Cinta Untuk Elmira

Cinta Untuk Elmira
Bab 67. Ketulusan Hati Evan.


__ADS_3

Happy Reading 🥰


Widi dan Rudy menatap Ratna yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Mereka merasa bersalah karena sudah membuat Ratna shock atas kehadiran mereka yang secara mendadak. Widi menangis tersedu-sedu melihat putri kecilnya kini telah dewasa. Dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.


Evan menatap Widi dan Rudy dengan malas, dalam hati ia masih sangat membenci kedua orang itu. Hanya saja ia merasa sedikit tidak tega melihat mamanya Ratna yang memohon agar bisa bertemu dengan putrinya.


Ratna mengerjapkan mata saat kesadarannya mulai pulih. Orang pertama yang dia lihat adalah wanita yang sudah melahirkannya ke dunia. Namun, ia enggan untuk menyapanya karena rasa sakit hati yang telah lama menggerogoti hatinya.


"Mas Evan!" Panggil Ratna mencari sosok laki-laki yang sangat ia cintai, dan sebentar lagi akan menjadi suaminya.


"Iya, Sayang." Evan menghampiri Ratna yang berusaha turun dari atas ranjang. "Jangan turun dulu, lebih baik istirahat," perintah Evan.


"Aku mau pulang saja, Mas." Ratna tetap bersikukuh untuk pulang. Karena ia tidak ingin bertatap muka dengan mamanya.


"Rara, maafkan mama," ucap Widi tulus. Ia memanggil Ratna dengan panggilan kesayangannya. Kedua matanya sudah berlinang air mata.


Ratna hanya diam saja, ia masih enggan menjawab permintaan maaf dari mamanya. Sakit! Itulah yang Ratna rasakan. Kemana saja mamanya selama ini? Di saat dirinya butuh seorang ibu untuk di jadikan sandaran. Di saat papanya sendiri juga mengabaikannya, mamanya pun tidak pernah menampakkan batang hidungnya.


Di saat Ratna melawan kerasnya kehidupan, mamanya tetap tidak perduli dengan keadaannya. Bahkan di saat dia di rendahkan oleh kakak dan ibu tirinya tidak ada satu orang pun yang perduli terhadap penderitaan yang Ratna rasakan.


Hanya Elmira, orang asing yang penuh dengan kasih sayang dan rasa perduli dengan keadaannya. Ratna tersenyum kecut saat mengingat kilasan hidup di masa lalunya.


Lalu sekarang apa? Calon suaminya adalah anak dari laki-laki yang sudah mamanya hancurkan rumah tangganya. Ratna tidak akan sanggup hidup bersama dengan Evan. Dia merasa sangat bersalah atas apa yang mamanya lakukan.


"Saya sudah memaafkan kesalahan Anda. Jadi, saya harap setelah ini kita tidak bertemu lagi," ucap Ratna dengan penuh penekanan. Namun, ia tidak sanggup menatap wajah sang mama.

__ADS_1


"Ra, kenapa kamu seperti orang asing? Kenapa kamu berbicara seperti itu, Nak?" Widi sangat sedih mendengar putrinya tidak memanggilnya mama.


"Jika tidak ada yang ingin di bahas lagi, tolong silahkan pergi dari sini," usir Ratna dengan tegas.


Hiks ... Hiks ... Hiks ...


Widi menangis tersedu-sedu. Hatinya begitu sakit saat putrinya sendiri mengusirnya dari sana. Memang Widi akui bahwa semuanya gara-gara dirinya yang terlalu egois. Ia sudah menelantarkan Ratna sejak dia masih kecil.


"Ra, tolong maafkan mama kamu, dia tidak bersalah. Saya yang bersalah dalam hal ini. Mama kamu sama sekali tidak merayu saya agar saya pergi meninggalkan istri dan anak saya. Tapi, saya lah yang memaksanya untuk meninggalkan papa kamu. Saya yang brengs*k, saya yang menjadi laki-laki tidak bertanggungjawab. Jadi, maafkanlah mama kamu," ungkap Rudy dengan perasaan bersalah.


"Asal kamu tahu, mama kamu sudah berusaha untuk menemui kamu di rumah papa kamu, Ratna. Tapi selalu dihalangi oleh anak serta istri baru papa kamu itu," sambung Rudy menggebu.


Selama ini bukan sengaja Widi menelantarkan Ratna. Hanya saja setiap kali dia berusaha untuk menemui putrinya itu pasti Dewi, ibu tiri Ratna akan mengusirnya secara kasar, dan tidak mempertemukannya dengan Ratna.


Penjelasan Rudy tidak serta merta membuat hati Ratna luluh. Ia masih belum bisa menerima alasan itu meskipun semua itu adalah fakta. Ratna masih butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Apalagi Ia masih dilema tentang hubungannya dengan Evan.


"Maaf, Om. Tapi, saya benar-benar tidak ingin membahas itu untuk saat ini. Biarkan saya berpikir dengan jernih dan menggunakan kepala dingin," keluh Ratna dengan suara lirih.


Widi yang mengerti dengan perasaan Ratna, ia mengajak Rudy untuk pulang saja. Besok Widi akan menemui Ratna dan akan membicarakan semuanya secara kekeluargaan.


"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, Ra. Untuk saat ini mama akan pergi. Tapi, besok mama akan kembali lagi dan akan membahas semua hal bersama kamu. Jadi, tolong berikan alamat kamu biar mama datang ke sana," pinta Widi memohon.


Dengan berat hati Ratna memberikan alamatnya kepada mamanya itu. Walau bagaimana pun ia Ratna tetap menyayangi mamanya, hanya saja ia masih kecewa dengan apa yang dia alami selama ini. Ratna sadar bahwa masalah harus tetap dihadapi agar segera teratasi. Ia tidak ingin lari dari masalah dan hanya menimbulkan kesalahan pahaman lagi.


Setelah kepergian Widi dan Rudy, Ratna masih terdiam. Ia menatap Evan dengan tatapan tak terbaca. Pikirannya sangat kacau gara-gara sebuah fakta yang baru ia ketahui hari ini. Entah keputusan apa yang harus Ratna ambil. Ia begitu dilema dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi Ratna begitu mencintai Evan, tapi di sisi lain Ratna merasa bersalah dan tidak pantas bersanding dengan Evan karena kesalahan di masa lalu.

__ADS_1


"Kenapa kamu melihat aku seperti itu, hum?" tanya Evan dengan suara lembutnya.


"Bagaimana kalau kita gagalkan saja pernikahannya ini, Mas," lirih Ratna.


Ucapan Ratna bagaikan sebuah petir yang menyambar jantung Evan. Ia tidak mengerti kenapa Ratna tiba-tiba berkata seperti itu.


"Apa maksud kamu, Sayang?" Evan menatap Ratna dengan tatapan mengintimidasi.


"Maafkan aku, Mas. Aku tidak pantas bersanding dengan laki-laki yang keluarganya di hancurkan oleh mama aku sendiri." Ratna berkata dengan linangan air mata. Ia benar-benar tidak sanggup membayangkan semua itu terjadi.


"Sayang! Dengar! Semua itu bukan kesalahan kamu. Kamu dengar sendiri 'kan penjelasan dari papa aku? Mama kamu tidak bersalah, yang salah adalah papa aku. Lagipula semuanya sudah berlalu sudah seharusnya kita melupakan itu."


"Tapi, bagaimana dengan mama kamu? Dia pasti akan membenciku, Mas."


"Untuk apa mama membencimu, Sayang? Karena mama kamu? Dengar! Kesalahan mama kamu itu tidak ada sangkut pautnya dengan kamu. Jadi, tidak ada alasan untuk mama membenci kamu. Mama aku bukan tipe orang yang menyangkut pautkan orang yang tidak bersalah dalam sebuah kesalahan. Apalagi hanya karena hubungan darah," terang Evan dengan kedua tangan yang menangkup pipi Ratna. Ia menghapus air mata yang mengalir di pipi calon istrinya itu.


"Ingat! Kita hanya korban dari keegoisan mereka! Kita tidak bersalah! Yang salah adalah takdir karena sudah mempertemukan mama kamu sama papa aku di waktu yang tidak tepat," lanjutnya.


Ratna semakin menangis sejadi-jadinya, ia sangat beruntung bisa mendapatkan calon suami sebaik Evan yang bisa menerima dan melupakan kesalahan mamanya di masa lalu.


"Terimakasih, Mas!"


...----------------...


Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya di kolom komentar😘

__ADS_1


__ADS_2