
Happy Reading🥰
Keesokan harinya, sesuai rencana Elmira mengikuti kemana Edgar pergi. Elmira sengaja memesan taksi online untuk mengikuti kemana arah mobil yang dikendarai oleh Edgar melaju.
Elmira semakin curiga ketika supir taksi menghentikan mobilnya di depan apartemen yang sangat elite. "Pak tunggu sebentar ya, saya mau ke dalam sana. Nanti saya balik lagi, bapak tenang saja saya akan menambah tarifnya." Elmira memerintahkan supir taksi agar menunggunya di sana. Ia akan mengikuti Edgar masuk ke dalam apartemen.
"Baik Nona." Supir taksi langsung mengiyakan perintah Elmira. Tidak masalah menunggu lama asalkan tarifnya sesuai dengan waktu yang dia habiskan. Apalagi kalau ada tipsnya, seharian pun supir itu tidak masalah menunggu Elmira.
Karena supir taksi itu sudah menjadi langganan Elmira. Kemarin saja waktu Elmira ada di kediaman Winata, dia juga yang menjemputnya.
Akan tetapi, ketika Elmira membuka pintu mobil tiba-tiba Edgar sudah kembali ke mobilnya bersama dengan seorang wanita yang kemarin juga berada di restoran.
Elmira mengurungkan niatnya untuk turun dari dalam mobil taksi. "Pak, ikuti mobil yang tadi ya."
"Siap, Non." Supir langsung mengikuti mobil Edgar dari belakang. Beberapa saat kemudian, mobil Edgar terparkir di depan restoran yang kemarin. Restoran yang ternyata adalah tempat favorit Edgar dan Alexa sejak mereka menjalin kasih.
Elmira tidak jadi mengikuti Edgar masuk ke dalam restoran. Yang penting dirinya sudah tahu Edgar pergi dengan siapa, dan pergi kemana. Elmira meminta kepada sopir untuk mengantarkannya ke butik. Lebih baik Elmira mengurus butik yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan, hanya asisten kepercayaannya yang menjaga butik itu.
Elmira memberikan lembaran uang berwarna merah kepada supir taksi yang jumlahnya lumayan tebal. "Terimakasih, Non." ucap supir taksi tersenyum lebar.
Elmira memasuki butik dengan langkah anggun. Dia di sambut hangat oleh semua karyawannya. "Bu Elmira! Akhirnya anda datang juga ke butik." ucap Ratna, Asisten kepercayaan Elmira.
"Bagaimana keadaan butik selama tidak ada saya, Ra?"
"Semuanya berjalan lancar, Bu."
"Baiklah, terimakasih sudah meng-handle semuanya, Ra. Saya akan memeriksa laporan keuangan minggu ini."
"Baik, Bu." Ratna meninggalkan Elmira yang sedang memasuki ruang kerjanya.
__ADS_1
Elmira terlihat manggut-manggut, keningnya berkerut, netranya fokus ke layar komputer di hadapannya. Cukup lama dia bergelut dengan pekerjaannya, seulas senyum terbit di bibir Elmira. Sepertinya dia sangat senang dengan hasil keuangan yang dia lihat.
"Semakin hari kemajuan di butik ini semakin berkembang pesat. Apa aku harus membuka cabang untuk butik EMI ya? Ah aku harus pikirkan nanti." monolog Elmira.
Semua usaha Elmira tidak sia-sia. Dia bisa berdiri sendiri tanpa berlindung di bawah naungan keluarga Winata. Elmira bangga dengan dirinya sendiri, sebab ia tidak lagi menggunakan uang dari kedua orang tuanya.
Butik EMI banyak di kunjungi oleh orang-orang kelas atas. Kualitas produk di butik itu sudah tidak di ragukan. Idealnya, semakin baik kualitas produk dan semakin dekat dengan ekspektasi pelanggan, maka pelanggan akan merasa puas dengan produk-produk itu.
Begitulah yang di rasakan oleh para pelanggan saat membeli produk di butik EMI. Bukan hanya kualitas produknya yang bagus, tapi pelayanan di sana juga sangat nyaman. Para karyawan yang bekerja di butik EMI sudah di latih terlebih dahulu oleh Elmira, supaya bisa melayani pelanggan dengan baik.
Elmira mengumpulkan semua karyawan di butiknya untuk memberikan bonus kepada mereka. "Ra, tolong berikan ini kepada semua karyawan." Elmira memberikan beberapa amplop kepada Ratna.
"Baik, Bu." Ratna memberikan amplop itu satu persatu kepada para karyawan yang terdiri dari sepuluh orang.
"Itu adalah bonus untuk hasil kerja keras kalian selama bekerja di sini. Saya harap kedepannya kalian semakin semangat dalam bekerja. Mungkin saya akan jarang datang ke butik, saya serahkan semuanya kepada Ratna. Dia yang akan meng-handle butik selama tidak ada saya. Jadi kalian semua harus bisa membantu Ratna dengan baik. Anggap saja dia adalah pengganti saya." tutur Elmira kepada semua karyawannya.
"Baik, Bu. Kami akan bekerja dengan baik." jawab semua karyawan dengan kompak.
"Apa ini tidak berlebihan, Bu?" Ratna tercengang dengan isi di dalam amplop itu.
"Itu tidak seberapa dengan apa yang sudah kamu lakukan di butik ini. Terimalah Ra, setelah ini kamu akan semakin sibuk di butik."
"Terimakasih, Bu. Itu sudah menjadi kewajiban saya dalam menjalankan tugas dari anda."
"Baiklah, kamu boleh kembali berkerja."
"Baik, Bu. Saya permisi."
Setelah kepergian Ratna, Elmira bersiap untuk pulang. Namun bukan pulang ke rumah, ia akan pergi ke taman untuk menenangkan diri. Mungkin Elmira bisa tersenyum di depan semua orang, namun tidak dengan hatinya yang masih sakit ketika mengingat Edgar dan kekasihnya pergi ke restoran.
__ADS_1
Pantas saja setiap kali Elmira membuatkan sarapan untuk Edgar, sama sekali tidak pernah di sentuh olehnya. Karena Edgar akan memilih sarapan bersama dengan kekasihnya.
Kali ini Elmira pergi menggunakan mobilnya sendiri yang memang tersedia di butik. Elmira mengingat awal pertama bertemu dengan Edgar. Yang membuatnya merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Elmira mengenal sosok Edgar sebagai laki-laki yang baik, entah mengapa sikapnya sekarang seolah berbanding terbalik dengan sikap Edgar yang dulu.
Elmira menghirup udara segar saat memasuki area taman. Ia duduk di kursi panjang yang terdapat di taman tersebut. Menyenderkan kepala ke kursi belakang. Memejamkan mata guna menetralkan pikirannya.
Suasana di taman tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang saja di sana. Membuat Elmira merasa nyaman dan bebas menikmati udara segar yang terbebas dari polusi.
"Ekhem! Bolehkah aku duduk di sini?" tanya seorang pria tampan yang sejak tadi menatap Elmira. Ia merasa tertarik dengan kecantikan Elmira.
Elmira membuka matanya secara perlahan. Atensinya tertuju ke sosok laki-laki yang sedang tersenyum menatapnya. Elmira yang memang mempunyai sikap ramah langsung tersenyum kepada laki-laki tersebut.
"Tentu saja boleh, ini tempat duduk umum." Elmira menggeser tubuhnya guna memberikan ruang untuk laki-laki tersebut.
"Terimakasih, namaku Evan, nama kamu siapa?" Evan mengulurkan tangannya kepada Elmira sebagai bentuk perkenalan.
Elmira tidak langsung menyambut ularan tangan tersebut. Ia sedikit berpikir, takut laki-laki yang bernama Evan itu adalah orang jahat.
"Tenang saja, aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin berkenalan saja sama kamu." ucap Evan seolah mengerti dengan apa yang Elmira pikirkan.
"Oh, bukan begitu. Nama aku Elmira." akhirnya Elmira menyambut uluran tangan dari Evan.
"Nama yang cantik, sama seperti orangnya."
Elmira hanya tersenyum mendengar pujian dari Evan. Ia sudah sering mendapatkan pujian seperti itu, atau bahkan lebih dari apa yang diucapkan oleh Evan.
"Ya Tuhan! Senyumannya membuat jantungku meleleh. Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama." gumam Evan dalam hati.
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar😘😘😘😘