
Happy Readingπ₯°
Elmira meminta Maya untuk mengambil barang apa yang dia inginkan di butiknya. Elmira akan memberikan itu sebagai bentuk hadiah dari perkenalan mereka. Sebab Elmira sangat menyukai sikap hangat dari Maya, dan juga Evan.
"Tante ambil aja apa yang Tante mau. Nanti saya yang bayar." ucap Elmira dengan tulus. Meskipun butik itu miliknya sendiri, namun Elmira selalu membayar apa yang dia ambil di butik itu. Karena dalam hal bisnis Elmira tidak akan memandang bulu, meskipun dirinya sendiri ya harus bayar.
"Tidak usah, Elmira. Tante akan membelinya sendiri. Nanti kamu bangkrut kalau Tante ambil semua barang yang Tante suka. Soalnya Tante suka semua barang-barang di butik ini. Haha ...."
"Tante ada-ada saja. Tidak masalah kok, Tante. Saya serius, anggap saja sebagai bentuk perkenalan kita, dan juga permintaan maaf saya atas gagalnya makan bersama kemarin."
"Hem! Baiklah kalau kamu memaksa, Tante tidak akan sungkan menerima pemberianmu."
Evan yang menyaksikan itu perasaannya kembali menghangat. Dia sangat-sangat mengagumi sosok Elmira. Sungguh jika Evan menikah dengan Elmira, maka kebahagiaan yang akan dia rasakan akan menjadi sempurna. Kehadiran sosok Elmira di keluarganya akan membawa pengaruh positif. Apalagi melihat kedekatan mamanya dengan Elmira, menjadikan pemandangan yang indah di depan mata, Evan.
"Ekhem! Aku gak di tawarin nih?" ujar Evan menyela pembicaraan kedua wanita cantik di depannya yang tengah memilih baju di terpajang di etalase.
Elmira baru menyadari kalau Evan juga ada di situ. "Boleh, boleh kok. Silahkan ambil aja yang kamu suka, Evan."
"Aku hanya bercanda, Elmira." Evan terkekeh kecil sambil menatap Elmira.
Sedangkan Maya yang melihat sang putra tengah asik mengobrol dengan Elmira. Ia memilih pergi ke tempat-tempat tas branded di sana. Meninggalkan Elmira dan Evan yang masih berada di tempat baju. Maya sengaja memberitahu ruang privat untuk mereka berdua.
"Sudahlah ayo aku pilihkan." Elmira menarik pergelangan tangan Evan. Membawanya ke tempat baju-baju pria. Evan pasrah saja dengan apa yang Elmira lakukan.
Elmira mengambil gantungan jas berwarna hitam pekat dengan keluaran terbaru yang harganya sangat fantastis. Ia memberikan jas itu kepada Evan untuk dicoba ke ruang ganti.
__ADS_1
"Cobalah yang ini!" Elmira menyerahkan jas itu ke tangan Evan.
Tidak perlu menunggu lama, Evan sudah keluar dari ruang ganti dengan memakai jas pilihannya. Elmira terpanah melihat penampilan Evan yang terlihat gagah. Postur tubuh Evan yang tinggi menjulang, badan kekar, matanya tajam setajam elang, bukan setajam silet ya. Membuat Elmira susah mengedipkan matanya.
"Bagaimana, apakah cocok?" tanya Evan yang sukses membuat Elmira tersadar dengan lamunannya.
"Ah i-iya sangat cocok. Langsung di pakai saja jangan di lepas. Untuk baju yang kamu pakai tadi biar aku bungkus." Elmira berjalan melewati Evan yang tengah berdiri di depan ruang ganti. Ia mengambil baju pakaian Evan yang berada di dalam ruang ganti, lalu membawanya ke bagian kasir untuk membungkusnya.
Evan tersenyum melihat sikap perhatian yang Elmira tunjukkan kepadanya. Ah sepertinya Evan akan selalu memakai jas pemberian dari Elmira. Sebab menurutnya itu adalah hadiah terindah dari Elmira, wanita yang sudah berhasil memporak-porandakan hatinya.
Maya melihat Evan dari kejauhan yang sedang tersenyum-senyum sendiri. Maya berharap Evan bisa mendapatkan cinta dari Elmira, dan juga memberikan cinta untuk Elmira. Sebab ia melihat kebahagiaan Evan ada pada diri Elmira. Ada cinta yang begitu besar di mata Evan untuk Elmira. Mungkin sebuah cinta yang tak pernah Elmira dapatkan dari suaminya.
Memang miris sekali nasib rumah tangga Elmira dan Edgar. Seperti nasib rumah tangga Maya dengan suaminya dulu. Dia juga mencintai sepihak dalam rumah tangganya, suaminya memilih pergi bersama dengan pasangannya. Jadi Maya sangat paham dengan perasaan yang Elmira rasakan.
Maya tidak mau Elmira mengalami hal yang sama seperti dirinya. Bahkan Maya harus mengorbankan kebahagiaan Evan yang seharusnya di limpahi kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya. Namun papa Evan terlalu egois, dia pergi meninggalkan Maya di saat usia Evan 15 tahun.
Kehidupan Maya sangat sulit, dia banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga Evan. Beruntungnya Evan mempunyai kepribadian yang sangat baik, dan bisa mengerti keadaannya. Evan tidak pernah menuntut banyak hal dari Maya.
Hingga sekarang kehidupannya jauh lebih dari kata cukup, bahkan mereka hidup bergelimang harta. Semua itu berkat usaha dan jerih payah dari Evan. Evan mempunyai bisnis yang tidak banyak diketahui oleh orang-orang. Ia sama seperti Elmira yang suka sekali menyembunyikan identitasnya.
Maya menghampiri Evan yang masih tersenyum di tempatnya. "Jika cinta, maka perjuangkan lah. Asalkan kamu selalu mengingat pesan mama." Maya berbicara serius kepada Evan. Bukan maksud dirinya untuk mendukung Evan menjadi seorang pebinor. Hanya saja Maya mendukung cinta anaknya. Dia akan merestui hubungan Evan dan Elmira, tapi setelah Elmira resmi bercerai dengan suaminya.
Jika Elmira tidak bercerai dengan Edgar, maka Maya akan meminta Evan untuk melupakan Elmira, dan mencari wanita lain. Maha tidak ingin anaknya di cap buruk oleh orang-orang. Jika mereka berjodoh maka dengan cara apapun Evan dan Elmira akan bersatu.
Senyuman Evan langsung memudar kala mendengar penuturan sang mama. Dia jadi teringat dengan kehidupannya bersama sang mama yang sangat sulit selama di tinggalkan oleh papa kandungannya.
__ADS_1
"Mama tenang saja, aku bukan laki-laki yang sama seperti Bagas." ucap Kenan berapi-api. Bagas adalah nama papa, Evan.
Maya tahu apa yang Evan rasakan. Ia sangat membenci Bagas, sebab selama 15 tahun hidup bersama Bagas, Evan tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari papanya itu. Beruntung Maya memberitakan kasih sayang yang utuh, dan berperan menjadi dua orang sekaligus, yaitu seorang ibu dan ayah yang baik untuk Evan.
"Sudahlah jangan diingat lagi, Sayang. Dia tidak pantas berada di dalam pikiran kamu."
"Iya, Ma. Cuma Mama yang menjadi prioritasku sekarang."
"Dan juga Elmira." sambung Maya dengan senyum meledek. Hanya dengan menyebutkan nama Elmira, wajah Kenan sudah terlihat bersemu merah.
Elmira datang menghampiri Maya dan Evan setelah membungkus pakaian Evan. "Maaf, apa kalian sedang menungguku?" tanya Elmira merasa tidak enak.
"Tidak, Sayang. Tante baru juga menemui Evan. Dari tadi Tante sibuk memilih baju. Hehe ...." Maya terkekeh kecil agar Elmira tidak merasa bersalah.
"Tante sudah memilih barang apa yang Tante inginkan?"
"Belum! Tante bingung. Kamu saja yang pilihkan, kalau kamu yang pilih Tante pasti suka.
"Tante bisa aja. Mari Tante saya pilihkan." Elmira mengajak Maya ke tempat barang-barang branded. Evan mengikuti mereka dari belakang. Pikirannya jadi menerawang jauh. Pasti akan sangat bahagia jika mereka menjadi satu keluarga.
...----------------...
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar π
Dukungan kalian menjadi penyemangat Author.
__ADS_1
Lophe-lophe sekebon cabe untuk kalian para readers πππ