Cinta Untuk Elmira

Cinta Untuk Elmira
Bab 19. Skakmat.


__ADS_3

Happy Reading🄰


Elmira melihat kedaan butik sangt ramai. Ia tersenyum, pantas saja setiap hari Ratna selalu mengirimkan hasil keuangan yang sangat fantastis. Sebab pengunjung butik selalu membludak. Para pengunjung jarang yang tahu tentang pemilik butik itu. Karena Elmira tidak terlalu sering datang butik. Ia sudah mempercayai Ratna untuk menjaga butik EMI.


Elmira memasuki butik dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya. Ratna yang melihat kehadiran Elmira langsung menyambutnya.


"Selamat siang, Bu!" sapa Ratna menunduk hormat.


"Siang, Ra. Apakah setiap hari butik selalu ramai seperti ini?"


"Iya, Bu. Terkadang juga lebih ramai dari sekarang."


"Pantas saja pendapatan yang kita hasilkan dari butik sangat tinggi. Ternyata pengunjung selalu ramai."


"Itu karena barang-barang di butik Emi sangat berkualitas, Bu."


"Tentu, saya tidak akan menjual barang kw di sini."


Atensi Elmira menangkap sosok wanita yang sangat ingin dia hindari. Ia terus menatapnya yang sedang memilih banyak pakaian di sana. Elmira tersenyum kecut menyadari hal itu. Pasti wanita itu berbelanja sangat banyak hasil dari uang pemberian Edgar. Ya, wanita yang berada di butik EMI adalah Alexa. Namun yang membuat Elmira bertanya-tanya siapakah laki-laki yang bersama dengan Alexa?


Mereka terlihat sangat mesra, bahkan Alexa juga membelikan banyak baju untuk laki-laki tersebut. Mungkin itu adalah saudara Alexa pikir Elmira. Dia tidak ingin ambil pusing dan tidak mau berurusan dengan wanita yang menjadi benalu dalam rumah tangganya.


Akan tetapi, saat akan pergi dari sana dan ingin menuju ke ruang kerjanya. Tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkah Elmira.


"Wah, wah, wah. Ada istri yang tak diinginkan ternyata." Alexa meneriaki Elmira dengan suara lantang. Sepertinya dia memang sengaja menarik perhatian pengunjung lain dan ingin mempermalukan Elmira di sana.


Elmira membalikkan badan untuk melihat ke arah Alexa. Ia tersenyum sinis menatap Alexa yang juga menatapnya dengan tatapan remeh. "Maaf, apa anda berbicara dengan saya, Nona yang terhormat?"

__ADS_1


Alexa tampak geram mendengar pertanyaan dari Elmira yang seolah-olah tidak termakan dengan ucapannya tadi. "Tentu saja, siapa lagi disini istri yang tak diinginkan kalau bukan kamu!"


"Oh, benarkah? Tapi saya tidak mengenal anda, Nona! Kenapa anda bisa berasumsi bahwa saya seorang istri yang tak diinginkan? Apakah anda mengenal suami saya? Atau anda mempunyai hubungan special dengan suami saya? Karena anda terlihat sangat mengetahui kondisi rumah tangga saya."


Skakmat!


Alexa mengepalkan tangannya, ia menatap Elmira dengan mata menyala. Niat hati ingin mempermalukan Elmira, namun dia sendiri yang di permalukan. Apalagi para pengunjung di butik itu sudah mulai berbisik-bisik tentang dirinya.


"Sayang, lebih baik kita pergi dari sini." ajak Jack yang sejak tadi berasa di sana untuk menemani Alexa berbelanja, dan juga berbelanja untuk dirinya.


Alexa menurut dengan ucapan Jack. Sebab tidak ada pilihan lagi selain pergi dari sana. Tak lupa dia mengambil barang belanjaannya yang sudah di bayar di bagian kasir.


Elmira mengerutkan kening saat mendengar Jack memanggil Alexa dengan panggilan 'Sayang'. Itu artinya mereka mempunyai hubungan special. Lalu bagaimana hubungan Alexa dengan Edgar? Banyak pertanyaan yang melintas di benaknya. Elmira merasa curiga dengan hubungan Alexa dan laki-laki tadi.


Elmira pergi ke bagian kasir, ia meminta struk belanjaan dari Alexa. Tentu saja dia dengan mudah mendapatkan itu, sebab dia pemilik butik itu sendiri. Mata Alexa membulat saat melihat total belanjaan dari Alexa. Untuk dirinya sendiri dia merasa untung karena barang-barang di butik nya melejit habis.


Elmira menyimpan struk belanjaan itu, sebab di dalam sana tertulis jelas apa saja yang Alexa beli. Ada banyak barang pria yang dia beli. Mungkin sewaktu-waktu Elmira membutuhkan struk itu jika dugaannya tentang Alexa benar. Ia akan memberikan bukti kepada Edgar. Tapi tidak sekarang, untuk saat ini Elmira hanya ingin menenangkan diri.


Saat akan memasuki ruang kerjanya, tiba-tiba lagi ada seseorang yang memanggilnya, namun kali ini orang itu menyapanya dengan lembut, tidak seperti Alexa yang memanggilnya tadi. Saat membalikkan badan, ternyata dia melihat Maya di sana.


"Elmira, Sayang!" sapa Maya mendekati Elmira.


"Tante Maya! Tante sama siapa ke sini?"


"Seperti biasa, sama Evan. Tuh dia lagi diluar katanya malas mau ke dalam. Sebentar biar Tante panggilkan." Maya kembali keluar untuk memanggil Evan.


"Evan! Ayo masuk!"

__ADS_1


"Nggak Ma, aku tunggu di sini saja." Evan tetap menolak untuk masuk kedalam. Ia sangat malas jika harus disuruh memilihkan baju-baju yang akan mamanya beli.


"Beneran gak mau masuk? Di dalam ada Elmira loh."


Evan sontak saja langsung berdiri dan berjalan ke arah mamanya yang berada di ambang pintu. "Serius, Ma?" mata Evan terlihat berbinar saat mendengar nama Elmira.


"Lihat saja sendiri." Maya kembali masuk ke dalam butik, yang diikuti oleh Evan di belakangnya.


Benar saja, Evan melihat Elmira tengah duduk di sofa yang tersedia di dalam butik. Jantung Evan berdegup kencang ketika sudah berdekatan dengan Elmira.


"Hai, a-apa kabar?" tanya Evan sedikit gugup.


"Baik, seperti yang kamu lihat." Elmira tersenyum kepada Evan, dan berhasil membuat jantung Evan berdetak tak beraturan.


"Oiya, kamu juga mau belanja di sini?" tanya Maya penasaran.


"Oh, i-itu--" Elmira tampak ragu ingin mengatakan bahwa butik itu adalah miliknya.


"Ibu Elmira adalah pemilik butik ini, Nyonya." ucap Ratna yang tiba-tiba ada di sana. Ia sangat mengerti dengan Elmira yang enggan mengatakan bahwa dirinya lah pemilik butik Emi. Sebab Ratna sudah hafal dengan karakter Elmira yang sangat pemalu, dan tidak pernah pamer dengan kekayaannya.


Maya dan Evan sangat terkejut dengan kebenaran itu. Ternyata Elmira seorang wanita karir. Mereka juga belum tahu bahwa Elmira anak dari keluarga Winata yang mempunyai perusahaan terbesar di kota J. Bahkan sebenarnya perusahaan Addison masih kalah tinggi dengan posisi perusahaan Winata. Hanya saja dengan bersatunya kedua perusahaan itu, mereka menduduki posisi tertinggi di kota J.


"Wah, hebat sekali kamu Elmira. Di usia kamu yang masih sangat muda sudah bisa membangun butik se besar ini, bahkan butik kamu adalah butik terbesar dan terkenal di kota ini." puji Elmira yang merasa kagum.


"Tante terlalu berlebihan. Saya tidak sehebat yang Tante fikirkan." Elmira selalu saja merendah.


Itulah yang semakin membuat Maya dan Evan mengagumi sosok Elmira. Dia selalu bersikap rendah diri, bahkan dia tidak mengungkapkan sendiri identitasnya.

__ADS_1


"Aku semakin mengagumi kamu, Elmira! Kamu wanita yang sangat sempurna! Hanya Edgar yang bodoh, sudah menyia-nyiakan wanita sesempurna dirimu!" batin Evan penuh kagum.


__ADS_2