
Happy Readingš„°
Keadaan Elmira jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun terkadang ia masih berdiam diri dengan tatapan kosong, sering melamun, dan juga tidak seceria sebelumnya. Semua usaha telah dilakukan oleh semua anggota keluarganya agar Elmira kembali seperti dulu. Bahkan Elvaro menjaganya selama 24 jam. Setiap kali Elmira akan di bawa ke psikiater, dia selalu histeris. Elmira juga tidak ragu mengancam akan melukai dirinya jika ia di bawa bertobat. Dengan alasan, Elmira tidak gila.
Elmira memang tidak gila, tapi mentalnya sedikit terganggu akibat kejadian yang menimpanya hingga dia mengalami trauma berat. Elmira di bawa pulang ke kediaman Winata supaya mereka bisa menjaga Elmira secara bergantian.
Awalnya Edgar ingin membawa Elmira pulang ke rumah mereka, namun di tentang keras oleh Elvaro dan Winata. Mereka sudah tidak percaya lagi kepada Edgar. Walaupun Edgar sudah berubah tidak seperti dulu lagi. Ia berjanji akan menjaga Elmira dengan sepenuh hati.
Sedangkan Evan dan Maya merasa terkejut saat mendengar kabar mengenai Elmira. Mereka berencana akan berkunjung ke rumah Elmira untuk menjenguknya. "Evan, apa kamu tahu dimana alamat rumah kedua orang tua Elmira?"
"Belum, tapi aku akan bertanya kepada asisten pribadi Elmira yang bekerja di butik nya."
"Ya sudah cepat kamu hubungi dia. Mama gak sabar ingin bertemu dengan Elmira."
"Iya, sebentar." Evan langsung mengirim pesan kepada Ratna, beruntung kemarin saat dirinya pergi ke butik EMI untuk menanyakan kabar Elmira, Evan meminta nomor ponsel Ratna.
Setelah mendapatkan alamat rumah Elmira, Evan dan Maya langsung bersiap untuk pergi kesana. Mereka lebih dulu membeli oleh-oleh untuk dibawa ke rumah Elmira. Akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Evan dan Maya telah sampai di depan rumah mewah yang lebih cocok dikatakan sebagai mansion. Sungguh Elmira benar-benar bukan wanita sembarangan. Hanya Edgar yang bisa berperilaku buruk terhadapnya.
Evan keluar dari dalam mobil, lalu menuju ke arah seorang penjaga di gerbang itu. Ia bertanya apakah rumah itu benar-benar rumah Elmira? Setelah mendapatkan jawaban iya dari penjaga itu, dan mengatakan tujuannya kesana. Akhirnya Evan dan Maya bisa masuk ke dalam rumah itu.
Amanda mengerutkan keningnya saat melihat tamu yang datang. Pasalnya dia tidak mengenal wajah-wajah itu. "Maaf, cari siapa ya?" tanya Amanda dengan bingung.
"Maaf, Tante. Sudah mengganggu waktunya. Apakah Elmira nya ada? Bolehkah kami bertemu dengannya," ucap Evan dengan sopan.
Amanda tampak berfikir sebelum mempersilahkan mereka masuk. Ia memperhatikan wajah Evan dan Maya secara bergantian. Amanda rasa mereka adalah orang baik, jadi ia mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah. Lalu memanggil Elmira yang berada di dalam kamarnya.
Evan dan Maya menunggu di sofa ruang tamu. Salah satu pelayan di rumah itu mengantarkan minuman untuk mereka. Evan mengucapkan terimakasih dengan sopan. Ia memindai setiap sudut ruangan itu. Hingga netranya menangkap sosok laki-laki yang sangat dia kenal.
"Elvaro! Kenapa fotonya ada di rumah ini, dan bersanding dengan keluarga Elmira? Apa jangan-jangan Elvaro adalah anggota keluarga ini?" batin Evan penuh tanda tanya.
__ADS_1
Ketika sedang sibuk dengan pikirannya, Evan dikejutkan oleh kehadiran Elmira dan mamanya. Elmira terlihat lebih kurus, tidak ada senyuman yang menghiasi bibirnya. Evan merindukan sosok Elmira yang selalu ceria.
"Hai, Sayang. Apa kabar?" tanya Maya sambil memeluk tubuh Elmira.
"Kabar saya, baik, Tante." Elmira memberikan senyuman kecil yang dipaksakan. "Tante dan Evan kenapa repot-repot kesini?"
"Tante merindukan kamu, Sayang."
"Saya juga merindukan, Tante. Terimakasih sudah mau datang ke ruang saya," kali ini Elmira tersenyum tulus. Entah mengapa hatinya menghangat saat berbicara dengan Maya.
Amanda yang melihat Elmira tersenyum tulus, dan juga banyak bicara saat berinteraksi dengan Maya, dia merasa senang. Amanda tidak tahu Elmira kenal dengan Maya dan Evan di mana. Tapi, ia sangat bersyukur dengan kehadiran mereka yang membawa dampak positif terhadap Elmira.
"Sayang, kenapa badan kamu terlihat lebih kurus? Apa kamu jarang makan?" Maya memperhatikan tubuh Elmira yang semakin kurus.
"Ah, itu--Saya kurang nafsu makan, Tante," kilah Elmira. Ia tidak mungkin jujur kepada Maya mengenai apa yang terjadi kepadanya.
"Gimana kalau kita makan di luar? Sekalian kita shoping dan pergi ke salon. Kita sudah lama gak ke salon 'kan?" usul Maya dengan antusias. Ia berharap Elmira mau keluar dengannya.
"Pergilah, Sayang. Mungkin kamu memang butuh refreshing untuk merelaksasi pikiran kamu," ucap Amanda dengan lembut. Ia merasa setuju dengan ide Maya yang mengajak Putrinya untuk jalan-jalan.
"Hm, baiklah! Kalau begitu saya siap-siap dulu ya, Tante." Elmira beranjak dari tempat duduknya. Lalu menuju ke kamar.
Setelah kepergian Elmira, Amanda mengucapkan terimakasih kepada Maya dan Evan yang sudah membuat Elmira perlahan-lahan kembali ke tabiat aslinya. Amanda dan Maya juga terlihat langsung akrab, mungkin karena sifat mereka yang mudah berbaur dengan orang-orang baru. Hanya Evan yang tidak banyak bicara dari tadi.
"Tante! Bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya Evan dengan ragu.
"Boleh! Silahkan!" Amanda menatap Evan dengan penasaran.
"Itu--Foto siapa, Tante?" tunjuk Evan kearah foto Elvaro yang berada di dalam foto keluarga Winata.
__ADS_1
"Oh, itu anak Tante. Namanya Elvaro."
"Jadi, Elvaro anaknya Tante juga? Berarti saudaraan sama Elmira dong?"
"Iya, dia anak Tertua di sini. Apa kamu mengenal Elvaro?"
"Kenal banget, Tante. Saya ada hutang budi sama dia. Entah kenapa selama 1 tahun ini, saya tidak pernah bertemu lagi dengannya."
"Hutang budi apa? Elvaro sekarang sibuk mengurus perusahaan, membantu papanya."
"Dulu waktu saya mengalami--"
"Tante, saya sudah siap," ucap Elmira yang tiba-tiba ada di sana, dan memotong pembicaraan Evan.
Terpaksa Evan menghentikan ucapannya, lalu berangkat ke tempat tujuan yang dimaksud oleh mamanya. Elmira duduk di depan bersama dengan Evan, sedangkan Maya duduk di belakang.
Memang rencana Maya memaksa Elmira duduk di kursi sebelah kemudi. Akhirnya Elmira mengikuti permintaan Maya. Mereka langsung menuju ke mall untuk shoping dan sekalian makan di sana.
Elmira kembali merasakan takut ketika akan memasuki mall. Ia melihat segerombolan laki-laki yang mengingatkannya kepada kejadian waktu itu. Wajah Elmira terlihat pucat, bahkan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Maya dengan cemas. Evan juga merasakan hal yang sama, ia melihat Elmira begitu ketakutan.
Elmira tidak menjawab, namun tangannya me-re-mas ujung bajunya. "Elmira!" Evan menyentuh tangan Elmira, namun di tepis kasar olehnya.
"Jangan sentuh aku!" teriak Elmira histeris. Tentu saja respon Elmira membuat Evan dan Maya merasa terkejut. Melihat keadaan Elmira yang tidak baik-baik saja, akhirnya Maya membawa Elmira masuk ke dalam mobil.
Evan menatap Elmira dengan tatapan yang sulit di artikan. "Kamu kenapa, Elmira?" gumam Evan dalam hati.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentarš