Cinta Untuk Elmira

Cinta Untuk Elmira
Bab 73. Rencana Bulan Madu.


__ADS_3

Happy Reading 🥰


semakin hari Edgar semakin bucin sama Elmira. Apalagi sejak kejadian di pantai membuat Edgar terus melayang. Bagaimana tidak melayang mereka bercinta di atas mobil bagian depan, dengan suasana indah di pinggir pantai, bahkan di saksikan oleh tenggelamnya senja. Mereka melakukannya hingga tiga jam lamanya.


Entah gaya apa saja yang mereka gunakan hingga selama itu mereka bermain. Ingin rasanya Edgar mengulang permainan itu dengan suasana yang sama. Namun di waktu yang berbeda, Edgar ingin mencoba melakukannya dengan di saksikan oleh terbitnya matahari pagi. Pasti akan sangat indah, tapi jik melakukannya di pinggir pantai pasti akan banyak yang melihat. Beruntung malam itu suasana pantai sangat sepi dan tidak ada yang berkunjung. Jadi mereka bebas melakukannya di sana.


Mungkin Edgar harus menyewa kapal pesiar supaya bisa melakukannya di atas kapal untuk menyambut mentari pagi. Edgar senyum-senyum sendiri sejak tadi karena membayangkan permainannya waktu itu.


"Mas! Kamu kenapa senyum-senyum kayak gitu? Lagi ngebayangin apa, hum?" tanya Elmira yang mendapati suaminya seperti orang gila duduk meja makan. Padahal Elmira sudah sejak tadi selesai menyantap sarapannya. Sedangkan Edgar malah senyum-senyum tidak jelas.


"Ah, eh, anu," jawab Edgar gelagapan. Ia baru sadar kalau sekarang dirinya tengah berada di meja makan. "Maaf, Sayang. Hehehe." Edgar terkekeh kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Lagi mikirin apa? Mikirin wanita lain?" todong Elmira mode marah.


"Sayang, mana mungkin aku melakukan itu." Edgar langsung menggenggam tangan sang istri dengan wajah memelas.


"Terus, kenapa kamu senyum-senyum gak jelas tadi?" Elmira tetap tidak percaya. Entah mengapa sejak dia hamil sikapnya semakin sensitif. Mungkin memang bawaan ibu hamil.


"Aku membayangkan bulan madu kita di atas kapal pesiar. Menyaksikan sunrise dan juga sunset sambil bermain tanam-tanaman."


"Mas!" Elmira mendelik tajam. Bisa-bisanya Edgar berkata seperti itu di waktu sarapan. "Aku lagi hamil loh. Kenapa malah ngomongin bulan madu?" Sambungnya.


"Memangnya kenapa, Sayang? Dokter obgyn sudah menjelaskan tentang kondisi kehamilan kamu, serta kesehatan bayi kita. Dokter bilang bayi kita sehat, dan kita juga boleh pergi jauh asalkan kamu tidak kelelahan," papar Edgar begitu semangat.


"Bagaimana caranya aku tidak kelelahan, Mas. Dengar kata perjalanan jauh saja rasanya sudah lelah duluan."

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Sayang. Kamu sama sekali tidak akan kelelahan. Di sepanjang perjalanan aku akan menggendong kamu agar tidak kelelahan," ucap Edgar dengan sombongnya seolah mengungkapkan betapa kuatnya otot-otot di tubuhnya.


"Emang kuat?" cibir Elmira meremehkan kekuatan sang suami. Walaupun di dalam hatinya ia sangat yakin Edgar bisa melakukan semua itu. Sebab Edgar sangatlah kuat.


"Kalau tidak percaya, mari kita coba," tantang Edgar dengan percaya dirinya.


"Gimana caranya, Mas. Masa iya kita berangkat bulan madu sekarang?" Elmira bertanya dengan polosnya.


"Dengan cara lain tentunya. Aku akan membuktikan seberapa kuatnya diriku ini." Edgar tersenyum misterius membuat Elmira bergidik ngeri.


"Ah, hari ini aku ada janji sama mama, Mas. Jadi pembuktiannya lain kali saja ya. Aku buru-buru." Elmira langsung mencari alasan agar terlepas dari uji coba sang suami. Sebab ia sudah tahu dengan cara apa. Edgar akan membuktikan kekuatannya itu. Bisa-bisa seharian mereka ada di dalam kamar.


Elmira benar-benar kagum dengan kekuatan Edgar yang tiada lelahnya setiap hari setiap tidak pernah absen melakukan permainan tanam-tanaman. Elmira selalu di buat tak berdaya oleh suaminya itu. Biasanya ibu hamil akan lebih agresif dari hari-hari sebelumnya. Namun, Edgar lah yang kekuatannya bertambah sepuluh kali lipat.


Edgar terkekeh kecil melihat tingkah imut istrinya itu. Ia hanya bercanda mengatakan ingin membuktikan kekuatannya itu. Tidak mungkin Edgar melakukan itu lagi, sebab pagi tadi mereka sudah melakukannya. Ia juga kasihan kepada sang istri yang terus di gempur habis-habisan oleh dirinya. Lagipula hari ini Edgar ada meeting di perusahaannya.


"Sebenarnya gak ada janji sih Mas. Tapi aku merindukan mama dan ingin berkunjung ke rumah," tutur Elmira jujur.


"Kalau begitu biar kamu di antar sama Roy saja ya. Aku berangkat sendirian ke kantor."


"Tidak usah, Mas. Nanti Roy bagaimana jika telat datang ke kantor."


"Tidak masalah. Dia 'kan ditugaskan khusu sama aku. Di acara meeting juga aku yang paling dibutuhkan dan tunggu-tunggu oleh pada karyawan, bukan Roy. Jadi, kamu harus nurut, ok."


"Hem, ya sudah aku nurut saja. Roy sekarang ada dimana? Aku mau siap-siap dulu biar lebih cepat berangkatnya."

__ADS_1


"Sebentar lagi juga sampai. Kalau begitu aku berangkat duluan ya. Kamu hati-hati di jalan nanti."


"Iya, Mas. Bilangin ke Roy dong. 'Kan dia yang nyetir bukan aku. Jadi dia yang harus di nasehati."


"Iya aku bilangin. Nah itu Roy sudah sampai." Edgar langsung ke luar rumah saat mendengar suara deru mobil yang ia yakini adalah mobil Roy. Mobil yang diberikan khusus oleh Edgar kepada asisten pribadinya itu.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Roy dengan sopan.


"Pagi. Saya akan berangkat lebih dulu ke kantor. Kamu antarkan istri saya ke kediaman Winata dengan selamat. Jangan sampai istriku kenapa-napa. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan istri saya. Kamu akan tahu sendiri akibatnya."


"B-baik, Pak." Roy menelan saliva nya kasar. "Ini sih bukan perintah, tapi lebih kepada ancaman," batin Roy menimpali.


Setelah Edgar pergi meninggalkan rumah, tak lama dari itu Elmira sudah siap untuk berangkat ke rumah lamanya. Rumah yang penuh dengan kehangatan dari kedua orang tuanya serta kakak laki-lakinya. Elmira jadi merindukan masa-masa itu.


"Selamat pagi, Bu Elmira." Sapa Roy menunduk hormat.


"Pagi, Roy. Ayo kita berangkat sekarang." Elmira memasuki mobil bagian kursi belakang setelah Roy membukakan pintunya. Tidak lupa Elmira mengucapkan terimakasih kepada Roy.


Dalam perjalanan tidak ada yang membuka suara. Mereka sama-sama merasa canggung karena hanya ada mereka berdua di dalam mobil itu. Sangat berbeda ketika ada Edgar di tengah-tengah mereka. Pasti Elmira akan banyak bicara dan tidak seperti itu. Elmira tidak ingin menimbulkan kesalahan pahaman di antara mereka jika dirinya terlalu banyak berinteraksi dengan lawan jenis selain suaminya.


Setelah mobil yang mereka tumpangi sampai di depan rumah kedua orang tua Elmira. Dengan cepat Elmira turun dari mobil. Ia sangat merindukan sang mama.


"Elmira!"


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar😘


__ADS_2