
Happy Reading 🥰
Evan dan Maya tercengang saat melihat berita di sosial media yang menayangkan video syur milik Edgar, dan juga video saat Elmira di lecehkan oleh empat pria di bawah pohon pinggir pantai. Mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat. Sungguh mereka merasa kasihan terhadap Elmira. Namun mereka tidak bisa ikut campur dalam masalah rumah tangga Elmira lagi.
Karena ini bukanlah masalah sepele, jadi Evan dan Maya tidak bisa sembarangan mencampuri masalah Elmira dan Edgar. Meskipun Evan sangat ingin merebut Elmira dari tangan Edgar, tapi ia tidak sejahat itu yang akan mengambil kesempatan dalam kesempitan di saat Elmira dalam keadaan terpuruk.
Lagipula Evan sedang belajar untuk melupakan Elmira seperti yang di sarankan oleh mamanya. "Kemarin aku sudah bertemu dengan Elvaro, Ma. Saat keadaan masih baik-baik saja, bahkan dia mengundang kita ke acara peresmian mall E2 tadi malam. Namun karena kita ada acara lain tadi malam jadi tidak bisa hadir ke sana," ungkap Evan penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, lain kali kita berkunjung ke sana. Mama juga merindukan Elmira siapa tahu dia masih ada di kediaman Winata."
"Iya, Ma. Kalau begitu aku berangkat ke kantor dulu," pamit Evan dengan lembut.
Maya mengantarkan sang putra hingga ke depan pintu rumah. Ia berharap Evan bisa segera melupakan Elmira dan mendapatkan penggantinya. Meskipun mereka gagal menjadi satu keluarga, tapi Maya akan tetap menyayangi Elmira seperti anaknya sendiri. Sebab ia sudah terlanjur nyaman berada di dekat Elmira.
Evan mengendarai mobilnya dengan keadaan tidak fokus, hingga tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang sedang melintas di depan mobilnya.
Bruk!
Evan turun dari dalam mobil, lalu melihat keadaan orang tidak sengaja dia tabrak. Ternyata seorang wanita muda, sepertinya dia sedang terburu-buru hingga tidak melihat mobil Evan yang melaju dari arah kanan. "Maafkan saya, Bak. Saya tidak sengaja menabrak anda. Mari saya antarkan ke rumah sakit," ucap Evan membantu wanita itu berdiri.
"Tidak usah, Mas. Saya baik-baik saja," jawab wanita itu tanpa melihat ke arah laki-laki yang menabraknya.
"Ratna!" panggil Evan saat mengenali suara dari wanita yang dia tabrak. Meskipun belum melihat wajah wanita itu. Namun Evan sangat kenal dengan suara Ratna yang akhir-akhir ini sering berbicara dengannya ketika berkunjung ke butik Emi. Ia tidak menyangka bahwa orang yang dia tabrak adalah Ratna.
__ADS_1
Ratna begitu terkejut saat mengetahui seseorang yang menabraknya. Saking terburu-buru nya Ratna sampai tidak mengenali suara seseorang yang dia taksir. "Pak Evan," sapa Ratna dengan wajah bingungnya.
Evan memapah tubuh Ratna dan membawanya masuk ke dalam mobil. "Maaf ya Ra, saya tidak sengaja menabrak kamu," ucap Evan lagi. Ia sungguh merasa bersalah sudah membuat Ratna terluka.
"Tidak apa-apa, Pak. Cuma luka sedikit, salah saya juga nyebrang jalan tidak lihat-lihat sekitar."
"Kita ke rumah sakit sekarang." Evan menyalakan mesin mobil lalu melaju untuk menuju ke rumah sakit. Namun segera di tahan oleh Ratna yang sejak tadi selalu menolak untuk di bawa ke rumah sakit. Sebab Ratna sangat buru-buru saat ini.
"Tidak usah, Pak. Sungguh saya tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa gimana? Tangan kamu terluka Ra!" Evan melihat tangan Ratna di bagian sikunya yang terluka dan juga di bagian lutut ada sedikit goresan. Membuat hati Evan menjadi tidak tenang karenanya.
"Nanti saya obati sendiri, Pak. Saya lagi buru-buru," tutur Ratna dengan wajah bersungguh-sungguh.
"Jangan Pak. Saya tidak enak hati sama bu Elmira."
Evan tidak mendengarkan ucapan Ratna, ia menghentikan mobilnya sejenak untuk menghubungi Elmira dan meminta izin tentang Ratna yang tidak akan masuk kerja. Namun Evan harus berulang kali menelpon Elmira, sebab panggilannya selalu di tolak. Akhirnya Evan cukup mengirimkan pesan melalui aplikasi whatsapp.
Tak berselang lama pesan yang awalnya hanya ceklis dua abu-abu kini sudah berwarna biru. Dalam artian pesannya sudah terbaca oleh Elmira. Hingga ada balasan pesan dari Elmira yang memberikan izin kepada Ratna untuk tidak bekerja hari ini. Sebab Elmira bukan tipe bos yang jahat, ia akan mengizinkan para karyawannya jika minta cuti asalkan dengan alasan yang pasti.
Seperti Evan yang mengirimkan serta bukti bahwa Ratna tengah terluka yang di sebabkan olehnya. Membuat Elmira merasa khawatir dengan keadaan karyawan kepercayaannya itu.
Evan melajukan kembali mobilnya, tapi bukan mengarah ke rumah sakit melainkan ke sebuah apartemen yang terbilang cukup elite. Apartemen pribadi milik Evan. Ia jarang menempatinya sekarang, sebab tidak ingin meninggalkan mamanya sendirian di rumah. Dulu sebelum papa tirinya meninggal, Evan memang tinggal di apartemennya.
__ADS_1
"Pak, kenapa anda membawa saya kemari?" tanya Ratna sambil mengerutkan keningnya.
Evan tidak menjawab, ia turun dari dalam mobil lalu membukakan pintu sebelah untuk Ratna. Membuat Ratna semakin bingung dengan sikap yang di tunjukkan oleh Evan. Ratna hanya menurut dengan perintah Evan. Ia tidak ingin terlalu banyak bicara agar dia bisa cepat pergi dari sana.
Ratna meringis merasakan sakit di bagian lututnya. Padahal tadi tidak terasa begitu sakit, lalu kenapa sekarang menjadi sangat sakit. Hingga membuat dirinya kesulitan dalam berjalan.
Ssst!
Ratna mendesis saat lututnya seperti di sayat-sayat. Evan yang melihat itu tanpa ba-bi-bu langsung menggendong Ratna menggunakan kedua tangannya ala bridal style.
"Aaakh! Pak!" pekik Ratna saat merasakan tubuhnya seperti melayang. Ia reflek mengalungkan tangannya di leher Evan karena takut terjatuh.
"Diam lah!" Ucap Evan dengan singkat. Ia membawa Ratna memasuki apartemennya. Baru kali ini Evan membawa seorang wanita memasuki apartemennya. Entah mengapa Evan membawanya kesana padahal tujuannya adalah rumah sakit terdekat, tapi mobilnya malah belok kiri dan menuju ke apartemennya.
Evan mendudukkan Ratna di sofa ruang tamu. Ruangan di sana terlihat begitu bersih meskipun tidak ada yang menghuninya. Sebab setiap hari ada petugas kebersihan yang ditugaskan secara khusus oleh Evan untuk membersihkan apartemennya.
Ratna seperti orang linglung yang hanya menurut dengan kata-kata Evan. Hingga tak berselang lama Evan datang membawa kotak p3k. Ia duduk di bawah dengan posisi berlutut di depan Ratna. Membuat Ratna membulatkan kedua matanya, dan reflek menutup pahanya menggunakan kedua tangan. Karena saat Ini Ratna menggunakan rok yang cukup pendek dan hanya sebatas lulut. Namun akan semakin terlihat pendek jika dalam keadaan duduk. "Bapak mau apa?" tanya Ratna dengan gugup.
"Tenang, saya tidak akan macam-macam. Saya hanya ingin mengobati lutut kamu yang terluka." Evan mengambil kapas lalu di tetesi dengan obat merah. Evan mulai mengobati luka di lutut Ratna dengan cara yang begitu lembut dan pelan.
Sssst! Aahh!
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘