Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 35 - Mencari Keberadaan Ibu


__ADS_3

Bab 35 - CSS


Hana terbangun 2 jam kemudian, mengerjapkan matanya dan melihat di sekelilingnya. Ada selimut di atas tubuhnya, menoleh ke samping meja penuh berbagai makanan.


Hana lantas duduk dan memanggil nama kekasihnya.


Dennis muncul dan berkata, "Kamu sudah bangun?"


"Kenapa kamu tidak membangunkan aku?"


"Kamu sangat nyenyak tidurnya, jadi kutak mau mengganggumu."


"Jadi, kita perginya?" tanya Hana.


"Jadi, tapi maaf aku yang menjawab ponselmu."


"Dari siapa?"


"William."


"Oh."


"Apa dia menyukaimu?" tanya Dennis.


Hana tertawa kecil.


"Han..."


"Tidaklah, dia hanya sahabatku saja. Lagian dia juga tahu kalau kita ini kekasih."


"Oh, begitu."


"Jangan cemburu begitu, aku takkan berpaling," ujar Hana.


"Iya, aku percaya. Sekarang sarapan, kata Bibi Anaya kamu belum mengisi perut sedari tadi tiba."


"Iya, aku akan makan. Perutku pun sangat lapar," ucap Hana.


Selepas sarapan, Hana mengajak Dennis pergi ke rumahnya William.


"Ini rumah siapa?" tanya Dennis.


"Rumah William."


"Mau apa kemari?"


"Kata William, dia memiliki bibi mirip denganmu kebetulan wanita itu adalah istri pamannya."


"Tidak mungkin dia ibuku," ujar Dennis.


"Alangkah baiknya kita bertemu dengannya," Hana membuka safety belt.


"Memangnya kapan mereka menikah?"


"Aku tidak tahu. Lebih baik turun, nanti kita tanyakan pada William," titah Hana.


Dennis mengikuti perintah kekasihnya.


Hana menekan bel berulang-ulang, tak lama pintu terbuka. Tampak William masih dengan pakaian tidurnya.


"Kamu mengganggu waktu tidurku, Han!" William menguap.


Hana menutup mulutnya, "Pergilah mandi dan sikat gigimu!"


"Aku akan pergi mandi, tunggu sebentar di sini," kata William membalikkan badannya dan melangkah ke kamarnya.


Dennis memperhatikan sekeliling ruang tamu.


Hana bersikap biasa karena dirinya memang sering ke sini.


"Kamu dan William berteman sejak kapan?" tanya Dennis.


"Sejak sekolah menengah atas sampai perguruan tinggi."


"Dengan Rafael?" tanya Dennis lagi.

__ADS_1


"Sekolah menengah pertama."


"Kenapa aku tidak tahu mereka, ya?"


Hana mengarahkan pandangannya pada kekasihnya begitu tajam.


"Ada yang salah?" tanya Dennis heran.


"Kita itu dulu tak terlalu dekat dan aku sangat membencimu. Mana mungkin kamu tahu tentang mereka."


"Oh, iya. Kita 'kan dulu bagai kucing dan tikus, sepertinya bukan deh. Kamu saja yang terlalu membenciku tapi ujung-ujungnya cinta padaku," Dennis berkata penuh percaya diri.


"Iya, aku mengakui semuanya. Aku lebih dahulu membencimu dan tergila-gila padamu."


"Tapi, sekarang semua berbeda. Malah aku sepertinya yang tak mau jauh darimu!" Dennis memasang senyum manisnya.


Hana menangkup wajah kekasihnya, "Oh, sayang. Kenapa kamu berkata jujur, 'sih? Aku 'kan jadi malu."


Dennis tergelak mendengarnya.


Hana menurunkan telapak tangannya.


"Aku tidak sabar menikahimu!" ucap Dennis.


"Aku juga, my honey!" Hana mencubit lembut kedua pipi kekasihnya.


"Kenapa kalian harus bermesraan di rumah orang lain?"


Hana dan Dennis menoleh, Hana lalu tersenyum nyengir.


"Apa kalian tidak kasihan melihatku yang kesepian ini?" William curhat.


"Iya, kami kasihan. Tapi, kedatangan kami ke sini bukan untuk mendengar perasaanmu."


"Kamu sungguh tega," ujar William.


"Tak perlu berlama-lama, kenapa kamu tidur lagi?" tanya Hana.


"Aku pikir kalian akan datang tiga jam lagi, makanya ku lanjut tidur."


"Maklum, baru tidur jam empat pagi."


"Alasan saja!"


"Kamu kayak tidak tahu temanmu saja."


"Iya, aku paham dengan sahabatku ini. Sekarang, antar kami ke rumah pamanmu itu!" perintah Hana.


"Iya, aku antar kalian ke sana," ucap William.


"Kalau aku boleh tahu, siapa nama istri pamanmu itu?" tanya Dennis.


"Kami biasa memanggilnya Tante Yenny." Jawab William.


"Namanya saja sudah beda," ujar Dennis pada kekasihnya.


"Bisa saja dia ganti nama," kata Hana.


"Berapa lama mereka menikah?" tanya Dennis lagi pada William.


"Ketika aku masih sekolah dasar."


Dennis pun diam, ia merasa cukup dengan penjelasan William.


Mereka pun pergi ke rumah pamannya William, sesampainya di sana nihil.


Felix dan keluarganya sedang pergi ke luar kota menghadiri pesta pernikahan saudaranya, itu mereka dapatkan dari informasi ART-nya.


"Saudara sendiri tapi tidak tahu kalau pergi, percuma saja punya ponsel!" singgung Hana.


"Biasanya Paman Felix tidak pernah pergi kecuali bersama dengan keluarga kami."


"Mungkin saja, rekan bisnisnya yang menikah," tebak William.


"Bisa saja, 'sih!" Hana menyetujuinya.

__ADS_1


"Apa kamu punya fotonya?" tanya Dennis pada William.


Pria itu menjawab, "Ponselku mati."


Dennis menghela napas kesal.


"Aku akan mengirimkannya nanti di ponselnya Hana," janji William.


"Baiklah, kami tunggu!" sahut Hana.


Dennis dan Hana pun pulang, sementara William mengendarai mobilnya sendiri.


Sejam kemudian keduanya tiba di kediaman Harsya. Hana keluar dari mobil bersama dengan Dennis.


Hana menghampiri kedua orang tuanya.


"Bagaimana? Apa sudah bertemu dengan pamannya William?" tanya Harsya, karena tadi putrinya pamit akan membantu Dennis mencari ibunya.


"Belum, Yah. Mereka sedang pergi ke luar kota," jawab Hana.


Harsya manggut-manggut paham.


Anaya lalu mengajak keempatnya menikmati makan siang bersama.


Selesai makan, ponsel Hana berbunyi. Sebuah pesan tertera nama William. Gegas membuka dan membacanya.


Hana lalu berkata kepada Dennis, "William tidak memiliki foto bibinya itu. Kita di suruh mengecek akun sosmed miliknya saja."


"Siapa nama akun sosmed-nya?" tanya Dennis.


Hana segera mengecek akun sosmed yang namanya dikirimkan William lalu menunjukkan beberapa foto terpajang kepada kekasihnya.


Dennis sejenak terdiam memandangi foto di sosmed tersebut dengan mata berkaca-kaca.


"Dennis..." panggil Hana pelan.


Dennis cepat menggerakkan kepalanya.


"Apakah kamu mengenalnya?" tanya Hana.


Dennis mengangguk pelan.


Hana dan kedua orang tuanya saling pandang.


"Apakah dia ibumu?" tanya Anaya.


"Dia wanita yang pernah menemuiku di mall, Bi." Jawab Dennis.


Hana dan orang tuanya menghela napas panjang.


Harsya lantas bangkit dan memeluk Dennis yang air matanya hampir jatuh. "Menangislah!"


Dennis akhirnya menangis dipelukan Harsya tanpa mengatakan apapun.


Hana pun juga memeluk sang ibu, air mata kedua wanita itu pun tumpah.


Dua jam kemudian, Dennis akhirnya pamit pulang pada kedua orang tuanya Hana.


Selepas kekasihnya pulang, Hana menghubungi William dan menjelaskan semuanya tentang pertemuan Dennis dengan wanita yang merupakan istri paman sahabatnya itu.


Hana meminta William untuk mempertemukan kekasihnya kepada ibunya tapi tanpa ada yang boleh tahu.


William menyetujuinya dan berjanji akan mencari waktu yang pas untuk mempertemukan keduanya.


Dennis tak pulang ke rumah melainkan menuju kediaman Alpha. Sesampainya di sana, dirinya menceritakan bahwa wanita yang mengaku ibunya telah diketahui keberadaannya.


Alpha meminta Dennis agar segera bertemu dengannya dan mengatakan alasan mengapa wanita itu meninggalkannya sewaktu kecil.


Padahal sebenarnya Alpha sudah mengetahui itu dari kedua orang tuanya, namun ia ingin Dennis mendengarnya langsung dari wanita yang melahirkannya.


"Paman turut senang kamu menemukan ibumu, tinggal pencarian keberadaan ayah kandungmu," ujar Alpha.


"Iya, Paman. Semoga ayah masih hidup," harapnya.


"Semoga saja."

__ADS_1


__ADS_2