Cinta Untuk Elmira

Cinta Untuk Elmira
Bab 10. Kenapa Jantungku Berdebar?


__ADS_3

Happy Reading๐Ÿฅฐ


2 minggu berlalu ...


Tiada usaha yang Elmira lewatkan untuk menarik perhatian Edgar agar bisa meraih cintanya. Ia melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan sangat baik. Elmira menyiapkan segala keperluan Edgar mulai dari menyiapkan air hangat untuk Edgar mandi, menyiapkan pakaian kerjanya, menyiapkan sarapan, serta tugas-tugas yang lainnya. Kecuali tugasnya di atas ranjang.


Edgar membatasi hubungannya bersama Elmira dengan melarang adanya kontak fisik di dalam rumah tangga mereka. Edgar tidak ingin terjerat dengan pesona Elmira yang semakin hari semakin bersinar. Edgar tidak menampik bahwa dirinya mulai tertarik dengan kecantikan sang istri. Namun dengan susah payah Edgar mengingatkan dirinya untuk tidak mengkhianati Alexa.


Hari ini mereka akan pergi ke kediaman Addison. Alana meminta Edgar untuk membawa sang istri ke rumah. Dengan tujuan makan malam bersama. Elmira sengaja mengajak Edgar berangkat siang agar bisa membantu Alana menyiapkan makan malam nanti.


"Jangan sampai bicara macam-macam sama mama dan papa! Apalagi mengenai hubungan ku dengan Alexa!" Edgar sudah mewanti-wanti sang istri supaya tidak membocorkan rahasianya.


"Aku tahu, Mas! Aku tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku bukan tukang ngadu apalagi mengadu-domba antara anak dan orang tuanya. Lagipula tanpa aku beritahu suatu saat kebohongan kamu akan ketahuan juga oleh mama dan papa."


"Berani sekali mulutmu mengatakan itu!" Edgar memberikan tatapan tajamnya kepada Elmira.


Elmira memilih diam, tak ingin meladeni Edgar yang tengah naik pitam. Akhirnya mereka tiba di kediaman Addison. Elmira di sambut hangat oleh Alana, mama mertuanya.


"Sayang, akhirnya kamu datang juga." Alana memeluk Elmira di sertai dengan senyuman manisnya.


"Mana mungkin aku gak datang saat mama mertuaku meminta aku datang ke rumahnya. Itu adalah suatu kehormatan buat aku, Ma."


"Ya ampun, manis sekali menantu mama ini." Alana membawa Elmira masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Edgar merasa jengah dengan sikap kedua wanita yang berada di hadapannya. "Puji terus menantumu itu, dan lupakan anakmu sendiri." Edgar menyindir mamanya yang tiada hentinya memuji Elmira.


"Wah, mama sampai lupa kalau ada kamu di sini."


"Jangan begitu, Ma. Nanti Mas Edgar nangis lagi." Elmira malah semakin meledek Edgar. Ini adalah kesempatan buat Elmira berdekatan dengan Edgar di depan orang tua Edgar.

__ADS_1


"Enak saja, kamu pikir aku ini kamu?"


"Nggak kok, aku gak bilang kayak gitu." Elmira sengaja memancing amarah Edgar. Apakah Edgar akan mengeluarkan taringnya di depan Alana atau tidak.


"Berani ya kamu meledek aku, Sayang." Edgar mencubit pipi Elmira dengan gemas. Ia terpaksa harus berpura-pura lucu dan mesra di depan Alana. Walaupun sebenarnya hatinya sangat kesal terhadap Elmira.


Deg.


Elmira merasakan jantungnya berdebar mendengar kata sayang. Mendapatkan sentuhan dan senyuman manis dari Edgar adalah suatu anugrah baginya. Baru kali Edgar bersikap manis kepadanya, meskipun semua itu hanya sebatas sandiwara.


"Kalian membuat mama iri saja. Dulu papa kalian juga kayak gitu. Sering cubit pipi mama kalau lagi di buat kesal sama mama."


"Benarkah, Ma?" tanya Elmira sangat antusias.


"Iya, Sayang. Papa kamu itu sangat posesif sama mama."


"Wah, beruntung sekali mama mempunyai suami seperti papa Addison. Cerita dong Ma, masa-masa Mama sama papa dulu." Elmira menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Alana.


Edgar benar-benar di anak tiri 'kan oleh mamanya sendiri. Dia layaknya orang asing di sana. "Dasar!" Edgar duduk seorang diri di ruang tengah. Sedangkan Elmira dan mamanya duduk di ruang tamu.


Elmira sangat serius mendengarkan cerita dari mama mertuanya, fokusnya terus tertuju ke wajah Alana. Hal itu membuat Alana semakin menyukai menantunya itu. Sudah baik, sopan, murah senyum, gampang berbaur, dan yang paling dia sukai adalah sikapnya yang selalu bisa membuat orang lain merasa nyaman berdekatan dengannya.


Elmira memberikan apa yang di butuhkan oleh seorang wanita di saat bercerita. Yaitu menjadi pendengar yang baik. Sesekali mereka tertawa saat menceritakan kisah Addison yang sangat posesif itu.


"Masak sih, Ma. Papa sampek segitunya. Haha ... Haha ...." Elmira bertanya diiringi dengan tawanya.


"Kamu gak tahu aja, papa kamu paling gak bisa kalau lihat mama bicara sama laki-laki. Meskipun orang itu masih kerabat dekat, mama."


"Astaga! Gak kebayang deh punya suami se posesif papa."

__ADS_1


Haha... Haha...


Tawa keduanya terdengar nyaring, sampai mengalihkan fokus Edgar yang sedang berbalas pesan dengan Alexa. "Apa yang mereka bicarakan, sampai segitunya." Edgar beranjak dari tempat duduknya. Ia mengintip kedua wanita cantik yang tengah asik dengan dunianya.


Melihat tawa Elmira yang begitu lepas membuat hati Edgar berdebar. "Tawanya begitu ceria. Aku tidak pernah melihat dia tertawa selepas itu. Kenapa jantungku berdebar melihat senyuman manis Elmira? Hatiku juga menghangat melihat kedekatan Elmira dan mama. Sesuatu yang tak pernah ada antara Alexa dan mama." batin Edgar.


Malam Hari.


Elmira, Edgar, Alana, dan Juga Addison berkumpul di ruang makan. Mereka tengah menikmati makan malam bersama, hasil olahan dari Elmira dan Alana. Makanan yang tersaji di meja makan sangat mengunggah selera.


"Masakan Mama enak sekali." Edgar memuji hasil masakan yang ia kunyah di dalam mulutnya.


"Itu bukan mama yang masak, tapi istri kamu. Mama hanya masak ayam rendang saja, yang lain Elmira yang masak."


Edgar menghentikan kunyahannya, ia tercengang dengan jawaban Alana. Edgar baru tahu kalau masakan Elmira sangat lezat, tidak kalah dengan makanan di restoran bintang lima. Wajar jika Edgar tidak tahu kalau itu masakan Elmira. Sebab ia tidak pernah menyentuh makanan yang di masak oleh Elmira setiap kali menyiapkan sarapan untuknya.


"Kamu bagaimana sih, sama masakan istri sendiri sampai lupa. Papa saja sudah puluhan tahun menikah sama mama kamu masih ingat dengan masakan istri papa ini. Karena rasanya dangat berbeda. Tapi papa kasih bintang lima buat masakan menantu papa, sungguh rasanya sangat spektakuler." Addison mengacungkan kedua jempolnya kepada Elmira.


"Terimakasih, Pa. Masakan aku masih kalah jauh dengan masakan mama yang sangat enak." Elmira selalu merendahkan diri di depan mertuanya.


Elmira dan Edgar saling tatap, jarak mereka hanya terhalang oleh meja.


"*Aku jamin setelah ini kamu tidak akan mengabaikan masakan aku lagi, Mas!"


"Jika tahu masakan dia seenak ini pasti aku akan memakannya, dan tidak akan memilih untuk makan diluar*."


Edgar tidak sungkan menambah porsi makannya. Ia tidak lagi memikirkan gengsi di depan Elmira. Lagipula memang sudah tugas istri memasak untuk suaminya, bukan? Jadi wajar jika Edgar memakan masakan Elmira sampai habis.


Elmira tersenyum sinis melihat Edgar makan dengan lahap. "makan sepuasnya, Mas. Jika aku tidak bisa membuatmu tertarik denganku. Maka akan aku puaskan dulu perutmu. Lama-lama kamu juga akan terbiasa dengan masakanku." batin Elmira penuh percaya diri. Entah apa yang dia rencanakan, sorot matanya menyiratkan bahwa dia tengah menyusun rencana.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2