Cinta Untuk Elmira

Cinta Untuk Elmira
Bab 56. Menunggu Sang Pahlawan.


__ADS_3

Happy Reading 🥰


Evan mengantarkan Ratna ke rumahnya. Setelah cukup lama berdrama akhirnya mereka bisa meluruskan kesalah pahaman dengan mamanya Evan. Sungguh Ratna merasa malu sudah di sangka berbuat macam-macam bersama Evan.


"Maaf ya, Ra. Mamaku jadi salah paham," ucap Evan dengan tulus. Dia juga tidak menyangka kenapa mamanya tiba-tiba datang ke apartemen.


"Tidak apa-apa, Pak. Wajar jika Tante Maya bersikap seperti itu, yang namanya orang tua memang menginginkan yang terbaik untuknya. Beliau juga tidak ingin anaknya salah jalan. Jadi Tante Maya tidak salah. Yang salah itu kita, sudah membuat kesalah pahaman hanya gara-gara mengobati luka."


"Terimakasih, Ra. ternyata pikiran kamu sangat dewasa. Berapa umur kamu, Ra?"


"Umur saya 22 tahun, Pak."


"Wah, masih sangat muda ternyata. Berarti seumuran dengan Elmira, dong."


"Em, benarkah?"


"Iya, memangnya kamu tidak tahu dengan usia bos mu sendiri?"


Ratna menggelengkan kepala saat mendapatkan pertanyaan dari Evan. Sebab ia memang tidak tahu usia Elmira berapa, dia hanya mengira-ngira saja kalau Elmira seumuran dengan dirinya. Tidak tahunya memang benar begitu.


"Rumah kamu yang sebelah mana?" tanya Evan ketika sudah di alamat yang di tujukan oleh Ratna tadi. Namun di alamat itu ada beberapa rumah yang berjejer di sana.


"Rumah saya yang sebelah sana, Pak," tunjuk Ratna ke arah rumah yang paling kanan. Rumah yang cukup besar. Sebenarnya Ratna Sangat tidak ingin pulang ke rumah itu. Sebab di situlah dia mengalami kenangan buruk yang tidak akan pernah terlupakan. Namun, karena ada keperluan penting dengan sang pemilik rumah, dan ada yang harus Ratna ambil, ia terpaksa meminta kepada Evan untuk di antarkan ke sana.


Ratna buru-buru turun dari dalam mobil Evan. Tidak lupa ia mengucapkan terimakasih kepada Evan karena sudah mengantarkannya. Ratna menunggu Evan agar pulang lebih dulu jangan menunggu dirinya hingga memasuki rumah. Namun Evan tidak mau, ia tetap bersikeras akan menunggu Ratna hingga memasuki rumah. Sebab ia masih bertanggungjawab mengantarkan Ratna sampai dengan selamat.


Ratna menghembuskan nafas panjang, mau tidak mau ia harus memasuki rumah itu agar ia cepat pergi dari sana. Dengan langkah pelan Ratna memasuki halaman rumah. Ada sedikit rasa takut yang menyelimuti hatinya. Tapi ia berusaha keras agar terlihat baik-baik saja. Ratna tidak tahu jika ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari atas balkon dengan senyuman menyeringai.

__ADS_1


Belum sempat Ratna mengetuk pintu, tiba-tiba pintu rumah sudah terbuka dari dalam. Menampilkan sosok laki-laki yang menatap tajam ke arahnya. "Wah, ada tamu tak di undang. Apa kamu ingin menerima tawaran ku, huh?" ucap laki-laki tersebut dengan tatapan merendahkan.


Ratna mengepalkan kedua tangannya, ia sangat marah mendengar ucapan kakaknya itu yang seolah merendahkan dirinya. "Maaf, Kak. Tapi aku tidak serendah itu," sentak Ratna dengan mata menyala.


"Cih! Anak seorang j*lang akan tetap menjadi j*lang."


"Lalu, bagaimana dengan Kak Reza? Bukankah kita sama saja, huh!"


"Tutup mulut mu!" Reza mencengkram pergelangan tangan Ratna dengan kasar. "Dengar! Jaga ucapanmu jika tidak ingin aku berbuat kasar terhadap mu," desis Reza tepat di telinga Ratna.


"Baiklah, aku akan jaga ucapanku. Jadi, tolong lepaskan tangan ku."


Reza terpaksa melepaskan tangan Ratna, ia tidak menyangka bahwa Ratna berani melawannya dan juga bisa bersikap setenang itu. Bukankah dulu Ratna sangatlah penakut? Di gertak sedikit saja langsung nangis.


Ratna ingin memasuki rumah, tapi di cegah oleh Reza. "Biarkan aku masuk, Kak. Aku harus mengambil barang aku yang ketinggalan di kamar," seru Ratna masih berusaha masuk.


"Apa syaratnya?"


"Temani aku malam ini." Reza berkata sambil membelai pipi Ratna dengan tatapan gairah.


Plak!


"Jangan kurang ajar ya, Kak." Ratna memberikan satu tamparan di pipi kanan Reza setelah dia menepis kasar tangan Reza yang sudah berani membelai nya.


Reza mengusap bekas tamparan itu, lalu mencium tangannya seolah tengah mencium tangan Ratna. Membuat Ratna bergidik ngeri, ia telah salah datang sendirian ke rumah itu. Jika bukan karena hal penting Ratna tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di sana. Ratna memilih pergi saja dari rumah itu, mungkin lain kali saja dia akan mengambil barang-barangnya yang ketinggalan.


Namun saat membalikkan badan untuk pergi dari sana, tiba-tiba sebuah tangan besar melingkar di perut rampingnya. Membuat tubuh Ratna melayang karena tangan itu mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


"Aaargh! Kak Reza! Lepas!" teriak Ratna berusaha melepaskan diri dari dekapan Reza yang perlahan membawanya masuk ke dalam rumah.


Reza menendang pintu rumah hingga tertutup rapat. Lalu dengan kasarnya dia menghempaskan tubuh Ratna di atas sofa yang terdapat di ruang tamu. Membuat Ratna terpelanting di atas sofa.


Aaahk! Ssst!


Ratna meringis menahan sakit di area lutut dan tangannya. Luka yang belum mengering kini kembali sakit akibat ulah Reza. Ia berusaha bangkit supaya bisa pergi dari rumah itu. Alangkah terkejutnya Ratna saat melihat Reza mulai membuka kancing bajunya dan melucuti pakaiannya. Membuat Ratna semakin ketakutan.


Ratna memundurkan langkah saat Reza mendekatinya sambil tersenyum mesum. "Kak Reza mau apa? Jangan macam-macam ya, Kak. Aku akan berteriak," ancam Ratna dengan badan yang gemetar.


"Berteriak Lah sesukamu dan senyaring mungkin. Karena di rumah ini tidak ada orang, bahkan tetangga sebelah juga tidak ada."


"Jangan gila, Kak. Aku bukan wanita murahan seperti apa yang kakak tuduhkan," kecam Ratna dengan suara yang bergetar.


Reza tidak perduli dengan ocehan Ratna yang hanya membuat telinganya gatal. Ia terus memulai aksinya untuk menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya.


Ratna hendak meraih gagang pintu, tapi lagi-lagi di gagalkan oleh Reza. Reza mengangkat tubuh Ratna hingga berada di atas pundaknya. Ia kembali menghempaskan tubuh Ratna di atas sofa, lalu mengukungnya.


"Tolong! Tolong!" Ratna berteriak meminta tolong. Tangannya memukul-mukul dada Reza yang berada di atas tubuhnya.


Reza berusaha mencium bibir Ratna, tapi selalu meleset. Karena Ratna berusaha keras menghindari ciuman itu. Air mata mengucur di kedua sudut mata Ratna. Ia sangat takut jika Reza benar-benar menodainya. Dari dulu ia berusaha keras untuk menjaga kehormatannya meskipun Reza sudah beberapa kali ingin menodainya.


Naasnya, di rumah itu tidak ada satu orang pun. Padahal Ratna berharap sang papa ada di sana, dan menolongnya dari laki-laki biadab ini. Saat Reza berusaha meloloskan rok yang dikenakan oleh Ratna, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam rumah lalu berteriak dengan suara lantang.


"Bedeh*h! B*jingan! Biad*b! Jangan berani-berani menyentuhnya!"


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar😘


__ADS_2