauh dari mobilnya Hanan.
Aira keluar dari mobil bersama Dayna. Gadis itu berlari menghampiri Alvan dan memeluknya.
Aira menangis di dadanya Alvan.
Dayna dan Hanan saling pandang.
__ADS_1
Aira melepaskan pelukannya dan berkata, "Alvan, aku benar-benar takut. Aku ingin pulang malam ini juga. Tolong, pesankan tiket untukku."
"Pulang? Bukankah kamu ingin pulang tiga hari lagi?" tanya Alvan.
"Aku ingin pulang malam ini juga," jawab Aira, menghapus air matanya dengan jemarinya.
"Baiklah, aku akan pesankan tiket untukmu," ucap Alvan, mengambil ponsel di saku celananya lalu mencari aplikasi pemesanan tiket secara online.
"Bagaimana, Van?" tanya Aira, mencoba menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Pesawat jam dua pagi," jawab Alvan.
Aira melihat arloji di tangannya telah menunjukkan pukul 6 lewat 30 menit. "Masih ada waktu untuk berkemas. Terima kasih, Van."
Alvan mengangguk.
Aira lalu menoleh ke arah Dayna dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu, dengan cepat memasuki rumahnya Alvan.
"Kenapa dia ada bersama kamu?" tanya Hanan pada Dayna.
"Aku menemuinya duduk di trotoar, dia tak tahu alamat jelas rumahnya Alvan," jelas Dayna.
"Van, aku minta maaf karena tidak mengantarkannya pulang," kata Hanan.
"Aku juga salah tidak balik ke kafe dan tak menyuruhmu mengantarkannya," ujar Alvan.
Aira hanya mengingat jalan rumah Alvan awalannya saja yang diambil dari nama bunga tapi lupa angka di belakangnya. Alhasil, dia meminta sopir menurunkan dirinya di pinggir jalan .
Beruntung dirinya bertemu Dayna yang kebetulan melintas. Jika tak bertemu dengannya, entah bagaimana nasib Aira.
Dayna dan Hanan pamit pulang, sementara Aira sibuk mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.
Hanan tak dapat mencegah Aira pulang ke kota asalnya karena dirinya tak berhak. Apalagi keduanya baru beberapa kali bertemu.
Selesai makan malam, Alvan dan kedua orang tuanya mengantarkan Aira ke bandara.
Hanan sempat menelpon Alvan, padahal dirinya hanya ingin tahu tentang Aira saja. Apakah gadis itu benar-benar pulang atau tidak.
Alvan dan kedua orang tuanya kembali dari bandara setelah pesawat yang ditumpangi Aira telah terbang.
Hanan juga mengirimkan pesan kepada Alvan dengan pertanyaan apakah pesawat Aira sudah berangkat.
Aira melihat pemandangan kotanya Alvan dari kaca jendela pesawat. "Semoga aku tidak bertemu dengannya lagi," batinnya.
...----------------...
Jangan Lupa Mampir ke Karyaku Lainnya...
- Pesona Ayahku
- Dikejar Cinta Putri Atasan
- Fall in Love From The Sky
- Marry The Star
- Melupakan Sang Mantan
- Menikahi Putri Konglomerat
- Salah Jatuh Cinta
***- Calon Istriku Musuhku ***
Kalian Boleh Mampir Sambil Menunggu Update..
Maaf Juga Jika Kisah Hana dan adik-adiknya Tidak Dapat Update Tiap Hari..
__ADS_1
Sehat Selalu 🤗