Cinta Untuk Elmira

Cinta Untuk Elmira
Bab 18. Tidak Ada Kata Maaf.


__ADS_3

Happy Reading πŸ₯°


Edgar terpaksa harus putar balik, sebab Alexa memintanya untuk datang ke apartemen. Edgar selalu kalah dengan bujuk rayu, Alexa. Dia selalu patuh dengan semua yang Alexa katakan. Karena Edgar selalu merasa bersalah terhadap Alexa yang sudah ia renggut kesuciannya.


Jika Edgar meninggalkan Alexa, lalu laki-laki mana yang akan mau menerima kekurangan Alexa? Pasti Alexa akan sangat terpuruk. Jadi, selama Edgar masih belum bisa menikahi Alexa, ia akan menuruti semua keinginannya, kecuali saat berhubungan. Meskipun Alexa akan memohon sampai menangis darah sekali pun, Edgar tidak akan memberikan apa yang dia inginkan.


Pantang bagi Edgar melakukannya sebelum menikah. Edgar ingin menjadi laki-laki sejati yang tidak akan merusak seorang gadis dengan sengaja. Cukup kesalahan yang ia perbuat di luar kendalinya.


Edgar memasuki apartemen Alexa dengan sebuah senyuman yang di paksakan. Sebab suasana hati Edgar sedang buruk. Rencananya gagal untuk menemui Elmira di suatu tempat. Edgar masih belum tahu kalau ternyata Elmira ada di sebuah apartemen mewah.


Cklek!


Edgar membuka pintu apartemen secara perlahan. Ia tidak ingin membuat sang kekasih marah karena dirinya yang berbicara ketus. Namun Edgar justru di kagetkan oleh Alexa yang telah berada di balik pintu.


"Honey! Kenapa kamu lama sekali sampainya, hum?" Alexa bergelayut manja di lengan Edgar. Ia memperlihatkan wajah sedihnya untuk mendapatkan perhatian dari Edgar. Tentu saja usahanya tidak sia-sia, Edgar langsung luluh dengan senjata ampuhnya itu.


"Maaf, Sayang. Aku tadi meeting dulu di kantor." Edgar terpaksa harus berbohong. Mana mungkin dia akan berkata jujur mengenai tujuannya yang gagal bertemu dengan sang istri cuma gara-gara Alexa. Bisa-bisa ngamuk tuh si Alexa, dan juga bisa terkuras habis black card-nya.


Jika Alexa marah, jurus jitu yang menjadi handalan, Edgar. Ia akan memberikan black card kepada Alexa untuk digunakan bersenang-senang, dan tidak lagi marah terhadapnya. Bahkan Edgar tidak akan merasa rugi sudah memberikan Alexa sekian banyaknya black card.


Beruntungnya Addison tidak tahu tentang black card yang Edgar berikan secara percuma kepada Alexa. Sebab Edgar dengan pintarnya mengelabuhi sang papa berkat bantuan Jack. Namun Edgar tidak tahu sampai kapan ia bisa menyembunyikan semua itu. Karena sekali saja papanya mengecek pengeluaran pada data perusahaan, maka Edgar akan mengalami masalah besar.


"Honey! Hari ini kita ke mall ya! Ada yang aku incar di sana, mau ya?" Alexa menatap Edgar dengan penuh harap. Kali ini dia harus menguras habis kantong Edgar.


"Baiklah, kita ke sana. Tapi bisakah kamu pergi sendiri ke sana? Soalnya aku masih ada jadwal meeting hari ini."

__ADS_1


"Yaaaah ... Gak jadi jalan berdua dong. Ya udah deh gak apa-apa, lagian aku gak mau mengganggu waktu meeting kamu." Alexa pura-pura memasang wajah sedihnya, padahal dalam hati ia sangat senang karena bisa mempunyai waktu untuk berduaan dengan kekasihnya di belakang Edgar.


"Meeting lah sepuasmu, Edgar. 1 minggu juga gak apa-apa, aku jadi punya peluang di belakang kamu untuk berduaan dengan Jack. Asalkan kamu selalu rutin mengirimkan uang untuk ku!" batin Alexa dengan sejuta kejahatannya.


"Makasih atas perhatiannya, Sayang." Edgar memeluk tubuh Alexa dengan kasih sayang.


Setelah memberikan black card-nya kepada Alexa, Edgar langsung pergi untuk menemui Elmira. Kenapa rasanya sangat berbeda? Edgar lebih tidak sabar ingin bertemu dengan Elmira daripada dengan Alexa. Padahal dulu tidak seperti itu, Alexa yang akan menjadi prioritasnya, namun tidak dengan sekarang.


...----------------...


Edgar menatap sebuah apartemen mewah yang berada di hadapannya. Edgar melangkah masuk ke area apartemen milik Elmira setelah memarkirkan mobilnya di depan apartemen itu. Edgar sedikit gugup dan gengsi untuk bertemu dengan Elmira, istri yang dia sia-siakan. Namun rasa rindunya lebih besar, hingga menghilangkan rasa gengsi di dalam dirinya.


Tok! Tok! Tok!


Edgar mengetuk pintu apartemen berkali-kali, karena Elmira tak kunjung membukakan pintu untuknya. Dengan sabar Edgar menunggu sambil berdiri di dinding sebelah pintu. Menyenderkan punggungnya di sana, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.


Edgar sampai tidak mengedipkan matanya saat menatap Elmira. "Hai." sapa Edgar yang berhasil membuat Elmira terkejut.


Elmira tidak menyadari akan kehadiran Edgar di sana. Suara ketukan pintu pun dia tak mendengar, sebab ia sedang berada di dalam bathroom. Elmira hanya menatap datar ke arah Edgar tanpa mau memperdulikan kehadirannya. Ia sudah muak dan tak ingin bertemu lagi dengan Edgar.


Elmira melangkah pergi meninggalkan Edgar di sana. Hari ini ia akan pergi ke butik EMI untuk menghilangkan rasa jenuh dalam dirinya.


"Elmira! Tunggu!" Edgar mencekal pergelangan tangan Elmira agar istrinya itu tidak pergi.


Elmira memutar bola matanya malas, ia sudah hilang respect terhadap Edgar. Menurutnya Edgar itu adalah tipikal laki-laki yang plin-plan. "Maaf, Tuan! Tolong lepaskan tangan saya." Elmira berusaha melepaskan tangannya.

__ADS_1


Edgar terperangah mendengar ucapan Elmira yang tidak lagi memanggil dirinya dengan sebutan nama. Dirinya seolah menjadi orang asing bagi Elmira. Edgar tidak suka Elmira memanggilnya 'Tuan'. Dulu memang dirinya yang meminta Elmira untuk memanggil 'Tuan', tapi tidak dengan sekarang.


Entah mengapa Edgar merindukan masa-masa Elmira memanggil dirinya dengan sebutan 'Mas', namun semuanya berubah saat dia mencekik Elmira ketika berada di kediaman Addison.


"Aku tau aku salah. Tolong jangan seperti ini, Elmira. Mari kita bicarakan masalah ini baik-baik."


"Tidak ada yang perlu di bicarakan, Tuan. Semuanya sudah jelas, lebih baik anda hidup bersama dengan kekasih yang paling anda cintai, dan jangan pernah menemui saya lagi. Karena saya sudah mengurus surat perceraian di antara kita!" Elmira menatap Edgar dengan mata menyala.


Edgar merasa tertampar dengan ucapan Elmira. Memang benar ia lebih memilih Alexa, tapi Edgar juga tidak mau melepaskan Elmira. Anggap lah Edgar egois, namun entah mengapa perasaannya seolah mengatakan bahwa dia tidak rela kehilangan Elmira.


Seharusnya Edgar senang, sebab keinginannya sedari dulu yang ingin bercerai dengan Elmira akan segera terkabulkan. Namun dia enggan merasakan kebahagiaan itu. Edgar tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan saat ini. Hatinya mencintai Alexa, namun dia juga tidak ingin kehilangan Elmira.


Elmira meninggalkan Edgar yang masih berdiam diri di tempatnya. Dengan cepat Elmira memasuki mobil, lalu menjalankannya menuju ke butik. "Huf!" Elmira menghembuskan nafas berat. ia menepikan mobilnya di pinggir jalan yang lumayan sepi. Elmira merasakan dadanya sesak.


Tak terasa air mata mengalir dari kedua sudut matanya, dan membasahi kedua pipinya. "Kenapa mencintaimu harus sesakit ini, Edgar! Apa salahku! Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik buat kamu, namun kehadiranku tidak pernah kau anggap ada. Sekarang kamu malah datang menemuiku dan meminta maaf. Apakah permintaan maafmu akan sama seperti malam itu? Bahkan kamu saat itu kamu juga berjanji akan berusaha mencitaku. Tapi nyatanya janjimu palsu!"


"Jangan harap aku akan percaya lagi dengan semua omongan mu! Tekad ku sudah bulat, Edgar. Aku benar-benar akan menceraikan mu!" Elmira menghapus air matanya dengan kasar. Ia melanjutkan kembali mobilnya saat merasakan perasaannya lebih baik.


Edgar masih terpaku di tempatnya, ia masih tidak percaya dengan ucapan Elmira. Lamunannya buyar ketika ada notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Kedua bola mata Edgar membulat sempurna saat melihat pengeluaran di ATM-nya.


...----------------...


Maaf untuk para readers, ada perbaikan nama di bab sebelumnya. Aku kurang fokus jadi nama Roy dan Jack ketukar. Tolong para readers setia jika ada kesalahan, berikan komentarnya jangan silent dong πŸ₯²πŸ™


Dukungan kalian sangat membantu πŸ™

__ADS_1


Jadi tidak ada yang di bab ini dan bab selanjutnya tidak ada perlu di pertanyakan lagi soal kesalahan nama tokoh yaβ˜ΊπŸ™


Kalian bisa baca lagi di bab sebelumnya, Terimakasih πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2