Cinta Untuk Elmira

Cinta Untuk Elmira
Bab 70. Memanjat Pohon Kelapa.


__ADS_3

Happy Reading 🥰


"Mas! Kamu baik-baik saja 'kan? Kenapa wajah kamu terlihat pucat?" tanya Elmira panik.


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Mungkin karena di luar terlalu dingin. Tadi Kakak ipar mengemudi dengan kecepatan lumayan tinggi," ucap Edgar berbohong. Padahal ia sangat ketakutan tadi ketika melihat betapa mengerikannya seorang Elvaro. Edgar harus berpikir dua kali sebelum mencari gara-gara dengan kakak iparnya itu.


"Kak Elan kebiasaan! Tidak ada jerahnya dia mengendarai mobil ugal-ugalan." Elmira menggerutu kesal. Memang tidak heran jika kakaknya itu sering kebablasan jika mengendarai mobil. Karena itu adalah hobby-nya, bahkan dulu Elvaro sering mengalami kecelakaan. Namun semua itu tidak membuat seorang Elvaro merasa jerah dengan apa yang dia alami.


"Sudahlah, lagipula aku tidak apa-apa." Edgar menarik tangan istrinya untuk memasuki rumah. Sebab dari tadi mereka mengobrol di teras rumah.


Elmira membuatkan teh hangat untuk sang suami. Ia memang selalu perhatian kepada suami tercintanya itu. Meskipun dalam keadaan hamil Elmira tidak pernah bermalas-malasan. Bahkan ia semakin giat melakukan aktivitas sehari-hari, dan juga sering melakukan olahraga ringan.


"Makasih, Sayang." Edgar menyeruput teh hangat buatan sang istri. "Aku 'kan sudah bilang, jangan melakukan apapun di rumah ini, Sayang. Aku tidak mau kalau kamu kelelahan dan membuat calon anak kita marah," tutur Edgar berlebihan.


"Mana ada baby kita marah. Yang ada papanya terlalu berlebihan."


"Aku begini juga demi kebaikan kamu dan calon anak kita, Sayang."


"Aku tidak apa-apa, Mas. Aku bahkan sangat sehat. Kamu dengar sendiri 'kan waktu dokter memberikan penjelasan, kalau ibu hamil itu harus banyak gerak. Asalkan tidak terlalu capek. Nah aku tidak capek sama sekali kok."


"Kamu kalau di bilangin selalu seperti itu." Edgar memasang wajah cemberutnya. Entah mengapa sejak Elmira dinyatakan hamil, Edgar menjadi sosok suami yang begitu manja terhadap istrinya.


"Cie, pakmil lucu banget sih kalo lagi cemberut." Elmira mencolek hidup Edgar begitu gemas. Ia suka sekali menggoda suaminya itu.


"Terus saja godain aku. Nanti aku godain balik malah gak mau," sungut Edgar dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Ooh, sudah berani ya menatap aku kayak gitu." Elmira berdiri dari posisi duduknya sambil menatap Edgar dengan tatapan mematikan.


"Sayang ... Jangan mulai deh."


"Kamu 'kan yang mulai duluan, Mas."


"Oke, oke, aku salah. Ayo mau di buatin apa?" Edgar sudah bisa menebak kalau istrinya sedang menginginkan sesuatu. Seperti hari-hari sebelumnya jika Elmira mulai berkata aneh pasti ada maunya.


"Hehehe ... Kamu pintar sekali, Mas. Bisa menebak keinginan ku," Elmira terkekeh kecil. Ia duduk di atas pangkuan Edgar. Tangannya melingkar di leher sang suami. Membuat Edgar menelan saliva nya kasar.


Dengan sikap Elmira yang begitu manis, pasti permintaannya akan sedikit berat untuk Edgar. "Katakan mau apa?" Edgar tetap bersikap lembut dan manis kepada Elmira. Ia tidak perduli jika calon bayinya terus menyiksa dirinya dengan meminta hal-hal aneh, yang penting Elmira dan calon bayinya baik-baik saja.


"Aku mau es kelapa muda yang di campur dengan buah naga. Tapi, harus kamu yang manjat kelapanya, Mas," ucap Elmira dengan tatapan penuh harap.


Edgar membulatkan kedua matanya sempurna. Bagaimana caranya dia naik pohon kepala, sedangkan melihat tinggi pohonnya saja sudah merinding. Kali ini Edgar benar-benar di uji kesabarannya.


"Ya sudah kalau tidak mau," pungkas Elmira dengan cepat saat melihat Edgar akan mengajukan protes. Ia mengeluarkan jurus andalannya agar Edgar luluh.


Sebenarnya Elmira hanya mengerjai Edgar saja. Ia tahu kalau suaminya itu tidak mungkin bisa memanjat pohon kelapa. Hanya saja Elmira ingin menguji ketulusan dan kebesaran cinta Edgar terhadapnya dan juga calon anak mereka. Ia ingin mendengar jawaban apa yang akan Edgar berikan.


"Bukan begitu, Sayang. Jujur saja aku tidak pernah memanjat pohon, apalagi pohon kepala yang begitu tinggi. Namun, demi kamu sama calon anak kita, aku rela memanjat pohon kelapa apapun resikonya." Edgar berkata dengan tulus. Membuat hati Elmira tersentuh dengan ucapannya.


Elmira menahan diri untuk tidak memeluk suaminya. Ia harus membuktikan dulu kalau Edgar benar-benar ingin berusaha memanjat pohon kelapa. "Ya udah kalau begitu kita berangkat sekarang. Aku ingin melihat secara langsung bagaimana kamu memanjat pohon kelapa itu."


"Baiklah, sekarang kita pergi ke pantai. Pasti di sekitar pantai ada banyak pohon kelapa. Aku akan meminta izin dulu dengan pemiliknya, agar aku bisa mengambil kelapa itu." Edgar memeluk tubuh istrinya dengan erat. Setelah itu mereka berangkat ke pantai yang Edgar maksud.

__ADS_1


Dalam perjalanan Elmira tiada hentinya menatap wajah sang suami yang terlihat serius menyetir mobil. "Kenapa kamu lihatin aku terus, Sayang?" tanya Edgar dengan tatapan lurus ke depan.


"Kamu yakin mau manjat pohon kelapa?"


"Tentu saja! Apapun akan aku lakukan untuk kamu dan calon anak kita."


"Makasih, Mas. Cup!" Elmira mengecup sekilas pipi Edgar. Membuat hati Edgar berbunga-bunga.


Ckiiiit!


"Kenapa berhenti, Mas?" Elmira mengerutkan keningnya penuh tanda tanya. Padahal tempat tujuan mereka masih sedikit jauh.


"Jangan menggoda ku, Sayang. Nanti adik kecil ku bangun. Bisa lama mengambil kelapanya."


Wajah Elmira memerah saat mendengar ucapan Edgar. Ia tidak lagi mengeluarkan suara, sebab Elmira takut kejadian waktu pulang dari acara jumpa pers kembali terjadi.


Edgar tersenyum simpul melihat sang istri langsung diam seketika. Edgar tidak berbohong tentang apa yang dia ucapkan. Jangankan di cium, mendengar suara seksi sang istri hasratnya langsung naik seketika itu juga.


Mereka tiba di pinggir pantai yang begitu indah. Kedua mata Elmira berbinar melihat pemandangan itu. Untuk yang kedua kalinya Elmira merasakan ketenangan saat berada di pantai. Tentunya bersama seseorang yang sangat penting dalam hidupnya. Dia yang membuat Elmira merasakan jatuh cinta. Dia yang menjadi pahlawan Elmira di masa lalu. Dia yang menyembuhkan rasa trauma di dalam diri Elmira. Dialah Edgar, suami tercinta Elmira.


Edgar mencari pemilik pohon kelapa di pinggir pantai. Walaupun sangat mustahil akan ada yang memilikinya. Hanya saja Edgar tidak ingin mengambil sesuatu tanpa seizin orangnya, dalam artian mencuri. Edgar akan membeli kelapa itu berserta dengan pohonnya, agar Elmira tidak kekurangan air kelapa yang kata dokter sangat bagus untuk kesehatan bayi. Hanya tinggal mencari buah naga saja di sekitaran pantai, pasti juga ada yang menjualnya.


Karena tidak menemukan pemilik pohon kelapa itu, Edgar terpaksa memanjatnya tanpa mendapatkan izin dulu. Biarkan saja urusan itu belakangan yang penting Elmira tidak menunggu terlalu lama.


Namun saat akan memanjat pohon kelapa, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perut Edgar dari arah belakang. "Jangan memanjat, Sayang."

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘.


__ADS_2