
Happy Reading🥰
"Bedab*h! Bajing*n! Biad*p! Jangan berani-berani kau menyentuhnya!" Teriak Evan dengan mata menyala.
Reza sangat terkejut dengan hadirnya Evan di rumahnya. Ia bangkit dari tubuh Ratna, dengan cekatan memakai pakaiannya kembali yang berceceran di atas lantai. "Dasar! Mengganggu saja," gerutu Reza dengan kesal.
Setelah Reza memakai pakaiannya secara lengkap, Evan langsung menghajar Reza habis-habisan tanpa memberikan kesempatan untuk Reza melawan.
Buk! Buk! Buk!
"Berani sekali kamu menyentuhnya, huh! Laki-laki brengsek!" Bentak Evan sambil terus menghajar Reza. Ia menghentikan aksinya saat teringat dengan Ratna yang menangis tergugu di atas sofa seraya memeluk tubuhnya.
"Ra, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Evan panik. Ia mendekap tubuh Ratna yang masih bergetar.
Reza berusaha bangkit, ia ingin menghajar Evan karena sudah berani menghajarnya dan juga menggagalkan rencananya. Ia menarik kerah baju Evan dari belakang. Lalu memberikan satu bogeman mentah di pelipis Evan.
Beruntung Evan sangat kuat, ia bisa menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak tumbang. Evan tersenyum sinis menatap Reza, ia menangkis tangan Reza yang berusaha menyerangnya kembali. Namun dengan cepat Evan menghajar balik si Reza. Sekarang bukan hanya pukulan, tapi juga tendangan yang Evan layangkan ke tubuh Reza. Laki-laki yang sangat menjijikkan di matanya.
Akhirnya Reza tak bisa berkutik lagi dengan wajah yang sudah babak belur. Namun kesadarannya masih utuh. Ia menatap Evan ketika membawa Ratna keluar dari dalam rumah dengan cara menggendong tubuh sang adik.
"Sial!" umpat Reza dalam hati. Padahal tinggal sedikit lagi dia akan mendapatkan kesucian Ratna, tapi ada seekor anjing yang menggagalkan semuanya. Ya, Reza yakin kalau Ratna masih suci. Dia memang tahu kalau Ratna memang wanita baik-baik, dan tidak sama seperti mamanya. Namun entah mengapa Reza sangat suka merendahkan Ratna semasa hidupnya.
Ratna menundukkan kepala sambil menangis di dalam mobil Evan. Ternyata Evan dari tadi belum pergi dari sana. Beruntungnya Ratna ada Evan yang menolongnya dari serangan sang kakak.
Hiks ... Hiks ... Hiks ...
__ADS_1
"Minum lah!" Evan menyodorkan satu botol air mineral ke hadapan Ratna.
"Terimakasih, Pak." Ratna menerima air itu lalu meneguknya. Perasaannya sedikit lega sehabis meminum air itu.
"Sudah tenang? Boleh sekarang aku melajukan mobil ini?" tanya Evan dengan suara selembut mungkin.
Ratna menganggukkan Kepalanya. Ia masih tidak berani menatap Evan karena merasa malu dengan kejadian yang menimpanya barusan. Setelah mobil yang di tumpanginya sudah jauh dari rumah papanya, Ratna akhirnya mengeluarkan suara.
"Terimakasih, Pak. Sudah menolong saya, jika tidak ada anda, saya tidak tahu nasib saya bagaimana," ucap Ratna dengan nada sendu.
"Its ok, saya 'kan sudah bilang, tidak akan pergi sebelum kamu memasuki rumah. Namun saat melihat laki-laki tadi membawa kamu dengan cara yang kurang ajar, saya terpaksa turun dari dalam mobil, dan memasuki rumah itu."
"Sekali lagi terimakasih, Pak." Ratna benar-benar tulus mengatakannya. Baginya Evan adalah pahlawannya.
Evan tersenyum mengangguk. Ia merasa kasihan terhadap Ratna. Evan rasa hari ini adalah hari buruk bagi Ratna, karena tadi pagi dia tidak sengaja membuat Ratna terluka. Sekarang malah mendapatkan hal yang lebih mengerikan, yaitu Ratna hampir di lecehkan oleh Reza.
"Dia kakak, saya," lirih Ratna, yang berhasil membuat Evan tercengang.
...----------------...
Edgar merapikan kembali baju Elmira yang di buat berantakan olehnya sehabis berolahraga. Mereka tertawa bersama saat mengingat kegilaan mereka yang tidak tahu tempat. Namun, membuat mereka semakin jatuh cinta.
"Mas! Ada beberapa panggilan tak terjawab dari kak Elan dan juga mama," tutur Elmira yang terlihat panik saat mengecek ponselnya. Sebab ia benar-benar lupa kalau saat ini anggota keluarga ada di rumahnya.
Edgar juga mengecek ponselnya, dan ternyata sama. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari papa dan juga mamanya. "Hehehe ... Maaf, Sayang. Itu karena kita terlalu bersemangat membuat anak, sampai lupa kalau keluarga kita lagi ada di rumah."
__ADS_1
"Ya sudah ayo buruan nyalakan mobilnya, Mas. Mereka pasti sudah lama menunggu, untung tadi aku bilang sama mama tempat kunci cadangan yang di letakkan di bawah pot bunga saat mama mengatakan ingin berkunjung ke rumah. Jika tidak, pasti mereka duduk di teras rumah," beo Elmira yang membuat Edgar merasa gemas.
"Tenang, Sayang. Mereka pasti mengerti kok dengan pasangan pengantin baru ini. Hehehe." Edgar terkekeh saat mengatakan pengantin baru.
Edgar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meskipun terburu-buru ia tidak ingin mengambil resiko mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Apalagi saat ini ia sedang bersama dengan sang istri tercinta. Jadi, tidak mungkin Edgar membuat Elmira celaka.
Tak berselang lama akhirnya Edgar dan Elmira sudah sampai di rumah mereka. Rumah yang layaknya surga karena selalu membawa kebahagiaan untuk mereka berdua.
"Ma, Pa. Maaf sudah membuat kalian menunggu lama," ucap Elmira dengan raut wajah menyesal. Ia benar-benar merasa tidak enak terhadap mama, papanya, dan juga kedua mertuanya yang juga ada di sana.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kami semua mengerti kalau kalian membutuhkan waktu untuk berdua. Iya 'kan, Pa?" tanya Alana sambil menyikut lengan sang suami seolah memintanya untuk mengiyakan ucapannya barusan.
"Ah, iya. Tidak perlu merasa sungkan. Lagi pula kami baik-baik saja di sini," sambung Addison.
Sementara Amanda dan Winata tidak banyak bicara. Ia hanya memperhatikan sang anak dan menantu secara bergantian. Menunggu Elmira memeluk dirinya. Benar saja setelah Elmira berbicara dengan kedua mertuanya, ia langsung menghambur ke dalam pelukan mama dan papanya.
"Kak Elan dimana, Ma?" tanya Elmira sambil melerai pelukannya.
"Kakak kamu ada di kamar tamu, katanya dia capek mau istirahat. Biasa kalau jomblo memang begitu, gak ada kerjaan," tutur Amanda seolah mengolok sang putra yang masih belum menikah.
"Memangnya kenapa kalau aku jomblo?" sungut Elvaro yang tiba-tiba muncul dari arah belakang. Membuat semua orang di sana tertawa geli melihat wajah Elvaro yang terlihat kesal, dan tidak suka dikatakan jomblo. Padahal memang kenyataannya dia jomblo. Malahan dari dulu dia tidak pernah berpacaran.
Elmira memeluk tubuh sang kakak dengan erat. Ia merasa sangat senang bisa berkumpul bersama dengan keluarganya dan juga keluarga suaminya. Sungguh kebahagiaan yang sangat luar biasa. Elmira ingin selalu seperti itu, tak ingin lagi menangis karena sesuatu yang menyakitkan.
Edgar memesan makanan lewat gofood untuk acara makan malam bersama di rumah itu. Sebab hari sudah mulai petang. Mungkin karena Edgar dan Elmira terlalu lama berolahraga di dalam mobil hingga lupa waktu.
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘