
Happy Reading🥰
Evan menghentikan mobilnya saat melihat seorang gadis yang sangat dia kenal tengah berjalan kaki di pinggir trotoar. Ia ingin memberikan tumpangan kepada gadis itu karena merasa kasihan.
Tit! Tin! Tin!
"Ra! Masuk!" teriak Evan sambil membuka pintu mobil di sebelahnya dari dalam.
Ratna mengerutkan keningnya melihat Evan yang tiba-tiba ada di sana dan menawarkan tumpangan. "Tidak usah, Pak. Terimakasih," tolak Ratna dengan halus. Ia tidak ingin selalu merepotkan Evan meskipun dirinya merasa senang bisa berdekatan dengan laki-laki yang dia sukai. Namun Ratna tidak ingin terlalu berharap dengan perasaannya. Sebab dirinya dan Evan sangatlah berbeda.
Evan tidak mau kalah, ia turun dari dalam mobil lalu mendorong tubuh Ratna supaya memasuki mobil. "Jangan menolak rezeki, Ra," ucap Evan yang berhasil membuat Ratna menurut.
Jantung Ratna berpacu sangat cepat ketika berdekatan dengan Evan. Bisa-bisa Ratna kehilangan jantungnya biak terus merasakan hal seperti itu. Sebab berdekatan dengan Evan membuat jantungnya tidak aman.
"Stop!" sentak Ratna ketika mobil Evan menuju ke arah rumah papanya. Ia lupa tidak mengatakan dimana sebenarnya dia tinggal.
Ckiiit!
"Kenapa, Ra?" tanya Evan dengan bingung. Apa mungkin karena kejadian itu membuat Ratna tidak ingin pulang ke rumah? Atau ada alasan lain yang membuat Ratna seperti itu?
"Jangan antar saya ke sana, Pak. Rumah saya bukan di sana."
Evan mengerutkan keningnya merasa tak mengerti dengan ucapan Ratna. Sebab setelah kejadian itu dan percakapan yang berakhir ketika Ratna mengatakan bahwa Reza adalah kakaknya, Evan tidak menanyakan hal lain lagi. Ia takut menyinggung perasaan Ratna jika mengungkapkan kemarahannya terhadap Reza.
__ADS_1
Mana mungkin seorang kakak tega ingin menodai adiknya sendiri. Hanya hewan yang bisa berpikiran seperti itu. Sama seperti Reza yang tidak mempunyai otak. Yang ada hanya otak kriminal saja. Jika mengingat kejadian itu Evan rasanya ingin menghajar Reza lagi.
"Apa kamu kabur dari rumah?" todong Evan yang mulai berpikiran aneh-aneh.
"Nanti saya ceritakan. Kita putar arah, Pak. Ke jalan xxxx."
"Ok." Evan melajukan mobilnya ke alamat yang di tunjukkan oleh Ratna. Ia menunggu Ratna untuk menceritakan semuanya, entah mengapa Evan merasa penasaran dengan kisah kehidupan Ratna.
"Itu rumah papa saya," ujar Ratna memulai ceritanya. Sepertinya ia ingin menceritakan semuanya kepada Evan. Entah lah padahal Ratna tipikal orang yang tertutup. Namun dengan Evan ia merasa berbeda. Tiba-tiba Ratna ingin membagi bebannya kepada Evan. Laki-laki yang berhasil menaruh cinta di dalam hatinya.
Evan cukup diam saja. Sebagai seorang laki-laki ia cukup paham dan mengerti tugasnya saat ini. Yaitu menjadi pendengar yang baik untuk Ratna.
"Saya sudah lama tidak tinggal di sana. Tepat empat tahun yang lalu, saya pergi dari rumah itu. Kemarin pertama kalinya bagi saya menginjakkan kaki di sana sejak empat tahun lamanya. Dulu rumah itu adalah rumah kebahagiaan bagi saya. Namun setelah kedua orang tua saya berpisah, kehidupan saya jadi berubah."
"Kak Reza adalah kakak tiri saya. Dulu setiap kali papa tidak ada di rumah, dia dan mamanya selalu memperlakukan saya dengan sangat buruk. Aku yang masih bodoh selalu patuh dengan apa yang mereka katakan. Selama lima tahun saya hidup dengan kesengsaraan di rumah saya sendiri."
"Papa juga tidak lagi bersikap baik dan perhatian terhadap saya. Yang dia pikirkan hanya istri dan anak tirinya. Hingga melupakan anak kandungnya sendiri. Tiba pada suatu ketika dimana tidak ada orang di rumah, hanya menyisakan kak Reza dan saya. Sikap kak Reza tiba-tiba berubah, membuat saya ketakutan."
"Benar saja, firasat saya tidak meleset. Ternyata kak Reza mempunyai niat jahat terhadap saya. Kejadian kemarin bukanlah kejadian yang pertama. Sebab kak Reza melakukan itu sejak umur saya 17 tahun. Tapi, saya selalu bisa menghindarinya."
"Kak Reza selalu mencari kesempatan agar bisa menodai saya. Dia kira saya sama dengan mama saya yang dia anggap sebagai pe-la-cur. Hanya karena saya anak dari wanita pelakor, dia menyamakan saya dengan pe-la-cur."
"Memang saya akui, apa yang dilakukan oleh mama saya adalah sebuah kesalahan besar. Dia merusak rumah tangga orang dengan cara merebut suaminya. Hingga laki-laki tersebut meninggalkan istri dan anak laki-laki nya yang juga masih kecil." Ratna menghentikan ceritanya sejenak untuk menghirup oksigen supaya dadanya tidak terasa sesak.
__ADS_1
Evan merasakan jantungnya berpacu sangat cepat, ketika mendengar cerita Ratna yang seperti kisah mama dan papanya dulu. Namun Evan tidak mau berburuk sangka, ia terus mendengarkan cerita Ratna sampai selesai.
"Bahkan sejak mama berpisah dengan papa, dia sama sekali tidak pernah menemui saya. Padahal saya sangat merindukan sosok mama yang selalu menemani saya. Hingga saya merasa tidak tahan dengan sikap dan perilaku buruk kakak dan ibu tiri saya, akhirnya saya memilih pergi dari rumah setelah lulus SMA."
"Papa tidak melarang kepergian saya, karena dia sudah di hasut oleh istri tercintanya. Sampai sekarang pun papa tetap membenci saya. Sejak saat itu saya mencari pekerjaan paruh waktu untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari."
"Dengan ijazah tamatan sekolah menengah atas, tidak ada pekerjaan yang layak untuk saya. Namun, saya tetap berusaha kuat demi bertahan hidup, meskipun harus bekerja sebagai OB di salah satu perusahaan."
"Di sana, saya tidak serta merta mendapatkan kehidupan yang baik. Karena derajat saya jauh di bawah karyawan yang lain. Maka perlakuan buruk kembali saya alami. Keadaan itu terus saya alami selama 2 tahun. Setelah itu, saya bertemu dengan Bu Elmira yang ternyata adalah anak dari pemilik perusahaan tempat saya bekerja."
"Kami mulai akrab, tidak ada lagi yang bersikap jahat terhadap saya setelah Bu Elmira memberikan peringatan kepada para karyawan yang suka berlaku semena-mena terhadap saya."
"Bu Elmira menawarkan sebuah pekerjaan yang jauh lebih baik kepada saya. Menjadi asisten peribadinya di butik EMi. Waktu itu butik EMI masih baru di buka. Saya yang di tugaskan mengelola semuanya di sana. Yang pastinya dengan bimbingan Bu Elmira terlebih dahulu. Hingga saya bisa melakukan tugas itu dengan baik."
"Sejak saat itu juga kehidupan saya jauh lebih dari kata baik. Sebab Bu Elmira menggaji saya dengan bayaran yang fantastis. Hingga saya bisa hidup dengan layak dan tidak kekurangan makan."
Ratna tersenyum getir setelah selesai menceritakan sebagian dari kisah kehidupannya yang sangat miris. Tak terasa air mata ikut membasahi pipinya. Hingga sebuah tangan besar menghapus air mata itu.
"Jangan menangis lagi, ada aku di sini."
...----------------...
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘
__ADS_1